Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.12 Kenangan Buruk Part 1


__ADS_3

Lucy seorang gadis cantik bertubuh seksi, manager tim basket SMA Madya. Banyak yang mengaguminya. Namun ia sangat membenci tatapan nyalang saat memandangi tubuhnya meski mengenakan pakaian sopan.


Lucy mampir ke Beemart membeli beberapa bungkus camilan. Ia berjalan kaki seraya bersenandung. Tangan kanannya membawa sekantong plastik camilan. Di ujung jalan berkumpul empat laki-laki berperawakan preman sambil menghisap rokok. Mereka melihat Lucy yang datang dari kejauhan, menyeringai kegirangan mendapatkan mangsa baru.


Gadis itu merasakan perasaan tak enak langsung memutar badannya, berbalik arah. Seseorang merangkul bahunya, ternyata salah satu dari empat laki-laki tadi. Matanya tak henti mengarah ke dada Lucy.


"Kok tidak jadi lewat, Neng?" Suara laki-laki itu sangat dekat di telinganya.


Lucy merinding ketakutan. Jantungnya berdegup kencang. Di belakangnya ada tiga laki-laki turut mengikuti. Lucy mencoba melepaskan tangan laki-laki itu.


"Maaf, Bang. Tadi cuma salah jalan."


Lucy mempercepat langkahnya. Lagi, seseorang merangkul bahunya, kali ini dikelilingi keempat laki-laki itu. Tubuhnya terasa menggigil, ketakutan menyelimuti sekujur kulitnya. Ia memeluk kedua tangannya sendiri, berusaha menerobos namun dihalangi.


"Tidak usah buru-buru, Neng."


"Lucy sedang apa di situ?" Suara seseorang menyentak indera pendengarannya.


Maisa mengulum lolipop keluar dari toko peralatan melukis. Memiringkan kepala ke samping kiri dan kanan untuk melemaskan lehernya. Ototnya sedikit kaku sehabis dari ekskul silat. Seperti mandat Kakek, perempuan harus bisa menjaga diri. Ia terkekeh membayangkan wejangan si mbah yang tak kunjung selesai selama berjam-jam.


Udara terasa sejuk. Maisa memilih berjalan santai. Di tangan kanannya menjinjing perkakas melukis. Ia masih mengenakan pakaian putih abu-abu, dengan rambutnya yang selalu dipotong pendek. Langkahnya terhenti sejenak, perhatiannya teralihkan pada jalan sempit di seberang jalan tak jauh dari Beemart. Matanya memicing, mengenali seorang yang sepertinya mengalami kesulitan.


Maisa bergegas menyeberangi jalan besar, mempercepat langkahnya menghampiri gerombolan laki-laki yang mengelilingi satu perempuan. Gadis itu memeluk tangannya ketakutan. Wajahnya putih pucat seperti kertas.


"Lucy, sedang apa di situ," sapanya dengan suara dibuat keras untuk menarik perhatian pejalan kaki yang lewat.


Lucy terperangah melihat ke arahnya. Terpancar sedikit kelegaan di wajahnya. Para berandal itu bersiul mendapatkan ikan segar yang baru datang. Satu diantaranya mencoba meraih dagunya. Maisa dengan cepat menangkap pergelangan tangan, membalikkan badannya, salah satu kakinya menendang kaki laki-laki itu dan membantingnya.


Suara benda jatuh diiringi teriakan keras laki-laki itu, punggungnya membentur jalan berbatu. Yang lainnya mematung, terkejut dengan kejadian barusan. Tak menyangka ikan buruannya bisa melawan mereka.


Maisa meraih tangan Lucy, membawanya lari menjauh menuju jalan raya. Dari belakang terdengar teriakan marah dari para berandal. Maisa tetap tidak berhenti, terus berlari menjauh tanpa menoleh ke belakang.


"Tunggu, Sa. Aku sudah tidak kuat lari lagi." Suara Lucy tercekik seperti ada yang tersangkut di tenggorokan.

__ADS_1


Maisa menghentikan langkahnya. Napasnya sedikit ngos-ngosan. Ia menoleh ke belakang. Sudah tidak ada yang mengejar mereka. Ia menghembuskan napas lega.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Maisa mengitari Lucy, memeriksa untuk berjaga-jaga jika ada luka atau goresan.


Lucy mengangguk, masih mencoba mengatur napasnya. Beberapa orang yang lalu lalang keheranan. Maisa berbicara dengan seseorang melalui telepon.


"Nanti Kak Evan akan datang menjembut untuk mengantar kamu pulang."


Keduanya duduk di bangku pinggir jalan, membisu. Lucy masih gemetar ketakutan. Maisa mengusap-usap bahunya. Ia tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata lembut, mencoba menenangkan.


Tak lama Evan datang dengan motornya. Wajahnya terlihat khawatir. Ia memeluk Lucy. Tangannya membelai lembut punggungnya. Gadis itu menitikkan air mata.


"Kak, tolong jaga pacarmu, tuh. Jangan dibiarkan pergi sendirian."


Evan mengangguk pelan. "Terima kasih, Sa."


