Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.18 Jangan Sentuh Adikku!


__ADS_3

Maisa berjalan menyusuri jalan yang cukup sunyi. Seperti biasanya malas berjalan jauh. Ia lebih suka mengambil jalan singkat. Meski jalannya cukup sunyi. Kadang-kadang jika malas jalan kaki, Maisa naik angkutan umum. Bisa dibilang jarak rumah dan kampus lumayan jauh. Ia berjalan seraya bersenandung.


“Lagi sendirian ya, Mbak cantik," sapa seseorang.


Empat laki-laki bertampang preman datang mendekat dan mengelilinginya. Berambut gondrong, mengenakan tato di lengan. Sepuntung rokok terselip di tangan. Memandang Maisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh nafsu. Sikap Maisa berubah menjadi waspada merasa ada bahaya datang mendekatinya.


“Boleh kita temanin, Mbak? Kita lagi senggang, nih," kata salah seorang dari mereka sambil mengusap-usap dagunya sedikit berewokan.


Tatapannya sungguh melecehkan. Seringaian menjijikkan di mata Maisa. Kelihatannya dialah pemimpin preman itu. Sementara yang lain berbisik-bisik dengan tatapan nyalang menahan hasrat. Suara meneguk ludah terdengar jelas.


"Maaf, Mas. Aku masih banyak urusan."


Maisa perlahan melangkah mundur. Wajahnya memasang senyum kecut. Keempat laki-laki itu maju mendekatinya. Bos preman itu menghalangi jalan Maisa dan memegang tangannya erat-erat. Gadis itu berusaha menepis tangannya akan tetapi laki-laki itu menggenggam tangannya lebih erat hingga terasa sakit di pergelangan tangannya. Ia memberontak dan berusaha lepas dari cengkeraman.


"Tenang saja, Mbak. Nanti juga keenakan, kok."


Laki-laki itu berbisik di telinga Maisa, nafasnya terlihat memburu. Sebelah tangannya membelai rambut Maisa. Laki-laki itu menatapnya lekat-lekat. Menyusuri mata, hidung, bibir, dan leher gadis itu.


Ketiga laki-laki di belakangnya terkekeh geli. Ketika hendak menciumnya, pegangan tangannya sedikit mengendur. Melihat kesempatan itu, dengan cepat Maisa menepis tangannya, melayangkan sebuah pukulan ke dagunya, dan menendang area antara kedua kaki laki-laki itu.


Laki-laki itu tersungkur, mengerang kesakitan. Maisa mengambil langkah seribu, meninggalkan ketiga laki-laki yang masih kaget. Mulut ketiganya ternganga. Salah satunya membantu laki-laki itu berdiri. Kedua kakinya bergetar menahan rasa sakit tak tertahan. Ia melepaskan pegangan tangan rekannya dengan kasar.


"Tangkap dia dan seret ke sini! teriak si bos preman menunjuk ke arah Maisa yang menghilang di balik gang.


Ketiga laki-laki itu berlari mengejarnya. Maisa masih berlari menyusuri gang sempit. Di belakangnya ada tiga laki-laki mengejarnya. Tidak ada seorang pun yang lewat gang itu. Salah satunya hampir berhasil menangkap baju Maisa.


Maisa bergegas menyingkir, memutar badannya, berbalik menendang perut laki-laki itu, menghantamkan ransel berat ke kepala. Satu tersungkur, gadis itu masih terus berlari. Napasnya tersengal-sengal. Sedikit lagi hampir sampai di jalan lebar. Semua ketakutan yang menjalari seluruh tubuhnya harus ditepis, mencari cara menyelamatkan diri.


Sebuah motor sport putih nyaris menabrak Maisa. Beruntungnya pengendaranya sigap mengerem mendadak sebelum menghantam tubuhnya. Bunyi decitan ban bergesekan dengan aspal memekak telinga.


