Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.68 Undangan Makan Malam


__ADS_3

Kali keduanya Maisa terculik melihat Ken melakukan sesi pemotretan. Ia tengah memperhatikan orang berlalu lalang membawa peralatan. Mereka tengah sibuk mempersiapkan untuk sesi pemotretan.


Ken sudah bersiap dengan pakaian yang akan di promosikan. Jangan tanya bagaimana penampilannya. Tentu saja ia tampan di mata Maisa. Beberapa kali gadis itu meliriknya.


Ken duduk di sampingnya. Tangannya merangkul bagu gadis itu. Maisa menoleh ke arahnya, sedikit memiringkan kepala. Sorot matanya penuh tanya.


"Siapa partnermu hari ini? Apa Alice?"


Ken tertawa kecil. "Kenapa? Kamu cemburu?"


"Tidak. Aku hanya bertanya saja." Maisa mengalihkan perhatiannya pada staf yang berlalu lalang. Terlihat Albert sibuk melepon seseorang.


"Apa? Asyia tidak bisa datang? Bagaimana bisa anda baru mengabarinya sekarang? Bahkan pemotretannya hampir berjalan."


Albert berhenti sejenak, lalu melanjutkan ucapannya. "Apa kalian gila? Bagaimana bisa aku mencari pengganti di waktu yang sesempit ini?


Ia mengacak-acak rambutnya kesal. Matanya menyapu setiap sudut ruangan hingga terhenti pada gadis yang di samping Ken. Maisa terlihat asik melihat katalog model pakaian.


Laki-laki itu berdehem pelan. Maisa mendongakkan kepalanya. Albert memperhatikannya dari ujung kaki hinhga ujung kepala. Ia menjentikkan jarinya.


"Sempurna. Anna! Tolong rias dia. Gadis ini akan menjadi partner Ken hari in," seru laki-laki itu pada perempuan cantik berambut sebahu.


Eh? Maisa mengerjapkan matanya dengan jari telunjuknya mengarah ke dirinya dirinya sendiri. Bibirnya menganga tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ken hanya terkekeh pelan di sampingnya.


"Sekarang apa kau cemburu dengan dirimu sendiri?"


"Tidak! Bukan begitu? Eh? Kenapa jadi begini?" seru Maisa panik.


Gadis itu ditarik perempuan tadi ke ruang make up. Ken menyilangkan tangannya.


"Aku tak menyangka kau akan menjadikannya partnerku hari ini," kata Ken pada Albert yang sibuk mengatur persiapan pemotretan.


"Aku tidak punya waktu untuk mencari penggantinya. Pacarmu kelihatannya cocok untuk tema kali ini. Apa kau tidak senang?"


Ken mengusap dagunya. "Mana mungkin aku tidak senang. Aku jadi bisa melihat beragam ekspresi di wajahnya hari ini."


Albert hanya menggelengkan kepala. "Ternyata kau cukup kejam juga."


Seorang MUA mulai merias wajah Maisa. Mulai dari mengoleskan pelembab kemudian dilanjutkan dengan foundation. Concealer di oleskan pada area bawah mata, dahi dan dagu. Kuas bedak di olehkan ke bedak tabur dan dibubuhkan pada area t-zone.


Tak lupa eyeshadow primer di pulaskan terlebih dahulu sebelum mengenakan eyeshadow. Setelah itu perempuan itu merapikan alisnya sehingga terlihat natural. Terakhir ia membubuhkan lipstik warna nude ke bibirnya.

__ADS_1


"Kau sudah bisa membuka matamu."


Perlahan Maisa membuka matanya, melihat penampilannya di cermin. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Wajahnya terlihat sangat berbeda, tak seperti dirinya.


Maisa berjalan ke luar ruangan mengenakan highheels setinggi tujuh senti. Rok selutut dan blouse putih offshoulder. Ken memperhatikannya tanpa berkedip.


"Oke. Mari kita akhiri lovey doveynya. Ayo kita mulai pemotretannya."


Beberapa saat kemudian, Maisa duduk di luar studio menghela napas panjang. Pipinya terasa dingin. Ia mendongakkan ke atas. Ken membawakannya sebotol teh dingin. Ia duduk di sampingnya.


"Aku tidak menyangka menjadi model ternyata seberat ini," kata Maisa setelah menenggak minumannya.


Selama sesi pemotretan Albert selalu memarahinya karena posenya terlu kaku, salah pose, atau apalah itu. Ken hanya tertawa kecil mendengar keluh kesahnya.


"Tapi kamu terlihat lucu tadi."


Gadis itu melotot ke arahnya. Ken terlihat senang berhasil mengerjainya.


...****...


