
"Erik angkat bahumu sedikit. Kio tolong lebih berekspresi lagi. Kau itu bukan patung. Ken pertahankan posisimu." Albert memberikan aba-aba memulai sesi pemotretan. Ketiga laki-laki itu merubah posisi sesuai arahannya.
Seusai pemotretan ketiganya membisu. Albert datang menghampiri mereka. Aura suram terpancar. Albert melemparkan pandangannya satu persatu. Tak ada yang mau menjelaskan. Ia menghela napas panjang.
"Pulang sana kalau cuma menambah suasana suram butikku."
Albert menggerakkan tangannya mengusir ketiga model andalannya. Erik mendekati Albert membisikkan sesuatu. Albert menyeringai melihat Ken dan Kio. Tak menyangka keduanya bertengkar karena perempuan. Yang mengejutkan perempuan itu bukan Alice. Siapa gerangan gadis itu. Albert jadi ingin bertemu dengannya.
"Kalau mau baku hantam biar kutunjukkan ruangannya. Khusus kusediakan untuk kalian." Albert terkekeh geli.
Ken dan Kio melotot ke arahnya. Albert memasang wajah pura-pura takut, membuat keduanya semakin kesal. Ken masih kesal dengan dirinya. Ia tak berhasil menemui Maisa. Terakhir bertemu saat keduanya sama-sama meminta maaf. Gadis itu menghilang bak ditelan bumi. Bahkan setelah meminta nomor telepon dari Mia, gadis itu tidak bisa dihubungi sepertinya tengah menghindar darinya setelah menangis di telepon.
Suara telepon berdering memecah kesunyian. Ken menyambar ponselnya dari atas meja. Ia bergegas pergi. Erik dan Kio membuntuti di belakangnya, memasuki tempat perbaikan smartphone. Seorang laki-laki muda menyongsong ketiganya, membawa mereka ke ruang khusus. Laki-laki itu menunjukkan histori telepon milik Kio yang rusak sebelumnya. Ken yang membawa ponselnya ke sini.
"Kau harus membayar mahal kerja kerasku lho. Tidak mudah menemukan IP Address yang menyebarkan video itu."
Ketiganya duduk termangu di sebuah terrace cafe. Suasana kafe yang ramai hilir mudik pengunjung. Ketiganya terkejut melihat siapa yang menyalin video itu dan menyebarkannya.
"Kurasa kita tidak perlu memperpanjang masalah ini. Kasian dia. Lagi pula kejadian itu sudah lama," ujar Erik.
"Hah! Menyebarkan video itu sudah termasuk kejahatan. Harusnya dilaporkan ke polisi," sergah Ken dengan gusar.
"Bukankah ini salahmu karena mempermainkan Alice. Alice sakit hati karenamu." Erik meninggikan suaranya.
"Hei... Jangan sembarangan, ya. Aku tidak punya perasaan apapun padanya. Kenapa tidak kau dekati saja bila suka."
"Untuk apa kalian meributkan itu. Sudah telat. Kudengar peredarannya ditarik." Kio menyilangkan tangannya ke dada.
Perkataan Kio ada benarnya. Diam-diam ia meminta pihak berwajib menarik semua peredaran video itu untuk mengurangi rasa bersalahnya pada Maisa.
"Enak sekali kedengarannya. Maisa di skor gara-gara video itu. Secara tak langsung dia kena sanksi sosial. Padahal kejadian itu sudah lama. Kau juga turut menyumbangkan masalah itu Kio."
__ADS_1
Ketiganya saling beradu pandang, tak ada yang mau mengalah. Terdiam cukup lama, menyeruput minuman yang dipesan masing-masing. Ego masih menguasai ketiganya.
"Kak Kio juga mampir di kafe ini, ya." Suara lembut seorang gadis membuyarkan ketegangan.
Ketiganya menoleh. Mia tersenyum ramah menyapa ketiganya. Di sampingnya ada Maisa, salah satu gadis biang cek cok trio good looking. Mia menarik salah satu kursi, duduk di samping Kio. Wajahnya tersipu-sipu malu. Terlihat jelas jika gadis itu menyukai Kio. Kio terlihat jengah, Erik terkekeh geli senang melihatnya seperti mati kutu di samping gadis itu.
Maisa terlihat ragu antara bergabung dengan mereka atau tidak. Tatapan ketiganya membuatnya tak nyaman. Apalagi pandangan Kio seolah mengatakan untuk apa kau di sini.
Ken tercengang dengan kehadiran Maisa. Ia merindukan gadis ini. Segera menarik Maisa menjauh, memberi isyarat ke yang lain untuk tidak mengikutinya.
