Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.53 Pameran Seni


__ADS_3

"Benarkah? Selamat, ya." Maisa tersenyum senang mendengar temannya jadian dengan kakaknya.


Perpustakaan yang tidak terlalu ramai menjadi tempat keduanya kasak-kusuk. Hanya ada satu dua orang yang duduk membaca. Kebahagiaan melingkupi Mia. Dapat terlihat dari wajahnya yang tersipu malu. Sesekali tertawa kecil.


Maisa ketularan tawa kecilnya. Sepertinya Kio bergerak setelah ia berhasil mengusilinya. Sedikit memprovokasi atas nama mantan. Ia mendesah pelan. Kakaknya memang perlu dorongan, mengingat sikapnya yang tsundere akut. Baguslah kalau begitu. Ia tak suka melihat karibnya menangis gara-gara bibir pedas laki-laki itu.


Maisa melihat jam di ponselnya. "Oh iya. Aku ada kegiatan di klub melukis. Sekali selamat ya. Semoga langgeng."


Gadis itu segera membereskan buku di atas meja. Memasukkan ke dalam tas ranselnya.


"Thank's, Beb." Mia tergelak, mengedipkan sebelah matanya.


Maisa membuka pintu klub melukis. Beberapa pasang mata tertuju ke arahnya. Semua anggota sudah berkumpul kecuali dirinya.


"Tumben telat, Sa?" Mba Maya menepuk bangku di sampingnya.


"Oh tadi mencari inspirasi buat tugas di perpustakaan, Mbak," balasnya pelan, nyaris berbisik.


Maisa menarik kursi itu dan duduk di sampingnya. Ia menganggukkan kepala kepada anggota klub yang lain.


"Karena sudah berkumpul. Aku akan memulai rapatnya. Kali ini ada even pameran seni di JIE tiga hari lagi dan terbuka untuk umum." Mas Ardi memberikan pemaparan panjang lebar.


Pameran. Topik yang menarik minat Maisa. Matanya berbinar. Ini merupakan kesempatan yang bagus untuk mencari inspirasi dari pekerja seni lainnya.


"Salah satunya yang menarik di sini ada lomba melukis untuk kategori mahaiswa. Jadi siapa saja yang mau ikut lomba silahkan," kata Mas Ardi mengakhiri penjelasannya.


Maisa langsung mengangkat tangannya. Mulutnya melengkung membentuk senyuman. Ia tak akan melewatkannya begitu saja.


Gadis itu berjalan santai di koridor. Ia berencana mampir ke toko peralatan seni sebelum pulang. Persediaan cat lukisnya ada yang habis.


"Sa!" seru seseorang memanggilnya.


Ia menoleh ke belakang. Ken berlari kecil mendekat, menariknya ke dalam pelukan. Maisa melepaskan diri, mendorongnya menjauh. Ugh! Laki-laki ini suka seenaknya sendiri, suka memeluk tak peduli di tempat umum.


"Kudengar kamu mau ikut lomba melukis. Benarkah?"


Gadis itu menganggukkan kepala. Cepat sekali laki-laki ini mendapatkan info. Pasti Mbak Maya yang membocorkannya. Keduanya kan satu angkatan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke Mapo Galeri sekarang. Ada lukisan menarik yang ditampilkan." Ken menyusupkan jarinya, menggenggam tangan gadis itu.


Maisa menaikkan sebelah alisnya. "Sekarang?"


Gadis itu tertawa tertahan antara kaget dan senang. Ia sudah berada di dalam galeri bersama Ken. Galeri ini memiliki tiga lantai, menampilkan berbagai karya seni kontemporer, modern, dan Asia-Eropa. Dinding yang melengkung didominasi dengan warna putih. Berjejer koleksi lukisan di sana dengan penataan eye cathcing. Di tengah ruangan di isi dengan beberapa patung.


Sudah lama ia tidak mengunjungi galeri seni sejak pindah ke Jakarta. Jain yang selalu menemaninya. Ia rindu saat mereka berdua mematung di depan lukisan, bercerita banyak hal di sana.


Maisa mengeratkan genggaman tangannya pada laki-laki di sampingnya. Ken tersenyum, menempelkan keningnya pada kening gadis itu.


"Kuarap kamu bisa menikmatinya."


Maisa tersenyum mengucapkan terima kasih. Ia senang Ken mau menemaninya. Kerinduannya pun sedikit terobati. Matanya terpaku pada sebuah lukisan pepohonan dengan daun yang menguning. Beberapa helai daun beterbangan di sapu angin. Satu kata untuk menggambarkannya, indah.


