
Beberapa waktu sebelum Maisa mendapat skorsing.
Ken mondar mandir mengelilingi kampus mencari Maisa. Sulit menemukan keberadaannya. Padahal masih di kampus yang sama. Dari kejauhan, gadis itu berjalan ke arahnya. Senyum berkembang di wajah Ken saat melihatnya. Ia mempercepat langkahnya, menghampiri gadis itu.
"Anu..." Ken dan Maisa membuka mulut bersamaan.
"Duluan saja, Sa." Ken memberikan ruang untuk gadis itu berbicara lebih dulu. Ia mengawasi setiap gerak geriknya.
Ken menikmati setiap momen yang ada. Hidungnya yang kecil, bulu mata lentik, rambut pendek yang digerai diterpa angin. Bahkan tinggi gadis itu hanya sampai dagunya. Gadis di depannya jauh dari tipenya. Tapi wajahnya benar-benar manis menambah pesonanya sendiri. Membuatnya berpikir ulang soal tipenya.
Maisa terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu. Beberapa kali membuka bibirnya. Matanya bergerak gelisah.
"Aku minta maaf sudah membuat Kak Ken marah. Gara-gara aku, kamu jadi bertengkar dengan Kak Kio."
terpampang senyum di wajah Ken. Bisa-bisanya gadis di depannya ini memikirkan orang lain dibandingkan perasaannya sendiri. Gadis ini memang selalu menarik perhatiannya. Ia tak ingin melepaskan gadis itu begitu saja.
"Seharusnya aku yang minta maaf sudah kasar padamu, Maisa. Aku benar-benar menyesal. Jadi ayo berbaikan."
Maisa membalas senyumannya. Ada perasaan lega tersirat di sana. Ternyata Ken ikut memikirkannya, membuatnya sedikit senang.
Disaat yang bersamaan, Alice tengah mencari Ken. Ia masih tidak menyerah mendapatkan laki-laki itu. Langkahnya terhenti tatkala melihat Ken memegang tangan gadis yang dilihatnya saat acara fashion show. Sinar matanya berubah, menyorotkan kebencian.
Dengan menggerutu, ia menemui Erik dan Kio yang bersantai di kantin. Tangannya menarik kursi kantin dengan kasar, menimbulkan bunyi decitan memekak telinga. Seisi kantin menatap Alice tajam.
"Jutek amat. Bawa minum dulu, nih!" celetuk Erik seraya menyesap segelas es lemon tea.
Alice memasang wajah memberengut. Erik bisa menebak, penyebab gadis itu bad mood tidak lain yaitu Ken. Erik sedikit kesal dengan sahabatnya. Padahal Alice sangat menyukainya. Tidak ada satupun yang kurang darinya. Memiliki wajah yang cantik dan bertalenta. Semua laki-laki siap mengantri jadi pacarnya.
Kalau Kio jangan ditanya. Ia sama sekali tidak peduli dengan kisah cinta Erik dan Alice. Tapi masih tidak terima Ken menyukai adiknya. Ia berdecak kesal. Kio dan Erik berdiri berbarengan. Alice mendongakkan kepala.
"Mau kemana?" tanya gadis itu mengangkat sebelah alisnya.
Kio mengarahkan jempolnya menunjuk ke ibu kantin. Alice ber-oh ria, matanya melihat Erik. Erik tersenyum memberi kode akan mentraktirnya. Gadis itu menggerakkan jarinya membentuk isyarat oke, tak lupa mengedipkan sebelah matanya. Laki-laki itu tersipu malu.
Alice melihat ponsel Kio di meja dalam posisi tidak terkunci. Ia mencuri pandang ke arah Kio yang masih sibuk membayar ke ibu kantin. Diam-diam ia membuka folder gallery. Isinya foto-foto kocak, sesekali ada foto dirinya bersama Ken dan kedua temannya.
Tanpa sengaja tangannya membuka sebuah video, isinya sungguh tak terduga. Ia mengembalikan ponsel Kio ke tempat semula, dan tersenyum ke arah keduanya yang kembali. Kio memasukkan ponselnya ke saku celana tanpa menaruh rasa curiga.
Video perkelahian Maisa tersebar di kampus dan menjadikan pusat gosip semua mahasiswa di kampus. Ken turut menonton video tak mempercayainya. Merasa gusar, geram dengan orang yang menyebarkan video itu. Maisa terlihat gadis yang kalem, tidak mungkin melakukan hal seburuk itu. Ia bergegas mencari Maisa di ruang kuliah namun tidak terlihat.
__ADS_1
Ken teringat, Maisa sering terlihat menghabiskan waktu di perpustakaan. Ia sering memergokinya membaca buku di samping jendela. Di sana Ken menemukan sesuatu yang tidak terduga. Ia melihat Kio bersama dengan Maisa.
Ia berniat menghampiri keduanya. Suasananya terlihat serius, tak memungkinkan untuk ikut bergabung. Ken berdiri di rak buku yang membelakangi keduanya.
"Mau bagian mana yang ingin kupatahkan? Kaki? Tangan? Leher? Atau kepalamu yang ingin kubuat bocor?” Suara Maisa sangat dingin.
Di balik rak buku, Ken melihat Maisa meraih kerah baju Kio. Matanya terlihat mengancam. Gadis itu terlihat jauh berbeda, seperti orang lain.
