
Sehabis masa skorsing, Maisa sering menghabiskan waktu melukis di ruang klub atau membaca buku di perpustakaan. Sejak kejadian itu, teman-teman yang semula dekat dengan Maisa mulai menjauh. Banyak gosip miring yang beredar tentang dirinya. Namun Maisa tidak mau menanggapinya. Mia yang ikut menanyakan kebenarannya hanya ditanggapi Maisa dengan senyum.
Mia pun jarang jalan bareng dengan Maisa. Sekarang ia sibuk menjadi manajer tim basket atas rekomendasi Kio dan Ken. Karena menurutnya Mia cukup baik menjadi manajer tim basket mereka.
Maisa sangat senang mendengarnya, mengingatkannya saat dulu sering bermain basket dengan Jain dan kawan-kawan. Rasanya rindu dengan teman masa kecilnya yang juga dianggap sebagai kakaknya.
Maisa sering jalan sendiri namun ia tidak mempermasalahkan temannya itu. Mau berteman dengan siapa saja itu haknya. Jadi Maisa tak punya kewajiban melarangnya. Lagi pula yang diidolakan Mia itu kakaknya sendiri.
Maisa tersenyum kecil membayangkan betapa girangnya Mia saat Kio merekomendasikannya. Hampir tiap hari Mia menceritakan momen itu dengan raut wajah senang. Hubungannya dengan Ken juga membaik. Laki-laki itu sering mengirimkan pesan sekedar menanyakan kabar.
"Maisa, ada yang mencarimu!" Mbak Maya mencolek bahunya. Tangannya menunjuk seseorang di pintu klub. Mengedipkan sebelah matanya menggoda gadis itu.
Maisa menoleh, melihat siapa yang berdiri di sana. Matanya membola. Ken berdiri di depan pintu, senyum tersungging di bibirnya. Ia mengenakan kaos mustard lengan panjang dan kemeja salur di dalamnya. Seperti ada aura yang kuat mengelilinginya.
Ken mendekati gadis yang tengah terbengong dan duduk di sampingnya. Di hadapannya ada sebuah lukisan abstrak yang hampir selesai. Maisa mengerjapkan matanya, kembali ke alam sadarnya.
"Lukisannya bagus."
"Terima kasih! Kok, Kak Ken ada di sini?" Maisa tersipu, pipinya merona kemerahan. Ia senang laki-laki itu turut menyukai lukisannya.
Ken memandang lukisan di depannya beralih ke wajah Maisa bergantian. "Hmm... Bagaimana kalau buatkan aku sebuah lukisan juga."
Maisa memiringkan kepalanya mendengar permintaan Ken. "Lukisan tentang apa?"
Ken menunjuk ke arah dirinya sendiri dan Maisa. Mulut Maisa menganga sesaat, sedikit terkejut. Sesaat kemudian ia langsung tertawa. Permintaan yang absurd, mampu membuat jantungnya berdetak kencang. Setengah wajahnya ditutupi buku, takut ketahuan memerah.
Ken tersenyum, entah keberapa kalinya senyuman dan tawa gadis di depannya ini sangat mempesona. Matanya menatap intens. Ia ingin melindungi kebahagiaan Maisa, agar tawa di wajah gadis itu tidak menghilang ditelan kesedihan.
Ken menggenggam tangannya. Menariknya keluar ruang klub. Maisa menoleh ke arah Mbak Maya yang melambaikan tangan. Mulutnya mengucapkan kata-kata semangat. Maisa tersenyum canggung.
"Kita mau kemana, Kak?"
"Jalan-jalan!" balas laki-laki itu singkat.
Maisa mematung dalam antrian roller coaster. Bulir keringat menetes di tengkuknya. Ini ngedate, kan? Tapi ngedate macam apa ini? Jujur saja, Maisa takut ketinggian.
Suara teriakan pengunjung yang naik roller coaster membuat nyalinya menciut. Alisnya sedikit berkerut memandang Ken yang berdiri di belakangnya. Tangannya memegang ujung kaos Ken. Wajahnya sedikit memelas seperti anak kucing tersesat. Ken terkekeh geli.
