Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch. 9 Cemburu Part 2


__ADS_3

Ken geram melihat Maisa merangkul Kio. Hatinya panas, ego menahannya. Keduanya terlihat sangat dekat. Maisa melompat-lompat senang setelah berhasil mengerjai Kio. Fotonya langsung di pasang sebagai wallpaper. Ia terkekeh geli melihat Kio dengan wajah setengah terpaksa. Tanpa disadari, Ken sudah ada di sampingnya.


"Sebegitu sukanya sama Kio," ujarnya bernada dingin.


Maisa tersentak kaget. Ponsel yang di pegangnya terjatuh. Untung saja ponsel itu tidak rusak. Ken memungut dan memberikannya. Maisa menerimanya dengan gugup. Ken sangat marah terlihat dari sorot matanya yang dingin. Senyuman yang selalu menghiasi lenyap.


"Tidak! Bukan begitu, Kak."


Maisa menunduk menggigit bibir bawahnya. Bingung ingin menjelaskan dari mana. Ken sepertinya sudah terlanjur salah paham. Niat menjelaskan malah sirna. Kio datang merangkul pinggang Maisa. Gadis itu melotot ke arahnya.


"Aku dan Maisa lebih dekat dari yang kamu pikirkan, Ken."


Kio tersenyum memandang Maisa. Tangannya merapikan poni pendek gadis itu yang berantakan lalu membelai pipinya. Ingin rasanya Maisa menghantam wajah Kio saat itu juga. Ken tertawa, namun wajahnya tidak.


"Oh.... Sorry kalau begitu."


Ken pergi meninggalkan keduanya, membisu. Maisa merasa bersalah padanya. Ia melirik Kio di sampingnya, menginjak kaki laki-laki itu dengan keras hingga berseru kesakitan.


"Itu balasan untuk yang tadi, Kak. Terima kasih sudah perhatian sama adikmu tersayang. Aku sampai terharu." Maisa tersenyum ke arahnya, kakinya masih menginjak kaki Kio.


"Dasar cewek gila."


Kio meringis kesakitan, berjalan terpincang-pincang meninggalkannya.


Maisa menyandarkan punggungnya ke dinding. Goresan luka di hatinya bertambah. Rasanya seperti disayat belati. Ia sudah melukai Ken. Mungkin ini hukuman buatnya. Mata pun terasa panas dan pandangan mulai buram. Menitik lah satu per satu bulir bening di sudut mata. Maisa mengusapnya dengan telapak tangannya.


Kamu tidak boleh kalah. Jangan menangis, Sa. Jangan menangis!


...****...


Aku mencintaimu. Maukah kau jadi pacarku. Aku ingin selalu ada di sisimu.


Maisa menutup buku novel romantis yang dibacanya. Dahinya mengkerut. Kata penuh romantisme mengaduk-aduk ruang pikirnya. Bibirnya terkekeh geli. Bisa-bisanya ada kalimat yang membuat bulu kuduk merinding tertulis di novel. Ruang perpustakaan yang sunyi dan sepi sangat cocok untuk bersantai. Tatapannya teralihkan ke arah sekumpulan mahasiswa tengah bercanda di bawah jendela lantai dua.


Maisa mengedarkan pandangannya. Terlihat Mia tengah mengobrol dengan Kio dan kedua temannya. Maisa menghela napas panjang. Perasaannya berubah kecut mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sepertinya Kio sudah melupakan. Tangannya mengepal, ingin rasanya menghajar Kio yang asik haha hihi tanpa rasa bersalah. Tapi ia juga menyadari sebagian besar salahnya menggoda Kio. Ken juga tidak terlihat marah lagi dengan Kio.


Haah! Ayolah Maisa. Apa sih yang bisa kamu harapkan. Lupakan semuanya. Anggap seperti angin lalu!


Maisa mengangguk-anggukkan kepala. Tangannya mengepal dengan pose semangat. Sudut bibirnya naik membentuk sebuah senyuman. Tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Ken yang tengah memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Maisa memalingkan wajahnya yang memerah, pergi meninggalkan tempat itu. Bisa-bisanya ia bertingkah konyol. Sebelah tangannya menutup sebagian mukanya.


Di belokan koridor tanpa sengaja, ia menabrak seseorang. Merasa seperti dejavu, Maisa mendongakkan wajahnya. Laki-laki berkacamata di depannya hanya menatapnya dingin menyeramkan. Bahkan senyumnya tidak terlihat sedikitpun.


“Anak jaman sekarang suka sembrono, ya."


Nada suara berat dan datar membuatnya merinding. Maisa merasakan insting tanda bahaya jika berlama-lama di sana.


"Maaf, Kak! Eh... Pak!"


Maisa langsung melarikan diri tanpa menunggu lebih lama lagi. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya heran.


"Kak? Apa aku terlihat semuda itu?" gumannya sambil terkekeh pelan.


Maisa berlari bak orang kesetanan masuk ke ruang kuliah. Beberapa orang memandangnya heran. Ia nyaris menabrak beberapa orang sepanjang lorong. Beragam umpatan mampir ke telinganya. Maisa menyerukan permintaan maaf seraya berlari. Napasnya tersengal-sengal.


“Apa-apaan tadi,” gerutu Maisa ketika di kelas dengan napas tersengal-sengal.


Mahasiswa lainnya sudah masuk ke ruang kuliah. Sebentar lagi dosennya akan masuk. Mia mendekati Maisa dan duduk disampingnya. Ia heran melihat gadis itu seperti habis lari maraton.


