Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.46 Pertolongan Pertama


__ADS_3

Ken naik kepermukaan kolam membawa Maisa yang pingsan. Dengan hati-hati meletakkan gadis itu di pinggir kolam, mulai menekan dadanya. Mencoba untuk mengeluarkan air yang telah terminum olehnya.


Kio yang baru saja tersadar dengan apa yang terjadi bergegas menghampiri Ken. Panik. Itulah yang tergambar di wajahnya yang pucat pasi. Tangannya gemetar saat menyentuh lengan gadis itu.


“Dia tidak apa-apa, kan?” tanyanya.


Ken tidak menjawab pertanyaannya. Semua pikirannya teralihkan dengan kondisi Maisa saat ini. “Sial! Dia tidak bernafas.”


Ken segera memberi napas buatan. Sesekali tangannya menekan dada gadis itu. Ia terus mengulangnya beberapa kali. Napasnya mulai tidak beraturan. Semua kondisi terburuk melintas di kepalanya.


Kio memperhatikan wajah Maisa yang sedikit membiru. Ada perasaan bersalah di hatinya. Harusnya ia tadi langsung terjun ke kolam, bukannya mematung. Seharusnya dialah yang menolong Maisa bukan Ken.


Tak lama kemudian Maisa terbatuk. Air keluar dari mulutnya. Kesadarannya kembali. Rona merah kembali di wajahnya yang memucat. Samar-samar ia melihat ada Ken dan Kio duduk di dekatnya. Keduanya melihatnya dengan tatapan lega. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


Syukurlah aku masih hidup. Terima kasih, Tuhan.


"Syukurlah!"


Ken menghembuskan napas lega, memeluknya erat, takut kalau gadis itu menghilang. Ia mencium seluruh wajahnya. Tak peduli Kio ada di sampingnya.


Kio duduk mematung. Dahinya berkerut. Wajahnya menjadi kosong. Sesaat ia seakan mati rasa. Bayangan kematian orang yang disayangi berkelebat di pikirannya.


Tanpa sadar ia meremas tangan Maisa yang sejak tadi digenggamnya. Suara Maisa mengaduh kesakitan membawa kembali alam bawah sadarnya. Ken melotot ke arahnya, menepis tangan Kio.


Kelegaan tergambar dari wajahnya. Kio meraih tubuh Maisa, merebutnya dari pelukan Ken. Ia memeluk adiknya erat. Bibirnya tak henti-hentinya berguman permintaan maaf dan juga. Ken menepuk pundaknya.


"Kak! Lepaskan aku. Aku tidak bisa napas," seru Maisa dengan suara serak.


"Oh! Sorry!"


Kio melepaskan pelukannya. Maisa menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia terkekeh pelan. Kedua laki-laki di sampingnya memandangnya heran. Tangannya merangkul leher keduanya, menariknya mendekat.


"Terima kasih semuanya." Senyum Maisa terlihat cerah, secerah wajahnya.


"Ada apa ini?"


Suara berat tak asing di telinga mengejutkan ketiganya. Pak Chandra menatap tajam ke arah mereka. Ada sekotak perlengkapan P3K di tangannya.


Maisa beranjak berdiri. Kepalanya mendadak pusing, nyaris limbung. Namun ia berusaha untuk tetap berdiri. Ken menopangnya untuk tetap berdiri.


"Tadi Maisa hampir tenggelam, Pa," ujar Kio.


"Oh!"


Pak Chandra mematung sesaat. Mimik wajahnya datar. Ia menyerahkan kotak P3K pada Kio dan melesat ke dalam. Tak lama berselang, Bi Tari keluar tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Aduh, Non. Sini Bibi bantu ke atas," ujarnya dengan nada panik.


"Biar aku saja, Bi. Biar Bibi siapkan baju ganti buat Maisa," balas Ken.


Bi Tari mengangguk dan kembali ke dalam. Maisa mendongak menatap Ken.


"Aku bisa pergi sendiri, Kak."


"Dengan kondisi seperti ini? Tidak boleh!"