"Kalau takut nanti kamu pegang tanganku," bisiknya di telinga Maisa membuat bulu kuduknya berdiri.
Maisa meneguk ludahnya, mencoba menghilangkan kegugupannya. Sedikit ragu melangkah ke roller coaster. Ken sudah duduk di kursinya paling depan. Gadia itu masih termangu. Ken menarik tangannya untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Roller coaster mulai menaiki lintasan rel. Maisa menggenggam tangan Ken erat-erat. Suara lengkingan memekik telinga dari beberapa pengunjung wahana. Gadis itu berteriak sekencang-kencangnya. Ken tertawa, sesekali berteriak kencang.
"Woho!"
Tubuh Maisa limbung setelah turun dari roller coaster. Kepala terasa pening, pandangan terasa berputar, perutnya serasa diaduk-aduk. Ken memapahnya duduk di bangku taman. Ia menyodorkan sebotol air mineral. Maisa meneguknya hingga tinggal setengah.
Ken memandangnya sedikit khawatir. Ada sedikit rasa bersalah terpancar di matanya. Ia tak menyangka akan separah itu. Maisa mencoba tersenyum, mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.
"Bagaimana kalau kita mencoba yang itu?" Ken menunjuk ke arah wahana rumah hantu.
Maisa tersenyum kecut memandang rumah hantu yang berdiri menjulang. Suram dan menyeramkan. Ken mengulurkan tangannya. Maisa menerima uluran tangannya.
Keduanya memasuki wahana rumah hantu. Terasa gelap, pengap, dan lembab. Suara papan berderit, suasana agak berkabut. Lorong terasa panjang dan menyeramkan. Maisa mengeratkan genggaman tangannya. Keduanya berjalan pelan.
Seorang hantu dengan baju putih lusuh muncul di tikungan lorong. Muka dan tangan penuh kerutan, rambut panjang awut-awutan, kuku yang runcing hitam panjang, seringaian mengerikan dengan gigi menghitam.
Maisa berteriak, refleks memukul hantu yang muncul. Bunyi berdebam keras, sesuatu jatuh ke lantai. Hantu itu langsung tersungkur. Maisa berjongkok, menekan si hantu dengan jari telunjuknya.
"Hantunya tidak bergerak lagi, Kak. Dia pingsan!" bisik Maisa mendongak ke Ken, tangannya masih menotol-notol hantu jadi-jadian yang jatuh pingsan.
Ken menutupi mulutnya dengan punggung tangannya, badannya bergetar menahan tawa. Tawanya meledak saat keluar dari rumah hantu.
"Ada-ada saja. Bisa-bisanya mukul hantu sampai pingsan, tapi takut naik roller coaster." Ken mengusap air matanya yang keluar di sela-sela derai tawa.
Maisa menoleh ke arahnya. Jarak yang memisahkan tinggal beberapa centi. Keduanya bertatapan, saling mengedipkan mata. Sekejap kemudian keduanya sedikit menjauh. Ken mengepalkan tangan kanannya, mendekatkan ke bibirnya. Berdehem pelan. Maisa tersipu, menutupi setengah wajahnya dengan punggung tangannya.
Maisa menarik lengan baju laki-laki itu, menunjuk ke arah bangunan bertuliskan seaworld. Kali ini tanpa ragu-ragu Maisa menggenggam tangan Ken, memasuki terowongan akuarium. Ribuan berbagai macam ikan berenang, mulai dari coral, kepiting, cumi-cumi dan masih banyak lagi. Maisa menempelkan kedua tangannya di kaca aquarium, melihat ikan berenang. Wajahnya terlihat sangat senang
"Ikannya lucu-lucu, ya?" Ada suara perempuan tak jauh berdiri di sampingnya.
"Iya, sayang. Lucu ya." Laki-laki di samping menganggukkan kepala mengiyakan.
"Kalau ikan yang itu di masak kuah kuning pedas, kira-kira enak mungkin, ya?" Maisa menunjuk ke arah ikan bermoncong panjang.
