Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.33 Skandal


__ADS_3

Pak Chandra melempar majalah ke hadapan Maisa. Raut wajahnya menyeramkan. Maisa mengambil majalah itu, membacanya sejenak. Ah... ternyata isinya tentang skandal dirinya menjadi orang ketiga dalam hubungan Ken dan Alice. Bahkan ada foto mereka berdua berciuman di kafe.


Sepertinya ia mengenali kafe itu. Bibirnya tersenyum pahit. Keduanya memiliki hubungan yang lebih dalam dari kelihatannya. Tangannya meletakkan majalah itu ke meja di depannya, kembali menatap ayahnya. Bahunya naik turun menahan amarah yang siap meledak.


"Apa ini, hah? Bukannya kamu berjanji tidak akan membuat masalah? Apa ucapanku terlihat main-main?" Pak Chandra berteriak ke arahnya. Tangannya menggebrak meja.


Maisa berjengit, kakinya selangkah mundur ke belakang. Jantungnya terpacu kencang. Ia menggenggam tangannya yang sedikit gemetar.


"Aku akan memberimu waktu satu semester lagi. Setelah itu kembalilah ke Jogja. Aku menyesal, sebaiknya kau tak lahir saja."


Seperti ada benda berat yang menghimpitnya. Hatinya seperti tercabik-cabik mendengar ucapan terakhir ayahnya. Wajahnya mengernyit menyembunyikan lukanya.


"Biarkan aku tetap di sini, Pa. Jangan pulangkan aku ke Jogja. Aku mohon!" Suara gadis itu bergetar.


Pak Chandra memandang putrinya dengan sikap acuh tak acuh. Tak ada sedikitpun rasa kasih sayang ataupun simpatik. Entah apa yang merasukinya, ia tak muak melihat wajah putrinya.


"Tidak. Aku ingin kamu segera keluar dari ruang kerja Papa. Ada banyak tugas penting yang harus aku kerjakan.”


Maisa keluar dari ruangan ayahnya. Wajahnya memutih, pucat pasi. Jalannya lunglai, matanya kosong. Tak lama berselang, laki-laki paruh baya itu keluar menenteng tasnya. Pintu ditutup dengan keras hingga menimbulkan bunyi berdebam.


Kio duduk di ruang keluarga, membaca berita itu. Wajahnya memasang ekspresi yang sulit diartikan. Ia menoleh ke arah gadis itu yang tengah berlalu.


"Hei! Kudengar kau bakal kembali ke Jogja akhir semester mendatang."


Maisa menghentikan langkahnya, menatap Kio lekat-lekat. "Ya. Kau pasti senang kan, Ka?"


"Hei!"


"Hei? Aku punya nama, Kak. Selamat! Aku akan menghilang dari hidupmu dan tak akan mengganggumu lagi."


"Aku tidak berpikir seperti itu."


"A......rgh!"

__ADS_1


Maisa menjerit sekeras-kerasnya. Kedua tangannya menutup telinganya. Napasnya tersengal-sengal setelah menjerit beberapa kali. Ia mencoba menjaga kewarasannya. Kio terhenyak kaget.


"Aku tidak sebodoh itu, Ka."


Maisa melangkahkan kaki ke kamarnya. Menutup pintunya dengan keras. Ia duduk di lantai memeluk kedua kakinya. Punggungnya menyentuh kasur. Anakan sungai kecil mengalir di pipinya. Terdengar bunyi isakan pelan memenuhi ruangan. Ia tak menggubris Kio yang mengetuk pintu, memanggil namanya.


Dadanya terasa sesak, hatinya sangat sakit. Semua rasa getir, pahit, kecewa, marah bercampur aduk. Ia membiarkan dirinya menangis sepuasnya. Apa yang harus dilakukan. Semuanya tak mampu menebus maaf dari ayahnya. Kehadirannya membuat ayahnya menyesal. Untuk apa ia lahir? Haruskah ia melukai tubuhnya atau mengakhiri hidupnya?


Maisa memegang kepalanya, mengusir pikiran buruknya. Ia punya waktu enam bulan lagi di sini. Masih banyak yang perlu ia lakukan. Meski semua tak ada artinya lagi di mata ayahnya.


Kio tertegun dengan kejadian barusan. Ia tak bermaksud berkata seperti itu. Maisa juga tak pernah berteriak. Adiknya selalu bertingkah manis, walau kadang menjengkelkan.


Ia menghampiri kamar Maisa. Mengetuk pintu gadis itu. "Sa.... Buka pintunya. Aku tak bermaksud bicara seperti itu."


