Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.75 Laki-laki Brengsek Itu


__ADS_3

Mia terus mempercepat langkahnya. Bibirnya cemberut. Kio mengejar dari belakang. Ia menyambar pergelangan gadis itu. Mia menghentikan langkahnya.


"Ayo kita berkencan," seru laki-laki itu.


Sudut bibir gadis itu sedikit terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Ia memutar badannya. Matanya kembali bersinar.


"Benarkah?"


Kio menganggukkan kepala. Sebelah tangannya menutupi separuh wajahnya. Mia mengamit lengan kekasihnya, bersenandung riang.


Wajahnya langsung berubah masam saat dirinya dalam gedung bioskop. Laki-laki di sampingnya tampak asik menonton film horor. Angan-angan ingin menonton film romantis buyar seketika. Dengan bibir merengut kesal, ia mencoba menikmati tontonan di hadapannya.


Dua orang muda mudi berjalan di sebuah lorong gelap. Hanya berbekal cahaya ponsel keempatnya menyusuri lorong. Di belakang tampak sesosok bayangan merangkak di langit-langit. Keempatnya menoleh ke belakang. Tidak ada apapun. Salah seorang gadis memutar badannya ke arah tujuan awal tadi. Tepat dihadapannya sesosok wajah hancur dengan bola mata legam menyeringai. Kepalanya berputar ke bawah.


Seketika gadis itu berteriak diiringi teriakan Mia. Ia mencengkeram lengan Kio. Laki-laki itu menahan tawanya, merasa lucu dengan ekspresi gadis itu. Mia menyembunyikan wajahnya di balik lengannya. Ia terlihat seperti tupai imut di mata laki-laki itu.


Mia masih merengut kesal setelah keluar bioskop. Langkah kakinya menhentak lantai. Kio yang menggandeng tangannya tersenyum tipis.


"Aku mau ke toilet sebentar," seru Mia.


"Oke. Aku mau membeli minuman di sana? Mau pesan apa?" Kio menunjuk stand minuman tak jauh di samping mereka.


"Kalau begitu jus avocado cokelat."


Mia langsung berlari kecil ke arah toilet. Kio menghampiri stand minuman, memesan satu cup jus avocado dan coffe latte. Sambil menunggu pesanan ia menelepon seseorang.


Tak lama berselang seorang laki-laki berpakaian ojek online menghampirinya. Ia membawa tas besar berisi buket bunga mawar. Kio menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


Hampir lima belas menit gadis itu tidak kembali membuat hatinya gelisah. Ia beranjak menyusul gadis itu. Lima menit Kio berdiri di depan toilet. Bertanya tentang gadis itu pada perempuan yang keluar dari sana.


Nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan.


Kio nekat menerobos toilet wanita. Semua yang ada di dalam berteriak memakinya. Ia tak peduli, terus menggedor pintu toiket yang tertutup, memastikan gadis itu di sana. Mia sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


Kio bertanya pada penjaga toko dan stand yang berjejer di sana. Semuanya mengangkat bahu tak memperhatikan lalu lalang sekitarnya. Kio terlihat putus asa. Matanya tertuju pada lantai dasar Q Mall. Sosok perempuan mirip dengan kekasihnya tengah ditarik paksa oleh laki-laki.


Mia keluar dari toilet. Ia berjalan menghampiri Kio yang berdiri membelakanginya. Tinggal sepuluh langkah lagi, seseorang menyentak tangannya. Wajahnya memucat melihat siapa laki-laki itu.


Seraut paras yang dikenalnya menyiratkan tatapan meremehkan. Laki-laki itu menyilangkan lengannya ke dada. Di belakangnya ada dua orang laki-laki yang melihatnya nanar.


"Tak kusangka aku bertemu denganmu di sini. Ternyata dunia ini begitu sempit, ya," ujar laki-laki itu.


Mia mundur beberapa langkah, meningkatkan kewaspadaannya. "Mau apa kau Riko? Hubungan kita sudah lama berakhir."


Tak ada yang baik dari laki-laki itu. Ia hampir merenggut mahkotanya. Ada sedikit penyesalan kenapa dirinya tidak meminta Maisa mengajari teknik pertahanan diri. Setidaknya bisa melayangkan bogem mentah di wajah laki-laki itu.


