
Ken membawa Maisa ke Pantai Anyer. Bentangan pasir putih yang menggoda untuk dijejaki. Ombak bergulung-gulung tenang. Pemandangan indah cocok membuang penat jauh ke dalam lautan.
Maisa turun dari motor. Senyum terkembang di wajahnya ketika melihat pantai. Ia berlari kecil ke arah ombak yang datang memecah bibir pantai.
Ken tersenyum memperhatikan tingkah Maisa. Kakinya menjajari langkah gadis itu. "Kamu suka."
Maisa mengangguk, bibirnya tersenyum lebar. “Aku sudah lama tidak ke pantai. Dulu aku sering ke Parangtritis bersama teman-temanku."
“Oh ya? Kalau begitu, aku tunjukkan sesuatu.”
Ken menarik pergelangan tangan Maisa, mengajaknya ke balik tumpukan batu karang yang tak jauh dari keramaian.
“Waah! Bagus sekali," Kata Maisa terpesona. Ia berlarian ke tepi pantai, bermain air. Ken duduk di batuan karang, tersenyum melihat raut wajah Maisa yang kembali ceria. Diam-diam ia memotret gadis itu.
“Ken, ayo ke sini. Kok diam saja di situ!” Seru Maisa. Ia mendekati Ken dan menarik tangannya. Ken tidak bergeming, Maisa tetap menarik-narik tangannya.
Ia memanyunkan bibisnya. Tangannya sekali lagi menarik pergelangan Ken. Laki-laki itu tersenyum, mendadak berdiri. Maisa terjungkal ke belakang. Tangannya spontan menarik kerah baju Ken.
Maisa memejamkan matanya. Punggungnya menyentuh dinginnya pasir pantai dengan tubuh Ken menindihnya. Pelan-pelan ia membuka matanya. Wajah laki-laki itu sangat dekat. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman. Ia menarik napas dan menahannya.
Maisa memiringkan kepalanya. Kedua tangannya mendorong Ken kesamping. Hmm... tetap tidak bergeming. Ken malah terkekeh pelan melihat gadis itu kelimpungan.
"Ka Ken. Bisa geser ke samping. Kakak berat tau."
"Masa, sih." Ken iseng berbisik ke telinga Maisa.
Bulu kuduknya meremang. Napas Ken menerpa leher dan telinganya. Ini tak baik untuk kesehatan jantungnya. Maisa mendorongnya sekali lagi. Kali ini ia memandang wajah Ken. Dahinya berkerut, memasang wajah memelas.
"Aku mau minggir tapi kasih hadiah dulu."
Jari Ken menunjuk ke pipinya. Mata Maisa berkedip beberapa kali. Ken memasang senyum lebarnya. Keduanya bertukar pandang beberapa saat. Maisa menyerah. Ia mencium pipi Ken.
Ken berdiri dan tertawa. Ia menyodorkan tangannya. Maisa meraih tangannya. Wajahnya memerah. Pipinya menggembung, bibirnya mengerucut. Berjalan mendahului Ken.
Ken mengikutinya. Gadis itu mengambek. Ia menyisipkan jarinya menggenggam tangan Maisa. Menariknya ke saung kecil tak jauh dari sana. Ia memesan es kelapa muda yang dijajakan warung di pinggir pantai.
Semilir angin pantai menerpa mereka berdua. Waktu sore menjelang, matahari mulai terbenam. Siluet Gunung Krakatau tampak dengan latar langit yang didominasi warna kuning keemasan. Kepulan abu vulkanik menambah keindahan panorama.
Maisa terdiam memandangi keindahan yang tersaji di depan matanya. Ken merebahkan diri disamping Maisa dan memperhatikan wajahnya. Sinar mentari yang berwarna keemasan menerpa wajahnya. Maisa memperhatikan wajahnya yang dingin namun menyimpan keramahan. Ia mengalihkan pandangannya ke langit. Awan berwarna kekemasan berarak di luasnya langit jingga.
__ADS_1
“Langitnya bagus ya. Sepertinya bagus kalau dilukis.” Kata Maisa. Mata kanannya terpejam. Jari tangannya menbentuk bingkai foto.
“Langitnya bagus ya. Sepertinya bagus kalau dilukis.” Kata Maisa. Mata kanannya terpejam. Jari tangannya menbentuk bingkai foto.
Ken mencium punggung tangan gadis itu. Maisa tersentak kaget. Ia menarik tangannya dan menoleh ke arah Ken. Tatapannya bertemu dengan mata Ken.
Ken memperhatikan wajah Maisa dengan seksama. Gadis itu memalingkan wajahnya, malu terlalu lama dipandangi.
