Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.19 I Miss You


__ADS_3

Maisa dan Kio berpapasan saat berjalan ke ruang keluarga. Ada rasa canggung diantara keduanya. Pal Chandra sudah lebih dulu duduk, menyeruput kopi panas.


Maisa mengucapkan selamat pagi dengan senyum manisnya, meskipun tidak mendapat jawaban dari ayahnya. Pak Chandra hanya diam saja. Sedikitpun tidak menoleh ke arahnya yang datang belakangan. Namun itu bukan masalah, sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak pindah ke Jakarta.


Maisa melangkahkan kakinya ke luar pagar. Kedua kakinya terasa lemas, tenaganya menghilang entah kemana. Kejadian kemarin masih mengusik kepalanya. Dia berjongkok, menelungkupkan kepala yang mendadak pusing. Napasnya memburu, perasaannya menjadi cemas tanpa sebab. Takut kejadian kemarin terulang lagi. Tasnya dibiarkan jatuh di kakinya.


"Kenapa kamu duduk di sini."


Maisa mendongakkan kepalanya, alisnya mengerut, melihat Kio yang sudah bersiap pergi. Kio memperhatikan mukanya yang memucat, bulir keringat jatuh di pelipisnya. Ia meraih lengan gadis itu, memapahnya kembali ke teras.


"Terima kasih, Kak." Ujarnya pelan.


Kio menepuk-nepuk kepalanya pelan, sekian menit berselang pergi dengan mengendarai motornya. Ia tak mengatakan kemana tujuannya pada Maisa.


Maisa berakhir menghabiskan waktu di rumah. Kejadian kemarin masih menyisakan trauma. Perasaannya sedikit terguncang. Ada perasaan takut saat ingin melangkahkan kaki ke luar rumah.


Sesekali membolos kuliah tak masalah, kan. Bercanda. Dia sudah meminta ijin pada Pak Miki rehat sementara waktu. Suara Pak Miki terdengar cemas dari seberang. Maisa tertawa, mengatakan dirinya baik-baik saja.


Kio menghentikan motornya di parkiran, melepaskan helm dan meletakkan di spion. Tangannya meraih ponsel di saku celana.


"Bro... Hari ini aku ijin tidak ikut kuliah dulu. Ada yang keperluan mendesak." Kio menelepon Erik.


"Woi..."


Belum sempat Erik membalas, Kio sudah mematikan telponnya, memasukkan ponselnya ke saku celananya. Menghela napas panjang. Kepalanya mendongakkan ke atas melihat tulisan di gedung "Polres". Ia memasuki gedung itu.


Di sisi lain, Ken sampai di kampus lebih awal dari yang direncanakan. Bergegas ke klub melukis untuk menemui gebetannya, tidak ada. Di perpustakaan juga tidak ada. Kakinya berlari kecil menuju lapangan basket. Di sana hanya ada Erik, Mia, dan beberapa anggota klub basket. Kio tak terlihat, begitupun dengan Maisa.


"Di mana Kio?"


"Oh... Tadi dia bilang tidak bisa ke kampus. Ada keperluan mendadak." Erik menyahut seraya mendribel bola basket.


"Maisa ijin tidak enak badan." Mia menyela sebelum Ken menanyainya.


"Jangan-jangan mereka berdua kencan."


Erik tertawa memprovokasi Ken. Lihat saja, laki-laki itu langsung melotot ke arahnya. Mia memandangnya dengan sorot mata tajam sekilas siap mengulitinya hidup-hidup.


Ada apa dengan Maisa. Perasaannya menjadi tak tenang. Ken mencoba menghubunginya, tak ada jawaban. Jarinya mengetik pesan untuk gadis itu, berharap membalasnya.


...****...


Maisa mencoba menghibur diri menonton drama korea ditemani setoples keripik. Tertawa melihat adegan lucu. Menangis menghabiskan sekotak tisu. Kio yang baru saja datang dari luar melihatnya menggelengkan kepala, tapi ia tidak menegurnya. Mencoba memberikan ruang untuk adiknya menenangkan diri.

__ADS_1


"Mereka sudah tertangkap pagi ini."


Mendengar ucapan Kio, Maisa berhenti tertawa. Sorot matanya terlihat lega. Namun masih perasaan risau masih ada bersarang di dadanya.


"Tenang saja. Mereka tidak akan berani menyakitimu. Sejak kapan kau jadi selemah ini."


"Aku kan juga manusia normal."


"Normal?"


Kio terkekeh geli mendengarnya, pergi ke luar lagi. Maisa mendengus kesal, mengacuhkannya. Matanya melirik ponselnya yang menyala. Ada telepon masuk dari orang yang dikenalnya. Ken Keren. Tidak ada niat mengganti nama Ken.


"Sa, tidak kuliah? Sakit apa?" Suaranya terdengar khawatir dari seberang.


"Cuma agak pusing, mungkin tekanan darah rendah." Maisa sedikit berbohong padanya.


"Semoga cepat sembuh, ya. Aku kangen pingin ketemu kamu."


"Aku juga, Kak."


Maisa meletakkan ponselnya di meja. Merebahkan badannya di sofa, tangannya memeluk bantal sofa. Pipinya memerah. Dia tersenyum-senyum sendiri, merubah posisi menjadi tengkurap. Matanya bertemu pandang dengan Kio yang duduk di meja makan, tengah menyeruput minumannya. Wajahnya menampakkan ekspresi keki, menggelengkan kepalanya. Sejak kapan dia duduk di sana.


