
Maisa duduk di balkon kamarnya, memperhatikan lalu lalang kendaraan lewat di depan rumah. Akhir-akhir ini tidurnya tak lagi nyenyak. Mimpi buruk selalu menghantuinya. Sebelumnya mimpi itu hanya muncul sesekali.
Sebuah mobil silver masuk ke pekarangan. Pak Chandra keluar dari mobil. Ia mendongakkan kepalanya ke atas. Keduanya bersitatap beberapa saat. Gadis itu tersenyum, melambaikan tangan ke arah ayahnya. Pak Chandra langsung melengos masuk.
Maisa hanya terkekeh pelan. Ia langsung turun ke lantai bawah. Kio sudah bersantai di ruang keluarga. Pak Chandra terlihat ingin mengatakan sesuatu.
“Besok merupakan hari jadi perusahaan. Aku ingin kalian hadir di sana.”
Mata Maisa melebar. Sepertinya ia tidak salah dengar. Dalam hati merasa senang, pikirannya menari-nari. Sedikit demi sedikit ayahnya mulai mau terbuka padanya.
“Baik, Pa,” balas Kio.
Senyum Maisa melebar hingga membuat Kio menarik sebelah sudut bibirnya ke atas.
“Kesambet apa kau?”
“Tidak kesambet apa-apa. Cuma perasaanku tiba-tiba tumbuh bunga.” Maisa membalasnya sembari nyengir.
Kio mendelik, mengedikkan bahunya. Ia langsung naik ke atas meninggalkan gadis itu sendiri.
Ulang tahun perusahaan diadakan di sebuah hotel berbintang lima. Banyak tamu perusahaan yang hadir. Suasana begitu ramai, hampir tamu yang datang berkerumun membicarakan sesuatu.
Maisa memandang kerumuman orang di hadapannya dengan gugup. Kio sudah menghilang entah kemana. Terakhir ia melihat laki-laki itu berbicara dengan seseorang. Ayahnya juga langsung berbicara dengan bebera kliennya. Semua terlihat sibuk. Gadis itu menghela napasnya. Ia tak mengenal satupun tamu yang ada di situ. Wajar saja untuknya yang selama lima belas tahun hampir tidak pernah mengikuti acara di perusahaan ayahnya.
Seseorang menepuk punggungnya. Matanya kembali bersinar begitu mengenali siapa orang itu. Nyaris saja ia memeluknya.
“Kak Ken datang juga?”
Ken tersenyum tipis ke arahnya. “Ya. Perusahaan ayahmu bekerja sama dengan perusahaan ayahku. Tapi kenapa sendirian, Sa? Mana Kio?”
Maisa mengangkat bahu. Netranya bergerak ke arah kerumunan di depannya. Ken tahu apa yang terjadi.
"Dasar anak itu meninggalkan gadis cantik sendirian. Bagaimana kalau dia diganggu laki-laki brengsek," gerutunya pelan.
"Apa aku cantik?"
Ken bedeham, memutar bola matanya ke arah lain. Pipinya sedikit memerah. Maisa tertawa kecil. Jarang-jarang melihat Ken malu-malu.
"Oh ternyata kamu di sinj? Dari tadi Papa mencarimu," kata Bu Artika menghampiri Ken.
Ken mengangguk. Ia menghampiri pak Brian yang tak jauh darinya. Sebelumnya ia berbisik pada gadis itu akan segera kembali.
Mata Bu Artika tertuju pada gadis yang tadi berdiri di sampingnya. Senyum mengembang di wajah cantiknya. "Oh halo, Sa. Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Baik, Tante," balas Maisa.
"No.. No... No... Jangan panggil aku tante. Kamu boleh memangilku bunda atau mama, seperti Ken biasa memangilku." Bu Artika mengedipkan sebelah matanya.
Maisa mengangguk pelan, tertawa canggung. Tak terbiasa menyebut orang lain sebagai ibu.
Suara ketukan dari mikropon. Seorang pembawa acara berdiri di depan panggung. Acara dimulai dengan lancar. Maisa duduk di meja bagian tengah, di temani Bu Artika. Tak lama kemudian datanglah Ken dan Pak Brian ikut bergabung.
"Maaf ya membuatmu lama menunggu," bisik Ken ke telinga gadis itu.
"It's okay! Tadi aku mengobrol sama tante," balas Maisa dengan berbisik.
Pak Chandra maju ke depan podium memberikan sambutan kecil. "Terima kasih pada semua tamu undangan yang hadir. Malam ini aku akan mengumumkan siapa yang akan penerusku di perusahaan."
Lampu sorot mengarah pada Kio. Semua tamu bertepuk tangan. Kio melangkah maju ke podium dengan langkah tegap, berdiri di samping ayahnya.
"Perkenalkan ini putra tunggalku, Kio Bramespati. Kedepannya dia akan bergabung di perusahaan."
Kio tersenyum, sedikit membungkukkan badan memperkenalkan diri. Maisa turut memberikan tepuk tangan untuk kakaknya. Setelah pengumuman penerus perusahaan, langsung beralih ke acara selanjutnya. Tidak ada memperkenalkan Maisa di depan publik.
Ken menggenggam tangannya erat di bawah meja. Sorot matanya sedih. Maisa membisikkan kata-kata ke telinganya untuk tidak mengkhawatirkannya. Lagi pula ia tak pernah tertarik dengan perusahaan ayahnya.
