
'Drrrt'. Bunyi ponsel Maisa bergetar di samping piringnya. Ia meletakkan sendoknya. Kio meliriknya sesaat, tak berkomentar apapun.
Sa, aku jemput ya.
Uhuk!
Maisa tersedak makanan yang di kunyahnya. Buru-buru menenggak air putih di hadapannya. Sekali lagi membaca pesan itu. Matanya melotot. Susah payah ia menelan makanan di mulutnya.
"Jaga tata kramamu!" Ujar Pak Chandra dengan wajah tak peduli.
"Iya, Pa."
Gadis itu panik. Ken tidak boleh menjemputnya. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung mendadak. Jarinya dengan cepat mengetikkan pesan balasan.
Aku sudah di angkot, Ka.
Maisa bergegas menghabiskan makanannya, menenggak minumannya hingga tandas. Tangannya menyambar tas yang tersampir di kursi.
"Aku berangkat duluan, Pak, Kak."
Tak menunggu jawaban keduanya, ia memilih kabur lebih dulu. Lantai keramik agak licin habis di pel. Kakinya terpeleset. Untungnya masih bisa bisa menahan langkahnya. Nyaris saja ia menabrak pintu, jaraknya tinggal beberapa senti lagi.
"Hati-hati, Non! Tadi barusan Bibi pel," seru Bi Tari dari arah pintu dapur.
"Iya, Bi." Serunya sambil lalu.
Gadis itu mencegat bajaj yang lewat di depan rumahnya. Ia menghela napas panjang sesampainya di dalam. Mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Bang, ke Universitas A."
"Siap, Neng!"
Abang bajaj melajukan kendaraannya, lihai melintasi gang-gang sempit. Tubuh Maisa bergoyang-goyang saat bajaj melewati belokan. Ponselnya kembali bergetar.
Kalau begitu besok aku datang lebih pagi. Biar bisa berangkat bareng.
Maisa kembali mengetik pesan balasan.
Tidak usah, Ka. Aku besok berangkat bareng Ka Kio.
Bagaimana kalau pas istirahat siang.
Aku ada kegiatan di klub lukis, Ka.
"Sudah sampai, Neng."
"Oh iya. Terima kasih, Bang."
Bajaj yang ditumpangi berhenti di parkiran kampus. Ia segera membayar dan turun. Gadis itu mengendap-endap, sesekali menoleh ke samping dan menengok ke belakang. Situasi aman terkendali sampai ruang kelas.
Seusai kuliah, ia berniat mampir ke perpustakaan. Dari kejauhan terlihat Ken berjalan ke arahnya. Tas ransel tersampir di bahunya. Maisa memgambil langkah seribu, berbelok ke lorong samping kanannya.
Ken melihat gadis itu langsung mengikuti. Maisa berlari di sepanjang lorong. Laki-laki itu mempercepat langkah, membuntuti.
Ia berbelok lagi dan masuk ke ruangan yang tidak terkunci. Memicingkan matanya, mengintip dari lubang pintu. Ken berhenti sejenak di depan pintu. Maisa menahan napasnya. Laki-laki itu melanjutkan langkahnya. Ia menghembuskan napas lega.
__ADS_1
"Siapa yang kamu intip dari situ?" Suara berat seseorang mengagetkannya.
Maisa berbalik ke arah pemilik suara itu. Kedua tangannya berpegangan pada pintu. Seorang dosen yang di kenalnya bersandar di meja kerja. Tangannya bersilang di dadanya. Ia menatap tajam ke arah dirinya. Kacamata tersemat di atas hidungnya yang mancung. Wajahnya terlihat sempurna dengan terpaan cahaya matahari dari balik jendela di belakangnya. Sosoknya mengingatkan pada seseorang yang dikenalnya. Tapi siapa?
"Kok Pak ada di sini?" Ujarnya dengan nada gugup.
"Kan ini ruangan kerja saya. Kamu yang ada apa tiba-tiba masuk ke sini?"
Maisa melihat lagi tulisan papan akrilik di atas meja. Kepala Jurusan. Matanya melotot.
"Oh my god!'" Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara.
Maisa tertawa canggung. Tangannya menggaruk rambut belakang telinga. Ada sedikit rona merah di wajahnya. Rasanya ia ingin menceburkan diri ke dalam sumur saat itu juga.
"Maaf, Pak! Saya asal masuk saja tadi."
"Hmm...!"
Pak Miki berjalan mendekat ke arahnya. Tangan kanannya memegang gagang pintu, bersiap melarikan diri. Matanya menelisik gadis di hadapannya ini.
"Pak?"
"Jadi siapa yang mengejarmu sampai bersembunyi di sini? Apa perlu aku melapor ke polisi."
Maisa terperangah, langsung menggelengkan kepala. Menggerakkan kedua telapak tangannya memberi isyarat menolak ide barusan. Ia meringis. Intuisi dosennya ini tidak main-main. Atau bisa jadi punya kemampuan membaca pikiran seseorang. Ia mengenyahkan pemikiran konyolnya.
"Tidak perlu, Pak. Tadi hanya umm.... Seseorang yang meminta tanda tangan," jawab Maisa dengan senyum terpaksa.
"Tidak perlu, Pak. Tadi hanya umm.... Seseorang yang meminta tanda tangan. Maafkan saya, Pak. Permisi," jawab Maisa dengan senyum terpaksa.
"Selamat bekerja, Pak. Semangat! Jangan hukum saya, ya! Permisi!" Maisa menutup pintu pelan.
Pak Miki tertawa melihat kekonyolan gadis itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir.
"Dasar! Ada-ada saja."
