
Maisa menghela napas kesal. Penggemar Ken mulai membuat masalah sejak hari itu. Tapi bukan Maisa namanya jika tidak membalasnya.
"Hari ini kelasnya Pak Miki, kan? Ke kelas yuk." Mia menggamit lengan Maisa.
"Oke. Yuk!"
Keduanya berjalan beriringan ke kelas selanjutnya. Sesampainya di sana, sudah cukup banyak mahasiswa yang masuk. Mia menunjuk ke bangku kosong dekat jendela. Keduanya mendekati bangku kosong.
Ekor mata Maisa melihat seorang gadis sengaja menjulurkan kakinya, mencoba membuatnya terjatuh. Sudut bibirnya naik membentuk senyuman. Dengan sengaja dia menginjak kaki gadis itu, membuatnya menjerit. Seisi ruangan menoleh ke arahnya.
"Kamu sengaja, ya!" Seru gadis itu kesal.
"Apa maksudmu? Aku tidak tahu kalau ada kakimu disitu." Maisa menutup mulutnya, memasang wajah polosnya.
"Lagian kenapa juga kakimu di tengah jalan. Salah sendiri jika terinjak." Mia ikut menimpali.
Gadis itu membuka mulutnya, namun tidak mengatakan sepatah kata. Dia duduk kembali di bangkunya, memasang wajah cemberut. Temannya di sampingnya menatapnya tajam, seolah memberikan peringatan pada Maisa.
"Dalam franchise, ada elemen biaya yang muncul sebagai bentuk kompensasi atas hubungan yang terjadi. Dan biasanya elemen biaya ini menetapkan adalah franchisor dan menjadi kewajiban franchisee untuk melaksanakannya. Elemen-elemen biaya tersebut terdiri dari franchise fee, royalti fee, dan advertising fee." Pak Miki menjelaskan mata kuliahnya kali ini.
"Hmm....." Tangan Maisa sibuk merangkum materi kuliah hari ini, sesekali memainkan pulpennya.
Tuk! Segumpal kertas mampir di kepalanya jatuh tepat di bukunya. Here we go! Tidak kapok-kapoknya ini anak-anak. Maisa membuka remasan kertas kusut.
Jangan ganggu Ken!
Ken itu milikku!
Jauhi Ken!
Dasar jelek!
Burik!
Tubuhnya begetar menahan kekesalan. Harus siap sedia banyak stok kesabaran menghadapi fans gila. Dia menghembuskan napas beberapa kali. Kepalanya menoleh ke arah pelaku pelempar kertas. Seorang gadis cantik berambut coklat sepunggung terlihat mencuri pandang ke arahnya lalu membuang muka.
Tangannya mencorek kertas barusan, meremasnya lagi menjadi bulatan. Jarinya mengetuk jarinya beberapa kali ke kursi lipatnya, memancing gadis itu menatapnya. Gadis itu menoleh ke arahnya. Ctak! Maisa menjentikkan jarinya, kertas itu terlempar ke dahi.
Mulut gadis itu berkomat-kamit kesal. Dia membuka kertas itu, matanya melotot melihat isinya. Tulisan "Ken milikku" dilingkari, ditambah tulisan "Ini buatku!". Dan sisa tulisan lainnya dilingkari dan ditambah tulisan "Buatmu saja!" Tak lupa menggambar emotikon kedipan mata sebelah.
Tubuh gadis itu bergetar marah. Tangannya merobek kertas menjadi serpihan. Matanya melempar pandang penuh kemarahan ke arah Maisa yang mengedipkan sebelah matanya.
Maisa menahan tawanya. Ada kepuasan tersendiri melihat gadis itu berang.
Hari berikutnya. Maisa berjalan beriringan dengan Mia ke kantin. Langkahnya dihadang dua orang gadis, salah satunya membawa es krim cone. Terlihat jelas dia ingin menyerangnya.
Maisa berkelit, menjegal kaki gadis itu dengan sengaja. Gadis itu menubruk mahasiswi yang berjalan di belakang Maisa. Es krim yang dibawa mengotori bajunya. Maisa menyeret tangan Mia memasuki kantin. Menjulurkan lidahnya ke arah gadis itu.
__ADS_1
"Apa-apaan ini. Kalau jalan lihat-lihat, dong. Kotorkan jadinya."
"Tapi, Kak."
"Tapi apa?"
Gadis itu mengkerut mendapat tatapan tajam dari seniornya.
Mia mengaduk-aduk mie ayam. Tatapannya tajam menelisik tingkah karibnya ini. "Sa, kok akhir-akhir ini sepertinya banyak yang mengganggumu ya? Mereka Fans Kak Ken, kan? Kenapa tidak minta tolong padanya?"
Maisa terkekeh pelan. Tangannya sibuk mengaduk-aduk semangkuk soto ayam. Tangan kirinya menopang dagu.
"Santai aja, Mi. Selama aku bisa mengatasinya, kenapa tidak. Kalau benar-benar sulit, baru aku minta tolong. Menyenangkan loh melihat mereka menahan kesal."
Ada tangan besar mengacak-acak rambutnya. Maisa mendongak, melihat Ken tersenyum ke arahnya. Menyisir rambut yang acak-acakan dengan jarinya.
"Cie..." Mia menggodanya dengan lirikan.
"Apa sih, Mi." Maisa tersenyum simpul.
Ken menarik kursinya, duduk di samping Maisa. Gadis itu melanjutkan makannya. Beberapa helai rambut pendek jatuh ke pipi. Ken menyibak rambutnya ke belakang telinga.
"Uhuk!"
Maisa tersedak saat menyeruput kuah soto. Buru-buru Ken menyodorkan teh manis padanya. Tangannya menepuk-nepuk punggung Maisa.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Satu mangkuk berdua, nih."