Maisa langsung duduk menegakkan postur badannya, meregangkan kedua tangannya ke atas, melenturkan otot nya. Matanya kembali melirik ke arah Kio yang masing memandangnya.


...****...


Kio tidak sabar melihatnya, melemparkan helm. Maisa sedikit terkejut menangkapnya. Sorot matanya penuh tanya. Kio menghentikan motornya di depan Maisa, menggerakkan jempol tangannya ke jok belakang, menyuruhnya naik. Raut wajah Maisa kembali bersinar cerah, senyumnya merekah. Kio merasa keputusannya tepat saat melihat adiknya ragu-ragu keluar dari rumah.


Kio menghentikan motornya agak jauh dari kampus. Hubungan mereka memang membaik, namun Kio masih tak mau terang-terangan mengakui adiknya. Maisa turun dari motor. Tangannya menenteng helm yang tadi dipakainya. Tas ransel terselempang di punggungnya. Berjalan pelan menyusuri trotoar. Matahari cukup terik menyengat kulit. Lalu lalang kendaraan melintasi jalan, mengepulkan asap knalpot dan debu ke udara. Pepohonan di pinggir jalan tak mampu membersihkan kotornya udara.


Sebuah motor sport berhenti di dekatnya. Ken membuka kaca helmnya. Maisa menghentikan langkahnya. Beberapa perempuan yang juga melintas menoleh ke arah Ken. Wajah mereka merona merah, terpesona dengan ketampanannya. Ada yang sampai ke sandung.


"Tadi Kio, kan? Kok bisa kalian berangkat bersama."


Tatapan Ken menyelidik. Nadanya terdengar dingin. Senyum yang biasa menghiasi wajahnya tak ada. Ia kesal melihat mereka berangkat bersama. Maisa tak pernah mengatakan apapun tentang hubungannya dengan Kio. Mencoba mengorek info dari Mia, tidak ada hasil.


Maisa mengeratkan genggaman tangannya pada tali tas. Ia merasa bersalah melihat Ken kecewa.


"Eum.... Rumahku searah dengan rumah Kak Kio."


Ken masih menatapnya tak percaya. Maisa masih terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Sebenarnya Maisa merasa tak enak membohongi Ken. Kio bakal marah kalau memberitahu tanpa seijinnya. Ia lebih suka bersikap seperti orang asing, daripada mengakui Maisa adiknya pada orang lain.


Ken menghela napas panjang melihat Maisa masih membisu. Ia menggerakkan tangannya, meminta gadis itu naik. Ken melajukan motornya memasuki halaman kampus. Memarkirkan motornya di parkiran yang agak lengang.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak." Ujar Maisa pelan.


"Hmm..." Ken meletakkan helmnya di atas motor.


"Kak Ken marah?"


"Aku tidak marah." jawabnya singkat.


Maisa merasa Ken marah padanya. Biasanya laki-lako di hadapannya ini selalu memasang senyum tipisnya. Kali ini wajahnya lempeng.


"Maaf, Kak. Tapi benar kok rumahku searah dengan Kak Kio."


Ken masih membisu. Maisa bingung harus berbuat apa. Sesuatu terbersit di kepala kecilnya. Tidak mungkin. Dia tersenyum kecil.


"Apa Kak Ken cemburu."


Ken tersentak, menampik semua perasaan yang membakar hatinya. Tidak mungkin itu cemburu.


"Aku tidak cemburu."


"Oh...."


"Oke... Oke... Sudah cukup."


Ken mengusap-usap kepala Maisa, mengecupnya lembut. Maisa memegang rambutnya. Senyum di wajahnya semakin mengembang. Pipinya memerah. Matanya menatap punggung lebar Ken yang menjauh, menghilang di balik tikungan koridor. Dia berpisah dengan Ken karena mengikuti mata kuliah yang berbeda.


Maaf, Kak. Aku tidal bisa menceritakan yang sebenarnya. Suatu saat nanti aku akan menceritakan semuanya.


Maisa berjalan ke arah yang berlawanan. Selang beberapa langkah, seseorang memeluknya dari belakang. Dia menoleh. Sebuah kecupan mendarat di pipinya.


"I miss you. Sampai nanti, Sa."


Ken langsung berlari meninggalkan Maisa yang membatu. Tangannya memegang pipinya. Beberapa orang berbisik-bisik di belakangnya. Dia segera berlari menjauh, menutupi wajahnya yanh memerah dengan punggung tangannya


Gadis manis itu tak sengaja bertemu dengan Pak Miki. Dia menganggukkan kepalanya memberikan hormat. Pak Miki menghentikan langkahnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Maisa mengerutkan keningnya. Beberapa kejadian tak menyenangkan memang membuatnya sedikit terpuruk. Bahkan rasa takutnya masih tersisa di setiap sendi-sendi tulangnya.


"Saya sudah baik-baik saja, Pak. Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya."


Maisa tersenyum. Dia segera perlu meninggalkan Pak Miki sebelum sang dosen mencecarnya dengan pertanyaan aneh.

__ADS_1


__ADS_2