
"Terima kasih, Mbak."
Maisa keluar dari toko peralatan lukis. Di bahunya tersampir totebag, ujung kuas lukis dan kain kanvas menyembul dari dalam. Persediaan cat lukisnya habis. Ada beberapa kuas yang mulai rusak ujungnya. Mau tak mau membuatnya keluar dari pulau kapuk.
Gadis itu menyusuri trotoar, berjalan gontai menikmati keramaian sepanjang jalan. Sesekali tangannya membenarkan topi yang tersemat di kepalanya. Langkahnya terhenti di toko buku dan majalah. Ia memutuskan untuk melihat-lihat sebentar. Matanya tertuju pada sebuah majalah.
Ia mengambil majalah idol yang sudah terbuka. Di dalamnya berisi fashion dan beberapa merek kamera yang tengah launching bulan ini dengan model iklan kekasihnya sendiri, Ken.
“Lumayan juga. Setidaknya tau perkembangan sekarang," Guman Maisa pelan.
Ia membeli satu majalah yang menarik perhatiannya. Sambil berjalan pulang, Maisa membalik-balik halamannya. Wajah Ken terlihat tampan dan menyengarkan.
“Ganteng sih ganteng tapi kenapa senyumnya begitu dipaksakan. Apa tidak bisa lebih santai. Tapi tampan juga. Pacar siapa dulu dong.”
Maisa berkomentar sambil tersenyum-senyum sendiri. Ada sepasang kaki di hadapannya, ia bergeser ke samping kiri memberikan ruang pada orang itu. Sepasang kaki itu bergeser tepat di hadalannya. Sekali lagi ia menggeser badannya ke kanan. Sepasang kaki itu mengikutinya.
Ia menutup halaman majalah dengan kesal. Ada Ken tepat berdiri di depannya. Mulut Maisa menganga tak percaya. Ia melihat majalah sebentar kemudian memandang Ken. Di belakangnya ada Kio dengan wajah malasnya, dan di sampingnya ada Mia. Gadis itu mengacungkan jempol ke arahnya. Matanya mengerling menggodanya.
Majalah yang dipegangnya jatuh. Dia membekap mulutnya. Berbalik membelakangi Ken.
Oh, tidak! Aku tidak bermimpi kan? Kenapa Ken ada di sini?
Ia menepuk pipinya sendiri, mencubit tangannya. Sepertinya ini bukan mimpi. Kini keterkejutannya berganti dengan rasa panik.
Gawat! Apa dia tadi dengar semuanya. Aku harus kabur.
Gadis itu membalikkan badannya, menampilkan senyum terbaiknya. Ia rasanya ingin berlari saat itu juga, bersembunyi dari mereka.
"Aku duluan, ya. Ada urusan."
Ken memungut majalah yang terjatuh dan melihat isinya. Maisa berniat melarikan diri, namun tangan Ken lebih cepat menyambarnya. Badannya berbalik menubruk Ken. Kedua tangannya menyentuh dada Ken.
Gadis itu memberontak mencoba melepaskan diri. Ken tak membiarkannya. Tangannya merangkul pinggang gadis itu, mengeratkan dekapannya.
"Mau kemana, Sa? Tadi bilang aku yang tampan ini pacarmu. Kok malah pergi."
Maisa mendorongnya menjauh. Bibir mungilnya kembali menganga. Apa iya Ken senarsis ini?
"Narsis deh, Kak. Aku tadi tidak bilang begitu."
"Bisakah kalian berhenti? Geli aku mendengarnya." Kio menggosok lengannya. Ia memalingkan muka saat bertemu pandang dengan Mia.
"Kalau begitu Kak Kio cepat cari pacar saja sana," Sindir Maisa bernada ceria namun terdengar seperti ejekan langsung menusuk jantungnya.
__ADS_1
"Apa kau bilang,"
Kio bersiap menjitak kepala adiknya. Langkahnya terhenti, matanya melotot ke arah Mia yang bergelayut di lengannya. Mia menggelengkan kepalanya.
Maisa bersembunyi di balik Ken, menjulurkan lidahnya. Kio berdecih pelan. Matanya melotot ke arahnya.
Awas saja kalau sampai rumah.
Ken menahan senyumnya melihat tingkah kekanak-kanakan. Ia mencubit hidung gadis itu gemas. Maisa menutupi hidungnya yang memerah.
"Bagaimana kalau kita berpisah di sini. Kau pergi bersama Mia dan aku pergi dengan Maisa."
Ken menggerakkan kepalanya, memberikan isyarat pada gadis di samping Kio. Ia sudah berjanji padanya untuk mencomblangkan.
"Apa?"
"Boleh. Selamat bersenang-senang, Kak." Mia memotong perkataan Kio. Ia menarik tangan laki-laki itu menjauh. Maisa melambaikan tangannya, bibirnya bergerak memberikan kata-kata semangat.
Kio melepaskan genggaman tangan Mia sedikit kasar. Rahangnya menegang, sudut matanya berkerut.