Di luar Maisa mengelus dadanya. Jantungnya berdetak kencang sampai ke telinganya. Nyaris saja membuat kekacauan di ruang kajur. Ia menggerutu dalam hati.
Dasar Maisa bego. Bisa-bisanya masuk tidak lihat-lihat dulu.
Ia membalikkan badannya ke arah koridor menuju perpustakaan. Tepat Ken berdiri di hadapannya, menyilangkan tangan di dadanya. Jantungnya seperti melompat keluar.
"Kya....!" Maisa menjerit, langsung melarikan diri begitu saja saking terkejutnya.
"Sa, tunggu!"
Kenmenjulurkan tangannya ke arah gadis itu. Sosoknya menghilang di ujung koridor. Ia bingung dengan sikapnya. Mencoba mengingat-ingat kesalahan yang ia perbuat. Sayangnya tak ada satupun yang muncul di kepalanya.
"Tadi siapa yang berteriak?" Tanya Pak Miki berdiri menyenderkan bahunya di pinggir pintu.
Ken menoleh ke arahnya. Menganggukkan kepala, memberi hormat.
"Maaf, Pak. Tadi saya tidak sengaja mengagetkan seseorang." Balas Ken dengan sopan.
"Oh...!"
__ADS_1
Pak Miki terkekeh pelan. Baru saja ia mendapatkan tontonan yang menarik. Ia masuk kembali ke ruangannya. Ken bergegas mencari kekasihnya yang kabur entah kemana.
Maisa mulai menghindari Ken lagi. Gadis itu melarikan diri setiap kali ia mendekatinya. Selama beberapa hari Ken berpikir keras mencari kesalahannya.
Maisa mulai menghindari Ken lagi. Gadis itu melarikan diri setiap kali ia mendekatinya. Selama beberapa hari Ken berpikir keras mencari kesalahannya. Ia berjalan lunglai kembali ke lapangan basket. Anak-anak sudah selesai bermain.
“Habis dari mana?” Tanya Kio padanya sembari menyeka keringat di wajah dan lehernya.
“Aku habis mencari Maisa tapi dia kabur. Sejak kemarin Maisa menghindariku. Sudah seperti kucing liar saja kelakuannya. Dia selalu lari kalau kuhampiri."
"Sepertinya dia bosan padamu." Kio asal menjawab. Ia menyunggingkan sebelah bibirnya ke atas, tersenyum miring.
"Ka Kio!" Seru Mia menatap tajam ke arahnya.
Kio mengangkat bahu, "Iya! Iya!"
“Mungkin dia marah. Memangnya kau sudah melakukan apa?" Tanya Erik sembari mendribel bola berwarna oranye.
Mia mengatupkan kedua tangannya, "Mungkin gara-gara Ka Ken mencium Maisa beberapa hari yang lalu di sini. Padahal romantis, loh!"
Kio menowel kepala gadis itu. Mia balik memukul lengannya. Ia terlihat kesal.
"Kenapa sih, Ka? Kan tidak ada salahnya menyukail sesuatu yang romantis."
"Menjijikkan!" Seru Kio menjauh sebelum kena amukan gadis itu.
Ken yang mendengar percakapan itu mengerutkan kening. Ia kemudian segera berkemas-kemas. “Aku cabut dulu. Ada urusan!”.
Ken berlari pergi meninggalkan yang lainnya. Mencari Maisa di perpustakaan. Dan bingo. Gadis itu terkantuk-kantuk di duduk sudut perpustakaan. Di hadapannya ada buku tebal yang terbuka.
Ken berjalan perlahan mendekati gadis itu, duduk di sampingnya. Ia tak menyadari keberadaan Ken di dekatnya. Kepalanya terantuk-antuk, nyaris saja membentur meja. Beruntung Ken dengan sigap menahannya. Perlahan ia meletakkan kepala gadis itu di lengannya.
Ken ikut membaringkan kepala memandangi gadis itu. Tangan kirinya merapikan anakan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Lama memandangi wajahnya, sampai ia ikut terlelap.
Maisa membuka matanya. Ia terkejut ada Ken tertidur di sampingnya. Mencubit pipinya, memastikan itu bukan mimpi. Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Ken. Laki-laki itu tidak bergeming.
Maisa sedikit bersalah sudah menghindarinya. Pelan-pelan tangannya mendekati pipi Ken. Tinggal beberapa senti lagi, Ken membuka matanya dan menangkap pergelangan tangannya.Ia mencoba menariknya, tapi genggaman Ken lebih kuat.
"Jangan lari, Sa. Aku ingin bicara serius dengan mu."
Gadis di hadapannya mengangguk pelan. Ken melepaskan genggaman tangannya.
"Maafkan aku, Sa. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku terlalu senang waktu itu, jadi aku menciummu di depan rekan setimku."
Maisa memandangnya sedikit bingung. "Tunggu, Ka. Aku tidak marah, kok. Aku melarikan diri karena alasan lain."
Mata Ken kembali berbinar-binar. menghembuskan napas lega. "Benarkah? Syukurlah!"
Maisa semakin merasa bersalah sudah bersikap kekanak-kanakan.
"Sebenarnya akhir-akhir ini aku tidak sanggup melihat wajah Ka Ken. Rasanya jantungku mau meledak. Padahal tidak separah ini sebelumnya. Jadi aku menghindari Ka Ken karena itu. Maaf, Ka."
Maisa mengungkapkan semua keluh kesahnya. Menutupi wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Ken tersenyum mendengarnya. Ia juga merasakan hal yang serupa. Jemarinya menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Sa, I love you! I love you!"
__ADS_1
Wajah gadis di hadapannya merah merona. Menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya. Jantungnya seperti bunyi genderang siap berperang. Ken terus membisikkan kata-kata itu padanya.