Maisa mengerjapkan mata beberapa kali. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Bibi kantin. Bibirnya tersenyum tipis. "Pesan maksudnya."
Ken terkekeh, menikmati menggoda Maisa. Lihat saja, pipi gadis itu memerah. Mia iri melihat interaksi keduanya. Dia menarik tangan Kio untuk duduk disampingnya.
"Ayo Kak Kio. Duduk di sini," Ujarnya seraya menarikkan kursi untuk laki-laki itu.
Erik melayangkan protes, merasa dicuekin oleh kedua pasangan itu. "Aku gimana?"
"Terserah mau duduk dimana, Kak. Masih banyak tempat duduk." Mia memajukan bibirnya menunjuk beberapa kursi kosong.
Kio enggan duduk di samping Mia. Manager basketnya ini selalu menempel di dekatnya membuat sedikit terganggu. Namun tak seberapa jika harus melihat temannya yang mendadak bucin. Rasanya ingin memisahkan mereka berdua.
Di sudut kantin ada beberapa pasang mata menatap tidak suka dengan kedekatan Maisa dan Ken. Mereka berbisik-bisik merencanakan sesuatu.
...****...
Maisa berjalan santai ke klub lukis berencana menyelesaikan lukisannya yang hampir selesai. Di telinganya tersemat earphone. Sesekali bibirnya bersenandung.
__ADS_1
Lima perempuan datang menghampirinya. Dia melepaskan earponenya. Tak ada niat baik dari sorot mata mereka.
"Bisa ikut kami ke sana?" Salah satu dari mereka menunjuk ke sudut bangunan yang sunyi.
Maisa menganggukkan kepala mengikuti kemauan mereka. Sesampai di sudut gedung, dua perempuan memegang kedua tanganya, satu orang lagi menjambak rambutnya ke belakang kuat-kuat. Maisa memekik pelan, merasa beberapa helai rambutnya terlepas.
"Hei.... Mau kalian apa?" Matanya terlihat menantang.
"Jauhi, Ken. Cewek jelek sepertimu tidak pantas untuknya?"
Maisa tertawa tertahan, "Lalu kalian pantas begitu?"
"Apa? Beraninya kau..."
Sebuah tamparan keras singgah di pipinya. Maisa meniup rambut yang menutupi matanya. Kekesalannya mulai membuncah. Hal yang sangat dibencinya ketika mulai bermain fisik. Dia menginjak perempuan yang memiting tangan kanannya. Perempuan itu menjerit kesakitan, pegangannya mengendur.
Maisa memutar sedikit badannya, menjambak perempuan yang memegang tangan kirinya hingga terlepas. Lanjut menginjak kaki perempuan yang menjambaknya. Ketiga perempuan itu meringis kesakitan. Satu perempuan di dapannya hendak melayangkan tinju. Ia melentingkan badannya ke belakang, lalu mendorong gadis itu hingga menubruk temannya. Tinggal satu perempuan yang menamparnya.
Perempuan itu tampak gemetar melihat sorot mata dingin Maisa. Meski tak sesadis video yang di tontonnya, kekuatan gadis itu tak main-main.
Maisa menepuk-nepuk bajunya yang kusut. Sebelah bibirnya naik ke atas. Mendekati gadis itu, mengangkat tangannya siap menampar balik. Gadis itu menutup matanya, tak ada rasa sakit menghampiri pipinya. Dia membuka matanya.
Maisa menurunkan tangannya, mengurungkan niatnya. Tak ada untungnya juga menampar gadis itu.
"Hais! Rasanya aku ingin menghajar kalian satu-satu. Hei! Dengar ya. Kalau kalian ingin cari perhatian Ken, pakailah cara yang wajar. Kalian pikir dia bakal senang melihat penggemarnya seperti ini."
Maisa membalikkan badan, memilih pergi. Wajah Ken terlihat dekat tepat beberapa inchi lagi di depannya. Dia mundur ke belakang saking terkejutnya. Nyaris saja terjungkal ke belakang jika tidak tangan sigap Ken meraih pinggangnya.
Maisa mendorong laki-laki itu menjauh. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung mendadak. "Astaga! Jangan muncul mendadak, Kak."
Ada ruam merah di pipi Maisa. Ken menatap tajam dingin kelima perempuan di hadapannya. "Sebaiknya kalian segera pergi dari sini."
"Maaf, Kak."
"Ah... Tunggu dulu. Jika kalian melakukannya sekali lagi. Aku tidak akan tinggal diam."
Kelima perempuan itu bergegas beranjak pergi. Tangan Ken mengusap pipi Maisa lembut. Pipinya terasa nyeri. Maisa menurunkan tangan Ken.
"Maaf, Sa. Kalau tahu bakal jadi begini, aku akan lebih keras lagi pada mereka."
"Tak apa-apa, Kak Ken. Mereka fans Kakak loh. Nanti bisa-bisa mereka tidak mau mengidolakan Kak Ken lagi."
"Aku tidak butuh fans seperti mereka jika itu menyakiti pacarku. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lain kali."
Kedua alis Ken berkerut, air mukanya terlihat sedih dan juga khawatir disaat bersamaan. Maisa memegang kedua tangan Ken. Dia tersenyum lebar. Rasanya ada kupu-kupu beterbangan di perutnya.
"Trima kasih sudah menjagaku, Kak."
__ADS_1
Ken merengkuh tubuh mungil Maisa ke pelukannya. "Aku ingin kau mau bersandar padaku dan juga menjagamu. Biarkan aku melindungimu, Sa."
Maisa hanya mengangguk dalam pelukan Ken, menyelipkan tangannya ke punggung Ken, memeluknya balik.