Gadis itu menoleh ke Ken yang berdiri di sampingnya. Nyaris saja Ken kembali tertawa mendengar kekonyolan gadis itu. Sepasang kekasih di samping mereka memandang aneh, menjauhi keduanya.
Keluar dari seaworld, keduanya berjalan di tepi pantai Ancol, menikmati matahari tenggelam di ufuk barat. Tampak sinar jingga cerah bersinar membuat langit berwarna merah jingga. Burung-burung berterbangan kesana kemari mungkin setelah mereka mencari makan seharian penuh. Angin yang terasa sangat sejuk, berhembus lembut. Bentukan siluet yang dihasilkan dari bayangan rumah, pepohonan, dan bangunan pencakar langit menambah syahdunya suasana sore.
Maisa dan Ken duduk di titian kayu coklat kehitaman tersusun rapi sepanjang 100 meter mengarah ke laut. Banyak wisatawan memilih bermain air di pantai berteman dengan deburan ombak, bermain pasir, bermain watersport, berlari-lari di bibir pantai, berkeliling objek yang ada di sana atau lepas berfoto dengan berlatarkan pantai.
Ken memandangi Maisa yang tengah tersenyum tipis. Rambut Miasa berderai diterpa angin. Mata gadis itu masih tertuju pada lalu lalang wisatawan. Ken bersandar di pagar titian, tangan bertopang dagu memandangi keindahan di sampingnya.
__ADS_1
Ken mengantarkan Maisa pulang, menunggangi motor sport hitam. Ken memacu kendaraannya, membuat Maisa mau tak mau memeluk pinggangnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia berdoa dalam hati semoga Ken tidak mendengarnya.
"Benar sampai sini saja?"
Ken berhenti di sebuah gang sempit yang terlihat temaram. Cahaya lampu penerangan jalan redup.
"Iya, rumahku tidak jauh dari sana," sahut Maisa, tangannya menunjuk ke arah gang sempit.
Ken menengok ke gang itu sekali lagi, dan memandang Maisa. "Yakin tidak mau diantar sampai rumah?"
Maisa mengangguk. Ken memasang kembali helm-nya. Tangannya mengusap kepala Maisa.
"Ya sudah. Sampai besok lagi, ya." Ken memacu motornya, dari kaca spion terlihat Maisa melambaikan tangan. Laki-laki itu menyunggingkan senyum.
Maisa berjalan kaki melewati beberapa rumah. Tidak jadi melewati gang sempit itu. Itu hanya alasan agar tidak ketahuan tinggal serumah dengan Kio. Kakinya berhenti di depan rumah mewah. Maisa mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Ini pertama kalinya pulang malam selama tinggal di Jakarta. Dengan hati-hati menaiki tangga rumah. Tidak menyadari Kio membuntuti di belakangnya.
"Habis dari mana?"
Suara Kio membuatnya kaget dan berteriak. Kio menutupi kedua telinganya. Matanya melotot marah.
"Berisik tau!"
"Maisa, kalau teriak-teriak di luar sana!" Pak Chandra keluar dari kamar yang berada di bawah tangga. Mendongakkan kepalanya ke atas dengan wajah marah.
"Maaf, Pa."
"Darimana kamu baru pulang jam segini?"
Maisa melirik jam tangannya, menunjukkan pukul sepuluh. Otaknya berputar mencari alasan.
"Jalan-jalan dengan teman, Pa."
Pak Chandra langsung masuk ke kamarnya. Kio melewati Maisa begitu saja. Maisa menghembuskan nafas lega. Kio berhenti di pintu kamarnya.
"Jalan sama siapa? Ken?"
Maisa mengangguk. Apa kakaknya akan marah. Gadis itu menghampiri Kio, memegang lengannya.
"Iya. Tapi aku tidak bilang kalau kita kakak beradik."
"Cih!" Kio melepaskan pegangan tangannya dan menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
Maisa berjengit kaget. Ada apa dengannya? Ia menghempaskan badannya ke kasur. Ponselnya berbunyi, sebuah pesan dari Ken. Maisa tersenyum, tangannya mengetikkan balasan. Ia memejamkan matanya dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.