
"Apa kau sudah yakin akan kembali ke rumah?" ujar Ken pada Maisa. Ia menjajari langkah gadis itu. Keduanya berjalan beriringan menuju perpustakaan. Ia membukakan pintu untuk gadis itu.
"Aku ingin mencobanya untuk terakhir kalinya. Mungkin Papa mau membuka hatinya untukku," balas gadis itu pelan.
Maisa berjalan ke rak-rak buku tentang seni. Ia mengambil beberapa buku dan membawanya ke meja baca. Ken mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Bagaimana kalau hanya sebagai alasan untuk kerja sama dengan Aery Corp lagi?" Ken menghentikan perkataannya. Gadis disampingnya melihatnya dengan tatapan tajam.
"Maaf. Seharusnya aku tidak perlu ikut campur," ujarnya lagi.
"Tak apa, Kak. Aku senang kamu selalu mengkhawatirkanku," balas Maisa sungguh-sungguh. Suaranya tenang terdengar lembut.
Ken memperhatikan Maisa yang membaca buku. Tangannya bertopang dagu. Matanya menelisik setiap gerak-gerik gadis itu.
"Sa!" Seseorang memanggilnya. Kio berjalan cepat, langsung duduk di hadapannya.
Wajah Ken berubah masam. Mengganggu waktunya berdua saja. Kio terlihat tak peduli.
"Apa kamu mau pulang ke rumah?" tanya Kio dengan wajah harap-harap cemas.
Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Infonya cepat sekali sampai ke telinganya. Apa pak Chandra yang memberi tahunya. Rasanya tidak mungkin.
"Kamu tidak suka?" balas Maisa pendek.
Kio menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. "Bukannya tidak suka. Hanya saja aku merasa senang kamu mau kembali."
Maisa menyilangkan kedua tangannya melihat dua laki-laki itu lalu lalang di hadapannya membawa kardus. Padahal barang yang akan dibawa tidak banyak, satu kopor berisi pakaian, satu kotak dokumen, dan dua dus perlengkapan lainnya. Ia tak berniat membawa semua barangnya.
Ken dan Kio bersikeras membantunya meski sudah menolak. Kedua laki-laki itu tak membiarkannya menyentuh satu barang pun untuk dipindahkan ke mobil. Maisa pasrah saja, tak ingin ambil pusing beradu mulut dengan mereka.
Ken menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Maisa duduk di sampingnya memandang ke kiri jalan. Kio memacu motornya beberapa meter di belakang mobil.
Bi Tari menyambut Maisa dengan wajah sumringah. Tak ragu-ragu ia langsung memeluk gadis itu. Maisa hanya tertawa kecil karenanya.
"Jangan pergi lagi, Non. Bibi kesepian di sini."
Maisa menata kembali barang bawaannya di kamar. Ken memperhatikan setiap sudut ruang kamar. Tatapan matanya terhenti pada sebuah foto di atas meja. Seorang gadis kecil tertawa dipelukan ibunya. Ia mengusap foto itu dengan lembut.
__ADS_1
Maisa mendekati laki-laki itu. Ken mengembalikan lagi foto itu ke tempatnya. "Kamu terlihat imut saat kecil."
"Oh benarkah?" Maisa tersipu malu. Ia memandang foto itu. Banyak kenangan yang tersimpan di sana. Kenangan itu masih terpatri dalam pikirannya.
Kio melotot ke arah dua sejoli yang baru saja keluar dari kamar Maisa. Tangannya menyilang di depan dadanya. Tatapan matanya menyidik. "Lama sekali kalian di dalam. Kalian tidak melakukan sesuatu tak senonoh, kan?"
Ken menimpuk wajahnya dengan bantal sofa. Bibirnya gatal jika sehari saja tidak membuatnya kesal. "Pikiranmu saja yang kotor. Semoga saja Mia tidak tahu sifatmu ini."
Maisa tertawa kecil. Keduanya bertingkah seperti anak kecil. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia bergegas berlari keluar. Ken dan Kio mengikuti di belakangnya.
"Aku lupa kalau hari ini ada janji dengan pak Abshar," serunya panik.
Abshar memperhatikan laki-laki yang duduk di sisi kiri dan kanan gadis itu. Suasana kafe tak begitu ramai. Cocok untuk memulai sebuah pembicaraan santai. Ia terkekeh pelan. "Penjagaanmu ketat juga ternyata."