Meski begitu, laki-laki itu tetap khawatir. Maisa juga anggota keluarga pak Chandra. Bagaimana bisa ayahnya sendiri mengabaikan gadis itu.
Pak Brian yang sejak tadi diam mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, menarik kursi ke belakang dan berdiri.
"Ayo kita sapa pak Chandra," ujar Pak Brian dengan nada dingin menusuk.
Maisa merinding mendengarnya. Padahal sebelumnya pak Brian terlihat ramah berbicara dengannya. Bu Artika bersikap tak jauh berbeda. Namun terlihat jelas api kemarahan di matanya. Itu membuat gadis itu tak mengerti. Apa yang membuat keduanya semarah itu?
Ken menggelengkan kepala. Sebenarnya ia tak ingin berniat ikut campur urusan para orang tua. Tapi ini berkaitan dengan Maisa. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia menarik tangan gadis itu. Maisa memiringkan kepalanya, memandang penuh tanya. Bibir Ken bergerak mengatakan sesuatu.
"Ikuti saja permainan mereka."
Permainan apa?
"Selamat atas kerja keras hingga perusahaan sebesar seperti sekarang ini. Semoga kerja sama kita selanjutnya agar menjadi lebih baik lagi," ujar pak Brian menjabat tangan pak Chandra.
"Terima kasih banyak Pak Brian. Berkat support dari anda, perusahaan kami bisa sebesar ini." Fokus pak Chandra teralihkan oleh Maisa yang berdiri di samping Ken dan kedua orang tuanya. Ia sedikit mengerutkan keningnya heran. Kenapa gadis itu bisa bersama mereka.
Bu Artika ikut menjabat tangannya dengan keras sembari menampakkan senyuman. Senyumnya terlihat menakutkan di mata Maisa. Pak Chandra sedikit bingung dengan sikap pemusuhan yang ditujukan Bu Artika padanya.
"Putra tunggal anda sangat tampan seperti ayahnya, ya." Senyuman Bu Artika semakin lebar.
__ADS_1
Kio tersenyum menganggukkan kepala. Ia melirik ke arah Ken dan Maisa sesaat.
Ken sedikit kecewa dengan sikap sahabatnya yang seolah tak peduli pada Maisa. Ia meraih pinggang gadis itu, menariknya lebih dekat.
Maisa menoleh ke arahnya. Ken merapikan anak rambut yang mencuat. Ia mencium dahi gadis itu.
"Kalau begitu kenalkan ini kekasihku, Om," ujar Ken mendekatkan gadis itu ke dalam dekapannya.
Beberapa tamu berbisik-bisik memperhatikan kedekatan gadis itu dengan kekuarga Brian. Bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis itu.
Pak Chandra membelalakkan matanya. Kio juga tak kalah terkejut. Nyaris saja ia berteriak untuk menanyakan maksud dari semua ini.
"Kalau begitu, tak masalah jika kami membawa gadis ini, kan?" ujar bu Artika lagi sembari menarik lengan Maisa.
Mulut gadis sedikit menganga dan matanya melebar. Kinerja otaknya seketika menjadi lambat setelah mendapat beberapa kejutan. Pak Chandra membatu, terdiam sesaat.
"Apa maksudnya?"
"Yuk kita ke meja tadi, Sa." Bu Artika menarik tangan Maisa meninggalkan suami dan putranya. Gadis itu menurut saja. Ia menoleh ke arah pak Chandra yang masih menatapnya tajam.
Sikap diam itu cukup membuat Maisa mengerti kalau ayahnya tak akan mengakui keberadaanya.
Ia tersenyum kecil, menggenggam tangan bu Artika.
"Jadi katakan padaku, apa maksudnya saat di acara tadi?" ujar pak Chandra saat selesai acara. Ketiganya duduk berhadapan di ruang keluarga.
Maisa merasakan tatapan tajam dari keduanya. Ia sudah memperkirakan akan disidang seperti ini.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Pa!"
Pak Chandra menggebrak mejanya. "Maisa! Beraninya kamu melakukan itu dihadapan pak Brian dan kekuarganya. Apa kau tahu betapa malunya aku?"
"Papa juga tidak pernah mengerti perasaanku. Aku tahu aku salah. Aku sudah mencoba menebus rasa bersalahku selama ini. Tapi Papa tidak pernah mau mendengarkan aku." Suara Maisa sedikit meninggi ikut terbawa emosi.
Plak! Sebuah tamparan keras singgah di pipinya. Ini kedua kali ayahnya menamparnya. Kio terkejut segera menarik pak Chandra menjauh.
"Kalau begitu pergi dari rumah ini sekarang juga!"
Maisa memegang pipinya yang memerah. Sebelah tangannya mengepal. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Baik! Aku akan pergi. Saat Papa bilang akan mengembalikanku ke Jogja, saat itu aku berencana keluar dari rumah ini. Dengan begitu aku tidak harus kembali ke Jogja, kan?"
Keduanya bertatapan, tidak ada yang mau mengalah. Gadis itu menyambar jaket di sofa, berlari menuju kamarnya dan membanting pintu.
__ADS_1
"Kemana kau? Hei, aku belum selesai berbicara denganmu! Hei!" seru pak Chandra.