Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.76 Akan Kubalas!


__ADS_3

Mia membuka matanya, mendapati dirinya di tempat asing, dalam ruangan berwarna putih. Cahaya matahari menyembul di sela-sela tirai jendela. Matanya beberapa kali mengerjap. Peristiwa semalam terlintas dalam benaknya.


Mia langsung bangun dari tidurnya, menyibak selimut yang menutupi badannya. Pakaiannya masih utuh. Ia menghembuskan napas lega.


Perlahan gadis itu turun dari tempat tidur. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari seseorang yang membawanya kemari. Ada secarik kertas di atas meja.


Kuharap kau jangan salah paham. Aku hanya mengantarkanmu ke hotel karena tidak tahu alamat rumahmu.


Mia tersenyum tipis. Laki-laki itu memanggilnya beberapa kali sebelum tak sadarkan diri. Ia berharap bisa bertemu laki-laki itu lagi.


...****...


Mia melangkahkan kakinya ke sekolah mengenakan pakaian putih abu-abu. Di perjalanan ke kelas, ia dihadang oleh Riko. Tanpa basa basi, laki-laki itu menyeretnya ke belakang sekolah yang sepi.


Gadis itu menepis tangannya. Langkahnya mundur beberapa langkah ke belakang seraya memegang tangannya yang terasa berdenyut nyeri.


"Siapa laki-laki itu?"


Mia menahan semua amarahnya yang nyaris tumpah. Setelah apa yang dilakukan laki-laki semalam, tak ada tanda-tanda penyesalan darinya.


"Hah? Apa maksudmu? Seharusnya aku yang meminta penjelasan padamu? Apa yang kau lakukan tadi malam, brengsek?"


Riko tertawa. "Bukannya wajar karena kita pacaran dan saling suka! Aku sudah menjadi pacar yang seperti yang kau mau. Wajar jika aku mendapatkan hadiah, kan?"


Plak! Sebuah tamparan keras melayang ke pipi laki-laki itu. Mia memandangnya penuh kebencian. Betapa bodoh dirinya dulu percaya dengan bujuk rayu laki-laki itu dan tak mau mendengarkan saran dari temannya.


"Dasar bajingan! Kurasa hubungan kita cukup sampai di sini. Aku tak sudi menjadi pacarmu lagi!"


Mia membalikkan badannya beranjak dari tempat itu. Riko menyambar tangannya, mendorong tubuhnya ke dinding. Laki-laki itu mengunci kedua tangannya. Tubuhnya terhimpit oleh laki-laki itu.


"Kau pikir bisa pergi dariku semudah itu!"


Laki-laki itu menciumnya paksa. Mia berusaha memberontak, namun tubuhnya semakin terhimpit. Riko tersentak, rasa sakit menyerang bibirnya. Ia melepaskan gadis itu. Darah menetes dari sudut bibirnya. Umpatan kasar keluar dari mulutnya.


Melihat ada kesempatan, Mia menendang tulang kering laki-laki itu dan langsung melarikan diri. Ia terus berlari tak peduli hampir menabrak siswa lain yang lewat. Riko mengejarnya dari belakang sambil berteriak.

__ADS_1


Dipertigaan lorong kelas, tak sengaja Mia menabrak seseorang. Benturan cukup keras membuatnya terpelanting ke belakang. Laki-laki itu menarik pinggangnya agar tidak jatuh.


Riko berhasil menyusulnya. Sorot matanya memancar penuh amarah. Mia bersembunyi di belakang laki-laki itu dengan tangan gemetar memegang ujung seragamnya.


"Brengsek! Ternyata kau lagi. Minggir! Aku masih punya urusan dengannya."


Laki-laki itu menyilangkan tangannya. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia tersenyum mengejek.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau aku tak mau minggir."


'Deg!' Mata gadis itu melebar. Suara yang tak asing di telinganya, mirip dengan suara laki-laki yang menolongnya. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada segaram laki-laki itu.


"Sialan kau!" Riko melayangkan tinju kearahnya. Laki-laki itu berkelit. Tangannya sigap menarik gadis itu menjauh. Sebelah kakinya sengaja menghalangi jalan. Riko tersandung dan jatuh tersungkur. Beberapa siswa yang lewat menertawakannya.


