Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.13 Kenangan Buruk Part 2


__ADS_3

Jain dan Evan berlari kecil di rumah sakit menghampiri resepsionis. Keduanya langsung menuju ruang rawat pasien, kamar nomor 505. Dengan tangan gemetar Evan membuka pintu. Jain menepuk-nepuk bahunya.


Maisa sudah ada di dalam. Tangannya menggenggam tangan Lucy. Wajahnya sayu. Lucy masih tak sadarkan diri setelah melewati masa kritis. Katup selang oksigen menutupi hidungnya. Di tangannya ada selang infus. Di dada dan jari tengahnya menempel alat monitor detak jantung. Gadis itu mengalami patah tulang kaki dan tangan dan juga pendarahan otak.


Maisa bangkit dari tempat duduknya melihat keduanya datang. Evan menggenggam tangan Lucy, mencium pipi dan dahinya yang pucat. Raut kesedihan tampak di wajahnya. Ia mencoba menahan tangis melihat kondisi memilukan kekasihnya. Rasa menyesal telah membiarkan gadis itu pergi sendiri memenuhi rongga dadanya. Berharap gadis itu membuka matanya, kembali tersenyum padanya.


Maisa sudah melaporkan kejadian itu pada polisi. Keluarga Lucy sebentar lagi datang menyusul. Jain mengajak Maisa keluar. Memberi ruang untuk Evan. Gadis itu menangis sesenggukan, menyalahkan dirinya sendiri tidak bisa menemani Lucy. Padahal ia sudah berjanji akan melindungi temannya.


"Ini salahku, Kak. Seharusnya aku tidak ikut turnamen saja agar bisa bersama Lucy. Waktu Lucy bertemu di gedung itu, rasanya hatiku hancur. Aku takut Lucy pergi karenaku."


Jain memeluk gadis itu erat-erat. Mengusap rambut kepalanya dengan lembut. Maisa menangis pilu di pelukannya.


"Sstt... Tenanglah! Ini bukan salahmu, Sa."


Ayah Lucy menampar pipi Evan. Suaranya terdengar keras. Ibunya menangis tersedu-sedu melihat kondisi anak gadisnya yang memilukan. Evan menunduk memohon maaf. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan hatinya yang meringis sakit. Tangannya mengepal erat. Ia sungguh menyesal membiarkan Lucy pergi sendiri waktu itu.


"Bukankah kamu sudah berjanji akan menjaga Lucy. Bagaimana bisa jadi seperti ini?"


"Maafkan saya, Pak. Saya lalai menjaga Lucy."


"Jangan temui putriku lagi."


"Pak! Saya mohon berikan kesempatan agar bisa bertemu Lucy."


Evan tidak diperbolehkan bertemu Lucy oleh kedua orang tuanya. Setiap hari ia selalu datang menjenguk, meski hanya bisa mengintip dari kaca pintu. Berdiri termenung, tangannya menggenggam seikat mawar putih kesukaan Lucy. Ia meninggalkan mawar itu di samping pintu dan meninggalkan secarik catatan.


Maafkan aku Lucy. I love you.


Ibu Lucy menengok keluar kamar, merasa melihat bayangan seseorang. Tidak ada seorang pun. Matanya tertuju pada seikat mawar di lantai. Dia membawa bunga itu masuk, meletakkan dalam vas bunga. Matanya memandangi wajah putrinya yang tengah tertidur dengan penuh kesedihan.


...****...

__ADS_1


Maisa berhenti di depan bagunan tua itu. Kepalanya mendongak melihat ke lantai tiga. Tampak bekas lantai runtuh masih baru dan besi pembatas balkon patah. Garis polisi masih terpasang mengitari pagar. Sepertinya tanpa tersadar dia berjalan ke gedung ini.


Suara desau angin menerjang lubang dinding. Rambut pendeknya berkibar di terpa angin. Suasananya sunyi, jarang orang yang lewat. Maisa mengeratkan pegangan tangannya pada tali ranselnya.


Maisa berjalan memasuki gedung. Bau lembab menyengat, udara penuh debu. Sesekali bangunan agak bergetar karena kendaraan besar lewat di jalan raya. Ia menajamkan indera pendengarannya. Hanya ada suara gesekan langkah kakinya yang menggema.


Maisa sampai di lantai tiga. Melangkahkan kakinya perlahan mendekati balkon yang runtuh. Kepalanya menengok ke bawah, tepat dimana Lucy terjatuh. Jantungnya berdegup kencang. Ia mundur selangkah ke belakang. Ketika berbalik matanya bertemu pandang dengan Jain. Gadis itu melompat ke samping. Jantungnya seperti mau copot. Tangannya memegang dada kirinya.


"Sa, ini sudah kedua kalinya kamu ke sini? Di sini berbahaya. Ayo pulang!"


"Tapi aku ingin tahu kenapa Lucy ke sini."


