Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.54 Hujan


__ADS_3

Tetes air yang jatuh dari atas ketinggian awan mulai mengguyur aspal jalan, membasahi sudut-sudut kota. Suara gemericik hujan bertalu diiringi tiupan angin. Udara terasa menusuk kulit. Bau tanah basah menguar memenuhi indera penciuman.


Hampir setengah jam Maisa mematung di depan minimarket. Matanya mengawasi orang yang berlalu lalang, menyeberangi ruas jalan dengan berlindung di bawah payung yang mengembang. Ada yang memilih untuk di emperan sepertinya.


Ia menggosok-gosok tangannya yang mulai kedinginan. Sepertinya hujan tak akan kunjung berhenti. Jarak minimarket tak jauh dari rumahnya. Ia berniat menerobos saja.


Langkah kaki kecil berlari menyusuri pinggir jalan. Di tangannya membawa sekantong belanjaan. Pakaian yang dikenakan mulai kuyup. Sebuah mobil dengan kecepatan cukup tinggi melewati jalanan yang tergenang air. Cipratan air membasahi tubuhnya. Maisa menyemburkan air yang tersiram ke wajahnya. Bibirnya menggerutu kesal.


"Woi... kalau jalan pelan-pelan, dong."


Bi Tari membukakan pintu, terkejut melihat kondisi gadis itu basah. Ia tergopoh-gopoh mengambilkan handuk. Maisa meletakkan belanjaannya di atas meja dapur.


"Langsung mandi saja, Non. Biar tidak sakit."


"Mana pesananku?" Terdengar suara Kio dari arah pintu ruang tengah.


Ibu jari tangan gadis itu menunjuk ke arah meja. Kio melesat mengambil sebungkus camilan dan sebotol cola dari dalam plastik. Ia berjalan begitu saja melewati Maisa.


"Kenapa tidak sekalian berkubang lumpur saja," ujar laki-laki itu terkekeh.


Maisa melotot kesal, menimpuknya dengan handuk basah. Bukannya berterima kasih malah mengejek. Handuk itu melayang tepat singgah di wajah Kio. Laki-laki itu mengambil ujung handuk. Alisnya tertarik ke bawah, bibir terangkat ke atas dan hidung mengerut.


"Iyuh! Bau selokan." Kio menutupi hidung dengan sebelah tangannya.


"Kak Kio! Awas ya! Bakal kubekab sama handuk itu sampai kau pingsan," seru Maisa berlari mendekat.


Kio melemparkan handuk sembarang dan berlari menghindar. Keduanya kejar-kejaran dari ruang tamu lalu ke ruang tengah terus ke dapur, berulang-ulang.


"Apa yang kalian lakukan? Akhir pekan bukannya bersantai malah membuat keributan. Keluar saja kalian berdua!" seru Pak Chandra dari arah tangga. Kacamata tersungging di pangkal hidungnya. Matanya melotot ke arah kedua bocah yang lagi ngos-ngosan.


"Hujan, Pa," sahut Kio.


"Dan kau! Cepat ganti bajumu sana. Airnya menetes di sana sini." Tunjuknya pada Maisa.

__ADS_1


Maisa mengangguk, langsung naik ke kamarnya. Mengguyur badannya dengan air hangat. Begitu keluar dari kamar mandi, ia langsung bergumul dengan selimut. Tangannya sibuk membalas pesan dari Ken. Sesekali bibirnya tertawa kecil.


'Besok ayo kita berkencan. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, aku rindu. Mumpung jadwal fotoshoot masih lengang.'


Oke, Kak. Aku juga kangen.


Kencan! Wajah Maisa langsung memerah membaca pesan dari Ken. Berguling ke kiri ke kanan. Kakinya menendang selimutnya.


Pagi harinya Maisa masih bergelung selimut, enggan menggerakkan badannya. Matanya terasa berat. Sayup-sayup telinganya mendengar Bi Tari memintanya bangun. Menggoyang-goyangkan badannya. Maisa menggeliat merapatkan kembali selimutnya.


Sunyi. Sepertinya Bu Tari menyerah membangunkannya. Ada seseorang menyentuh dahinya. Terasa dingin. Ia membuka matanya, samar-samar melihat sosok Pak Chandra di sampingnya. Ah... tidak mungkin itu ayahnya atau ini cuma mimpi. Maisa kembali memejamkan matanya.


Bi Tari bergegas turun menghampiri Pak Chandra yang bersiap untuk ke kantor. Pak Chandra mengerutkan keningnya. Tak biasanya melihat Bi Tari tergesa-gesa.