“Tadi kemana saja, sih. Aku mencarimu kemana-mana, malah sudah di sini.”


"Kok aku tidak diajak?"


"Sstt... Dosennya sudah masuk, tuh.” Maisa mengalihkan pembicaraannya.


“Saya dosen baru di mata kuliah ini menggantikan Pak Ridwan. Nama saya Miki Irwanto. Mulai sekarang mohon kerjasamanya,” kata dosen yang baru saja masuk itu.


Maisa terkejut menatap dosen yang masuk barusan. Matanya terbelalak, kedua tangan membekap mulutnya.


Oh, tidak. Kenapa dunia itu begitu sempit, sih!


Dosen itu juga terkejut melihat Maisa. Gadis itu buru-buru menutupi setengah wajahnya dengan buku. Berdoa dalam hati agar tidak ketahuan.


“Dosennya tampan, ya,” komentar Mia ketika pelajaran usai sambil membereskan buku-buku kuliahnya.


"Tampan apanya. Tipe-tipe dosen killer gitu."


Maisa melotot tanda tak setuju dengan perkataannya barusan. Dilihat dari manapun ia dosen killer. Melihat raut wajah Maisa berubah, Mia heran.

__ADS_1


“Dari tadi kenapa, sih? Ada masalah, ya? Bilang saja mumpung aku masih di sini. Besok kan kita tidak bisa kuliah bareng.”


“Aku tidak apa-apa, kok!”


Maisa menampilkan senyum kecut. Mia hanya memandangnya penuh tanya. Sedetik kemudian ia menyeret Maisa hang out dengan temannya. Dari sudut koridor, seseorang menatap mereka dengan senyuman mencurigakan. Tangannya memainkan ponselnya mengirimkan sesuatu.


...****...


Ken membisu selama pemotretan. Mendongakkan wajahnya menunjukkan kesan tegas. Tangannya memegang jaket kulit hitam yang disampirkan di pundaknya. Duduk di kursi bar dengan kaki kanan diluruskan sedang kaki kiri berjajak di tumpuan kursi. Erik dan Kio yang juga menjalani pemotretan yang sama saling sikut mencoba mencairkan suasana. Ken tidak pernah semarah itu.


Semua karena kejadian beberapa hari yang lalu, saat festival di kampus. Ken dan Kio, keduanya tidak saling bertegur sapa selama volunteer menjaga stand. Erik bingung tak tau harus berbuat apa. Mencoba melontarkan candaan garing ditanggapi dengan tatapan datar. Kepalanya menjadi berdenyut dengan tingkah childish. Erik menyeret keduanya ke ruang tunggu.


"Haah! Kalian ini kenapa lagi, sih. Pusing aku. Jangan bilang ini karena gadis bernama Maisa. Childish sekali tahu tidak!" Erik mengomel layaknya emak-emak memarahi anaknya.


Kio menggaruk pipinya yang tidak gatal. Matanya melirik ke arah Ken yang masih membisu. Ia sudah keterlaluan pada sohibnya ini. Ia hanya tak ingin Ken mendekati Maisa.


Kio berdehem pelan. "Aku cuma manas-manasin Ken kemarin. Tapi aku tidak suka kalo dia dekat dengan anak itu. Dia bukan anak yang baik."


"Jadi kamu pacaran sama dia?" Erik mencecar Kio meminta penjelasan lebih.


Kio memasang muka kaget. "Ya, tidak lah. Aku cuma kenal dengannya sudah lama."


"Oh... teman tapi mesra."


"Sudah kubilang tidak!"


"Hm... Berarti kau suka padanya. Kalau tak rela bilang saja. Aku tidak akan dekat-dekat dengannya. Aku juga tidak suka merebut milik sohibku." Nada bicara Ken dingin menusuk.


Erik melihat Kio dengan penuh tanya. Kio mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia membuat Ken dan Erik semakin salah paham. Permainan konyolnya membawa bencana. Tunggu, ini bukan murni kesalahannya. Maisa juga ikut terlibat dalam permainan konyolnya.


"Oke... Oke... Aku minta maaf sudah keterlaluan mengerjaimu Ken. Tapi jujur aku tidak memiliki perasaan pada anak itu. Dia cuma kenalanku. Anak itu juga yang lebih dulu menggangguku."


Aku tidak bisa bilang dia adikku karena hubungan kami juga tidak baik.


"Kau boleh mendekatinya, Ken. Tapi aku sudah bilang berulang kali dia bukan gadis yang baik."


Kio mengatakannya dengan berat hati. Berharap saja Ken berubah pikiran menyukai perempuan lain selain adiknya. Masih merasa tak rela jika Ken berhubungan dengan Maisa. Apakah ia tak rela Ken menyukai adiknya atau ia memang membenci adiknya atau sesuatu yang lain. Semua itu mengganggu pikirannya.


Ken tersenyum tipis, mengulurkan tangannya sebagai permintaan maaf. Ia merasa sikapnya juga keterlaluan. Saat itu ia diliputi amarah melihat kedekatan Kio dengan Maisa. Ia juga sepertinya sudah menyakiti gadis itu. Kio menerima uluran tangan Ken.

__ADS_1


Erik tersenyum cerah melihat keduanya berbaikan. Ia merangkul kedua sohibnya. Sekelebat Ken melihat sosok yang amat dikenalnya. Ia meminta kedua karibnya kembali ke stand terlebih dahulu. Ken segera mengejar gadis itu, memegang bahunya. Gadis itu berbalik melihat siapa yang menyentuhnya. Ken kecewa, bukan gadis yang ia cari.


__ADS_2