
Semakin hari sikap Maisa semakin manja. Selalu mengganggu Kio dan Pak chandra. Tidak peduli yang diganggu marah atau tidak. Pak Chandra dan Kio selalu memarahinya setiap hari. Akan tetapi dia malah tersenyum lebar seolah-olah senang dimarahi. Pak Chandra dan Kio geleng-geleng kepala dibuatnya.
“Maisa akhir-akhir ini aneh sekali. Ada apa dengan anak itu?” Tanya Pak Chandra ketika bersantai di sofa ruang keluarga, meneguk kopinya.
“Entahlah, Pa. Kio juga kurang mengerti.”
Kio membolak balik majalah yang di bacanya berulang kali. Air mukanya terlihat bosan. Ia melemparkan majalah itu ke meja di depannya.
“Kau pergi tidak keluar? Biasanya kau suka keluar nongkrong bersama teman-temanmu?”
“Sebentar lagi, Pa!”
Terdengar bunyi langkah kaki mendekati mereka. Kio hafal siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Maisa. Gadis itu baru saja pulang dari kuliah.
“Kak, temani aku ke toko alat lukis, yuk.” serunya menghampiri Kio.
Not again!
Kio langsung menyambar jaket di sampingnya, bergegas lari keluar. Mencoba menghindar darinya.
"Aku ada pemotretan. Bye!"
Pak Chandra juga segera pergi keluar sebelum menjadi sasaran selanjutnya. Hanya Maisa yang tertinggal di ruangan itu. Kedua alisnya mengerut, sorot matanya terlihat sedih. Padahal dia hanya ingin dekat dengan keluarganya.
Maisa duduk di sofa, mengambil air minum di hadapannya dan meneguknya sampai habis. Dengan pelan meletakkan gelas itu ke atas meja. Dia menghela napas, mencoba mengatur perasaannya. Sadar tak bisa menyalahkan diri sendiri. Dia ingin menjalani hidupnya sekarang ini tanpa penyesalan. Jalannya masih panjang jika ingin ayahnya dan Kio mengakui keberadaannya.
“Sedikit nasihat, Non. Menangis itu bukan berarti cengeng. Juga bukan berarti kalah. Jadi jika Non Maisa ingin menangis, tidak apa-apa. Tak perlu menahan diri. Jangan lupa, berdoa kepada Allah. Karena Allah akan mendengarkan keluh dan kesah hambanya,” Ujar Bi Tari dengan nada penuh ketulusan.
Bi Tari hanya bisa menyemangati Maisa. Dia berharap suatu saat nanti mereka kembali akur seperti saat Maisa kecil dulu.
"Terimakasih nasihatnya, Bi. Oh iya, Bi. Nanti aku membuatkan kopi untuk Papa. Sekalian membuatkan mereka makan malam. Tapi Bibi jangan bilang siapa-siapa ya. Jika mereka tanya, bilang saja Bibi yang buat.”
“Ide bagus, Non. Tapi apa boleh begitu?”
Maisa terus mendesak Bi Tari sampai akhirnya menyetujui. Dia menggosok-gosokkan tangannya, meregangkan otot-otot tangannya. Dengan lincah, tangannya memotong sayuran, memasak makan malam dengan menu yang kesukaan Kio dan Pak Chandra.
Pak Chandra memuji masakan yang dihidangkan. Kio juga sepertinya lebih bersemangat makan. Keduanya tidak begitu menyadari perubahan-perubahan sekitar mereka. Bi Tary hanya tersenyum melirik ke arah melirik kearah Maisa yang ikut makan. Meseo mengedipkan matanya dan memberikan isyarat ok dengan tangannya diam-diam.
Pak Chandra kembali disibukkan dengan laporan perkembangan perusahaannya hari ini. Bi Tari datang membawakan kopi untuknya.
__ADS_1
“Sepertinya hari ini kopi buatanmu enak sekali. Masakannya juga enak. Ada apa? Tidak seperti biasanya. Apa kamu yang masak?”
“Tentu saja yang masak. Saya hanya ingin memberikan sesuatu yang berbeda.”
“Hmmm…. Begitu. Baiklah!"
Bi Tari pergi ke dapur. Di sana sudah ada Maisa menunggu dengan wajah harap-harap cemas.
“Tuan bilang kopinya enak, Non.”
“Benarkah?"
Maisa meloncat kegirangan. Dia sering membuatkan kopi untuk kakeknya dan tidak pernah gagal. Tanpa sadar dia memeluk Bi Tari dengan erat.
“Anu… Non. Bibi tidak bisa bernapas.”
Maisa melepaskan pelukannya. Wajahnya tersipu malu, “Maaf, Bi!”
"Pokoknya saya selalu mendukung Non berbaikan sama Tuan"
"Terima kasih, Bi."
Maisa masuk kekamarnya dengan senyum mengembang di wajahnya. Dia berguling-guling memeluk bantal sambil meneriakkan yes. Rencananya berhasil.
