Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.43 Kunjungan Mia


__ADS_3

Ken mengantarkan Maisa ke kampus sesuai permintaan Kio. Ia memperhatikan Maisa yang tertidur. Wajahnya yang oval, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang bangir, bibirnya yang tipis. Ia tak ingin membanunkannya.


Ken melihat dari balik jendela, Kio sudah ada di sana. Ia menepuk pipi Maisa, membangunkannya. Matanya yang berwarna cokelat perlahan terbuka, bertemu dengan wajah Ken yang tersenyum ke arahnya.


"Ini dimana?" suaranya terdengar serak.


"Di kampus. Kio bilang buat mengantarmu ke sini."


Kio menunggu di parkiran dengan wajah jutek. Tangannya bersilang di dadanya. Ia memperhatikan Ken yang membukakan pintu pada adiknya. Laki-laki itu memapah Maisa yang tertatih-tatih hingga kehadapannya.


"Aku menjaga adikmu dengan baik. Aku tidak melakukan apapun padanya, oke." ujarnya Ken pada Kio.


"Ya sudahlah. Aku mau langsung pulang."


Kio menaiki motor sportnya. Ken membantu Maisa naik ke jok belakang. Ia menggenggam tangan gadis itu. Maisa tersenyum padanya.


"Aku pulang dulu ya, Kak," katanya pelan.


Kio menekan starter motornya. Saat akan memutar gas, tangan Ken menghentikannya. Ia melotot padanya.


Ken tak peduli. Ia meraih leher gadis yang dicintainya, mencium bibirnya lembut.


Bola mata Maisa melebar. Tubuhnya menegang, jantungnya berdetak kencang. Pipinya merona seketika. Ken melepaskan tangannya.


"Hati-hati di jalan," bisik Ken ketelinganya.


Maisa mengangguk pelan. "Kak Ken juga hati-hati di jalan."


"Hais... Sialan!"


Kio mengumpat kesal. Kenapa juga ia harus menjadi saksi dibalik kemesraan keduanya. Tangannya memutar gas mendadak. Tubuh Maisa membentur punggungnya. Tangannya memeluk pinggang Kio. Bibirnya tersenyum lebar.


Ken melambaikan tangan pada keduanya hingga menghilang di balik tikungan. Ia bergegas masuk kembali ke mobilnya.


"Lain kali aku tak mau tahu kalau sampai ketahuan Papa," ucap Kio sesampainya di rumah. Ia melepaskan helemnya, mengibaskan rambut pendeknya.


"Terima kasih, Kak. Sudah mau menjemputku," balas Maisa dengan senyum berkembang di bibirnya.


Kio tak membalasnya, langsung masuk ke rumah. Maisa terkekeh pelan. Kakaknya ternyata bisa diandalkan juga.


...****...


Suara bel terdengar dari ruang keluarga. Maisa yang tengah bersantai beranjak kedepan membukakan pintu.

__ADS_1


"Surprise!" Ujar sang tamu yang tak lain ialah Mia. Gadis itu langsung memeluknya.


Maisa terbengong sesaat. Matanya mengerjap beberapa kali. Perasaan ia tak pernah memberitahukan alamat rumahnya. Bukannya tidak mau, tapi Kio yang tak mau.


Terkadang ia merasa iri melihat kakaknya membawa temannya, sedangkan ia tak bisa. Terkadang ia merasa bersalah menyembunyukan fakta itu dari Mia, mengingat gadis itu menyukai kakaknya.


"Masuk, yuk!"


Maisa mengajaknya masuk ke dalam. Mia terlihat senang. Matanya menyapu seluruh ruangan. Ia melongok ke dalam ruang keluarga mendapati Kio menenggak sebotol air mineral yang diambil barusan dari kulkas.


"Halo, Kak Kio!" Seru Mia padanya.


"Uhuk!"


Kio tersedak air yang diminumnya. Mia berlari menghampirinya. Menepuk punggungnya agak keras.


"Kak Kio tidak apa-apa?" Ada rasa bersalah dari suaranya. Kedua alisnya bertaut.


Kio menatapnya sejenak. Ia menepis tangan gadis itu yang masih menempel di punggungnya.


"Sudahlah!"


Kio berlalu dari hadapannya. Mia memandang punggungnya dengan sorot mata sedih. Senyum yang ditampilkan sejak tadi perlahan menghilang.


"Apa?" Ujar Kio merasa keki dipandangi seperti itu.