Berbagai pertanyaan simpang siur di kepalanya. Sebenarnya seperti apa hubungan Maisa dan Kio. Keduanya terlihat saling mengenal. Kio memandangnya penuh kebencian, sebaliknya ada kesedihan bercampur amarah di mata Maisa.
"Itu bukan aku!" seru Kio.
Ken melihat Maisa meninggalkan perpustakaan. Kio memukul rak buku hingga beberapa buku berjatuhan. Ekor matanya melihat Ken berdiri di sana dengan raut muka meminta penjelasan.
"Sejak kapan di situ? Seberapa banyak yang kau dengar?"
"Tidak banyak yang kudengar. Apa hubunganmu dengan Maisa. Kenapa kau seperti membencinya?"
"Entahlah!" Kio mengambil buku-buku yang terjatuh dan mengembalikan ke tempatnya.
"Kalau begitu apa kau yang menyebarkan video itu? Apa video itu benar Maisa?"
"Sialan. Itu bukan aku yang menyebarkan."
"Kalau begitu kau punya video kotor itu, kan? Buat apa? Apa untuk mengancam Maisa? Kau tahu, tindakanmu pengecut!"
"Sudah kubilang itu bukan aku."
Ken membuntuti Kio keluar dari perpustakaan. Kio mengumpat kasar. Tangannya mengutak-atik isi ponselnya. Langkahnya terhenti. Ia tidak menemukan video itu di sharing kemana pun. Bahkan saat melihatnya di folder sampah. Dengan gusar ia membanting ponselnya ke lantai. Layarnya langsung hancur.
...****...
Mia mendribel bola dan memasukkan bola ke ring basket. Mencoba mengobati kesepiannya tanpa Maisa. Ia masih kesal dengan gadis itu, tapi di sisi lain merasa tidak enak sudah marah padanya. Maisa jarang membicarakan dirinya. Seperti ada dinding tebal yang menghalanginya.
Terdengar tepuk tangan membuyarkan lamunannya. Mia menoleh kearah datangnya suara itu. Tampak Ken berdiri di pinggir lapangan basket, tangannya mendribel bola, dan menembak kering dari samping. Bola berputar dan lolos jatuh ke dalam ring basket.
“Lumayan juga," katanya diikuti senyuman simpul.
Ken menghampiri Mia. Sepertinya ada yang perlu dibicarakan.
__ADS_1
"Trima kasih, Kak." Mia merasa senang mendapat pujian dari salah satu bintang basket di kampusnya.
"Aku boleh minta tolong?"
Mata Mia melebar. Kedua alisnya terangkat. Seseorang yang tidak disangka-sangka minta tolong padanya. Senyumnya melebar. Sepertinya ini pertanda baik.
...****...
Matahari sudah tinggi. Maisa masih bergelung selimut. Suara dering telepon mengusik indera pendengarannya. Tangannya menggapai ponselnya di meja samping tempat tidur. Matanya masih setengah terpejam mengangkat telepon itu. Suaranya masih terdengar parau.
Halo, Sa. Baru bangun tidur, ya?
Terdengar suara tak asing di seberang. Ia memicingkan matanya, melihat siapa yang menelepon. Nama yang dikenalnya terpampang di sana.
Hah! Kak Ken!
Maisa langsung terbangung, mengucek matanya. Rasa kantuknya seketika menghilang. Ia mengacak-acak rambutnya. Wajahnya mengernyit antara terkejut dan menahan malu.
"Tidak, kok. Ehem... tenggorokan agak kering sedikit."
Terdengar suara terkekeh dari seberang. Ingin rasanya Maisa menguburkan dirinya dalam pasir saat itu juga.
Sa, kamu tidak apa-apa, kan?
Suara Ken terdengar khawatir. Tidak munafik, Maisa senang mendengar Ken mengkhawatirkannya. Sesuatu memintas di pikirannya. Ah... sepertinya ia nanti harus minta maaf kepada Mia. Gadis itu juga mengkhawatirkannya. Jujur saja ini membuatnya ingin menangis.
"Aku baik-baik saja, Kak. Itu sudah kejadian lama. Jadi tidak usah diambil pusing. Nanti pasti hilang sendiri, kok."
Maisa mencoba tertawa kecil. Meski itu kejadian yang sudah berlalu, tapi kejadian yang sebenarnya di video itu menyakitkan.
Aku yakin kamu tidak baik-baik saja. Kalau merasa itu berat kamu boleh menangis, Sa. Setidaknya itu akan sedikit mengurangi beban di pundakmu.
Suara Ken yang terdengar lembut membuat air matanya mengalir. Kenangan buruk itu mengalir kembali dalam ingatannya. Kenangan yang hampir merenggut nyawa temannya.
"Aku tidak peduli jika mereka mengejekku. Tapi aku benci mereka yang mendukung laki-laki brengsek itu. Aku juga benci diriku yang lemah."
Tidak apa-apa, Sa. Aku ada di sini untukmu. Kamu boleh bersandar padaku.
Ken mendengar suara tangisan tertahan di ujung telepon. Ingin rasa ia berlari ke tempat gadis itu. Merengkuhnya, menenangkannya dalam pelukan. Berharap agar gadis itu tidak terluka.
__ADS_1