Samar-samar telinganya mendengar suara isakan. Hatinya seperti di remas-remas. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kamar adiknya. Tak dapat dipungkiri, ia dulu juga membencinya. Ya, meski sekarang masih ada menyimpan rasa tak suka. Tapi ia tak membencinya.


Tak terdengar suara tangis dari dalam kamar. Sunyi. Kio menekan gagang pintu, pintunya tak terkunci. Ia membukanya perlahan. Maisa tidur meringkuk di lantai, kepalanya beralaskan tangannya. Matanya terlihat sembab sehabis menangis. Alisnya mengernyit.


Ken membanting majalah yang barusan di bacanya. Yang benar saja. Alice bertindak lebih jauh dari perkiraannya. Ia sepertinya sudah menyakiti hati Maisa. Padahal ia berjanji tidak akan membuatnya terluka. Ia menggeram kesal. Laki-laki macam apa ia ini.


“Jangan campuri urusan pribadiku.” Kata Ken degan nada dingin saat Erik meneleponnya.


Erik menyarankan putus dengan Maisa untuk sementara sampai semuanya mereda. Ken tertawa sinis padanya.


"Kenapa tidak kau saja jadi pacarnya Alice. Aku tak mau putus dengan Maisa."


Ken mematikan telepon Erik. Ia menelepon gadisnya. Panggilannya ditolak. Ia mencoba sekali lagi. Telepon gadis itu dimatikan. Ken mencoba mengirim pesan. Hanya centang satu.


Ken berjalan mondar mandir di kamarnya. Rasa gelisah menyelimuti hatinya. Khawatir dengan Maisa. Berharap kondisi gadis itu baik-baik saja. Ia mencoba menghubungi Kio namun tidak diangkat.


Ken mengambil kunci motornya. Ia memutuskan pergi ke rumah Maisa. Ia tak sempat memperhatikan penampilannya, hanya mengenakan kaos oblong, celana jeans kedodoran, dan sandal jepit.


Jantungnya berdegub kencang saat jarinya menekan bel. Kio membukakan pintu. Matanya memperhatikan Ken yang terlihat berantakan.

__ADS_1


"Dimana Maisa?"


"Ada di kamarnya. Dia lagi tidur."


"Apa dia baik-baik saja."


Tentu saja dia tidak baik-baik saja.


Kio tersenyum menyuruhnya masuk. Ken menghambur masuk, berniat menemui kekasihnya. Tangan Kio menahannya.


"Tunggu Maisa bangun. Lagi tidak buru-buru juga, kan?"


Ken duduk di sofa ruang tamu. Kakinya bergerak gelisah. Sesekali kepalanya menoleh ke arah tangga. Kio hanya diam memperhatikan temannya.


Lima belas menit, Ken merebahkan punggungnya di sofa. Sepuluh menit kemudian kembali duduk. Dua puluh menit kemudian ia terlelap.


Jarum jam berdetik hingga tiga jam berlalu. Kio menghilang entah kemana meninggalkan Ken yang tertidur seorang diri. Seseorang menyentuh tangannya, menepuk pipinya pelan.


Ken membuka matanya, samar ada Maisa di hadapannya. Ia menarik tangan gadis itu, mendekap dalam pelukannya. Mencium lembut dahi dan puncak kepala gadis itu.


"Ka Ken. Ayo bangun."


Maisa mencoba melepaskan diri. Ken malah mengeratkan pelukannya. Ia tak ingin gadis itu menjauh. Keduanya bertukar pandang. Ken melihat mata sembab gadis itu. Jemarinya mengusap matanya lembut.


"Maaf, Sa. Aku sudah membuatmu menangis. Tapi aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Alice. Kemarin dia mengajak ketemuan tapi aku tidak menyangka akan seperti ini."


"Tapi kalian berciuman. Aku tak suka Ka Ken dekat dengannya."


"Aku tidak berciuman dengannya, Sa. Foto itu palsu. Percayalah padaku. Hanya kamu di hatiku."


Ken kembali mencium mata dan hidung gadis itu. Maisa menyembunyikan wajahnya ke dada Ken. Telinganya mendengar jantung laki-laki itu berdebar kencang. Aroma musk menghampiri indera penciuman, membuatnya merasa tenang.


Lengan Ken yang kokoh memeluknya erat seakan melindunginya. Maisa mendongak, mencium pipi laki-laki itu. Ia lalu menyembunyikan wajahnya lagi di dada Ken. Mata Ken terbelalak, tak menyangka mendapatkan ciuman balasan darinya.

__ADS_1


__ADS_2