Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch. 78 Kejutan


__ADS_3

Maisa menghabiskan sisa waktunya sebelum keberangkatannya ke Paris melihat Ken dan temannya bermain basket. Anak-anak berlari mengejar bola berwarna oranye. Pasti ia akan merindukan suasana ini.


Ken berlari kecil mengampirinya dan duduk di sampingnya. "Sa, malam sabtu kamu ada kesibukan, tidak?"


Tangannya lincah memainkan bola oranye. Bola basket berputar di ujung jari telunjuknya.


Maisa memusatkan perhatiannya pada laki-lali di sampingnya. "Lagi senggang. Kenapa memangnya?"


Keduanya duduk di bawah pohon mangga pinggir lapangan basket saling memunggungi. Maisa menorehkan kuasan cat ke kanvas. Matanya melirik ke objek di tengah lapangan.


Kio masih asik bermain basket. Tak peduli teriknya matahari membakar kulit. Mia memberi semangat di pinggir lapangan. Meski lukanya belum sembuh benar, namun gadis itu bersikeras memgikutinya.


"Aku mau mengajakmu jalan. Kujemput seperti biasanya di rumah, ya," ujar Ken lagi.


"Oke, Kak."


Maisa mengangguk setuju. Ia ingin menghabiskan waktu sebanyaknya bersama laki-laki itu sebelum berangkat ke Paris. Ken mengacak-acak rambutnya, gemas.


Tak lama latihan basket pun bubar. Ken langsung pergi pemotretan setelah memberikan ciuman di pipi gadis itu. Ia menyeret serta Kio bersamanya.


“Sa, kamu tahu tidak malam sabtu hari apa?” ujar Mia duduk di sampingnya. Ia membuka sebungkus keripik kentang, mulai ngemil.


Maisa mengerutkan kening. Kuas lukisnya diletakkan di atas palet. Tidak ada yang istimewa hari itu, kecuali Ken mengajaknya berkencan.


“Memangnya hari apa?” tanyanya singkat langsung ke inti permasalahan.


Mia membenturkan bahunya ke bahu gadis itu pelan. Matanya mengerling ke arah gadis itu. “Masa tidak tahu. Malam sabtu itu ulang tahunnya Ken.”


"What's?"


Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan rasa terkejut. Matanya membelalak, bibirnya sedikit terbuka. Waktu yang dimiliki tinggal sehari lagi. Kenapa Ken tidak memberitabunya, padahal itu hari penting.


“Kamu ada waktu hari ini, Mi?”


“Ada.”


Maisa bergegas membereskan peralatan melukisnya. “Kalau begitu temani aku mencari kado buat Ken."


"Oke. Yuk, kita cabut!" Mia mengamit lengan gadis itu.


Maisa menghentikan langkah, mengingat kondisi Mia belum fit. "Kurasa ada baiknya kamu istirahat saja, Mi. Aku tidak enak merepotkanmu terus."


Mia tetap menarik lengannya. Mau tak mau Maisa berjalan menjajari langkahnya. "Ey.... Justru aku yang bakal sering merepotkanmu adik ipar."

__ADS_1


Maisa tertawa geli mendengar perkataan temannya itu. Kalau hubungan keduanya lancar tidak menutup kemungkinan Mia akan menjadi keluarga besarnya juga.


...****...


Maisa memandangi kotak kecil berwarna hitam di tangannya. Bibirnya membentuk seulas senyum, berharap Ken menyukai hadiah darinya.


Deru mobil berhenti di depan rumah. Maisa langsung memasukkan kotak itu ke dalam tasnya. Tangannya merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya.


Maisa berjalan ke teras rumah. Ken turun dari mobil menghampiri gadis itu. Senyum tipis berkembang di wajahnya.


"Aku tidak terlambat, kan?"


Maisa menggelengkan kepalanya. "Tidak, kok. Santai saja, Kak."


Ken menoleh ke dalam rumah sesaat. Sepi, tak ada orang. Maisa mengerti gelagat Ken. "Papa lembur di kantor. Kak Kio belum pulang. Mungkin jalan berdua dengan Mia."


"Oh... Oke. Ya sudah. Yuk, jalan. Tadi aku mau ijin dulu."


Ken mengajaknya menonton bioskop romantis. Maisa sesekali melirik ke arahnya. Matanya bertemu dengan mata Ken. Secepat kilat ia mengalihkan perhatiannya pada layar bioskop.


