
Kio mengacak-acak rambutnya, merasa frustasi setelah bersikap kasar pada adiknya. Di tambah kejadian itu. Bagaimana video itu bisa menyebar begitu saja. Tidak ada seorangpun yang tahu kejadian itu. Bahkan temannya pun tak pernah sekalipun diberi tahu.
Padahal selama ini hubungannya dengan Maisa tidak seburuk itu. Kio hampir tidak pernah menyapanya, selalu menghindar saat Maisa berusaha menempel padanya tapi tidak pernah sekalipun ia kasar padanya.
Tak sengaja Kio menabrak Maisa saat turun dari tangga. Tangannya dengan sigap menangkap lengan Maisa yang hampir terjatuh. Mata Maisa bertemu pandang dengannya. Gadis itu kemudian tersenyum mengucapkan terima kasih pada Kio dan berlalu.
Apa Maisa baik-baik saja. Kenapa gadis itu bisa tersenyum begitu padahal dirinya sudah menyakitinya. Kio meremas dada kirinya. Rasanya jantungnya berdenyut nyeri. Rasanya aneh melihat Maisa tidak menyapanya, bahkan biasanya suka menempel. Harusnya ia merasa senang, tapi lagi-lagi rasa bersalah menggerogoti hatinya.
Selama kuliah Kio hanya bengong, tak peduli dosen yang sibuk mengajar di depan. Seseorang menyenggol lengannya membuat ia terperanjat, sadar saat ini masih ada di kelas. Erik memberikan sobekan kertas berisi catatan kecil padanya.
Pak Salim tadi memberikan pertanyaan. Cepat dijawab dulu sana!
Mati aku! Apa tadi pertanyaannya.
Kio menoleh ke arah dosen yang tengah mengajar. Ia merasakan keringat dingin di buku-buku jarinya. Sejak mata kuliah dimulai, Kio sama sekali tidak memperhatikan apa yang disampaikan. Pak Salim masih menunggu jawabannya.
"Maafkan saya, pak. Saya masih agak kurang paham," ujar Kio berdalih setelah terdiam cukup lama.
"Sepertinya kamu tidak menyimak yang disampaikan tadi. Untuk kali ini bapak maafkan. Namun tidak ada lain kali."
"Saya mohon maaf, pak."
"Berpikir apa kok serius amat?" tanya Erik saat mata kuliah yang diikuti selesai. Suaranya tak begitu jelas karena mulutnya tak henti mengunyah kentang goreng.
Suasana kantin cukup sepi. Kio masih tidak menjawab. Ia kembali melamun, matanya lurus memperhatikan lalu lalang orang masuk ke kantin. Erik menjentikkan jarinya tepat di depan wajahnya. Kio terkejut, mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Oh... Tidak lagi berpikir apa-apa, kok. Ken mana? Kok belum datang?" suaranya terdengar gagap.
Erik menghela napas panjang. "Kalian pasti berkelahi lagi, ya? Ken ada kerjaan tambahan."
"Oh begitu..."
Selama diskor Maisa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah untuk membantu Bi Tari dan Pak Mamat membersihkan rumah dan berkebun. Ketika senggang melukis pemandangan sekitar, mengisi video di Youtube dan feed Instagram. Kadang-kadang membalas DM orang yang ingin membeli lukisannya. Ia meminta Pak Mamat mengirimkan lukisannya ke ekspedisi jika ada yang membelinya.
“Membosankan sekali di rumah. Kalau pergi keluar, Papa bisa marah besar," katanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Maisa mengoleskan kuas ke kanvas melanjutkan lukisannya yang hampir selesai. Seperti biasa Bi Tari datang membawakan minuman dan sebuah majalah. Mengatakan sepatah dua patah kata seberapa bagus lukisannya. Maisa tersenyum tipis mengucapkan terimakasih. Senang rasanya memiliki seseorang yang menyukai lukisannya.
Pak Chandra mengamati tingkah polah Maisa dari jendela lantai dua. Ada sebersit rasa sayang yang singgah di benaknya tapi rasa itu dibuangnya jauh-jauh.
Aku tidak boleh menyayangi anak itu.
Melihat anak itu seperti melihat istrinya Arini. Keduanya bagai pinang dibelah dua. Meski Pak Chandra sangat membencinya tapi setiap melihat wajahnya ia tak mampu berucap banyak. Ia berusaha merelakan kepergian Arini, tetapi tetap tidak bisa. Sulit untuk melepaskan bayangan masa lalu.
Maisa merasa diawasi menoleh ke lantai dua memutar badannya, tidak melihat siapa-siapa. Hanya jendela setengah terbuka dan gorden melambai ditiup angin. Jemarinya mengetuk permukaan meja.
