
Sebuah mobil memasuki kota Yogjakarta, menyusuri indahnya pemandangan yang disajikan. Jalanan tidak sepadat kota Jakarta. Mobil itu melaju membawa penumpangnya ke sebuah pedesaan.
Udara dingin mulai menusuk kulit. Sepanjang kiri kanan jalan membentang sawah yang luas menghijau. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata mengingat penatnya di perkotaan.
Mobil itu memasuki halaman rumah yang asri dan terawat. Seorang laki-laki separuh baya segera turun dari mobil diikuti seorang gadis kecil dan anak laki-laki.
Terdengar burung-burung berkicau bercanda dengan temannya. Matahari bersinar lembut. Angin bertiup sepoi-sepoi. Sekelompok anak-anak tengah berlari membawa layang-layang.
Seorang perempuan berumur lima puluh tahunan, rambutnya sudah memutih tergopoh-gopoh keluar rumah menyongsong kedatangan mereka.
“Wah, cucuku dari Jakarta datang toh? Kio dan Maisa sudah besar sekarang,” katanya dengan logat jawa yang kental.
Raut wajahnya terlihat senang melihat kedua cucunya. Tak bisa menyembunyikan rasa kangennya, Nenek langsung memeluk gadis kecil dan anak laki-laki. Nenek mengusap-usap rambut keduanya dengan penuh kasih sayang.
“Tentu dong, Nek. Umurku kan sudah 8 tahun." Kio tersenyum kecil.
“Nah, kalau Maisa?”
“Maisa lima tahun, Nek.”
Nenek mengajak ketiganya masuk ke rumah. Di dalam sudah menanti seorang laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda dengan nenek. Suasana di dalam rumah yang terkesan kuno. Dindingnya berwarna merah bata terasa hangat dan nyaman. Beberapa lukisan, hiasan dinding dan barang antik terpajang di sana menambahkan kesan khas rumah itu.
Maisa duduk di samping neneknya sesekali mencuri pandang ke ayah dan Kio di hadapannya. Kio membuang mukanya. Kakek menyeruput kopinya.
“Ada hal penting yang harus dibicarakan, Pak,” kata pak Chandra memecah kesunyian.
Kakek terkekeh pelan. “Kamu ini, kalau ada masalah saja baru datang kesini. Ada masalah apa toh?”
Suasana terasa berat. Nenek merasa Kio dan Maisa tidak perlu ikut mendengarnya. Beliau meminta keduanya untuk bermain di halaman. Dengan berat hati keduanya menuju halaman muka.
__ADS_1
Sesampainya di luar, wajah Kio terlihat masam. Ia pergi menjauhi Maisa dan bergabung dengan anak-anak yang bermain layang-layang. Maisa memutar bola matanya melihat sekeliling pekarangan.
Seekor kucing kecil berbulu putih melintas. Matanya yang bulat berwarna biru, telinga kirinya berwarna hitam. Kucing itu menatapnya dengan wajahnya terlihat menggemaskan.
Maisa menghampirinya ingin menyentuh bulu lembutnya. Kucing itu mengeong, mengusapkan badannya di kaki Maisa. Suara dengkurannya cukup keras. Maisa tersenyum mengelus-elus kepalanya. Samar-samar gadis kecil itu mendengar percakapan kakek dan ayahnya dari samping rumah. Keduanya kelihatannya berdebat akan sesuatu.
“Aku ingin menitipkan Maisa di sini, Pak!” kata pak Chandra memulai pokok persoalan.
“Alasannya apa? Apa karena Arini meninggal? Itu sebuah kecelakaan yang tidak bisa dihindari. Berhentilah menyalahkan Maisa. Dia hanya anak kecil,” ujar kakek dengan suara berat.
“Hatiku masih belum bisa menerima kematian Arini, Pak! Anak itulah penyebabnya. Hatiku masih terasa berat untuk menerima anak itu. Untuk sementara aku ingin menitipkannya di sini sampai aku bisa menerimanya kembali.”
“Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini pada Maisa? Anak itu masih terlalu kecil. Masih butuh kasih sayang orang tuanya. Kalau kau begini terus, Arini akan kecewa padamu, Chandra." Nenek ikut membalas ucapan pak Chandra.
Maisa yang mendengar percakapan membeku. Wajahnya berkerut menahan kesedihan. Gadis kecil itu mulai menangis sesenggukan. Dadanya terasa nyeri seperti ada jarum es yang menusuk. Ini semua salahnya.
Andai bisa, dia ingin memutar waktu menggantikan ibunya. Ayahnya tidak menghendakinya lagi, Ia membencinya. Kucing yang dipeluknya ikut mengeong seolah turut bersedih.