“Sudah sore. Sebaiknya kita pulang.” Kata Ken.
“Sudah sore. Sebaiknya kita pulang.” Kata Ken.
"Dari mana saja kau?" Pak Chandra menyilangkan kedua tangannya ke dada.
Maisa menghela napas. Beruntungnya Ken langsung pulang. Ia tak ingin masalahnya dengan ayahnya diketahui Ken.
"Jalan-jalan, Pa. Refreshing! Biar otak tetap waras."
"Apa kau bilang barusan?" Pak Chandra mendelik ke arahnya.
Maisa tidak menjawab. Ia bergegas naik ke kamarnya sebelum masalah bertambah lebar. Ia sudah memutuskan melakukan apapun yang ia mau. Terserah saja jika ayahnya marah. Toh, waktunya hanya enam bulan lagi di sini.
Earphone tersemat di telinganya. Kepalanya mengangguk-angguk mendengarkan musik. Rasanya lebih nyaman dibandingkan mendengar perkataan pedas dari tukang gosip.
Maisa langsung masuk kekelasnya. Mia juga sudah ada disana. Ia melambaikan tangan. Maisa menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Bagaimana hubunganmu sama Ken? Pasti menarik. Biasanya kalau orang bersikap dingin itu romantis.”
“Memangnya Ken sedingin itu.” Maisa menaikkan sebelah alisnya.
Mia berdecak, menggelengkan kepala. Temannya ini benar-benar tidak tahu sikap Ken sebenarnya. Laki-laki itu mendapatkan julukan pangeran es di kampus ini.
"Jangan aku saja. Kamu bagaimana? Ada perkembangan dengan Kio?" Maisa mengalihkan pembicaraan.
Mia memukul lengannya pelan. Wajahnya memerah, tersipu-sipu malu. "Apaan sih, Sa?"
Di sisi lain. Ken membuka foto hasil jepretannya kemarin. Not bad. Bibirnya mengulum senyum melihat senyuman Maisa yang cerah, secerah matahari.
Kio datang menghampiri, ikutan melongok. Ia berdecak heran. "Yaelah... Kukira lihat foto apa. Ternyata cuma bocah itu. Pantas saja dia tak kelihatan sepanjang sore."
__ADS_1
Ken mendengus, "Bukan urusanmu. Urus saja manager basket kita, tuh. Dia naksir kamu."
Kio mendelik ke arah Ken. Kenapa Mia ikut dibawa-bawa. Ia menghela napas, mengangkat dua bahunya. Sobibnya ini sudah jadi bucin, tidak tertolong lagi.
Tak lama berselang, Erik datang menghampiri keduanya. Ia menatap Ken lekat-lekat.
"Apa?"
"Ada yang mencarimu, tuh." Erik menunjuk seseorang yang berdiri di belakangnya.
...****...
"Hei, sehabis kuliah ini rencana mau kemana?" Ujar Mia seraya membereskan buku kuliahnya.
"Aku mampir sebentar ke klub seni. Kenapa?"
"Aku ikut!"
"Aku ikut!"
Maisa mengangguk mengiyakan. Keduanya keluar dari ruang kuliah, berjalan menyusuri koridor. Ekor mata Maisa menangkap sosok Ken berjalan beriringan dengan seorang gadis cantik berambut sebahu.
Antara rasa penasaran dan kesal menjadi satu. Maisa memutar langkahnya mengikuti Ken. Mia menjajari langkahnya dengan wajah heran.
Ken berjalan melewati koridor hingga sampai di sudut gedung. Maisa menarik Mia, berjongkok bersembunyi di balik perdu. Mia terkikik pelan dengan tingkah konyol temannya ini.
"Kamu cemburu?"
"Siapa yang cemburu?"
Maisa menempelkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruhnya diam. Ia menajamkan telinganya.
"Jadi apa yang ingin kamu sampaikan di sini." Suara Ken terlihat berbeda. Wajahnya yang selalu tersenyum hangat, kini datar, tatapan matanya dingin menusuk.
Gadis di depannya terlihat gelisah. Kepalanya menunduk. "Aku... Aku menyukaimu. Aku ingin jadi pacarmu."
Ken mengusap rambutnya. "Aku pikir apa. Ternyata cuma hal merepotkan. Maaf saja. Aku sama sekali tidak tertarik padamu."
Bulir air mata mengalis di pipi gadis itu. Hatinya tersayat mendengar jawaban menyakitkan orang yang disukainya. Ia berlari meninggalkan Ken seorang diri. Tak ada rasa simpatik tersirat di raut wajah Ken.
__ADS_1
Maisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa ini Ken yang selalu bersamanya. Ia terlihat sangat berbeda, dingin dan sangat asing.