
Hanya karena seseorang cemburu, bukan berarti dia tak mempercayaimu. Dia hanya takut kehilangan dirimu.
...****...
Kabom...!
Suara ledakan dari speaker di sebelah monitor seukuran 32 inch. Ken dan Kio sibuk menggerakkan controller, memainkan game COD. Ponsel Ken bergetar. Sebuah pesan masuk dari orang yang tak diinginkan.
Ken. Bisakah kita bertemu di Restoran Maple jam delapan malam. Ada yang ingin kukatakan padamu.
Ken berdecak kesal, melempar ponsel ke sofa. Melanjutkan main game. Saat ini ia berada di kamar Kio, menunggu kekasihnya kembali. Maisa ada kegiatan luar dengan teman di klub melukisnya. Kio yang juga lagi malas-malasan mengajaknya main game.
"Hei... Itu yang di pojok Bro. Habisi aja," Seru Kio.
"Oke, Bro. Di tempatmu ada satu di paling belamang," Sahut Ken.
Ponsel Ken kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari Alice. Ia masih bersikeras mendekatinya meski sudah ditolak berkali-kali.
Ken, ini terakhir kalinya. Penting sekali. Please!
Game over!
Ken mengumpat kesal. Untuk apa lagi perempuan itu menghubunginya. Kio mematikan monitornya, melirik ke arah Ken yang berwajah masam.
"Ada apa, Ken?"
"Tak apa-apa. Cuma orang yang tak penting."
Ken melirik jam tangannya baru menunjukkan pukul setengah empat. Maple Caffe berjarak tak jauh dari rumah Kio, hanya 20 menit pakai motor.
Bimbang antara mau pergi sebentar atau tidak. Sebentar lagi Maisa pulang. Pesan dari Alice kembali masuk membuatnya kesal.
"Bro, aku keluar bentar. Nanti balik lagi."
"Tak masalah juga kalau kau tak kembali. Heran juga aku. Terlalu sering kau datang ke sini, tahu."
"Kan pacarku di sini!"
"Haish! Modus terus. Aku dijadikan alasan terus. Apa bagusnya sih dia." Nada Kio terdengar ketus.
Ken hanya mendengur mendengarnya. Ia menyambar helm keluar, memacu motornya.
Alice sudah ada di sana, duduk sendiri di dekat kaca jendela kafe. Ia melambaikan tangan padanya.
Wajah Ken masih masam. Ia duduk di kursi dengan gerakan kasar.
"Jadi, apa maumu?" Suaranya dingin tanpa emosi.
__ADS_1
Alice tersenyum, menyodorkan buku menu ke hadapannya. Ken menatapnya bosan.
"Kenapa tidak santai dulu. Padahal kita akrab waktu kecil. Sekarang mau dingin padaku, Ken."
Ken berdecak kesal. Memangnya ini salahnya tidak mau berteman lagi dengan Alice. Ia sendirilah yang membuat Ken menjauh.
Maisa dan Mbak Mia baru saja selesai pertemuan klub seni berjalan santai melintasi Maple Cafe yang letaknya di pinggir jalan.
"Sstt... Sa." Mbak Mia menahan langkahnya. Jarinya menunjuk ke arah Cafe.
"Kenapa, Mbak?" Maisa memperhatikan Kafe. Keningnya berkerut, tidak mengerti.
Mbak Mia menyuruhnya menunduk bersembunyi di pagar perdu. Keduanya berjongkok memperhatikan pengunjung Kafe di seberang. Beberapa orang yang lewat menatap mereka aneh. Seperti menguntit sesuatu.
Maisa memicingkan matanya, melihat siapa yang dimaksud Mbak Maya. Matanya terbelalak lebar. Alice tersenyum menyeka sesuatu dari bibir Ken.
Maisa mengepalkan kedua tangannya. Jantung ini berdegup lebih kencang. Dadanya terasa nyeri. Seperti ada emosi yang kuat menyerbu keluar. Marah, kesal, dan sedih bercampur jadi satu.
Mbak Maya langsung merasakan aura dingin dari gadis di sebelahnya. Ia menyunggingkan senyum. Sepertinya Maisa dilanda cemburu.
Ken bergegas berdiri diikuti Alice menjajari langkahnya. Tiba-tiba kakinya terkait kursi hingga menubruk dada Ken. Pemuda berparas tampan itu memegang kedua lengannya, mendorongnya menjauh. Alice tetap mendekati wajah Ken. Tatapan Maisa semakin nanar.
"Mbak. Kok duduk di situ. Kalau mau mampir ke sana, tinggal masuk saja." Seorang perempuan paruh baya menegur mereka.
