Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.45 Persiapan Ultah


__ADS_3

Sabtu pagi, Kio dan kawan-kawannya terlihat ikut menyiapkan pesta outdoor di taman samping rumah, dekat dengan kolam renang. Beberapa pegawai event organizer sibuk memasang dekor untuk acara.


Terlihat pernak-pernik pesta ditata sedemikian rupa hingga terkesan simpel, minimalis, dan elegan. Mereka tampak semangat merancang desain pesta.


Maisa dan Mia memperhatikan kerumunan yang bekerja keras mempersiapkan pesta. Sesekali membantu mengambilkan benerapa pernak-pernik dekor untuk dipasang.


"Wah! Kelihatannya meriah sekali. Keren! Pestanya nanti pasti meriah," ujar Mia pada gadis di sampingnya.


“Begitulah. Kamu bakal datang kan, Mia?"


"Tentu dong. Ini juga salah satu kesempatan buatku dekat dengan Kak Kio," balas Mia berbisik di telinganya.


Maisa terkekeh pelan. Ia memukul lengan gadis itu pelan. "Kamu gigih juga, ya!"


Mia tertawa kecil. "Of course! Selama janur kuning belum melengkung."


Ken memperhatikan Maisa yang tengah bersenda gurau dengan Mia. Tawa merekah di wajahnya. Ia terlihat cantik saat seperti itu. Kakinya tersandung lantai back drop. Ken mengaduh kesakitan. Ia mengumpat dalam hati.


Maisa segera menghampiri begitu mendengar suaranya. Raut wajahnya terlihat khawatir.


"Kak Ken tidak apa-apa? Apa ada yang luka? Biar kuambilkan obat."


Maisa beranjak pergi setelah menghampiri Ken. Langkahnya terhenti. Ken menangkap pergelangan tangannya. Ia berbalik menatap laki-laki itu. Ken menggelengkan kepalanya. Senyum mengembang di wajahnya.


"Aku tidak terluka kok, Sa. Cuma kesandung saja."


Maisa menghembuskan napas lega. "Benarkah? Syukurlah kalau begitu."


"Makanya, mata itu dipakai yang benar. Jangan meleng," seru Kio dari arah belakang Ken. Ia terlihat sibuk memasang tanaman merambat imitasi.


Ken mengumpat kesal pada Kio. Maisa hanya tertawa. Ken mengeratkan genggaman tangannya, mencium punggung tangan gadis itu. Maisa segera menarik tangannya. Pipinya bersemu merah.


Kio berdecak kesal melihat keduanya. Bukannya membantu malah asik bermesraan.


"Woi... Tolong ambilkan daun rambat di sebelah itu, dong!" seru Kio menunjuk tumpukan hijau tak jauh darinya.


Mia bergegas mengambilnya beberapa, dan menyerahkan padanya. "Ini, Kak!"

__ADS_1


Kio memperhatikan Mia yang tersenyum sesaat. Ia langsung mengambil tanaman rambat di tangan gadis itu tanpa mengatakan apapun.


"Tolong ambilkan pagar plastik di sebelah sana," serunya lagi. Dagunya bergerak menunjuk pagar plastik tak jauh dari tumpukan tanaman rambat.


Mia bergegas mengambilnya lagi dan menyerahkan padanya. Kio hanya diam saja mengambil benda itu dari tangannya.


Mia melihat pagar plastik yang dipasang Kio agak miring. Ia membantu menahan sebelah ujungnya, sementara Kio mengikat sebelahnya lagi.


Tangan Kio tak sengaja menyentuh tangannya. Kedua pasang mata bersirobok beberapa saat. Mia menarik tangannya, mengalihkan pandangannya ke arah Erik yang sibuk mengangkut pot tanaman hias.


"Maaf, Kak!"


"Cih!" Tiba-tiba Kio merasa kesal melihat gadis itu memperhatikan Erik. Ia segera mengenyahkan itu dari pikirannya. Ini tidal ada sangkut paut dengannya, kenapa juga ia harus kesal.


Maisa memperhatikan keduanya dari kejauhan. Mia antusias membantu Kio mengambilkan barang dan membantu menatanya. Saat melihat Kio, senyumnya menghilang berganti rasa ingin menggeplak kepalanya.


"Jangan khawatir! Perlu waktu buat Kio peka dengan perasaannya," ujar Ken yang duduk istirahat di sampingnya.


Maisa mengangguk. Matanya masih memperhatikan semua kesibukan mendekor back drop untuk acara nanti.