"Kenapa juga kita harus jalan berdua? Kau pikir aku ini pacarmu." Kio menggeram pelan.
Dahi Mia berkerut, seperti ada jarum es menusuk jantungnya. Ia mengeratkan genggaman tali tas selempangnya.
"Lain kali saja. Bareng dengan yang lain. Aku tak mau jalan denganmu."
Kio bergegas meninggalkan gadis itu yang masih termangu. Mia menggigit bibirnya. Kata-kata laki-laki itu sungguh menohok. Ia mengiringi langkah Kio dari belakang.
Kio menghentikan langkahnya. "Jangan ikuti aku. Apa aku juga harus mengantarkanmu pulang ke rumah juga."
"Tapi di sini agak sunyi. Aku takut, Kak. Tolong temani sampai di jalan yang ramai."
Kio memperhatikan jalan sekelilingnya. Sunyi memang. "Hais! Sudahlah. Sesukamu saja."
...****...
"Apa Mia tak apa-apa jalan bedua dengan Kak Kio, ya? Dia kelihatannya jutek hari ini."
Maisa mengaduk-aduk mangkok es campurnya. Keduanya duduk di bawah payung pedagang es di pinggir jalan. Nada suaranya terdengar khawatir. Ken menyentuh pundak Maisa, menepuknya pelan.
"Jangan khawatir, Kio tidak sejahat itu."
Ken mencuri kesempatan mencium pipi Maisa. Maisa melotot ke arahnya. Beberapa orang yang duduk tak jauh dari mereka berbisik-bisik. Ia marah, memukul lengan Ken. Ken hanya tertawa.
__ADS_1
Seorang laki-laki duduk di hadapan mereka. Di lehernya tergantung sebuah kamera. Keduanya bertukar pandang. Maisa merasa ada perasaan tak enak. Ia langsung mengenakan topinya.
"Ken, ya? Kebetulan kita bertemu di sini. Aku wartawan lepas dari Majalah Rufela. Bolehkan kalau sedikit wawancara?"
Laki-laki itu menyodorkan kartu namanya. Ken mengambil kartu nama yang di berikan. Maisa mendekatkan kepalanya, melongok isinya.
Andrian R - Wartawan Majalah Rufela
Ken mengangguk pelan. "Silahkan."
Laki-laki itu mengarahkan kamera ke hadapan Ken dan Maisa. Tangan Maisa mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya. Ken menutup lensa kamera.
"Anda bisa memotretnya hanya saat aku bekerja saja."
Laki-laki itu menurunkan kameranya. "Baiklah. Kalau begitu langsung saja. Bagaimana hubungan anda dengan model dan juga aktris bernama Alice?"
Kenapa nama Alice yang di sebut. Ken menghela napas panjang. Sepertinya ia terlibat dalam permainan gadis itu. Matanya melirik ke arah Maisa yang sibuk memakan es buahnya.
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Kita hanya partner bisnis."
"Aku dengar Alice sudah berteman dengan anda sejak kecil. Bukankah tidak mungkin jika kalian saling menyukai dan membuat hubungan yang serius."
Apa? Teman? Ken tidak cerita soal itu padaku.
Maisa menoleh ke arah Ken. Ia hanya bisa mematung. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya.
Ken memijit kepalanya, tidak memberi komentar apapun tentang itu. Dia menarik Maisa ke pelukannya dan berkata, “Ini kekasihku. Jadi bisakah katakan pada Alice, jangan ganggu hubungan kami.”
Ken segera membawa Maisa yang tengah terbengong-bengong pergi dari situ. Maisa yang seolah terhipnotis menurut saja. Ia membawa Maisa agak jauh dari dari keramaian. Maisa tersadar saat Ken menepuk pundaknya dan mendekatkan wajahnya. Wajah Maisa seketika merah padam. Dia mendorong Ken menjauh.
Ken tersenyum penuh misteri. “Terpesona padaku eh?"
"Bukan begitu. Tapi apa maksudnya tadi?"
Ken mengusap-usap rambut gadis itu. "Nanti akan aku ceritakan. Bersiap-siap lah dulu menjadi selebritis yang diburu wartawan. Tapi jangan khawatir, aku akan melindungimu.”
“Apa maksudmu?” Maisa mendesah pelan, wajahnya muram. Ia baru saja teringat perkatan Ken di depan wartawan.
"Sepertinya kita terjebak dalan permainan Alice. Maaf, Sa. Mungkin aku akan menyakitimu. Tapi aku akan berusaha melindungimu. Oke." Suara Ken seolah memantulkan cahaya.
Ken mengenggam kedua tangannya. Maisa tidak dapat berkata apa-apa. Ia kehabisan kata-kata untuk berdebat dengan Ken. Hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Ia merasakan kegelisahan menyelimuti sekujur kulitnya. Mungkin akan ada badai besar yang merepotkan nanti.
Tak jauh dari mereka, laki-laki itu memotret mereka diam-diam. Bibirnya tersungging senyum puas.
__ADS_1