Perasaan ada yang memperhatikan. Siapa, ya? Tidak mungkin Papa. Ah, paling-paling hanya perasaanku. Ayolah Maisa berpikir sehat. Dasar tukang buat ulah.
Kio mendapati adik kecilnya tengah membaca buku di gazebo belakang rumah. Sesekali membalik kertas ke halaman selanjutnya. Sebelah tangannya menyesap secangkir teh. Di sampingnya ada lukisan yang hampir jadi. Kio lama mematung tak jauh dari sana. Terus maju atau tidak.
Ia melangkahkan kakinya mendekati Maisa agak ragu-ragu. Gadis itu mendongak ke arahnya. Manik-manik coklatnya menyiratkan penuh tanya?
Kio duduk di hadapannya, mencomot tela-tela dan mengunyah perlahan. Maisa masih menatapnya lekat-lekat. Untuk apa ia datang kemari? Biasanya Kio selalu hangout bersama teman-temannya seusai kuliah. Kali ini mau membuat ulah apa lagi. Maisa masih menunggu. Hampir lima belas menit Kio masih tidak mengatakan apapun. Sepertinya Maisa yang harus memulai obrolannya.
"Kak Kio mau ngomong apa?"
"Oh.... Kalau mau santai masih ada satu lagi gazebo di situ."
Maisa menunjuk gazebo berjarak beberapa meter dari tempatnya. gadis itu masih melanjutkan membaca. Ia masih perlu mendalami beberapa teknik melukis. Kio mengambil buku di tangannya, membolak balik beberapa halaman.
"Kamu suka melukis?"
"Ha...? Lumayan?" Maisa memiringkan kepalanya. Mencoba mencari arah pembicaraan Kio. Sebelah alisnya naik. Dilihat dari judul bukunya saja jelas ia tertarik tentang lukisan. Untuk apa basa-basi segala.
"Sa.... Aku.... Begini...." Kio mencoba mengeluarkan unek-uneknya dengan terbata-bata. Namun rasanya sulit, kata-kata itu seperti tersangkut di tenggorokan.
Maisa menatap Kio yang terlihat kebingungan mengungkapkan perasaannya. Apa lagi yang coba ia bicarakan. Gadis tidak sabar membuka suara.
"Kak.... Aku tidak akan mengganggu lagi kalau itu maumu. Aku akan berhenti bertemu dengan teman-temanmu. Aku tidak mau kamu tambah membenciku dan kurasa dengan menyebarnya video itu sudah cukup buatku."
Wajahnya terlihat terluka, namun ia masih mencoba tersenyum. Jantung Kio terasa berhenti. Apa yang sudah dilakukan pada adiknya.
__ADS_1
"Sa... Walaupun aku pernah mengancammu, tapi bukan aku yang menyebarkan video itu. Ini kedengaran seperti membela diri. Tapi itu bukan aku."
Maisa masih membisu. Masih bersikap acuh, membalik halaman buku yang dibacanya. Kio mengambil buku bacaannya, meletakkan di atas meja. Maisa kembali menatap mata Kio. Laki-laki itu tampak menyesal. Ia masih berusaha mengucapkan permintaan maaf. Tanpa sadar Kio memeluk Maisa.
"Aku tahu aku salah. Aku sudah banyak menyakitimu. Maaf... Maaf... Maafkan aku," bisiknya pelan, suaranya terdengar serak.
Air mata mengalir di pipi Maisa, mulai menangis di pelukkan Kio. Pertahanannya runtuh begitu saja. Mendengar permintaan maaf Kio hatinya luluh. Meskipun kesal dan terluka, ia tak pernah membenci kakaknya. Kio mengeratkan pelukannya sembari menggumamkan permintaan maaf berulang kali.
...****...
Maisa mengompres matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis dengan kompres khusus mata. Membaringkan dirinya di sofa depan. Di sampingnya ada Kio yang tengah membisu. Tangannya mengusap-usap kepala adiknya.
"Aku bukan anak kecil!" seru Maisa memecah kesunyian.
"Hmm...."
"Jadi benar itu bukan Kakak. Lalu siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Oh.... Jadi apa aku boleh pergi bertemu dengan temanmu kan, Kak?"
"Itu agak sedikit..."
"Hah! Bukannya tadi menyesal!"
"Itu tidak ada hubungannya. Sebegitu sukanya sama Ken."
"Apa?"
Maisa mendongakkan kepalanya memandang Kakaknya. Kio membuang mukanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Maisa sedikit kesal dengan sikapnya barusan. Apa-apaan itu. Dasar teman posesif.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi selama aku tidak di rumah."
Pak Chandra mendapati anaknya terlelap di sofa. Tidak hanya Maisa di sana. Ada Kio yang juga ikut terlelap di sampingnya.
__ADS_1