
"Kemana anak itu?" Tanya Pak Chandra pada Kio saat makan malam.
Maisa tak terlihat di sana. Biasanya anak itu paling semangat jika makan bersama. Ketidak hadiran anak itu mengganggu pikirannya.
"Oh, dia menginap di rumah temannya," jawab Kio singkat.
Maisa memang sudah mengirimkan pesan padanya tidak ikut makan malam dan menginap di rumah teman sekampusnya. Tapi ia tak menjelaskan siapa temannya. Paling bocah itu menginap di tempat Mia. Siapa lagi yang akrab dengannya selain gadis itu.
"Oh....!" Pak Chandra tidak bertanya lagi lebih lanjut. Selama anak itu tidak membuat masalah, sudah cukup.
Keesokan harinya, Kio sibuk dengan pekerjaannya sebagai guest host di sebuah stasiun televisi swasta. Ia tak memperhatikan lagi kabar adiknya. Seusai melakukan pekerjaannya, Kio segera memacu motornya. Ia pergi ke ruang klub, tempat mereka biasa berkumpul. Sudah ada Erik dan teman-temannya seklub di sana.
“Hai, guys! Sorry, telat," katanya sambil tersenyum lebar.
Pandangannya menyapu keseluruh ruangan. Ia tak menemukan Ken di sana. Keningnya berkerut.
"Mana, Ken?" Tanyanya lagi.
Erik mengangkat bahu. Ia tak mendapat kabar dari sobatnya itu. Terakhir kali bertemu kemarin siang.
"Paling-paling dia lagi sibuk banyak job," Erik membalas sekenanya.
Kio memperhatikan Mia yang sibuk mencatat menu latihan tim basket. Keningnya berkerut.
"Lalu Maisa dimana?" Matanya kembali tertuju pada Erik. Ia sibuk merapikan rambutnya menggunakan sisir hasil meminjam dari Mia.
"Mana aku tahu. Tanya Mia, nih. Jangan padaku. Salah makan apa kau hari ini? Tumben banyak tanya," tukas Erik dengan nada sedikit kesal.
Mia memberengut saat Kio menanyakan keberadaan Maisa. Sebegitu pentingnya dia untuk laki-laki itu. Selalu saja Maisa yang ditanyakan. Padahal gadis itu sudah berpacaran dengan Ken.
"Maisa juga tidak bersamaku sejak kemarin."
"Dia tidak menginap di rumahmu?"
Mia menggeleng. Kio berdecak kesal menyadari kemana perginya anak itu. Ia mengacak-acak rambutnya. Bakal runyam kalau sampai ayahnya tahu. Bocah itu tak kapok-kapoknya membuat masalah. Menghempaskan ransel yang sejak tadi di pundaknya ke lantai. Tangannya langsung menelepon Ken. Terdengar bunyi nada tersambung di seberang.
"Woi, Ken. Balikin anak orang. Enak saja kau bawa kemana-mana seenak jidatmu! Antar dia pulang sekarang! Tidak, antar ke kampus saja," Kio langsung menyemprotnya begitu telepon di angkat.
Iya. Jangan khawatir. Aku tidak melakukan apapun padanya. Dasar sister complex.
__ADS_1
Ken langsung memutuskan telepon dari seberang. Kio melihat ponselnya dengan tatapan geram. "Apa dia bilang. Sialan!"
Semua yang ada di situ menatapnya penuh tanya. Kio yang biasanya cuek mendadak perhatian pada Maisa yang notabenenya pacar Ken.
Mia meremas ujung kemejanya. Kedua alisnya bertaut. Dadanya terasa sakit mendengar gebetannya tertarik dengan sahabatnya sendiri.
"Kenapa kamu perhatian pada Maisa, Ka? Maisa kan sudah punya pacar," ujarnya pelan.
Kio menatapnya tajam. Sudut sebelah alisnya terangkat. Tangannya masih sibuk mengirimkan banyak pesan spam kepada Ken dan Maisa.
"Memangnya tidak boleh perhatian dengan adikku sendiri. Dasar aneh!" suaranya berguman menggerutu.
"Hah!"
Seisi ruangan terperanjat kaget mendengar penuturannya. Kio menghentikan kesibukannya, menyadari yang baru saja diungkapkan. Sepertinya ia membongkar rahasianya sendiri tanpa sadar. Tapi ya sudahlah. Nanti juga bakal ketahuan juga.