Maisa meminggirkan badannya ke pagar pinggir jalan. Menyandarkan tubuhnya pada tiang telepon. Mengambil napas dalam-dalam. Pengendara itu melepas helmnya. Raut wajahnya menahan amarah. Maisa terkejut melihatnya, tapi sedikit lega.


Kio mengumpat kesal, nyaris menabrak Maisa. Ia tidak memutar gas kencang. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat motornya beberapa senti lagi menyentuh adiknya. Kio turun dari motornya dan menghampiri Maisa.

__ADS_1


"Heh, bego! Kalau mau mati jangan ajak orang lain juga."


Keempat laki-laki preman keluar dari gang berhasil menyusul Maisa dengan napas terengah-engah. Keempatnya mengacungkan telunjuknya ke arahnya. Mereka terlihat lebih menyeramkan dari sebelumnya. Kio memandang preman itu dan Maisa bergantian. Tampangnya berubah masam.


"Heh! Jadi mereka mainan baru, ya? Cari yang selevel dong kalau mau main-main." Suara Kio terdengar sinis.


“Aku biasa lewat sini. Jadi tidak tahu kalau ada preman mangkal di sini,” jawab Maisa sedikit kikuk, masih berusaha mengatur napasnya.


Kio tambah melototi adiknya itu. Apa gadis itu bodoh, masih berani melewati jalan sunyi. Sudah tau ia itu seorang perempuan. Maisa hanya menunduk. Kelihatannya Kio marah besar padanya.


“Cewek ini bagian kita. Awas kalau berani ganggu kita.” Bos preman itu tertawa tertahan. Tangannya menunjuk Maisa.


"Bangsat! Jangan sentuh adikku!" serapah Kio.


Bagian? Tampang Kio mengeras. Giginya gemelutuk menahan amarahnya. Beraninya menyentuh adiknya. Hanya dirinya yang boleh membully Maisa. Maisa tersenyum senang mendengar pengakuan Kio.


“Ini anak cari perkara sama kita. Hajar dia sekalian!”


Para preman itu mengambil sebilah kayu, menyerang Kio dengan membabi buta. Kio membalas serangan preman itu. Bos preman menghampiri Maisa, mencoba menyerangnya. Maisa menghindar, melayangkan serangan balasan.


“Uhm... Terima kasih kak, sudah mau membantu," ujar Maisa sambil mengusap keringatnya dengan tisu.


Kio hanya menghela napas panjang dan berlalu dari hadapan Maisa, mengambil helmnya yang terpasang di spion. Gadis itu menatap punggung lebar Kio. Tiba-tiba Maisa memeluk dari belakang. Helm yang dipegang Kio jatuh.


“Apa-apan main peluk-peluk. Lepaskan!” perintahnya dengan nada dingin, mengambil helm yang jatuh di depan kakinya.


“Kak Kio!” kata Maisa pelan. Disandarkan kepalanya ke punggung Kio. Aroma musk menusuk indra penciumannya membuatnya tenang. Tangannya mencengkeram kemeja Kio.


Kak Kio hangat!


Kio bertambah kesal. Laki-laki itu berniat melepaskan tangan Maisa yang melingkar di pinggangnya, namun diurungkan. Tangan adiknya terlihat gemetaran. Membiarkan Maisa memeluknya untuk beberapa saat. Beberapa pengendara lewat bersiul mengira keduanya sepasang kekasih dimabuk asmara. Seperti film telenovela.


Maisa tertawa kecil melihat wajah kakaknya yang memerah. Kio lekas memasang helm, menutupi mukanya menahan malu. Tangannya melepaskan pelukan Maisa. Ia segera menghampiri motornya dan menghidupkan mesinnya. Kio menggerakkan kepala mengisyaratkan untuk naik motor. Motor Kio melaju kencang. Maisa memeluk pinggangnya erat-erat.

__ADS_1


“Kak Kio. Aku sayang sama kakak. Sangat sayang sekali!" seru Maisa sekencang mungkin. Beberapa orang yang kebetulan lewat menoleh ke arahnya. Wajah Maisa memerah, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Kio.


