
Berita Ken membawa kekasihnya secara rersmi di hadapan publik saat ulang tahun Kio menjadi topik hangat perbincangan. Beberapa masyarakat umum termasuk muda mudi mengenalinya. Mau tak mau Maisa memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Setiap kali bertemu dengan pak Chandra di meja makan atau di ruang tengah, ia memberikan tatapan mata tajam. Terlihat geram dengan kelakuannya. Maisa tak peduli, hanya memberikan senyuman terbaik. Ia tak ingin berdebat dengan ayahnya. Toh sebentar lagi ia akan diminta kembali ke Yogjakarta tempat neneknya.
Kio sendiri tak ambil pusing dengan berita itu. Meskipun melarangnya, kedua sejoli itu tetap menjalin hubungan diam-diam. Ia sibuk dengan perasaannya sendiri yang gundah gulana gara-gara seorang gadis.
Sa, kamu beneran jadian dengan Ken?
Jain terdengar antusias saat di telepon. Maisa tertawa pelan, suaranya terdengar renyah. Laki-laki itu pasti melihat gosipnya di mesia sosial.
"Ya begitulah, Kak," jawabnya dengan wajah tersipu malu.
Wah, selamat ya. Aku tidak perlu khawatir lagi karena sudah ada yang menjagamu di sana. Oh, ngomong-ngomong hari ini aku bakal ke Jakarta. Ada keluarga yang menikah. Nanti aku mampir ke tempatmu.
"Oke, Kak. Hati-hati di jalan."
Maisa menutup teleponnya. Ia mengambil palet di atas meja kecil, berniat melanjutkan lukisannya.
"Siapa tadi, Sa. Selingkuhanmu, ya?"
Suara berat seseorang duduk di sampingnya membuat tersentak kaget. Ia menoleh, mendapati Mas Ardi sangat dekat dengannya. Maisa tersentak memekik kaget, nyaris terjungkal. Beruntung tangannya berhasil menarik lengan baju laki-laki itu.
Palet yang dipegang melayang mendarat di muka Mas Ardi dan jatuh ke lantai. Ia hanya bisa melongo dengan wajah warna warni berlumuran cat. Maisa langsung terpingkal-pingkal, memegangi perutnya.
"Makanya jangan muncul tiba-tiba, Mas. Tanggung sendiri akibatnya," seru Maisa disela tawanya.
Mas Ardi memasang tampang cemberut, mulutnya berkedut. Maisa tak tega langsung mengambilkan tisu, membersihkan wajah laki-laki itu.
"Tadi temanku yang dari Jogja, Mas. Bukan selingkuhan," gumannya seraya mengelap cat yang tersisa di wajah Mas Ardi.
Mas Ardi memperhatikan gadis manis di hadapannya ini. Ia masih telaten mempersihkan noda di wajahnya. Hatinya berdesir. Ada yang bergolak dalam perasaannya. Sayangnya gadis itu sudah ada yang punya.
Mas Ardi berdeham pelan. "Tadi cuma bercanda, Sa. Jangan diambil hati."
"Asik benar kalian berdua, ya!" seru seseorang dari arah pintu.
__ADS_1
Keduanya menoleh. Ken dengan wajah masam berdiri di samping pintu, melipat kedua tangannya. Sorot matanya terlihat dingin, rahangnya terkatup. Ekspresinya mengeras.
"Sejak kapan Kak Ken berdiri di situ?"
"Sejak kau mengambil tisu."
Maisa gelapan, menarik tangannya dari wajah Mas Ardi. Seperti tertangkap basah sedang selingkuh. Tapi ia kan tidak melakukan kesalahan, kenapa harus gugup seperti itu.
"Sst... Pacarmu cemburu, tuh," bisik Mas Ardi pelan.
Maisa menghampiri Ken yang masih menatapnya tajam. "Tadi aku tidak sengaja menumpahkan paletku ke wajah Mas Ardi."
"Oh...."
Wah, Ken ternyata marah besar padanya. Terbukti dari jawabannya yang pendek dan nada bicaranya yang ketus. Maisa mendekatkan wajahnya, kakinya berjinjit menyamai tinggi Ken. Ia berbisik ke telinga laki-laki itu.
"Jangan khawatir, Kak. Di hatiku cuma ada kamu."
Ken terperangah dengan kata-kata Maisa yang begitu berani. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan malu. Telinganya terlihat memerah. Bisa-bisanya ia mengatakan itu pada Ken.
Jantung Maisa berdetak tak karuan. Wajah Ken mendekat. Ia menutup matanya. Permukaan kulitnya dapat merasakan napas laki-laki itu.
