Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.34 Menyamar


__ADS_3

Gosip tentang Ken memiliki pacar kian santer. Terlebih lagi pacarnya dikenal sebagai perempuan gila. Karena tak ada yang tahu akun medis sosial Maisa, kolom komentar di mesia sosial Ken dipenuhi hujatan ditujukan untuk Maisa. Ada yang memintanya putus dan menjauhi Ken. Ia tidak punya akun pribadi, yang ada hanya untuk bisnis dan hobinya, tidak memakai namanya sendiri.


Kok Ken mau pacaran dengan perempuan gila.


Lebih cantik Alice dari pada dia.


Dasar pelakor!


Pasti open BO!


Mana mungkin Ken mau sama cewek open BO.


Putus saja dari Ken. Ngaca! Dasar burik!


Aku tidak mau jadi fansnya lagi kalau Ken masih berpacaran dengan perempuan itu.


Maisa membaca semua komentar buruk di Instagram Ken. Perasaannya memburuk. Ia merasa bersalah pada Ken. Semua ini terjadi karenanya. Ia merasa dirinya jahat. Jika saja ia tidak berpacaran dengan Ken, pasti tidak akan seperti ini.


"Apa Kak Ken baik-baik saja?" Suara Maisa terdengar lesu di telepon.


Ken mengerutkan keningnya. Ada apa dengannya. "Aku baik-baik saja, Sa. Apa kamu membaca komentar di Instagramku?"


Ken menebak apa yang ada dipikirannya. Tepat sasaran. Maisa terdiam sejenak. Apa Ken punya indera keenam? Ia mengiyakan.


"Kak Ken, bagaimana kalau kita...."


Ken mengerti kegelisahan gadis itu. "Jangan berpikiran yang macam-macam, Sa. Aku tidak mau putus denganmu."


Glek! Kali kedua Ken berhasil menebak pikirannya. "Tapi ini semua gara-gara aku, Kak Ken jadi begini, kan?"


"Dengarkan aku, Sa. Alice tetap akan membuat skandal itu meskipun bukan kamu. Jadi jangan khawatir. Aku bisa menanganinya. Mungkin kita bakal tidak bisa bertemu untuk sementara."


"Uhm..."


"I love you, Sa."


"I'm yours and i'm happy with you."


Wartawan memburu keduanya untuk mencari kebenaran itu. Ia selalu menghalagi wartawan untuk meliput Maisa dan hanya menjawab sekenanya. Tak ingin kekasihnya tertekan.


Maisa kucing-kucingan berangkat ke kampus. Ia mengenakan topi, menyisipkan rambut pendek. Kaca mata tersemat di hidungnya serta masker menutupi wajahnya. Tak lupa memakai jaket kebesaran hasil merampok Kio. Penampilannya persis seperti laki-laki cantik.


Penggemar Ken di kampus melayangkan protes. Bergosip di belakangnya. Terang-terangan ada yang menyindirnya perempuan tak sadar diri. Maisa menanggapi dengan senyuman.


“Sa, yang benar kamu pacaran sama Ken. Tidak bercanda, kan?” Tanya Mia.


Keduanya tengah duduk di perpustakaan. Beberapa buku tebal menumpuk di tengah meja. Maisa hanya mengangguk mengiyakan. Mia menutup mulutnya karena tidak percaya mendengarnya. Ia memukul pelan lengan temannya.

__ADS_1


“Kok aku tidak diberi tahu, sih. Jahatnya. Tapi kamu tidak apa-apa, kan?" Ujarnya setengah berbisik.


"It"s okay. Nanti kamu juga bakal seperti ini kalau ketahuan jadian sama Kak Kio."


Pipi Mia memerah, membayangkan berpacaran dengan Kio. Tangannya memegang pipinya malu-malu. Maisa terkekeh geli. Sesuka itu sama Kio, kakaknya yang tengil.


"Dasar cewek tak sadar diri, jelek. Mana mungkin Ken suka padanya. Dia pasti menggoda Ken. Jadi pengen belajar caranya. Siapa tahu nanti bisa menggaet sugar daddy."


"Halah... Palingan jual diri, open BO."


Beberapa empat mahasiswi tertawa mengejek, duduk tak jauh dari meja mereka. Kepala Mia seketika mendidih. Ia menggebrak meja, mengagetkan Maisa dan gerombolah mahasiswi di seberang meja. Matanya menatap manar penuh kemarahan.


"Woi! Kalau ngomong jangan sembarangan. Kalian lebih burik dari Maisa," sergah Mia


Seorang gadis berambut pirang sepunggung berdiri, "Apa kamu bilang."


Mia dan keempat mahasiswi beradu pandang. Sama-sama diliputi emosi. Maisa memijit kepalanya, melihat kedua kubu bersitegang. Ekor matanya melihat seorang laki-laki muda, penjaga perpustakaan mendekati mereka.


"Jika kalian ribut di sini, cepat keluar."


Maisa memegang lengan Mia, mengajaknya keluar. Gadis itu mendengus kesal. Maisa hanya tersenyum. Membereskan buku di meja, mengembalikan ke rak semula. Sebelum kuar dari perpustakaan ia berbalik menghadap mahasiswa yang mengejeknya.


