
Maisa duduk manis di bangku pojok ruangan. Matanya memperhatikan sekelilingnya. semua ruangan serba putih, peralatan studio yang tak dipahaminya berjejer. Ken berdiri di belakang backdrop, melakukan sesi foto. Ia terasa lebih tampan dibandingkan biasanya. Mungkin karena efek make up.
Beberapa saat sebelumnya. Seusai keluar dari ruang kuliah, langkahnya di hadang oleh Ken. Laki-laki itu ingin mengajaknya ke tempat kerjanya. Awalnya ingin menolak. Saat Ken menatapnya dengan sorot mata meredup, ia mengurungkan niatnya.
Seorang laki-laki berpakaian setelan berwarna kuning menyala, dengan rambut berwarna kemerahan menyipitkan matanya. Menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Berjalan pelan mengilingi, menilai penampilannya. Jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya. Ia menggelengkan kepala.
Maisa agak rikuh diperhatikan sejak tadi. Ia hanya mengenakan kaos abu-abu berlengan pendek, celana jogger hitam, dan sneakers putih. Cukup keren kok, menurutnya. Tangannya mengusap lehernya yang jenjang. Ken merangkul pinggangnya, memperkenalkan pada Albert.
"Kenalkan ini pacarku, Maisa. Dan ini Albert, pemilik rumah fashion terbesar di Indonesia."
Maisa mengumbar senyum manis, mengulurkan tangannya. "Halo, senang bertemu dengan anda."
"Halo Maisa. Salam kenal." Albert membalas jabatan tangan gadis itu.
Clap! Albert bertepuk tangan. Semua staff berkumpul. Laki-laki itu memberi beberapa arahan. Ken keluar dari ruang ganti. Glek! Maisa menelan ludahnya, ketampanannya memang tidak bisa diabaikan. Ia sangat tampan hingga Maisa tak bisa memalingkan matanya.
"Bagaimana penampilanku?" Ken mengulas senyum menawan.
Maisa memberikan dua jempol. Ken mencubit hidungnya. Mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
"Aku ingin memperlihatkan betapa tampannya diriku padamu." Bisiknya lirih.
Maisa tertawa kecil. Darimana datangnya rasa percaya diri laki-laki ini. Cup! Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Ken. Maisa mencuri kesempatan saat semua staf fokus pada Albert.
Ken mengelus pipinya. Matanya membelalak lebar. Senyumnya semakin lebar. Gadis itu memalingkan wajahnya, pipinya terlihat bersemu merah.
Ken menyandarkan punggungnya ke tiang. Kaki kirinya ditekuk, menjejakkan ke badan tiang. Tangannya membawa sebuah buku tebal yang terbuka.
"Oke! Bagus!" Seru Albert
Seorang wanita masuk ke ruang pemotretan, mengenakan tube dress sepaha berwarna merah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi. Bahunya dibiarkan terbuka. Wajahnya cantik dengan polesan make up bernuansa senada dengan pakaiannya.
Maisa mengenali siapa yang datang. Alice Loraine, seorang model dan aktris yang diisukan mendekati Ken. Di sampingnya ada seorang manajer laki-laki berjalan tergesa-gesa menjajari langkahnya.
"Bukannya hari ini Alice tidak ada jadwal pemotretan."
Suara bisik-bisik staf mampir di telinganya. Gadis itu menghampiri dan duduk di hadapannya. Memperhatikan setiap inchi tubuh Maisa. Sebelah sudut bibirnya naik ke atas membentuk senyum sinis. Sorot matanya penuh dengan rasa tak suka.
Maisa membalas sikapnya dengan senyuman. Menganggukkan kepala untuk bersikap sopan. Meski ada rasa dongkol dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
“Kamu Maisa, kan? Sejak kapan kenal sama Ken?” Alice berkata sambil lalu. Ia memperhatikan kuku jari tangannya dihiasi nail art yang cantik.
Kedua alis Maisa berkedut menahan kekesalan. Bibirnya bergetar mempertahankan senyumnya. “Belum lama ini. Kak Ken itu seniorku di kampus.”
“Kamu naksir sama Ken ya?”
Maisa membuka bibirnya, "Ya. Memangnya kenapa?"
Sepasang tangan memeluk lehernya dari belakang. Maisa mendongakkan kepala, melihat wajahnya. Sepasang mata teduh berwarna hitam bertemu dengan manik coklat miliknya. Ia meraih lengan laki-laki itu yang bergelung lehernya, merangkumnya lembut. Ken mengecup dahinya mesra.
“Maisa pacarku. Kita berdua memiliki perasaan yang sama. Apa ada masalah?”
Suara bas yang keluar dari bibir Ken terasa dingin. Netranya menguarkan amarah memandang perempuan yang duduk di hadapan Maisa. Kesal tentunya mengingat berapa liciknya perempuan itu mencoba menghancurkan gadis yang dicintainya. Setegar apapun Maisa, ia tetap bisa terluka.
Alice mengeratkan genggaman tangannya pada ujung dressnya, mengatupkan bibirnya, giginya meletuk. Matanya nyalang memandangi keduanya penuh kebencian.