Matanya disuguhkan adegan ciuman mesra sepasang kekasih. Perasaan malu menyerangnya. Ia mencari objek lain untuk mengalihkan matanya dari film itu.


Ekor mata gadis itu menangkap sepasang muda mudi berciuman mesra tak jauh di depannya. Ia berteriak dalam hati.


Maisa memberanikan diri menoleh ke arah Ken. Laki-laki itu bertopang dagu, tersenyum lembut ke arahnya. Jangan ditanya kondisi jantungnya. Otomatis seperti habis lari keliling lapangan bola. Tak tahu lagi wajahnya seperti apa.


"Kak Ken, kok melihatku seperti itu?" bisiknya dengan nada gugup.


Ken mendekatkan wajahnya hingga tersisa satu senti. Maisa memejamkan matanya. Kedua tangannya meremas ujung kardigan.


"Karena kamu cantik," bisik Ken di telinga gadis itu. Ia terkekeh pelan.


Maisa membuka matanya, menoleh ke arah Ken. Cup! Tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibir Ken.


"Wah, ternyata pacarku semakin berani ya," ujar Ken meledek gadis itu.


Wajah Maisa merona merah. Bibirnya mencebik. Ekspresi cemberutnya terlihat imut di mata Ken. Ia meraih tengkuk gadis itu, menarik mendekat ke arahnya.


Bibir keduanya bertemu. Ken mengecup lembut bibir Maisa. Maisa memejamkan kedua matanya, membalas kecupan Ken. Keduanya berciuman cukup lama.


Ken melepaskan tangannya. Maisa menutupi separuh wajahnya dengan kedua tangannya. Wajahnya merah padam.


Selepas menonton film, Ken mengajak Maisa makan malam ke sebuah restoran di gedung pencakar langit. Hanya ada beberapa pengunjung di sana.

__ADS_1


Maisa dapat melihat kota Jakarta dari atas ketinggian gedung lantai dua puluh. Tampak kelap kelip lampu kendaraan berlalu lalang.


Jemarinya meraih kotak kecil di dalam tas. Ia menyodorkan ke hadapan Ken. Ken menerimanya dengan penuh keheranan.


"Selamat ulang tahun, Kak!" Maisa tersenyum manis ke arahnya.


"Ah...!" Sepertinya Ken melupakan hari ulang tahunnya. Ia terlalu malas untuk merayakannya. Setiap tahun hampir tidak pernah merayakannya.


"Apa ini? Boleh aku membukanya?"


Maisa menganguk pelan. "Aku tidak tahu banyak apa yang kau sukai. Tapi semoga Kak Ken menyukainya.


"Apapun hadiah darimu, aku akan menyukainya," balas Ken pelan. Ia membuka kotak itu. Sebuah jam tangan berwarna putih dibalut tali kulit hitam.


Ekor matanya melihat pergelangan tangan kiri Maisa mengenakan jam yang serupa. Ken tersenyum tipis. "Mau memasangkannya untuk ku?"


"Tentu." Maisa mengambil jam itu dari kotaknya, memasangkan ke pergelangan tangan Ken.


"Aku akan men-setting waktunya biar sama." Ken menarik tangan kiri Maisa, menjajarkan dengan tangannya. Ia menyamakan waktu kedua jam itu.


Diam-diam Maisa mengamati Ken. Mengamati setiap jengkal wajahnya. Ken merasa gadis itu memperhatikannya.


"Aku tampan, kan?" celetuk Ken menahan senyumnya.


"Ka... Kata siapa?" balas Maisa mencoba mengelak.


"Katamu waktu membaca majalah tentangku."


Maisa tak membalas perkataan Ken. "Kenapa mesti ingat itu, sih," gerutunya pelan.


"Sa, ada yang ingin aku berikan padamu."


Ken mengeluarkan kotak kecil berwarna merah marun. Ia membuka kotak itu. Sepasang cincin berwarna perak di dalamnya.


"Tak lama lagi kita akan berpisah. Aku tak ingin menyisakan keraguan untukmu. Aku memberikan cincin ini sebagai tanda cintaku padamu. Setelah selesai kuliah nanti, aku ingin melamarmu."


Maisa menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka Ken akan memikirkannya sejauh itu.


Ken meraih tangan Maisa, memasangkan cincin ke jari manisnya. Jemarinya mengusap setitik air mata disudut mata gadis itu. Bibirnya mengecup dahinya lembut.


"Aku mencintaimu," bisik laki-laki itu pelan.


Maisa membalas dengan bibir bergetar. "Aku juga mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2