“Maisa, papa ingin kamu tinggal sementara di sini." Pak Chandra mengatakan pelan penuh penekanan.
Jantung Maisa berdegup kencang. Yang tidak diharapkan terjadi juga. Ia harus menghadapi kenyataan yang tidak berpihak padanya. Gadis kecil itu memeluk kucing itu erat-erat.
“Iya, Pa. Tapi Papa harus berjanji akan menjemput Maisa kalau sudah waktunya,” sahutnya lirih.
Maisa mencoba tersenyum ke arah pak Chandra. Kakek dan Neneknya memandangnya iba. Hatinya terenyuh, tidak seharusnya anak sekecil itu bersikap tegar dan terlihat dewasa dari usianya.
Anak seusianya masih menikmati masa bahagia bersama orang tuanya. Namun berbeda dengan Maisa. Keadaan yang memaksanya bersikap seperti itu. Maisa kemudian mengejar kucing yang berlari ke belakang rumah. Ia berhasil menangkapnya. Air matanya lalu turun tanpa disadari.
“Kenapa kamu menangis?” tanya seorang anak laki-laki yang kebetulan lewat.
__ADS_1
Anak laki-laki itu memegang bola basket di tangan kanannya. Ia tidak sendiri, ada satu temannya yang ikut memperhatikannya. Maisa melepaskan kucing yang dipeluknya. Kucing itu menghampiri anak laki-laki itu dan mendengkur di kakinya. Anak itu berjongkok mengelusnya. Maisa mengusap air matanya.
“Aku tidak menangis. Mataku cuma kemasukan debu,” katanya berbohong.
Kedua anak laki-laki itu saling bertatapan. Gadis kecil itu memang kentara sekali tidak bisa berbohong. Anak laki-laki yang berbicara dengannya menghela napas panjang dan menghampirinya.
"Mau main bersama kami? Oh, namaku Jain dan ini Evan." Jain memperkenalkan teman yang berdiri di sampingnya.
"Namaku Maisa. Apa boleh aku ikut bergabung, tapi aku perempuan," ujar Maisa lirih.
Memangnya kenapa dengan anak perempuan. Jain tidak begitu memperdulikan. Ia hanya tidak suka jika ada anak yang menangis. Jain mengangguk, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Evan pun sama sekali tak keberatan.
Wajah Maisa berubah cerah, matanya bersinar senang. Ia berlari mengikuti kedua anak laki-laki bermain basket. Ada sebuah nasihat, jangan sembarangan mengikuti orang asing. Untuk kali ini Maisa tak mengindahkannya, mereka hanya anak laki-laki yang baru saja berkenalan dan berteman. Tidak ada salahnya, kan.
...****...
Yogjakarta punya banyak wisata yang menakjubkan. Namun keindahan itu tidak mampu menggembirakan hati Maisa. Setidaknya ada Jain dan Evan sedikit menghiburnya. Mengajaknya berjalan menyusuri sawah, bermain di pinggir sungai, sesekali bermain basket walau cuma bisa mendribel bola. Meski hanya sekejap, ia bisa melupakan kesedihannya.
Saat yang tidak diinginkan pun tiba. Hari ini ayahnya dan Kio akan kembali ke Jakarta. Maisa berusaha untuk tidak menangis saat berhadapan dengan ayahnya.
“Papa…. Jangan lupa jemput Maisa, ya!” kata Maisa saat pak Chandra berkemas-kemas.
Pak Chandra hanya diam dan terus berkemas. Kio memandang Maisa dengan sinis seolah berkata jika kami ingat padamu nanti. Mobil yang dikendarai ayahnya dan Kio menghilang di tikungan jalan.
Maisa menatap kepergian mereka dengan mata berkaca-kaca. Maisa tidak tau kapan ayahnya akan kembali lagi untuknya. Mungkin minggu depan atau bulan depan atau tahun depan atau mungkin beberapa tahun kemudian.
Maisa kecil berusaha untuk tegar menghadapinya. Nenek terharu melihatnya dan menyentuh pundaknya. Maisa menghambur ke pelukan neneknya dan mulai menangis. Nenek mengusap kepalanya dengan lembut berusaha menghiburnya. Beliau memberikan nasehat agar jangan pernah putus asa.
"Papa, Maisa akan menunggu di sini sampai Papa menjemputku."
__ADS_1
Maisa memandang langit senja. Sang cakrawala menjulang dengan kokohnya. Siap menerjang apa yang ada di dalamnya. Tak seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya orang yang mempunyai keinginan dan impian yang dapat menggapainya. Menggapai mimpi di balik cakrawala kehidupan. Titik perjuangan Maisa pun di mulai.