Mia melihat wajah Kio memancarkan rasa tidak suka melihat kepergian keduanya. Hatinya terasa nyeri. Kio seperti memiliki perasaan pada Maisa. Sejak pertama kali bertemu, Mia menduga Kio sudah mengenal Maisa. Maisa selalu mengelak jika ia menanyakan hubungannya dengan Kio. Ia harus menahan rasa sedih bercampur cemburu menjadi satu. Saat ini hubunganya dengan Kio tidak lebih dari idola dan penggemar.
Ken membawa Maisa ke sudut kafe, tidak begitu jauh dari mereka berkumpul. Ia menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu, tak ingin membuatnya merasa tak nyaman. Ken masih menggengam tangannya. Bahkan saat duduk berhadapan ia tak ingin melepaskannya.
"Sa, aku senang kamu baik-baik saja. Jika ada apa-apa boleh langsung bilang padaku."
Maisa tersenyum. Ken benar-benar mengkhawatirkannya. "Aku tidak bisa janji, Kak."
"Aku tidak tau apa hubunganmu dengan Kio, tapi dia tidak keberatan. Jadi aku ingin dekat denganmu. "
Gadis itu terlihat terkejut, bola matanya melebar. Bibirnya sedikit terbuka hendak mengatakan sesuatu namun diurungkan. Ia menoleh ke arah Kio yang duduk cukup berjauhan. Kio menatapnya sesaat lalu membuang muka. Ken menggerakkan tangannya di depan muka Maisa yang tengah bengong.
"Apa kau baik-baik saja?."
Matanya mengerjap sesaat. Maisa tertawa kecil melihat ekspresi berbinar-binar di wajah Ken. "Aku tidak apa-apa kok, Kak."
"Serius?"
"Jadi lain kali Maisa tidak akan menghindar kalau kuajak jalan, kan?"
"Entahlah!"
__ADS_1
"Hei... Jawaban macam apa itu?"
Ken tersenyum lega melihat Maisa tertawa. Kekalutan yang dirasakan sirna perlahan. Setidaknya Ken perlu waktu untuk benar-benar mendekatinya.
"Kata Ken kamu lumayan bisa bermain basket, kan? Kebetulan manajer tim basket kita lagi pindah kuliah keluar negeri. Kamu mau jadi manager tim basket kami," tanya Kio pada Mia.
Gadis itu berhenti mengaduk-aduk minumannya. Ia tak percaya mendengarnya. Terbengong sesaat. Wajahnya terlihat senang bisa dekat dengan idolanya. Sesuatu yang tidak diduganya.
"Yang benar! Aku mau!"
“Tunggu dulu. Ken yang merekomendasikan, nih. Tidak ada sesuatu, kan? Seperti bau-bau nepotisme biar dekat sama dia.” Erik angkat suara.
“Dia cukup kompeten jadi manager tim basket. Aku sudah melihat permainannya," sahut Ken menenangkan.
Mia tersenyum lebar. Ken menghampiri mereka. Di sampingnya ada Maisa yang turut tersenyum tipis. Erik terlihat masih tidak terima. Ken sepertinya tidak terlalu peduli. Ken menepuk-nepuk bahunya.
"Selamat ya, Mi," ujar Maisa.
Mia memeluk lengan Maisa. Wajahnya terlihat sumringah. Tak sia-sia dia memaksa sepupunya untuk mengajarinya bermain basket. Mendapat notice dari orang yang disukai itu sesuatu.
Kio menatap tajam ke arah Maisa, namun tak lagi melihatnya penuh kebencian. Maisa membalasnya dengan senyuman. Ken melotot ke arah Kio tak terima. Erik kesal dengan mereka berdua. Seperti ada lampu menyala di kepalanya, ia berniat menjahili mereka.
"Hei Kio. Kamu pernah pacaran dengan dia, kan?" Erik menyeringai, tangannya menunjuk ke arah Maisa.
"Apa?" Ken terpancing dengan perkataan Erik.
"Mau cari masalah, ya. Aku bukan pacarnya si biang onar," bantah Kio kesal.
Mia mematung mendengarnya. Berita macam apa lagi ini. Tidak mungkin idolanya berpacaran dengan Maisa. Ia melihat dua orang itu bertengkar. Erik terkekeh pelan.
"Maisa, awas aja ya!" guman Mia kesal.
__ADS_1
Maisa menggerakkan kedua tangannya, menggelengkan kepalanya mempertegas kalau itu tidak benar.