Suara bunyi pintu dibuka keras. Mbak Maya masuk menoleh pada kedua sejoli yang berdiri di samping pintu. Ia menyeringai melihat Ken dan Maisa duduk kaku, terlihat canggung.
"Hayo, tadi habis melakukan apa?" Mbak Maya menggoda keduanya.
"Biasalah kalau lagi bucin. Aku sudah jadi obat nyamuk di sini," seru Mas Ardi dari seberang ruangan.
"Bu- bukan begitu," sangkal Maisa dengan rona merah hampir mewarnai seluruh wajahnya.
Ken menariknya pergi dari klub. Suara cekikikan Mbak Maya terdengar menggema. Rasanya Maisa ingin menceburkan dirinya lagi dalam kolam di rumahnya.
Ken tidak dapat menghentikan senyumnya sepanjang jalan. Mengingat polah Maisa yang malu-malu terlihat menggemaskan. Lihat saja sekarang gadis itu menutupi separuh wajahnya dengan punggung tangannya.
Di lapangan basket sudah menanti Mia bersama para pemain. Akhir-akhir ini Ken sering menyeretnya ke lapangan basket setelah selesai dari klub melukis. Maisa senang saja karena bisa melihatnya bermain basket dari dekat dan mengobrol dengan temannya.
__ADS_1
Aku sudah sampai di Jakarta. Kiki juga bersamaku. Dia merajuk gara-gara aku memberitahumu kalau mau kesini. Gagal buat kejutan katanya.
Ia membaca pesan dari Jain. Maisa tersenyum dan membalas pesannya. Terdengar sorak sorai penonton setia dari pinggir lapangan. Ken baru saja melakukan dunk, memasukkan bola ke ring. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya. Ia membalas senyumnya dan mengacungkan jempol.
...****...
Maisa berjalan mondar-mandir di kamarnya. Pesan yang kirimkan pada Jain dan Kiki belum juga di balas. Ia mencoba menelepon namun nomor keduanya tidak aktif. Apa baterai ponsel mereka habis atau memang sengaja dimatikan. Tidak lucu mengerjai temannya seperti ini.
Pak Chandra menonton berita televisi di ruang keluarga sambil minum kopi. Di sampingnya, Kio sedang membaca majalah. Pak Chandra sesekali menanyakan tentang kuliah. Kio hanya menjawab sekenanya. Perhatiannya tertuju pada sebuah berita terbaru.
Kecelakaan beruntung di jalan tol Cawang. Sebuah truk diduga rem blong menabrak beberapa kendaraan tepat di lampu merah. Lima orang dinyatakan meninggal, satu kritis, dan tiga belas luka ringan.
Terdengar bunyi gelas pecah. Pak Chandra dan Kio menoleh kesumber suara. Maisa berdiri dengan dengan tangan gemetar. Rona merah terkuras dari wajahnya.
“Ma- maaf,” katanya gugup.
Maisa memunguti gelas yang pecah dengan tergesa-gesa. Tanpa sengaja serpihan kaca menancap di tangannya. Ia mengaduh pelan karena tidak ingin mengganggu Kio dan ayahnya.
Darahnya mengucur membasahi lantai. Maisa berusaha menghentikannya. Ia mengernyitkan wajahnya menahan sakit. Bi Tari datang tergesa-gesa setelah mendengar keributan di ruang tengah.
“Aduh, Non. Kenapa ada banyak darah? Sebentar Bibi ambilkan obat.”
“Tidak apa-apa kok, Bi. Paling darahnya keluar sebentar saja.”
“Sebentar gimana? Ini darahnya banyak loh."
Kio segera menghampiri Maisa. Menariknya duduk di kursi. Darah mengucur di telapak tangannya. Bi Tari datang membawa kotak obat.
“Bi Tari tolong bersihkan pecahan gelasnya. Biar Maisa aku yang urus.”
Bi Tari mengangguk. Ia segera membersihkan kaca serta darah yang mengalir dilantai.
Kio mengambil beberapa lembar tisu untuk menekan darah yang mengalir. Ia mengambil etanol dan menyiramkannya ke tangan Maisa. Maisa menggigit bibirnya menahan sakit. Dengan cepat Kio memerban tangan Maisa yang terluka.
“Lain kali pakai gelas plastik, lebih simpel. Bawa gelas saja tidak bisa," gerutunya mengomeli gadis itu.
__ADS_1
Maisa tersenyum, senang Kio mengkhawatirkannya. Ia mencoba mencari informasi terkait kecelakaan itu. Dalam hati hanya bisa berdoa, berharap kedua sahabatnya baik-baik saja.