Paginya Maisa kembali menyiapkan sarapan. Bibirnya bersenandung penuh semangat. Setelah semuanya selesai, dia bergegas mandi dan berangkat kekampus. Ada kuliah pagi, Pak Miki akan marah besar jika ada mahasiswanya yang terlambat.
“Aku berangkat duluan,” Kata Maisa.
Tanpa menunggu jawaban mereka, Maisa melesat pergi. Pak Chandra dan Kio heran melihatnya. Kemarin sikap Maisa manja. Sekarang sepertinya penuh dengan kesibukan.
“Kenapa dia? Aneh sekali,” Kata Kio kemudian.
Maisa berjalan santai menuju kampus. Dia memegang beberapa buku tebal. Ada keceriaan di wajahnya. Kampus mulai ramai. Dia sampai di kampus tepat waktu. Tak lama kemudian Pak Miki memasuki ruangan dan mulai mengajar. Dia mencatat semua yang dijelaskan Pak Miki. Sesekali dia bertanya jika ada yang tidak mengerti.
Maisa bergegas ke toilet seusai jam kuliah selesai. Seseorang menyiramnya dengan air dan tepung dari luar. Gadis itu berteriak marah. Dia keluar tapi tak ada seorangpun di dalam toilet. Tangannya mengepal, kesal sekali. Bajunya basah kuyup, rambutnya putih penuh tepung.
Perundungan membuat moodnya hancur seketika.
Maisa menatap dirinya di cermin sudah seperti badut bertabur tepung. mencoba membersihkan sisa-sisa tepung yang tersangkut di tubuhnya. Hari ini benar-benar sial baginya. Beberapa mahasiswa berbisik-bisik, ada yang tertawa mengejek, ada yang menatapnya prihatin.
__ADS_1
Kio dan kedua temannya kebetulan berjalan ke arahnya. ****! Maisa langsung berbalik arah. Dia tak mau mereka melihatnya seperti ini. Apa lagi Kio, pasti bakal menertawakannya.
Terlambat, mereka sudah melihatnya lebih dulu. Ken bergegas menghampirinya. Ia memperhatikan kondisi Maisa yang mengenaskan. Segera ia melepaskan jaketnya, memasangkan ke pundak Maisa.
Kio tertawa terpingkal-pingkal. Jenis kakak bangsat memang. Melihat adiknya dirundung malah menertawakan.
“Ya ampun. Telur mana telur. Tinggal ditambakan telur biar jadi adonan,” Kata Kio disela tawanya.
“Tinggal masukin minyak panas aja, nih. Jadilah gorengan.” Erik turut menambahkan.
Maisa menahan kekesalannya. Ingin rasanya memukul mereka berdua. Ken menyibakkan rambut basah yang menghalangi wajahnya. Jari tangannya mengusap bekas tepung di dagunya.
"Berhenti mengolok-olok Maisa!"
"Ck... Tidak asik ah." Kio mengangkat bahunya, merentangkan kedua tangannya. Ia mengajak Erik pergi dari situ.
Hei! Dia itu adikmu! Ken ingin mengatakan itu pada Kio namun tidak jadi. Sekarang Maisa lah prioritasnya.
"Ayo ganti baju dulu, Sa. Nanti kamu masuk angin. Kebetulan aku bawa kaos cadangan."
Maisa memperhatikan raut wajah Ken sejenak, "Oh... Oke."
Maisa mengenakan kaos yang dipinjam dari Ken. Kaos itu kebesaran di badannya. Dia menyenderkan punggungnya ke dinding. Angin sepoi-sepoi bertiup. Matahari terasa terik tak membuatnya beralih dari atap kampus.
"Biasanya bully hanya terjadi dalam sinetron. Tak kusangka aku juga kena. Argh.... Aku kesal. Kalau ketemu, rasanya ingin kubuat perhitungan dengan mereka," Bibirnya menggerutu tanpa henti.
Ken duduk di sebelahnya, menemaninya dalam diam. Tangannya menggenggam jemari gadis itu. Tak mengalihkan pandangannya dari gadis di sampingnya. Maisa seorang gadis yang kuat. Meskipun Kio dan ayahnya tidak memperlakukannya dengan baik. Dia tetap menunjukkan senyumannya. Kadang menampakkan ekspresi kesal dan cuek.
Aku ingin melindunginya.
Tangannya meraih kepala Maisa, menyandarkan ke bahunya. Mengusap rambutnya lembab dengan lembut. Maisa berhenti menggerutu.
"Maisa!"
"Hmm...."
"I love you."
Ken merasa Maisa mengeratkan genggaman tangannya. Wajahnya terlihat memerah. Dia mencoba menutupi senyuman kecil dengan punggung tangannya. Maisa berharap Ken tidak mendengar suara detak jantungnya.
__ADS_1
"I love you to," bisiknya pelan.