Ia membawa kekasihnya pulang. Lucy memeluk pinggangnya erat-erat. Menyenderkan kepalanya ke punggung laki-laki itu. Perasaan Lucy menjadi tenang di dekatnya.


Terdengar suara decit sepatu. Suara sorakan penonton. Kemeriahan turnamen olahraga antar SMA di Yogyakarta. Tim Basket SMA Madya turut berpartisipasi. Lucy penuh dengan kesibukannya melakukan persiapan sebelum pertandingan.


Deffense! Deffense!


Offense! Offense!


Evan melakukan intercept untuk merebut bola, dan melakukan passing ke arah Jain. Jain menerima bola dengan baik. Ia melakukan tembakan three point dan berhasil, bola masuk ke ring basket. Bunyi peluit tanda berakhir kuarter kedua dan ada jeda istirahat lima belas menit.


"Kak aku keluar dulu, ya. Kita kehabisan air mineral dan sport drink."


"Tunggu dulu. Biar kuantar."


Evan segera menenggak minumannya hingga tandas. Tangan kanannya menahan pergelangan tangan Lucy. Gadis itu melepaskan genggaman tangan Evan. Ia merasa tak enak merepotkan kekasihnya yang masih ada pertandingan dua kuarter lagi.


"Tidak apa-apa, kok. Kak Evan di sini saja. Sebentar lagi kan masuk kuarter ketiga."

__ADS_1


"Kalau begitu nanti saja. Tunggu Maisa datang sebentar lagi."


Evan merasa berat melepas Lucy. Perasaannya tak enak sejak tadi. Ia tak ingin membiarkan Lucy keluar sendiri. Jain menepuk pundak Evan, mencoba menenangkan kegundahan sahabatnya.


Bunyi peluit dimulai pertandingan kuarter ketiga dimulai. Evan mencium bibir Lucy dengan cepat, ia langsung berlari ke tengah lapangan. Jain hanya bisa menggelengkan kepala, menahan tawa kecil.


Wajah Lucy memerah. Beberapa penonton yang duduk di bangku penonton bersiul. Ia bergegas pergi belanja setelah mendapatkan izin dari pelatih.


Maisa berlari ke gedung olahraga tempat pertandingan basket. Ia tidak bisa menenemani Lucy. Klub silat memintanya untuk turun ke pertandingan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ada Evan dan Jain di sana. Tapi perasaan buruk apa ini?


Maisa mampu menyelesaikan pertandingan sebagai runner up. Lawan yang dihadapinya cukup berat. Ia sampai di stadion tepat waktu, kuarter keempat belum dimulai. Perolehan skor sementara 68-62. SMA Madya unggul 6 poin.


Maisa berdiri di barisan penonton paling bawah. Ia memanggil Jain dan Evan, menanyakan keberadaan Lucy. Evan terlihat gelisah mencoba menghubungi Lucy namun tidak tersambung. Ia bolak balik berjalan, tangannya tak henti-hentinya memencet nomor telepon Lucy.


"Lucy belum kembali sejak mulai kuarter tiga," kata Jain.


"Biar aku saja yang mencari. Kalian fokus sama pertandingannya."


Maisa menelepon teman-teman di klub silat untuk membantunya mencari Lucy. Gadis itu berlari mengelilingi gedung olahraga, hasilnya nihil. Ia mencari keluar gedung, menyusuri beberapa toko sekitarnya. Mencoba menanyakan apakah pernah melihat gadis yang di foto ponselnya. Hampir semua menggelengkan kepala.


Maisa menghentikan langkahnya sejenak, memeriksa ponselnya. Belum ada info dari teman-temannya. Ia menghembuskan napas panjang, menenangkan kembali pikirannya. Lucy tak mungkin berjalan terlalu jauh untuk membeli minuman.


Maisa meneruskan pencariannya. Terdengar bunyi sirine ambulan dari arah belakang dan melewatinya menambah perasaan tak enak. Pandangannya tertuju pada bangunan tua berlantai lima di belakang ruko. Bangunan itu sudah lama tidak berpenghuni.


Entah ada perasaan apa, Maisa melangkahkan kakinya ke arah gedung itu. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya ke sana. Ia melewati beberapa gang sempit dan sunyi. Tak mungkin Lucy berada di sini. Namun kakinya tetap terus melangkah.


Maisa sampai di ujung gang. Sebuah gedung tua dimakan usia. Banyak retakan di dindingnya, catnya mengelupas di sana sini. Kaca jendela banyak yang rusak dan tiang besi sudah berkarat. Ia melangkahkan kaki memasuki halaman gedung. Matanya tertegun melihat seseorang tergeletak tak jauh dari sana.


Jantungnya seakan berhenti seketika. Itu Lucy. Maisa berlari menghampiri. Gadis itu tak sadarkan diri. Darah merembes mengelilingi tubuhnya. Dengan tangan gemetar dia menyentuh pipi Lucy, masih hangat.


Maisa memandang sekelilingnya. Matanya nyalang mencari sesuatu. Tidak ada orang di sana. Ia menelepon seseorang. Air matanya mulai mengalir ke pipi. Suara isak tangis mengisi ruang sunyi.


"Tolong aku."

__ADS_1


__ADS_2