Ken memperhatikan gadis itu tersenyum cerah menatap lukisan di hadapannya. Ia senang Maisa sudah kembali seperti yang dulu. Keputusan mengajaknya ke galeri sudah tepat.


Sejak kematian Jain dan Kiki, Ken merasa senyum cerah gadis itu menghilang. Kadang-kadang matanya terlihat seperti akan menangis. Namun gadis itu tak mengatakan apapun.


"Kak, aku mau mampir dulu ke toko dulu, mau beli cat lukis," seru gadis itu saat keduanya di jalan.


Ken menghentikan motornya di depan toko peralatan senin. Maisa langsung menyerbu masuk mengambil empat botol cat minyak dan cat akrilik dengan warna yang berbeda dan kuas rigger. Sepertinya ia akan memerlukan kuas itu untuk membuat detail yang halus.


"Terima kasih untuk hari ini, Kak," ujar Maisa sesampainya di depan rumah.


"Apa kamu senang hari ini?" Ken membelai rambut gadis itu lembut.


Maisa mengangguk tersenyum simpul. Di balik temaram lampu ia bisa melihat wajah Ken yang tersenyum lega. Ah... ia sudah membuat laki-laki itu khawatir.


"Aku sudah tidak apa-apa, Kak," balasnya dengan suara lembut.


"Syukurlah kalau begitu. Aku pulang dulu, ya."


Ken mengecup kening gadis itu. Maisa menyentuh keningnya, tersipu. Ken memasang helm dan menghidupkan motornya.


"Tunggu, Kak!"


Ken menoleh. Maisa menarik kaosnya. Sebuah kecupan melayang. Bola mata laki-laki itu melebar. Ia terkekeh pelan.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, Kak." Maisa menutupi separuh wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya.


Argh! Apa yang sudah kau lakukan barusan.


...****...


Maisa mencampur beberapa warna cat di palet untuk mencari warna yang diinginkan. Peserta lain sudah mulai melukis. Mbak Maya dan Mas Ardi duduk di depannya juga sudah mulai melukis. Ia melirik ke samping, Ken tersenyum ke arahnya memberikan semangat.


Maisa mengoleskan kuas ke kanvas. Ia membuat warna dasar putih dan dilanjutkan menambahkan warna biru. Tangannya lincah membuat siluet lukisan.


Matanya fokus pada detil lukisan. Bibirnya sesekali menyunggingkan senyum. Jemarinya belepotan dengan cat. Memblending dan menotol-notol untuk menimbulkan gradasi warna.


Dengan hati-hati ia melepaskan masking tape di sisi kanvas. Maisa tesenyum melihat hasilnya. Sebuah sungai mengalir dengan pepohonan di kedua sisinya. Langit cerah dengan awan berarak Di bantaran sungai ada tiga perempuan. Satu perempuan mencuci pakaian, satu orang membawa keranjang pakaian dan satu perempuan lagi menyunggi keranjang sayur.


Maisa mondar mandir di aula menggosok kefua tangannya yang terasa dingin. Ken menariknya duduk di sampingnya, menggenggam kedua tangannya.


"Santai, Sa."


"Aku sudah santai, Kak."


"Cie yang mesra." Mbak Maya mulai menggoda keduanya.


Maisa berniat menarik tangannya akan tetapi tidak berhasil melepaskan diri. Genggaman Ken begitu erat.


"Baiklah semuanya. Mari kita umumkan pemenang lomba melukis kategori mahasiswa." Pembawa acara mengumumkan juara harapan satu dan dua. Maisa menunggu dengan gugup.


"Semoga menang," ucapnya berulang-ulang.


"Juara ketiga jatuh pada Ethan Gustama dengan lukisan berjudul kijang emas. Untuk juara kedua jatuh pada Maisa Auralina dengan lukisan berjudul perempuan tangguh -."


Maisa sontak memeluk Ken begitu mendengar namanya disebut. Nyaris saja laki-laki itu terjungkal ke belakang. Ia membalas pelukan Miasa, berbisik mengucapkan selamat ke telinga gadis itu.


Ken memperhatikan gadis itu naik ke podium. Menerima tropi dengan wajah cerah dan senyumnya yang lebar. Cantik. Ia motret untuk mengabadikan momen itu.


Maisa berlari ke arah Ken dan memeluknya lagi. Laki-laki itu hanya tertawa membalas pelukannya.


"Selamat, ya!"

__ADS_1


__ADS_2