
"Kegiatan klub kita cukup sampai di sini," ujar Mas Ardi, ketua klub melukis bertepuk tangan beberapa kali.
Beberapa anggota klub membereskan peralatan lukisnya. Maisa masih menorehkan kuas ke kanvas dengan hati-hati. Warna cokelat tersapu mewarnai dinding bata.
"Sa, mau lembur lagi?" Ujar Mas Ardi menghampiri. Membungkuk di sampingnya, memperhatikan lukisan sebuah pusat kota tua abad pertengahan yang dipadati lalu lalang pejalan kaki yang lewat. Beberapa kereta kuda tengah melintas. Lukisan itu hampir sembilan puluh persen selesai.
"Bentar lagi, Mas. Duluan saja. Nanti aku titipkan kuncinya ke Mbak Maya.
"Oke. Jangan lama-lama di sini. Horor." Mas Ardi terkekeh pelan menggerakkan jarinya, mencoba menakuti gadis itu.
Maisa tertawa lebar. Tangannya masih sibuk memoles warna pada lukisan.
"Iya! Iya! Ini sudah keberapa kali deh, Mas selalu bilang horor."
"Dasar maniak lukisan."
Mas Ardi membereskan perlengkapan melukisnya dan beberapa alat yang tertinggal. Ia menggelengkan kepala, melihat Maisa fokus pada lukisan di hadapannya.
"Ah.... Jangan pakai juga buat pacaran ya. Cari tempat lain."
Mas Ardi tertawa mengejek. Ia langsung melarikan diri sebelum gadis itu menimpuknya dengan palet. Maisa mendengus kesal.
"Siapa juga yang mau pacaran di sini."
Ia meletakkan kuas di atas palet. Isi kepalanya terbang dengan kejadian kemarin. Ken terang-terangan memberikan klarifikasi di depan awak media. Jantungnya berdegub kencang, menggila.
Di belakang Ken seperti ada bunga-bunga berguguran. Senyuman mengembang dari wajahnya. Bibirnya membisikkan kata-kata manis. I l-o-v-e y-o-u. Gadis itu mengerjapkan matanya. Otaknya sudah rusak, mulai menghayal yang tidak-tidak.
Kio mematung di belakangnya. Matanya melotot ke layar televisi di depannya. Tak habis pikir dengan polah sahabatnya. Laki-laki itu sudah tidak waras lagi jika berurusan dengan bocah di hadapannya ini.
"Merinding aku membayangkan Ken jadi adik iparku," gumannya pelan.
Maisa memperhatikan tingkahnya. Pipinya memerah dengan senyum tipis di wajahnya. Ternyata Kio merestuinya.
"Hei! Ini bukan seperti yang kau pikirkan ya."
Bunyi pintu bederit bergeser dengan lantai membuyarkan lamunamnya. Mia menghambur masuk ke dalam ruangan. Senyum terkembang di wajahnya.
__ADS_1
“Ada apa, nih? Sepertinya mood mu bagus hari ini," Ujar Maisa sembari membereskan peralatan lukisnya.
Lukisan di depannya sudah selesai. Ia memotretnya dan memasukkan ke Instagram. Mia memukul lengannya. Maisa mengaduh kesakitan.
“Bukannya hari ini harusnya kamu yang senang.”
“Kok aku?”
“Kemarin Ken mengatakan langsung kalau dia mencintaimu. I really love her."
Mia memberatkan suaranya, mengikuti suara dan mimik wajah Ken. Maisa tertawa mendengarnya. Gadis itu terlihat lucu. Sekali lagi Mia memukul lengannya.
"Romantis! Sweet!"
Maisa gantian memukul lengannya. "Pikiranmu kok romantis melulu. Apa tidak ada yang lain.”
“Ada! Yuk!”
Tanpa menunggu jawaban Maisa, Mia langsung membawanya pergi ke lapangan basket. Sudah ada Ken dan pemain lainnya tengah bermain basket.
Mia menyenggol bahu Maisa sambil mengedipkan mata ke arah Ken. Maisa hanya mengangguk-angguk saja. Ken menyeka keringat yang mengucur dengan kaosnya. Memperlihatkan otot bisepnya yang basah oleh keringat terkesan seksi
Maisa melotot melihat pemandangan menakjubkan di depannya. Tanpa sadar ia meneguk ludah. Tangannya gatal ingin meraba-raba perutnya.
Sadarkan dirimu, Sa. Kok kamu jadi mesum sekarang.
Plak! Ia menampar kedua pipinya, menyingkirkan pikiran kotor dari kepalanya. Mia di sampingnya sampai tersentak kaget. Ia menggelengkan kepalanya heran.