Maisa tertawa setengah terpaksa mengingat ia hampir menghabiskan waktu lima menit untuk berdebat dengan keduanya di luar. Ken dan Kio bersikeras menemani masuk. Keduanya tak percaya dengan laki-laki yang akan ditemuinya.
"Mereka sedikit tertarik dengan lukisan. Jadi begitu mendengar namamu, mereka ingin ikut."
"Hm... Jadi lukisa seperti apa yang kalian sukai?"
"Lukisan modern," balas Kio sekenanya.
"Oh, begitu." Abshar menahan senyumnya. Dua laki-laki itu melihatnya dengan tatapan tidak senang. Memangnya, masa muda itu masa-masa menyenangkan.
Keduanya menelisik laki-laki yang menginjak usia kepala empat. Ia tengah menjelaskan beberapa yang perlu disiapkan untuk pergi ke Paris.
"Jadi kamu setuju akan mengambil beasiswa di sana. Aku senang sekali mendengarnya. Tak banyak pelukis muda berbakat di negara ini."
"Saya juga senang mendapatkan kesempatan ini, Pak. Saya akan mempersiapkan berkas yang diperlukan setelah mendekati akhir semester ini."
Abshar melihat arloji di tangannya. "Aku tidak bisa berlama-lama. Hubungi aku jika perlu bantuan."
Maisa dan Abshar berjabat tangan. Ken dan Kio melempar tatapan tak suka. Gadis itu hanya menghela napas dengan tingkah keduanya.
...****...
"Aku dengar dari Kio kau menyetujui beasiswa kuliah di Paris," ujar pak Chandra saat keduanya duduk di ruang keluarga.
__ADS_1
"Dasar Kak Kio ember.'
Maisa menggerutu dalam hati. Ia berniat akan mengatakannya sendiri nanti. "Iya, Pa. Akhir semester ini aku akan pindah ke Paris. Di sana sudah ada asrama yang bisa ditinggali. Jadi jangan khawatir."
"Aku sama sekali tidak khawatir," balas pak Chandra pelan.
Maisa mangut-mangut. "Oh baiklah. Kalau begitu aku tidur duluan, Pa."
Gadis itu segera naik ke kamarnya. Pak Chandra diam-diam mencari tahu tentang Universitas VL, kampus baru Maisa nanti.
Maisa merebahkan diri di kasur. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. Ayahnya sama sekali tidak terlihat khawatir. Ia jadi meragukan keputusannya sendiri.
Keesokan harinya gadis itu berangkat ke kampus dijemput oleh Ken. Wajah pak Chandra terlihat masam.
"Lama tidak berjumpa, Om." Sembari menunggu Maisa turun, ia menyapa pak Chandra.
Pak Chandra tak membalas sapaannya. "Lain kali kau tidak perlu menjemputnya lagi.
Ken memiringkan kepalanya. "Apa Om mau memisahkanku dengan Maisa?"
Pak Chandra mendengus. "Bukankah sebentar lagi kalian akan berpisah?"
Lalu apa masalahnya? Ingin rasanya Ken mengucapkan itu tapi keburu Maisa datang menghampiri.
"Yuk berangkat," ujar gadis itu. Ia tak begitu memperhatikan suasana aneh diantara mereka berdua.
Sesampainya di kampus, Maisa melihat Mia berlari ke arahnya dan memeluknya. Untung saja ia tidak terjungkal ke belakang. Ada Ken yang menahannya di sana.
Kio menghampiri keduanya dengan santai. Ken melotot ke arahnya. "Tolong jaga pacarmu. Dia hampir melukai Maisa."
Kio berdecak pelan. "Dasar posesif."
Mia menyeret gadis itu menjauh dari dua laki-laki itu. Ini saatnya girls time. "Sa, kamu kembali ke rumah ya? Aku mendengarnya dari Kio."
Maisa tertawa tertahan. Sejak kemarin ia terus mendengar kata-kata seperti itu berulang kali. "Iya."
Mia memeluknya erat. Ia tersenyum senang. Manik cokelat Maisa melebar.
__ADS_1
"Syukurlah, Sa. Aku senang kamu berbaikab dengan keluargamu. Sedih rasanya mengingatmu harus tinggal sendirian."
Maisa menepuk-nepuk punggung temannya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Mi. Aku tidak apa-apa sekarang."