Mia tersenyum kecil mendengarnya. Hatinya yang gundah kini kembali lega. Ia menarik napas lega. Dalam hati ia meminta maaf pada Maisa, karena sudah berburuk sangka padanya. Ia tak menyangka kalau mereka bersaudara. Harusnya ia sadar keduanya terlihat mirip saat bersama. Erik menepuk-nepuk bahunya pelan, memberi semangat. Mengedipkan sebelah matanya. Ia tersipu malu.
Kio melihat keakraban keduanya sedikit kesal. Namun ia hanya diam saja, seolah tak peduli. "Aku mau minta tolong sama kalian buat bantu menyusun acara minggu depan."
“Kamu mau nikah?” Tanya Erik mencoba berkelakar. Ia mendapat tatapan dingin dari Kio. Dasar bocah tidak bisa diajak bercanda.
“Hari putus cinta, mungkin,” kata Bandi, salah satu anggota tim basket ikut berkomentar.
Wajah Kio makin masam mendengarnya. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan ocehan temannya yang tidak tahu diri itu, lebih tepatnya minta disleding.
Kio menghela napas karena kesal. “Sudah, deh. Tidak jadi,” katanya pelan.
Erik mengalungkan tangannya ke leher Kio sambil tersenyum simpul. Kio membuang muka. Ia terkikik melihatnya.
“Hei, Bro! Jangan marah. Nanti cepat tua dan tidak dapat jodoh, lho!” guraunya.
Kio mendengus kesal, memasang tatapan membunuhnya. “Memang sudah tua kali. Kau saja yang tak sadar! Oh.... Aku masih ada kelas. Cabut dulu ya.”
Kio meraih tasnya di lantai dan bergegas keluar. Mia ikut keluar, menjajari langkahnya. "Apa Maisa baik-baik saja?" tanya Mia.
"Ya!" balas Kio tetap berjalan menyusuri sepanjang koridor.
Mia menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu."
__ADS_1
Kio berjalan menjauh, menghilang di ujung koridor. Mia memasang wajah lesu. Perlu banyak usaha untuk mendekati laki-laki itu.
...****...
Kio terkantuk-kantuk mendengarkan penjelasan dari Pak Miki. Selesai kuliah ia bergegas keluar kelas, mendapati seseorang yang tak asing sedang menunggunya di luar.
Mia menyenderkan tubuhnya ke dinding. Menggoyangkan kakinya menendang udara. Beberapa mahasiswa keluar kelas melewatinya.
"Sedang apa kau di sini?" Suara bariton seseorang mengagetkannya.
Gadis itu menoleh. Kio sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya terlihat masam.
Mia mengulumkan senyumnya. Jemarinya meremas ujung kemejanya. "Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Ka."
Kio terdiam. Orang-orang yang lalu lalang memperhatikan keduanya. "Baiklah. Kemana?"
Mia mengajaknya ke bangku taman di sudut gedung yang jarang lalu lalang orang. Tempat yang memberikan kenangan kala Kio memberikan cola padanya.
Mia memberikan sekaleng cola dingin. Laki-laki di hadapannya ini menerimanya tanpa berkomentar apapun.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Ia bisa menebak arah pembicaraan gadis itu. Mengingat sikapnya yang selalu ingin menempel padanya.
"Apa aku boleh ke rumahmu, Ka?" tanya Mia nyaris dengan nada berteriak. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hah?" Kio terlihat melongo mendengar pertanyaan Mia barusan. Perkiraannya meleset.
"Ya, karena Maisa adikmu. Jadi aku ingin sekali jalan-jalan ke rumahmu. Habis dia selalu menghindar kalau kutanya apa aku boleh mampir."
"Sesukamu saja lah," tukas Kio dengan nada bosan. Jari tangannya mengusap lehernya. Apa sih yang ia harapkan tadi. Konyol sekali.
Mata gadis itu melebar. Senyumnya mengembang di wajahnya. Ia memeluk Kio saking girangnya. Bibirnya mengucapkan terima kasih padanya.
Kio mematung mendapat pelukan tiba-tiba. Tubuhnya menegang, bahkan detak jantungnya sendiri terasa seperti terdengar di telinganya. Sedetik kemudian ia mendorong gadis itu menjauh.
Mia cengar cengir memasang wajah tanpa dosa. "Ups! Maaf, Ka. Kebablasan."
Kio berdecak kesal meninggalkan gadis itu. Mia masih tersenyum. Bayangan Kio menghilang di sudut koridor. Gadis itu berjingkrak seperti orang gila.
__ADS_1
"Aku harus bilang pada Maisa nanti."