Tak terasa hari menjelang sore. Semuanya sudah siap untuk acara besok. Meja berbentuk bulat dan bangku sudah tertata, back drop sudah sepenuhnya selesai dipasang.


"Sip!" seru Erik mengacungkan jempol.


Mia diantar pulang lebih dulu oleh Erik dengan motor sportnya. Ken membuka helemnya, tersenyum ke arah Maisa. Tangannya mengacak-acak rambut gadis itu.


"Besok aku jemput, ya. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat dulu."


Maisa merapikan rambutnya yang berantakan. "Oke, Kak. Hati-hati di jalan."


"Sudah pulang sana. Kalian bikin sakit mata saja," ujar Kio mendengus kesal dengan nada menggerutu. Menggerakkan tangannya, menyuruh Ken cepat pergi menjauh.


Ken mengacuhkan omelan Kio dan memacu motornya hingga menghilang di ujung jalan. Maisa kembali ke taman samping rumah, mengambil ponselnya yang tertinggal di sana.


Setangkai bunga mawar putih imitasi jatuh di terpa angin tak darinya. Maisa mengambil dan memasangkan kembali di pilar samping back drop.


"Sedang apa kau?"

__ADS_1


Suara Kio membuatnya terkejut. Bunga yang baru saja dipasang kembali jatuh. Ia memungutnya lagi dan memasangkan ketempatnya.


"Ini ada bunga yang jatuh, Kak."


"Jangan pegang apapun. Nanti tambah berantakan."


“Pelit amat sih, kak. Aku kan cuma memperbaikinya tadi.”


Maisa beranjak pergi dari tempat itu. Tanpa sengaja kakinya tersandung kaki bangku. Ia mengaduh kesakitan. Spontan tangannya mencari pegangan. Ia menarik sulur bunga hingga putus.


"Maisa!" seru Kio dari seberang kolam dengan nada kesal.


"Ups! Sorry! Aku tidak sengaja."


"Awas kau, ya!"


Kio bergegas menghampirinya. Maisa menghindar menjauh mengelilingi pinggir kolam. Ia malah tertawa, membuat Kio semakin kesal. Terjadilah aksi kejar-kejaran.


Maisa kehabisan napas setelah cukup lama berlari menghindari Kio. Napasnya tersengal-sengal. Tanpa disadari, Kio sudah ada di belakangnya dan mendekapnya tiba-tiba. Maisa kaget dibuatnya. Ia merebut bunga di tangannya.


"Kena, kau!" Serunya. Kio segera melepaskan adiknya, pergi ke pilar, memasangkan bunganya lagi.


Angin sore bertiup cukup kencang, sebuah pilar terlihat miring, hampir roboh. Maisa berlari ke arah Kio dan mendorongnya menjauh hingga tersungkur. Benar saja pilar itu roboh di tempat Kio sebelumnya berdiri. Maisa kehilangan keseimbangan dan jatuh ke kolam.


"Ada apa ini?"


Pak Chandra yang baru saja datang, berlari menghampiri Kio yang meringis kesakitan. Lengannya tergores. Pak Chandra memapah putranya ke teras samping. Ia segera masuk ke dalam mengambil obat.


Maisa yang tidak bisa berenang berusaha naik kepermukaan. Ia meminta tolong dengan suara timbul tenggelam. Tangannya bergerak mempertahankan diri untuk tetap di permukaan.


Kio menyadari Maisa tak terlihat sejak mendorongnya. Matannya nyalang mencari keberadaan gadis itu ke setiap sudut taman. Tidak ada di manapun. Ia berlari ke pinggir kolam. Maisa tidak terlihat dipermukaan kolam. Namun permukaan kolam masih beriak seperti ada sesuatu di sana. Kemungkinan terburuk melintas di kepalanya. Tidak mungkin anak itu tenggelam. Wajah Kio memucat seketika.


“Maisa!” teriaknya histeris.


Sementara itu Maisa yang kehabisan napas perlahan tenggelam ke dasar kolam. Ia berusaha mengulurkan tangannya ke atas. Tak ada seorangpun yang menggapainya. Beberapa gelembung oksigen keluar dari hidungnya.


Apa aku akan mati di sini. Padahal masih banyak yang ingin aku lakukan. Apa Kak Ken sampai rumah dengan selamat. Tiba-tiba aku jadi merindukannya.

__ADS_1


Maisa mulai menutup matanya. Samar-samar ada yang berenang ke arahnya. Ia menggapai uluran tangannya. Setelah itu semuanya menjadi gelap.


__ADS_2