Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.64 Kolektor Lukisan


__ADS_3

Ken nanti datang langsung ke studio Ravia, ya. Kita ada sesi pemotretan di sana.


Suara Albert melengking dari seberang telepon seperti penderita asma. Ken menjauhkan ponselnya dari telinga. Perasaannya bimbang antara memilih pekerjaan atau Maisa. Ia berjanji akan mengajaknya jalan-jalan hari ini.


"Bolehkah aku tidak ikut hari ini. Aku ada janji kencan dengan pacarku," bisiknya pelan.


Absolutly no!


Albert langsung memutuskan teleponnya. Ken hanya bisa melongo. Ia mondar mandir di balik sofa tamu. Laki-laki itu mendesah pelan, mengacak-acak rambutnya.


Maisa menyeruput segelas capucino latte dingin. Ia memperhatikan Ken yang tengah berbicara dengan seseorang dari dalam telepon. Dari raut wajahnya, laki-laki itu terlihat kesal.


"Apa ada masalah kerjaan, Kak? Kita batalkan dulu kencan hari ini. Kita bisa pergi lain kali," ujarnya dengan senyum lembut di wajahnya.


Ken duduk di sampingnya. Menarik gadis itu ke bahunya. "Tapi aku sudah berjanji padamu."


Maisa mencubit hidung laki-laki itu. Sikapnya kadang kekanak-kanakan membuatnya gemas. "Masih ada hari esok."


Ken mengerutkan keningnya. Bibirnya mencebik kesal. Acara yang disusunnya buyar seketika. Maisa mencium pipinya dengan cepat berharap moodnya membaik.


Ken memegangi pipinya. Gadis itu kembali minum capucino miliknya. Ken bengong sesaat lalu tertawa kecil.


"Iya, deh! Aku tidak bisa menang menghadapimu. Ah... Kemarin Kio yang memintaku untuk menjemputmu. Jangan bertengkar kalau bertemu dengannya."


Ken memberikan dua lembar tiket ke taman hiburan kepadanya. Terserah mau diapakan gadis itu. Maisa memiliki ide tersendiri untuk memakai tiket itu.


Pikirannya melayang pada Mia. Gadis itu pasti sedang bersama Kio. Sebenarnya ia tahu banyak panggilan masuk dari kakaknya sejak kemarin, namun tidak diangkat. Tahu lah, dirinya tertidur pulas di rumah Ken.


Kio terlihat canggung duduk di hadapannya. Keluar ucapan maaf dari bibirnya karena tidak bisa membantunya. Ia sama sekali tidak menyalahkannya. Ini masalahnya sendiri dengan ayahnya.


Sebelum pergi Maisa memberikan tiket padanya. Sepertinya Kio belum mengajak Mia kencan semenjak jadian. Gadis itu hanya menceritakan kesehariannya dengan Kio padanya. Meski begitu Mia terlihat bahagia.


"Apa ini?" Kio mengangkat sebelah alisnya.


"Tiket kencan, dong."


"Kalau itu aku tahu. Tapi kenapa diberikan padaku?"

__ADS_1


Maisa menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Matanya melirik ke arah Mia yanh sibuk memilih pastry. "Ah... Itu karena Ken tiba-tiba ada jadwal pemotretan. Kudengar dari Mia, kalian tidak ada rencana hari ini. Kenapa tidak dipakai saja. Jangan lupa siapkan dua buah tangkai mawar."


Maisa mengedipkan sebelah matanya menggoda kakaknya. Mata laki-laki itu terbelalak lebar. Pasti Mia yang memberi tahunya. Sebelum membuka mulutnya, Maisa sudah menjauh menahan senyum di wajahnya.


Saat menunggu angkutan, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal muncul dari layar ponselnya. Ia mengerutkan keningnya. Suara berat laki-laki dari seberang telepon.


Hampir saja lupa memperkenalkan diriku. Aku Abshar Antono.


Maisa melihat ponselnya yang masih terhubung dengan penelepon. Matanya berkedib beberapa kali. Nama itu tak asing di telinganya. Laki-laki itu seorang pelukis dan kolektor terkenal.


Aku melihatmu saat lomba melukis di JIE. Gaya lukisanmu cukup menarik. Bisakah kita bertemu. Ada yang ingin kubicarakan.


Nyaris saja gadis itu melompat senang kalau tidak mengingat dirinya di tempat umum. "Benarkah? Saya sangat senang sekali. Kapan, Pak?"


Sekarang! Saya tunggu di Hotel A. Saat ini di sini ada pameran lukisan.


Maisa mengepalkan kedua tangan, melakukan jabbing ke bawah. Kakinya berjingkat kecil. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Beberapa orang yang lewat menggelengkan kepala, heran.


Menyadari menjadi pusat perhatian, Maisa kembali kalem. Berdehem beberapa kali. Tapi wajahnya tetap tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Bagaimana tidak, seorang pelukis terkenal mendadak menghubunginya. Sebuah kesempatan yang tidak mungkin dilewatkan begitu saja.