Albert dan semua staf menyingkir keluar, tak ingin ikut dalam perseteruan mereka. Alice berdiri dari kursinya.
“Ken! Kenapa kamu bersikap seperti itu padaku. Kamu tahukan, aku cinta mati padamu."
“Tapi aku tidak menyukaimu. Apa aku harus memaksakan buat suka padamu. Kita hanya sebagai partner kerja. Tidak lebih!”
“Apa menariknya dia. Cantik juga pas-pasan. Bahkan dikenal sebagai cewek gila." Alice menjelekkannya secara terang-terangan. Jari telunjuknya langsung mengarah pada gadis di depannya.
"Kenapa aku harus menyesuaikan dengan standarmu?"
Senyum di wajah Ken mengembang. Ia menghampiri gadisnya, meraih lengannya. Maisa berdiri di sebelahnya. Ken mendekatkan badannya hingga tak ada celah. Tangannya mengusap lembut kepala gadis itu.
“Kau tahu, aku justru menyukainya yang seperti ini.”
Ken mencium mata kiri Maisa. Rona merah menguar dari bawah kulit pipinya. Tak menyangka Ken bersikap sejauh itu. Ia menggiring gadis itu keluar menjauhi Alice yang masih termangu.
Maisa meliriknya diam-diam. Ken menyadari gadis itu mencuri pandang ke arahnya.
“Apa aku setampan itu?" Ken mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti. Menatapnya tajam.
Maisa mengepal tangan kirinya, mendekatkan ke bibirnya, berdehem pelan. "Aku tidak menyangka Kak Ken akan bilang seperti itu padanya."
"Bukannya kamu juga begitu."
__ADS_1
Maisa meringis, menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Tapi sepertinya Kak Ken sebenci itu padanya. Kok bisa?"
Laki-laki itu terdiam sejenak. Apa ia harus mengatakan pada gadis itu tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. Alice memanipulasi seseorang untuk menyebarkan video itu seolah-olah seperti temannya yang menyebarkan.
“Tidak apa-apa, kok. ” Ken tersenyum lembut, memutuskan menyembunyikannya.
“Kak Ken benar tidak suka sama Alice. Dia cantik loh." Ada rasa tak nyaman keluar dari suaranya. Entah kenapa ia tak suka Ken dekat dengan perempuan itu.
“Kenapa memangnya? Cemburu ya?"
Maisa menggelengkan kepala. "Siapa juga yang cemburu?"
"Hmm...."
Ken menaikkan sebelah alisnya. Memperlihatkan mimik muka tak percaya. Dalam hatinya merasa senang gadis itu mulai menunjukkan rasa cemburu. Ia mendekatkan wajahnya lagi hingga dahi mereka saling menyentuh.
"Kamu terlihat manis kalau lagi cemburu." Ujar Ken dengan nada rendah menggelitik telinga.
Maisa mencoba menghindar. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh dinding. Ken mengurungnya dengan kedua tangannya. Wajahnya begitu dekat. Apa ia akan menciumnya. Maisa memejamkan matanya, menahan napas. Ia merasakan sangat dekat dengannya, napas Ken menerpa wajahnya.
Terdengar suara pintu terbuka. Suara Erik terdengar senang, berceloteh bernada ceria. "Hei, kudengar hari ini Alice datang ke sini?"
"Memangnya aku peduli." Kio menjawabnya acuh tak acuh.
Keduanya melihat dua sejoli bergandengan tangan. Terlihat suasananya canggung. Air muka Ken terlihat kesal, dan gadis di sampingnya memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain.
Erik menyadari apa yang terjadi. "Apa kami mengganggu."
"Tidak, kok," Jawab Maisa pelan. Menutupi wajahnya dengan punggung tangannya.
"Mengganggu saja," Ken menggeram. Tatapannya seperti siap membunuh siapun yang mendekat.
Erik hanya tertawa sumbang. Tak menyangka Ken begitu terang-terangan. Biasanya ia selalu memasang wajah datar atau masam jika ada yang mendekatinya.
“Ken benar-benar menyukai gadis itu? Aku hampir tak percaya melihatnya. Selama ini sikap dia kan selalu dingin. Sepertinya gadis itu yang mengubah Ken,” Ujar Erik setelah kedua sejoli itu meninggalkan ruang ganti.
Kio mengangkat bahu. Semua terdengar membosankan baginya. Erik masih belum tahu siapa Maisa sebenarnya. Kio tak memberitahunya. Bukan tak mau, hanya malas. Kio malas mengeluarkan energi untuk menjelaskan semuanya pada bocah cerewet di sampingnya ini.
Alice menggeram melihat kedekatan Ken dan Maisa saat keluar. Keduanya bergandengan tangan. Ken memasang senyum hangat. Jarinya merapikan poni yang menutupi wajah gadis itu.
__ADS_1
Ia menghentakkan siletto merahnya ke lantai. Kedua tangannya mengepal. Kenapa harus dia. Ia yang lebih dulu mengenal Ken. Harusnya ia yang berada dalam pelukkan laki-laki itu, bukan gadis itu.
Ken itu milikku.