Maisa dan Mbak Maya terlonjak kaget, refleks langsung berdiri. Keduanya tersenyum kikuk. Perempuan itu berlalu seraya berdecak heran.
Maisa melihat keduanya keluar Kafe. Maisa menarik Mbak Maya berbalik arah. Wajahnya terlihat mengeras.
"Besok saja, Mbak."
"Kenapa? Kamu tidak cemburu, Sa?"
Maisa menghentikan langkahnya. Tertegun. Apa ia cemburu. Alice dan Ken berteman sejak kecil. Wajar kalau mereka dekat. Tapi ia merasa tak suka jika Ken berdekatan dengannya.
Maisa tersenyum ke arah Mbak, "Maybe!"
Ken berpisah dari Alice. Sikapnya uring-uringan, tak ada faedahnya bertemu dengan gadis itu. Sekelebat matanya menangkap sosok yang dikenal. Ia berlari menangkap pergelangan gadis itu.
"Tunggu, Sa."
Gadis itu berbalik. Ternyata bukan pacarnya. Ken meminta maaf pada gadis itu. Ia yakin Maisa ada di sini. Kembali ia memperhatikan jalanan yang ramai. Matanya bertemu pandang dengan Maisa dari kejauhan.
Ia berlari kecil melewati banyaknya pejalan kaki. Gadis itu malah berlari menjauh menyeret temannya, menghilang di balik kerumunan.
Buki-buku jarinya terasa dingin. Apa Maisa melihatnya berdua dengan Alice? Apa gadis itu marah? Rasa gelisah melingkupi sekujur tubuhnya.
Ken memutuskan kembali ke rumah Kio. Berharap gadis itu ada di sana. Ia ingin menjelaskan semua padanya agar tidak salah paham. Nihil! Maisa belum pulang. Ia mencoba mengnelepon namun tidak diangkat. Pesan yang dikirimpun tidak dibalas.
__ADS_1
"Kenapa mukamu pucet seperti itu. Aha.... Putus sama Maisa, ya?" Kio tertawa meledek.
"Sialan! Seneng ya, melihat teman menderita."
Ken mengumpat kesal. Kio malah tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya. Bantal sofa menimpuk wajahnya. Melihat wajah kesal Ken, ia kembali tertawa.
Maisa menyedot minumannya hingga tandas. Ia memesan lagi es cendol pada abang penjualnya. Cilok tak berdosa ditusuk berkali-kali baru masuk ke mulutnya. Ponselnya berdering beberapa kali. Ada telepon dan pesan dari Ken. Ia enggan membalasnya.
Mbak Maya mengaduk-aduk es kepalanya yang masih tersisa setengah. Keduanya duduk di dekat gerobak kaki lima.
"Sa. Lebih baik kamu kabari Ken dulu deh. Kasian dia loh."
"Biarkan dulu, Mbak. Aku pengen menenangkan diri. Takutnya malah bertengkar nanti."
Mbak Maya terkekeh pelan, "Oho.... ternyata kamu sudah dewasa."
Maisa mengerucutkan bibirnya, pura-pura cemberut. "Siapa bilang aku anak kecil."
...****...
Sa.... Tolong balas pesanku.
Maisa membuka matanya, membaca pesan Ken yang dikirim padanya berkali-kali. Gadis itu menyingkap selimutnya. Ia menghela napas panjang, mengetikkan pesan balasan.
Ya Kak. Besok jelaskan semua ya.
Ken langsung membalas pesannya.
Iya. Besok aku jelasin semua. I'm sorry and I miss you.
Me to.
Maisa meletakkan ponselnya, langsung bergelung selimut melanjutkan tidurnya. Ken membaca balasan dari Maisa. Perasaan sedikit lega.
...****...
Hot News
Ken menjalin hubungan dengan seorang aktris bernama Alice terungkap. Keduanya sering terlihat berjalan mesra. Namun hubungan keduanya merenggang karena ada orang ketiga.
Headline berita itu ditambahkan dengan foto Alice menyeka bibir Ken, ada pose keduanya berciuman di sebuah kafe dan Ken berjalan dengan seorang gadis.
Alice membaca berita itu sambil tersenyum, menyeruput secangkir kopi. Ia meletakkan majalah di tangannya dan menelepon seseorang.
"Kerja bagus."
Di sisi lain.
__ADS_1
Pak Chandra meremas majalah gosip setelah membacanya. Ia menahan amarah yang membesar, melempar majalah yang dibacanya.
Anak itu menjadi orang ketiga. Beraninya membuat masalah lagi.