Pak Chandra duduk berhadapan dengan pak Brian di sebuah restoran. Keduanya tengah menyeruput minumannya masing-masing. Pak Chandra mengajukan ulang proyek yang sempat tertunda.


Pak Brian membolak-balik dokumen usulan tersebut. Sebelah tangannya bertopang dagu. "Bagaimana kabar Maisa?"


Pak Chandra berjengit, tak menyangka kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Ia tak mendengar kabar apapun dari Kio sejak dirinya menolak permintannya.


"Dia baik-baik saja," balasnya pelan.


Pak Brian menaikkan sebelah alisnya. Ia menyodorkan majalah mode. Di cover depan ada Ken duduk di punggung sofa dengan kaki kiri diselonjorkan dan kaki kanan sedikit ditekuk. Tangan kanannya bertopang dagu. Tangan kirinya memegang pipi Maisa.


Gadis itu duduk di depannya menyilangkan kedua kakinya. Tangan kirinya bertumpu pada kaki Ken dan tangan kanannya diletakkan dekat sepatu Ken. Keduanya menatap tajam ke arah kamera.


Pak Chandra mengambil majalah itu. Tangannya sedikit gemetar menahan amarah. Kenapa anak itu tidak bisa berhenti membuat masalah menjadi rumit.


Pak Brian tersenyum kecil. "Sepertinya kau tidak tahu keseharian anakmu sendiri. Aku akan meloloskan proyek kali ini. Aku tak mau bekerja sama dengan seseorang yang mengabaikan keluarganya sendiri. Jadi kuharap kau menyadari itu. Jangan mengecewakanku, karena kita sudah bekerjasama sejak lama."


Pak Brian menepuk pundaknya lalu pergi. Di dalam mobil, Ken sudah menunggu. Ia terlihat tak sabar mendengar kabar dari ayahnya.


"Jangan khawatir. Aku sudah mengatakan semuanya. Tapi ini semua kembali kepadanya. Apa dia mau membuka hatinya untuk anak itu atau tidak."


Ken menyibakkan rambutnya ke atas. Tak menyangka masalahnya akan serumit ini. Ia hanya menginginkan Maisa tersenyum bahagia. Tapi senyum itu kadang lenyap saat mengingat ayahnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kau mengundang Maisa makan malam ke rumah. Sudah lama kau tidak mampir. Pasti ibumu kangen."


Ken mengangguk pelan. Ia langsung mengirimkan pesan pada gadis itu.


Papa mengajak kita berdua makan malam di rumah.


Maisa membaca pesan yang masuk dari Ken beberapa kali. Memastikan penglihatannya masih normal. Dibaca berapa kalipun tetap sama.


Mia yang duduk di sampingnya ikut melongok membaca pesan itu. Ia berdehem pelan. "Cie... yang mau ketemu camer."


"Itu cuma makan bersama biasa, kok." Maisa mencoba mengelak. Pipinya merona merah. Sebuah pesan masuk langsung membuat senyumnya lenyap.


Ayo kita makan malam berdua. Ada yang ingin kubicarakan.


Pesan itu dari ayahnya. Ia mengerutkan keningnya. Apa lagi yang diinginkan ayahnya. Dirinya sudah keluar dari rumah dan juga sudah mengatakan akan melakukan apapun asal tidak mencoreng nama keluarganya.


Maisa tak ingin lagi mendengar perkataan kejam dari ayahnya. Sampai sekarang perasaannya masih terluka. Ia membalas pesan dari ayahnya.


"Maaf, Pa. Hari ini aku tidak bisa."


Ting! Masuk lagi pesan balasan dari ayahnya.


Bagaimana kalau besok?


Maisa memijit pelipisnya. Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran ayahnya. Apa ia sudah berubah pikiran dan mau menerimanya kembali? Gadis itu kembali mengirim pesan balasan.


"Baiklah!"


Malam harinya Ken menjemput di rumah kontrakannya dengan mobil. Kali ini ia mengenakan pakaian simpel. Gaun selutut dan sneakers putih. Ken membukakan pintu untuk gadis itu. Mobil melaju menyuri jalan raya yang cukup padat.


"Kamu terlihat cantik malam ini."


Maisa menoleh ke arahnya. "Benarkah? Terima kasih pujiannya."


"Kau tahu, Sa. Aku hanya ingin kau selalu tersenyum bahagia di sampingku."


Gadis itu memiringkan kepalanya heran. "Ada apa tiba-tiba, Kak? Aku bahagia berada di sampingmu. Terima kasih sudah selalu ada untukku."


Ken membalasnya dengan senyuman tipis.


Benar! Kau harus bahagia apapun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2