Kak Ken. Aku pergi ke Hotel A, ya. Ada pameran seni di sana.


Hati-hati di jalan, Sa. I love you!


Maisa tertawa kecil. Ia mengirimkan emotikon hati padanya. Sebuah taksi lewat di depannya. Tangannya sigap melambai menyetop taksi itu.


"Pak, tolong ke Hotel A, ya."


Taksi yang ditumpangi melaju menyusuri jalan raya. Sesampainya di depan hotel, Maisa menghembuskan napas beberapa kali. Menghilangkan kegugupannya yang tiba-tiba menyerangnya.


Maisa diantarkan seorang conciege laki-laki ke aula pameran. Cukup banyak pengunjung menikmati lukisan yang di pajang. Mata gadis itu langsung menyapu seluruh ruangan bernuansa putih dengan lukisan menggantung berjejer di sana.


Dirinya seakan tersedot dengan lukisan yang dipamerkan dari gaya impresionis hingga karya modern. Ia berkeliling dari satu lukisan ke lukisan lainnya. Matanya berbinar melihat setiap detil lukisan.


"Sedang menikmari lukisan?" sapa seseorang berdiri disampingnya.


Maisa menoleh. Seorang laki-laki berumur kisaran empat puluh tahunan dengan jambang tipis di pipinya. Rambutnya sengaja di warnai dengan warna cokelat terang.

__ADS_1


"Kenalkan Abshar yang meneleponmu tadi." Laki-laki itu mengulurkan tangannya.


Maisa menyambut uluran tangannya, memperkenalkan diri padanya. Keduanya berjalan beriringan melihat setiap lukisan. Maisa mengeluarkan pendapatnya.


"Aku merasa kekuatan misterius dan dinamis dalam lukisan ini. Ah... Maafkan aku kalau banyak bicara."


Abhsar tersenyum pada gadis di sampingnya. Ia terlihat antusias melihat koleksi lukisan yang di pajang.


"Tak apa. Aku senang mendengar pendapatmu. Bagaimana kalau kita berbincang di lounge. Kudengar ada benerapa menu baru du sana."


Maisa mengikuti laki-laki itu ke lounge hotel bergaya klasik dengan lampu kristal gantung berjejer dilangit-langit. Beberapa rak minuman bercat cokelat dan taman vertikal menambah kenyamanan. Kaca transparan hampir mengelilingi dinding luar.


"Kamu memiliki bakat melukis. Aku ingin menawarkan beasiswa kuliah di Prancis."


"Benarkah ini, Pak?"


Maisa terperangah, tak bisa menahan rasa terkejutnya. Telinganya berfungsi normal, tak salah dengar. Ia tak menyangka mendapatkan beasiswa ke Prancis. Tapi tentu saja ia harus meninggalkan Ken.


"Tentu saja. Sayang sekali kalau bakatmu disia-siakan begitu saja. Kulihat kamu rajin memposting lukisanmu ke Youtube dan Instagram."


"Ternyata Bapak melihatnya." Maisa tersipu malu. Pipinya merona merah.


Abshar tertawa kecil. "Wajar kalau aku tahu. Teknik yang kamu gunakan sudah bagus. Akan lebih baik kalau dikembangkan lagi. Kamu bisa memikirkannya. Kalau sudah siap kamu bisa menghubungiku."


Laki-laki itu memberikan kartu bisnisnya pada Maisa. Gadis itu menerima dengan kedua tangannya. Ia melihat tulisan dalam kartu bisnis. Mapo Gallery.


"Anda pemilik Mapo Gallery?" Maisa terkejut untuk kedua kalinya. Galeri yang dikunjungu tempo hari. Pantas saja ia seperti mengenali lukisan yang dipajang.


Astaga! Seketika Maisa kepikiran sesuatu. Waktu mengomentari lukisan, apa ada kata-kata yang kurang baik. Ia mencoba memutar ulang memorinya.


"Jangan tegang begitu. Nanti aku tunggu informasi darimu." Abshar terkekeh pelan melihat gadis itu sedikit panik.


Maisa menghela napas lega. Ia harus memberi tahu Ken tentang ini. Setidaknya jarus berdiskusi dengannya. Ia tak sabar sampai di rumah.


Maisa mematung. Rumah mana memangnya yang dimaksud. Ia menjalankan stopwatch di ponselnya selama satu menit. Mengundi antara pulang ke rumahnya sendiri atau ke rumah Ken. Bibirnya terus mengulang kata Ken dan rumah.


"Ken... Rumah... Ken.... Rumah..."

__ADS_1


Stopwatch berhenti saat ia mengatakan kata rumah. Gadis itu menghela napas kecewa malah berhenti di kata rumah. Tak tau lah. Ia menyetop taksi dan mengatakan alamat rumah Ken.


__ADS_2