Jain mencoba membujuk Maisa sekali lagi. Keduanya akhirnya turun ke lantai bawah. Tek! Maisa menginjak sesuatu. Ia menggeser kakinya, berjongkok melihat gelang manik-manik dari batu berwarna hitam tertinggal beberapa biji di talinya. Jain dan Maisa saling berpandangan.


Gelang itu milik Lucy. Maisa memberikannya saat pertama kali bergabung sebagai manajer basket. Kenapa gelang itu bisa ada di sini. Ia memunguti manik-manik gelang terlepas dibantu Jain. Ia menarik gadis itu keluar dari gedung.


Kesimpulan sementara dari kepolisian merupakan kasus bunuh diri. Tapi untuk apa Lucy melakukan itu. Ia tak memiliki motif apapun. Jika ingin bunuh diri, harusnya di tempat yang banyak orang lalu lalang, bukan di gedung tua ini. Gedung ini bukan tempat yang tepat untuk bunuh diri.


Dan di sini lagi. Maisa berhenti di gedung tua itu lagi. Kali ini ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanannya. Maisa melewati jalan sempit. Tak jauh dari sana ada beberapa preman yang nongkrong. Mereka tengah tertawa, sesekali menghisap rokok. Langkahnya terhenti, ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka yang membuatnya tertegun.


"Sayang sekali kita tidak sempat mencicipi apem segar. Cewek itu lebih dulu melompat ke bawah."


"Lain kali kita bakal dapat yang enak, bro."


Maisa mengepalkan kedua tangannya. Kemarahannya mencapai ubun-ubun. Sepertinya perempuan begitu murah di mata mereka. Satu, dua, tiga, empat. Bisakah dia menghadapi mereka semua. Tangan Maisa mengetik pesan dengan cepat dan mengirimnya.


Maisa menata senyumnya, menaikkan rok selututnya hingga sepaha, membuka dua kancing atas bajunya. Ia berjalan melenggok seolah-olah melewati mereka.


"Neng, mau kemana buru-buru," kata salah seorang dari mereka.


Maisa tersenyum. Gotcha! Ia berbalik tersenyum manis ke arah mereka. Tangannya menaikkan rambutnya ke belakang telinga.

__ADS_1


"Maaf, Bang. Tadi mau ke Beemart, tahu-tahu sudah sampai sini. Sepertinya aku kesasar."


Para preman itu saling sikut, alisnya bergerak, matanya melirik ke arah paha dan dada Maisa. Seekor buruan yang segar. Keempat preman itu berdiri mendekatinya. Maisa masih menahan senyumnya. Dalam hati dipenuhi dengan sumpah serapah. Rasanya ingin langsung menerjang para bajingan ini. Bertahanlah sebentar sampai mendapat apa yang kamu mau.


"Mari, Neng. Abang antar."


...****...


Aku bertemu mereka. Temui aku sekarang di Jalan Randu.


Jain bergegas berlari bak orang kesetanan setelah membaca pesan dari Maisa. Ia meninggalkan latihan basketnya begitu saja. Kakinya berjalan menuju parkiran motor. Evan baru saja memarkirkan motornya menghampiri Jain yang tengah memasang helm dan menjalankan motornya.


"Mau kemana buru-buru?"


"Kebetulan, Van. Kamu ikut sekalian. Maisa dalam bahaya."


"Apa?"


"Si gila itu mau menghadapi orang yang mencelakai Lucy."


Deg! Mendengar itu, jantung Evan terasa berdetak kencang. Emosi yang dipendam seakan meluap. Ia tak akan memaafkan para bajingan itu jika berani menyentuh Maisa juga. Evan bergegas kembali ke motornya mengiringi motor Jain.


Dasar gadis gila itu. Memangnya dia mau melakukan apa.


Jain merasa Maisa akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Firasatnya tidak enak. Ia menambah laju kecepatan motornya, melibas kendaraan di depannya. Evan pun turut melakukannya.


Jain dan Evan memarkirkan motornya di Beemart. Keduanya berlari masuk ke jalan arah gedung tua itu. Beberapa orang berkerumun sibuk mengambil video sesuatu. Jain menyibak kerumunan, matanya melebar melihat pemandangan di depannya. Evan juga tak kalah terkejut.


Tangan Maisa berlumuran darah, pakaian dan wajahnya terkena cipratan darah. Tatapannya kosong. Gadis itu menghabisi empat orang preman tanpa ampun. Ia tetap memukul salah satu laki-laki meski sudah tak sadarkan diri.


Evan memandangi Maisa yang masih menghajar laki-laki itu. Kemarahannya lenyap begitu saja, meski masih ada sisa kemarahannya untuk para bajingan itu. Ia tak akan melepaskan mereka, dan akan membuat perhitungan hingga mereka membusuk di penjara. Gadis itu mencoba menebus sesuatu yang seharusnya itu menjadi kesalahannya. Dengan lembut, ia menyentuh tangan gadis itu.

__ADS_1


"Sudah cukup, Sa."


__ADS_2