"Pak, Non Maisa kayaknya kena demam. Tadi Bibi bangunin, tidak mau bangun. Kok badannya agak anget."


Anak itu sakit? Pak Chandra meletakkan kembali tasnya, bergegas naik ke kamar Maisa. Anak itu terlihat meringkuk di dalam selimut. Tangannya menyentuh dahi Maisa. Panas menyentuh permukaan kulit.


Bi Tari datang membawakan termometer. Pak Chandra meletakkan di telinganya. Suhu yang tampil 40 derajat. Ini bukan hangat lagi, tapi panas.


Setelah mengatakan hal itu, Pak Chandra langsung pergi. Bi Tari hanya bisa menggelengkan kepala. Ia meletakkan kompres dingin ke dahi Maisa.


"Ya semoga saja nanti Bapak bisa membuka hatinya dan sayang lagi sama, Non."


****


Ken membawa sebuket bunga mawar untuk kekasihnya, disembunyikan di balik punggungnya. Ia mengetuk pintu. Wajahnya tersenyum menanti seseorang yang dirindukan. Pintu terbuka, Bi Tari muncul dari dalam. Sedikit kekecewaan tersirat di wajahnya.


"Maisa ada di dalam, Bi?" tanyanya canggung. Tanggannya menggaruk rambutnya.


"Non Maisa demam. Seperinya habis kehujanan kemarin."


Seketika raut wajah Ken berubah cemas. Bi Tari mengantarnya ke kamar. Maisa terlelap di balik selimut dengan kompres dingin di dahinya. Ken meletakkan buket bunga ke atas meja. Menarik kursi dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


Bi Tari meninggalkan keduanya. Ken menyentuh pipi gadis itu perlahan. Masih panas. Maisa mengenggam pergelangan tangannya. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu.


"Jangan pergi!" suaranya terdengar lirih.


"Aku tidak akan pergi, Sa."


Ken menggenggam balik tangan gadis itu. Sebelah tangannya merapikan selimut yang kusut. Tirai hujan kembali turun dengan lebat. Tempias hujan mengumpulkan titik-titik embun di jendela. 


Ken masih duduk di samping gadis itu. Mengganti kompres lama dengan yang baru. Ia berharap gadis itu segera membaik dan membuka matanya. Menampakkan senyum indah di wajah manisnya.


Alis Maisa mengernyit sesekali menggumankan kata jangan pergi. Ken menepuk-nepuk kepalanya. Sepertinya gadis itu bermimpi buruk.


"Sa, jika aku punya kekuatan menembus mimpi. Aku akan masuk untuk menenangkanmu." Ken menggenggam erat tangan gadis itu.


Maisa berdiri di sebuah ruangan keluarga. Pak Chandra dan Kio duduk di sofa menatapnya tajam. Gadis itu berjalan mendekat. Pak Chandra beridiri, berjalan ke sudut ruangan dan menghilang.


"Tunggu, Pa!" serunya. Tak ada jawaban. Tak lama berselang Kio berjalan menjauh, menghilang di sudut gelap. Ia mengejarnya, mencoba menggapai namun tak bisa.


Tiba-tiba di sekitarnya gelap gulita. Maisa berteriak sekuat tenaga memanggil ayah dan kakaknya. Tak ada jawaban. Tak ada yang kembali. Ia menangis dalam sunyi, duduk bersimpuh, menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Sa! Maisa!" suara seseorang memanggilnya.


Ia berdiri melihat ada sosok di timpa cahaya. Sosok itu mengulurkan tangan ke arahnya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Kemarilah!"


Maisa melangkahkan kakinya pelan, lalu berlari kecil ke arah sosok itu. Meraih tangannya. Sosok itu menariknya ke luar dari kegelapan.


Maisa membuka matanya, mendapati Ken tertidur di sampingnya. Laki-laki itu menggengam tangannya erat. Di atas meja ada sebuket mawar. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis.


Maisa menyingkirkan kompres. Melihat jam dinding di kamarnya sudah hampir sore. Sepertinya ia tertidur cukup lama. Gadis itu memperhatikan wajah Ken yang tertidur. Jemarinya menyentuhnya lembut.


Ken merasakan ada seseorang menyentuhnya. Matanya terbuka. Dilihatnya Maisa tersenyum ke arahnya. Hatinya yang mengganjal terasa lega. Tanpa sadar, ia memeluk gadis itu erat. Dahi keduanya saling bertemu.

__ADS_1


"Terima kasih sudah membaik, Sa."


Maisa menganggukkan kepala. "Terima kasih juga sudah menjagaku."


__ADS_2