"Jadi bagaimana kalau kalian menggoda sugar daddy."


"Apa....?" Seru gadis berkaca mata di seberang. Suaranya melengking.


Maisa memgamit lengan Mia ke luar perpustakaan. Ia terkekeh, mengacungkan jari tengah pada mereka. Keempatnya bengong dengan mulut sedikit terbuka, kehabisan kata-kata.


"Dasar cewek gila," Seru keempatnya.


Maisa berniat pulang ke rumah. Tak disangka di gerbang kampus ada beberapa wartawan berkumpul. Mereka gigih juga. Ia memutar badannya, berniat mengambil perlengkapan menyamarnya di klub melukis. Tubuhnya menabrak seseorang. Ada tangan menyusup di pinggangnya, menahan tubuhnya yang limbung.


Maisa mendongak, matanya bertemu dengan senyuman tipis Ken. Ia menahan napas, mengedipkan matanya beberapa kali. Tersadar beberapa saat, ia melepaskan tangan Ken di pinggangnya. Menarik laki-laki itu menjauh dari pintu gerbang.


Ia menjajari langkah gadis itu. Jarinya menggenggam erat tangannya. Maisa tersentak kaget membuatnya tersenyum simpul.


Sudut gedung yang sunyi, pohon mangga berjejer rapi. Maisa menengok ke kesamping kiri dan kanan. Aman. Tingkahnya lucu seperti tupai di mata Ken. Ia terkekeh geli.


"Ka Ken, kok tadi tiba-tiba ada di belakangku. Bagaimana kalau ketahuan wartawan."


"Mengikutimu."


Jawaban yang singkat membuat mulut gadis itu menganga. Ken beringsut maju, mendesak gadis itu ke dinding. Mengungkung dengan kedua tangannya.


"Kak Ken?"


"Aku kangen sama kamu, loh. Kita hampir tidak bisa bertemu sejak terakhir kali aku ke rumahmu. Gara-gara skandal sialan itu."

__ADS_1


Suara halus Ken membuat dadanya terasa bergemuruh. Tangannya menekan dadanya, menenangkan detak jantungnya yang menggila. Tentu saja ia merindukan Ken. Ken selalu melindunginya dari wartawan hingga Ia tak dapat bertemu.


Rasanya malu mengatakannya langsung. Tapi ya sudahlah. Masa bodoh. Maisa memberanikan diri memeluk Ken. Wajahnya memerah.


"Aku juga kangen." Suaranya pelan nyaris berbisik.


Ah...Sial. Tingkahnya menggemaskan. Pipi Ken merona, ketularan Maisa. Ia membalas pelukan gadis itu.


Ken memberikan paperbag berisi pakaian pria untuk menyamar lengkap dengan rambut palsu berwarna pirang pada Maisa. Gadis itu menerimanya dengan heran.


“Ini bukan punyaku, Kak."


"Memang. Ini bajuku. Cepat ganti sana."


Maisa segera berlari ke toilet tak jauh dari sana. Ken menunggu Maisa berganti pakaian di luar. Tak lama kemudian Maisa keluar mengenakan kaos dan jaket kebesaran. Tak lupa juga kacamata tersemat di hidungnya. Ia mencium kaos, aroma musk dari Ken.


Ken tersenyum tipis. Entah apa yang dipikirkannya. Gadis itu terlihat lebih menggemaskan.


“Kau tampak tampan sekali."


Maisa mengembungkan pipinya, cemberut. Ia kesal Ken selalu menggodanya. Ken mencubit pipinya, berjalan mendahuluinya.


Motor Ken dihentikan oleh wartawan di gebang. Ia membuka kaca helmnya. Wartawan memberondongnya dengan pertanyaan masalah skandal dengan Alice.


“Apa benar retaknya hubungan anda dengan Alice saat ini karena orang ketiga?


"Apa kekasih anda sekarang adalah orang ketiga itu?


Ken merasa jengah dengan pertanyaan yang terus berulang. "Aku sudah menjelaskan sebelumnya. Tidak ada hubungan dengan Alice. Kekasihku hanya satu dan itu bukan Alice."


Maisa melewati kerumunan itu dengan leluasa karena tidak ada yang memperhatikannya. Ia memandangi Ken yang menerobos dari kerumunan itu, memacu motornya meninggalkan kampus.


Kak Ken benar-benar tidak ingin aku menghadapi wartawan sendirian.


Maisa tersenyum pahit segera keluar dari kampus sebelum ada yang menyadari penyamarannya. Perasaannya masih bercampur aduk.


Ken membunyikan klakson motornya. Ia menghampiri Maisa yang melamun berjalan kaki melewati halte. Gadis itu menghentikan langkahnya.


Ken menyuruhnya naik ke motor. Awalnya Maisa tidak mau. Karena Ken menatapnya dengan pandangan menyeramkan, akhirnya ia naik juga.


“Kita mau kemana?" Tanya Maisa ragu-ragu.


Ken diam saja. Ia malah mempercepat laju motornya. Maisa terkejut, refleks memeluk pinggang laki-laki itu. Ia memukul pelan bahu Ken.


“Kau ingin membunuhku, ya?” teriaknya.


Ken hanya tertawa. Ia terus melajukan motornya. Maisa diam memeluk pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2