Laki-laki itu berjongkok di sebelahnya. "Jika ingin menantang seseorang, lihat-lihat dulu dong. Sebenarnya aku malas meladeni orang sepertimu. Tapi jika kau membuat ulah, jangan salahkan aku jika kau akan menderita di sekolah ini."


Nada laki-laki itu tenang. Senyum lebar terpampang di wajahnya. Namun Riko merasa bulu kuduknya merinding. Ia pergi meninggalkan keduanya.


"Terima kasih sudah menolongku," ujar Mia menghampiri laki-laki itu.


"Kio, dari tadi kemana saja? Kelas hampir dimulai. Ayo cepat masuk!" seru seseorang dari arah depan berlari kecil menghampiri dan menariknya menjauh.


...****...


Mia mendapati dirinya terkurung di kelilingi tiga laki-laki brengsek. Gadis itu berusaha menerobos, namun dihalangi oleh kaki tangan Riko.


"Aku tidak pernah bilang hubungan kita berakhir. Itu hanya anganmu saja." Riko tertawa mengejek.


Mia mengepalkan kedua tangannya, melayangkan tinju ke wajah Riko. Dengan mudah laki-laki itu menangkap tangannya dan menyentakkan hingga tubuhnya terhuyung ke depan menghimpit laki-laki itu.


"Aku suka sikapmu itu sayang. Itu membuatku semakin bersemangat." Riko terkekeh pelan.


"Dasar brengsek!" serapah Mia. Matanya nyalang menatap laki-laki di hadapannya.


Riko menarik gadis itu keluar dari mall diikuti kedua temannya. Mia mencoba melepaskan diri. Genggaman laki-laki itu sangat kuat. Beberapa pengunjung hanya melihat keduanya.

__ADS_1


"Aku sedang bertengkar dengan pacarku. Jadi mohon pengertiannya," ujar Riko pada salah seorang pengunjung yang menghentikannya.


"Dasar kau gila!" teriak Mia.


"Ah.... Semoga kalian cepat berbaikan!" kata pengunjung itu.


Mia masih terus meronta. Riko masih terus menyeretnya hingga ke parkiran mobil. Salah satu temannya membukakan pintu. Seseorang menarik lengan Riko. Sebuah pukulan menghantam kepala laki-laki itu.


Riko terjungkal ke belakang. Mia terpekik kaget. Kio berdiri di hadapannya. Wajahnya terlihat menyeramkan.


"Sialan kau! Kenapa kau selalu mengganggu kesenanganku!" seru Riko. Ia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan pada kekasihku?" Kio menarik gadis itu ke sampingnya. Tampaknya ia masih membeku terkejut dengan kejadian barusan.


"Tolong aku memberi pelajaran pada laki-laki ini!" perintah Riko pada kedua temannya.


Perkelahian yang tidak imbang tiga lawan satu. Namun Kio tampaknya lebih unggul dan berhasil membereskan ketiganya dengan cepat. Ia menghampiri Mia.


Tubuh gadis itu terlihat gemetar ketakutan. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah gadis itu.


"Sudah tak apa. Jangan khawatir, Mia. Aku ada di sini," ujarnya dengan nada lembut.


Air mata mengalir di kedua pipi gadis itu. Perasaan takut melingkupinya. Kio menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Diam-dian Riko mengeluarkan pisau lipatnya. Ia berlari ke arah laki-laki itu, mengarahkan pisau ke perutnya. Mia melihat gerak gerik laki-laki itu, memutar badannya melindungi Kio.


Jleb! Riko melepaskan pisau di tangannya. Ia jatuh terduduk.


Mia mencengkeram baju Kio. Rasa sakit menyerang punggungnya. Tubuhnya limbung, tak ada lagi tenaga untuk menopang kakinya.


Kio memeluk gadis itu agar tidak terjatuh. Ia merasa ada sesuatu mengalir di tangannya. Cairan berwarna merah pekat membasahi telapak tangannya.


"Mia! Kenapa kau lakukan itu!" Suaranya bergetar.


Mia tersenyum. "Karena aku mencintaimu. Terima kasih sudah melindungiku baik dulu maupun sekarang."

__ADS_1


Gadis itu mengelus pipi Kio. Pandangannya mulai buram, kesadarannya perlahan menghilang. Kio menangkap tangan Mia. Matanya terpaku nanar. Sedetik kemudian, raut wajahnya penuh kemarahan.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu! Akan kubalas semuanya beserta bunganya." Suara Kio dingin penuh ancaman.


__ADS_2