Tiga tahun yang lalu Mia menjalin hubungan dengan Riko. Teman dekatnya sudah memperingatkan menjauhinya. Laki-laki itu hanyalah seorang bajingan yang suka bergonga ganti pasangan. Entah cinta atau apa yang merasukinya, Mia tak menggubris saran temannya.


Laki-laki itu sangat baik padanya. Sering mengucapkan kata-kata manis hingga mampu membuatnya tersanjung. Memperlakukannya penuh kasih. Tak pernah terbayangkan akan menjadi semengerikan itu.


Malam itu Riko mengajaknya ke diskotik. Awalnya Mia menolak. Namun sudah termakan bujuk rayu akhirnya ia mau ikut. Suasana diskotik begitu ramai. Suara alunan musik begitu keras. Ada yang berjoget mengikuti irama musik.


Ia merasa tak nyaman dengan suasana ini. Tak jauh darinya duduk, sepasang muda mudi berciuman dengan panas. Riko menghilang di tengah kerumunan datang membawa dua gelas minuman.


"Sudah minum saja. Itu tidak beracun, kok." Riko menenggak minuman yang dibawanya.


Mia mengamati cairan berwarna biru bening dalam gelas kecil. Laki-laki di sampinnya tersenyum, menggoyangkan kepalanya. Rasa dingin dan pahit menyerang indera perasanya.


Riko menariknya ke dalam pelukan dan memberikan ciuman mesra. "Good job, baby."


Dua teman laki-laki Riko datang menghampiri. Sebelah tangan Riko mengelus-elus punggung gadis itu. Ketiganya berbincang menunjuk beberapa perempuan seksi yang berjoget di lantai dansa sambil tertawa.


Mia merasa pandangannya mulai buran. Badannya terasa panas. Kepalanya terasa berputar seolah dunia berjalan lambat. Suara musik keras membuatnya bertambah parah.


"Pacarmu mabuk tuh!" ujar salah seorang teman Riko.


Ia menggerakkan alisnya, terkekeh pelan. Matanya berkilat penuh hasrat. Ia merangkul gadis itu, membawanya keluar diskotik.

__ADS_1


"Saatnya bersenang-senang, Bro!" seru temannya yang satu lagi.


Di gang sepi dan remang-remang, ia menyenderkan gadis itu ke tembok. Napasnya mulai memburu. Tangannya mulai beraksi.


Antara setengah sadar Mia merasa ada yang memagut bibirnya, menggerayangi panggul dan dadanya. Ia mengerang pelan, mencoba mendorong laki-laki itu menjauh.


"Lepaskan aku brengsek!"


Tenaganya kalah besar. Ia memberontak memukul laki-laki itu. Mia mencoba berteriak meminta tolong. Suaranya tertelan oleh ciuman paksa dari Riko.


Air matanya menetes. Dalam hati ia berharap ada yang bisa menolongnya. Segenap kekuatan yang tersisa, ia mencakar muka laki-laki itu.


Riko mengumpat kesakitan. Pegangannya mengendur. Mia mendorong laki-laki itu. Langkahnya terhuyung keluar dari gang dan menabrak seseorang.


"Tolong aku!" pintanya lirih.


Wajah laki-laki itu tak terlihat jelas. Tangannya yang kokoh menopang tubuhnya yang nyaris rubuh. Riko mengejarnya, mendapati gadis itu di pelukan seseorang.


"Lepaskan pacarku!"


Laki-laki itu memijit kepalanya. Ia memperhatikan gadis itu sekilas. Beberapa noda merah di lehernya. Air matanya masih terus mengalir. Wajah laki-laki di hadapannya terluka bekas cakaran mengernyit.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?"


Riko menerjangnya, ingin merebut kembali gadis itu. Laki-laki itu memeluk Mia, memiringkan badannya. Mengangkat sebelah kakinya menghantam perut Riko.


Riko jatuh tersungkur memegangi perutnya. Matanya nyalang penuh kebencian. Giginya gemeletuk menahan amarah.


"Aku tidak akan menyerahkan gadis ini padamu. Kalau kau benar-benar pacarnya, dia tak mungkin meminta tolong padaku."


Laki-laki itu membawa Mia pergi. Riko masih mengerang kesakitan akibat tendangan kerasnya.


"Argh! Sialan kau brengsek! Akan kubalas kau nanti!" teriaknya berang.

__ADS_1


Beberapa pejalan kaki yang lewat menghindarinya, menatapnya jijik. Ia berjalan tertatih-tatih menjauh dari tempat itu.


__ADS_2