Maisa berjalan menghampiri Kio. Ia bertanya dengan setengah berbisik. "Bukannya kamu tidak mau orang tahu kita kakak beradik, ya? Ternyata Kak Kio sendiri yang bongkar rahasia."


"Suka-suka aku, dong!" jawab laki-laki itu dengan nada ketus.


"Tapi aku tak suka sama sikapmu yang tarik ulur, Kak. Kasian Mia. Jangan menyesal nanti kalau Mia memilih menyerah."


"Bukan urusanmu!" Nada Kio berubah dingin. Ia melangkahkan kakinya ke lantai dua, kembali ke kamarnya.


Maisa menghela napas. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya. Keras kepala satu kata yang cocok untuknya. Ia tak suka melihat temannya menahan perasaannya saat ditolak seperti itu.


"Ke kamarku, yuk!" Maisa mengamit lengan Mia, menariknya ke kamarnya. Gadis itu kembali tersenyum menjajari langkahnya.


"Maaf ya, Mia!" Ujar Maisa saat di dalam kamar. Ia duduk di karpet berbulu, menyandarkan punggungnya ke tempat tidur. Kepalanya mendongak ke atas, memandang langit-langit kamar.


Mia memiringkan kepalanya. "Soal apa?"


"Semuanya. Dari aku tidak memberitahumu kalau Kak Kio itu kakakku. Bukannya tak mau. Hanya saja aku tak mau merusak imagenya yang susah payah di bangun. Lalu mungkin secara tak sadar aku menyakitimu. Yah.... kalau dilihat sekilas, wajah kami mirip. Pasti ada yang mengira kami berjodoh."

__ADS_1


Jleb! Semua perkataan Maisa seperti mengena langsung di hatinya. Mia tertawa pelan, merasa konyol. Ia memang berpikir seperti itu dan merasa cemburu dengan temannya sendiri.


"Harusnya aku yang minta maaf sudah sempat berpikir buruk tentangmu. Kupikir kamu mantan pacarnya dan masih saling menyukai. Habis kalian terlihat dekat."


Maisa melotot ke arahnya. Sesaat gadis itu tertawa lagi. Dekat dari mananya. Kio selalu jutek kalau didekati adiknya sendiri.


"Aku tidak dekat dengannya."


"Tapi Kak Kio terlihat menyayangimu, Sa."


Tawa Maisa makin lebar. Ia memegangi perutnya. Mustahil kakak yang super jutek dan menyebalkan itu menyayanginya.


Bibir Mia manyun, kesal Maisa tak mempercayainya. Ia bisa merasakan kasih sayang dari tatapan Kio untuk Maisa, meski sikapnya berlawanan.


"Jadi apa Kak Kio membocorkan pada semuanya kalau aku adiknya?"


Mia mengangguk pelan. "Dia terlihat sangat kesal saat Kak Ken membawamu semalaman. Kak Kio pikir kami tidur di tempatku."


"Oh... Maaf deh sudah merepotkanmu. Aku lupa mengirimkan pesan padamu."


"It's okay!"


Kio keluar melewati kamar Maisa. Bi Tari keluar dari kamarnya membawa nampan masih berisi camilan dan minuman.


"Kenapa, Bi? Kok dibawa balik?"


"Non Maisa sama temannya lagi tidur, Mas Kio."


Kem membuka kamar adiknya, mendapati keduanya tertidur meringkuk di karpet berbulu.


"Nanti mau Bibi ambilkan selimut."


"Biar aku saja, Bi. Bi Tari lanjut kerjakan yang lain saja."


"Baik, Mas Kio."


Bi Tari berlalu ke lantai bawah. Kio mengambil selimut cadangan dari lemari Maisa, juga menarik selimut dari tempat tidur gadis itu. Ia pelan-pelan menyelimuti keduanya.


Gerakannya terhenti saat memperhatikan wajah Mia yang tertidur. Gadis itu terlihat manis saat tertidur, bertolak belakang sikapnya yang cerewet, suka mencari perhatiannya. Ada beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Kio menyibakkan kebelakang pelan.


Mia terbangun saat ada seseorang memasuki kamar. Matanya masih terpejam. Ada seseorang menyelimutinya dengan pelan. Jantungnya berdegub kencang. Ia mengenali wangi yang menguar dari orang itu. Alisnya bergerak sedikit.


Kio menyadari kalau Mia terbangun. Ia langsung menutupi seluruh wajah gadis itu dengan selimut, berdecak pelan.

__ADS_1


"Hais! Menyebalkan!"


__ADS_2