“Teman-teman ayo semangat!" Teriak Mia pada para pemain di tengah lapangan. Mereka memberikan acungan jempol.
Ken tersenyum ke arahnya terlihat begitu bersinar. Dunia seperti meluruh, warna-warna meluntur memperlihatkan sosok dirinya yang semakin jelas di bawah terangnya cahaya matahari.
Maisa melambaikan tangannya tangannya pada laki-laki itu. Memperlihatkan senyuman lebar. Mia berdehem menariknya kembali ke dunia nyata. Maisa menggaruk rambutnya yang tak gatal. Sikapnya berubah canggung.
"Kamu lagi apa?" Ujar Mia memandangnya keheranan. Tatapannya menyelidik.
Maisa menjawab dengan nada gagap, "Aku cuma melihat otot, eh maksudku permainan mereka."
__ADS_1
“Hah?" Mia menaikkan sebelah alisnya.
Maisa tertawa canggung, mengedarkan pandangan ke tengah lapangan basket. Memperhatikan mereka bermain. Ada sedikit kerinduan didunia basket. Sejak datang ke Jakarta, ia tidak masuk ke klub olahraga manapun. Berkonsentrasi kuliah dan tak ingin ayahnya kecewa. Tapi semuanya sia-sia. Ia akan kembali ke kehidupan lamanya di Jogja.
Ken sukses menerima back pass dari Kio. Ia langsung melompat ke ring basket dan memasukkan bola. Poin bertambah untuk kubunya. Ken berlari ke pinggir lapangan ke tempat gadis itu berada. Meraih pinggang kekasihnya, mengangkatnya tinggi-tinggi.
Maisa membelalakkan mata, belum pulih dari keterkejutannya. Kedua tangannya memeluk leher Ken. Laki-laki itu memutar badannya sembari mengangkat tubuh Maisa. Gadis itu ikut tertawa. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Tak ada waktu untuknya merasa malu. Ah... sudahlah. Maisa pasrah saja.
Ken menurunkan gendongannya. Mencium bibir gadis itu secepat kilat. Ia berlari ke tengah lapangan. Teman setimnya menyikutnya, bersiul menggoda. Ia hanya tertawa santai.
Situasinya berbanding terbalik dengan Maisa. Wajahnya memerah seperti tomat matang. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bisa gila jadinya. Ditambah Mia ikutan menggodanya.
"Cie... Yang mulai go public. Sudah berani kiss terang-terangan, ya."
"Argh... Aku frustasi tahu. Sepertinya otakku bermasalah deh," Balas Maisa. Tangannya mengacak-acak rambut pendeknya.
Sebuah bola basket datang ke arahnya. Dengan sigap ia menangkap bola itu. Ken dan yang lainnya memperhatikannya. Tangannya mendribel bola. Kakinya memasang kuda-kuda, ia melempar bola lurus ke arah Kio yang berada paling ujung lapangan. Kio berhasil menangkap long pass dari Maisa. Putaran bola membuat tangannya sedikit kebas. Maisa sudah menghilang, meninggalkan tempat itu. Sebelum ia mengacaukan latihan mereka.
"Wah, sepertinya benar kata Jain. Pacarmu jago bermain basket," Ujar Erik mendekati Ken.
Kio mendengus kesal. Nadanya ketus, “Kamu tidak mengejarnya?"
“Tidak. Kenapa? Nanti aku juga bertemu di rumahmu.”
"Hah? Sialan! Matamu sepertinya sudah rusak." Kio menggerutu, mendribel bola yang ada di tangannya.
"Makanya cepat pacari manajer basket kita, sana. Dia jatuh cinta sama kamu, tuh. Sebelum diambil orang, contohnya Erik." Ken terkekeh pelan membalas perkataan Kio. Jarinya menunjuk ke arah Mia yang sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya.
Erik yang menenggak minuman di samping lapangan menyemburkan airnya kembali. Matanya melotot ke arah Ken. Benar kata Kio, matanya sudah rusak.
Maisa berlari tak tentu arah. Mendinginkan kepalanya. Ia berhenti di atap gedung, memegang lututnya. Napasnya terengah-engah. Beberapa bulir keringan menetes di lantai.
Ada yang salah dengannya. Sebelumnya ia tak segila itu membayangkan yang tidak-tidak. Ia menjatuhkan diri ke lantai, menyandarkan bahunya ke dinding. Sepertinya ia bakal menghindari Ken untuk beberapa hari kedepan. Sebelum kegilaannya kembali seperti semula.
Maisa tak tahu kenapa ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Ken. Laki-laki itu terlihat berbeda di matanya. Sulit menolak pesona laki-laki itu. Padahal sebelumnya ia tak merasa seperti itu.
Hiks.... Aku benar-benar gila.
__ADS_1