“Dasar bego. Teriak-teriak di jalan seperti orang gila," sahut Kio sembari menambah laju motornya. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Maisa melirik jam dinding yang terpasang di kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul 20.00. Masih belum terlalu malam. Dia berguling-guling di kasurnya. Menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan kejadian buruk yang menimpanya tadi siang. Perasaan takut masih menghantui. Semua pikiran buruk satu persatu muncul dalam kepalanya. Saat memikirkan Kio, ia tersenyum-senyum sendiri. Tak disangka kakaknya yang jutek mau membantunya.


Tanpa disadarinya Kio yang berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka sedari tadi memperhatikannya dengan penuh tanda tanya di benaknya.


“Apa sih yang ada di kepala kosongmu itu?” kata Kio ketus mengagetkan Maisa.


Maisa duduk di tepi kasur. Memandangi Kio dengan tersenyum lebar. Laki-laki itu merasa rikuh dipandangi seperti itu membuang muka.


Maisa bergegas mendekati kakaknya, memeluk lengan Kio dengan erat. Kio kaget bukan main dan berusaha melepaskan diri. Adiknya tiba-tiba menjadi manja membuatnya merinding.


“Salah makan apa tadi siang, heh!” ujarnya marah.


Bukannya melepaskan, Maisa malah mengeratkan pelukannya. “Kakak! Aku cuma ingin memelukmu sebentar aja, kok! Aku hanya kangen sama kakak. Sejak tinggal di rumah nenek, Papa dan kakak tidak pernah menjenguk. Aku rindu sekali pada kalian. Aku selalu memikirkan kalian. Dan sekarang aku ada disini bersama kalian. Aku senang sekali. Keinginanku selama ini akhirnya terkabul juga. Apa aku tidak boleh memeluk kakak walau cuma sebentar.”


Kio tercekak mendengar penuturan Maisa. Ia tidak tahu ingin menjawab apa. Dibiarkannya Maisa memeluk dirinya dengan segala perasaan haru birunya. Tangannya menepuk kepala adiknya pelan. Maisa kemudian melepaskan pelukannya.


“Oh, iya. Ada perlu apa, Kak Kio ke kamarku?” tanyanya sambil tersenyum.


“Tidak jadi!” jawab Kio singkat.


Kio hendak melangkahkan kakinya keluar, namun terhenti. "Oh... Aku sudah melaporkan para preman itu ke polisi. Beruntungnya ada rekaman CCTV di jalan itu. Jadi tidak perlu risau lagi."


"Benarkah? Terima kasih, Kak."


Maisa berniat memeluknya lagi, namun Kio berhasil menghindar. Setelah mengatakan itu, Ia bergegas pergi meninggalkan kamar Maisa. Melihat adiknya baik-baik saja sudah cukup. Gadis itu memiringkan kepalanya, sedikit bingung memandangi kepergiannya. Heran dengan sikap kakaknya yang sedikit berbeda hari ini. Mungkin ia khawatir.


Jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul 12 malam. Kio masih belum bisa tidur. Kata-kata Maisa masih terngiang-ngiang di telinganya. Tak mau hilang dari ingatannya.


“Oh... Come on. Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh. Sebenarnya aku kenapa sih? Kenapa kau begitu memikirkan Maisa?"

__ADS_1


Kio lalu melempar bantalnya dengan kesal. Pikirannya tidak mau diajak berkompromi. Adik yang ditinggalkan selama lima belas tahun begitu memikirkan Kio. Selama ini ia tidak pernah memikirkan adiknya walau cuma sedikit. Seberapa menderitanya gadis itu tidak bertemu keluarganya sendiri selama lima belas tahun. Namun bayangan ibunya melintas juga membuat hatinya sakit. Anak itu telah merebut ibu yang dikasihinya.


__ADS_2