Ken menyisipkan tangan ke pinggang Maisa, mengangkat kedua kakinya. Gadis itu tersentak, spontan mengalungkan kedua tangannya ke leher Ken. Ken menggendongnya ala pengantin naik ke kamarnya di lantai dua.


Bi Tari sudah ada di kamarnya, menyiapkan pakaian gantinya, kaos dan celana pendek selutut.


"Aku pulang dulu, ya," ujar Ken tersenyum lembut. Tangannya mengelus rambut Maisa yang masih basah, membelai pipinya.


Maisa menganggukkan kepala. Ia menyentuh tangan Ken yang masih menempel di pipinya.


"Kenapa Kak Ken bisa balik lagi ke sini tadi?"


"Oh... Tadi hp ku ketinggalan. Tapi aku tak menyangka kamu akan tenggelam. Lain kali aku akan mengajarimu cara berenang."


Maisa tertawa kecil. "Baik!"


Ken meninggalkan Maisa setelah memberikan ciuman perpisahan di dahinya. Bi Tari berdehem membuat pipinya bersemu merah.


"Bibi bisa saja," pungkas Maisa sambil tertawa.


Pak Chandra bersantai di ruang tengah ditemani secangkir kopi. Tak lupa buku tebal bertemakan bisnis di tangannya. Kio menghampiri dan langsung duduk tak jauh darinya. Aroma sabun mandi dan sampo menguar. Rambutnya masih terlihat basah.


Tangannya mengambil remot, menghidupkan televisi di depannya. Maisa tak terlihat. Gadis itu terlelap setelah kejadian yang membuatnya hampir mati tadi sore.


"Bagaimana kondisi anak itu?"


Kio hanya membalas dengan singkat, "Tidak ada yang terluka. Tapi sepertinya dia hanya syok."


"Oh...!"


Kio memperhatikan Pak Chandra sesaat. Tak ada raut kekhawatiran di wajahnya. Ia hanya terdiam membisu berkutat pada buku ditangannya. Seperti ada benteng yang tak tertembus di sana. Kio mengangkat bahu, matanya teralihkan pada siaran televisi di depannya.


Siang harinya, Maisa secara sembunyi-sembunyi menyelinap keluar. Kio dan Pak Chandra masih sibuk menambahkan beberapa dekor di halaman samping. Ken sudah menunggu di depan pagar. Ia bersandar di kap depan mobilnya dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Mengenakan kemeja putih salur dibalut vest berwarna cokelat.


Ken tersenyum melihat kedatangannya, membuat gadis itu terpana. Maisa meneguk ludahnya terpesona oleh sosok tampan di hadapannya.


Gadis itu bengong. Ken merasa gemas, mencubit hidungnya. Maisa mengerjapkan matanya.

__ADS_1


“Sorry, Kak. Aku agak lama turunnya."


Maisa hanya mengenakan kemeja putih dan celana jeans. Rambutnya yang pendek dibiarkan bergerai begitu saja. Penampilannya persis laki-laki yang berwajah cantik. Ken melihat dari kaki hingga kepala lalu menggeleng-gelengkan kepala.


“Kamu mau ke pesta atau mau jalan santai, sih.”


Maisa memandangi dirinya sendiri, menggusap kemejanya, meringis.


"Memangnya ada yang salah, ya?"


"Tidak ada. Sudah! Cabut, yuk!"


Ken menarik tangan Maisa dan menyuruhnya masuk ke mobil. Maisa menurut saja. Ken mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ken terlihat sangat tampan. Matanya yang dingin terkesan cool. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis sangat serasi dengan penampilannya.


“Naksir aku lagi ya, Sa?” ujar Ken usil menggodanya.


Maisa langsung salah tinggah. Pipinya merona merah. Tapi dia berusaha menutupinya.


"Umh... Iya. Eh! Tidak juga. Hais! Kak Ken narsis."


Ken tertawa. Tingkah Maisa persis yang ada dalam pikirannya. Gadis itu nyaris membuat jantungnya berhenti kemarin.


Saat itu, Ken memacu motornya hampir seperempat jalan menuju rumahnya. Ia teringat ponselnya masih tergeletak di bangku dekat kolam renang. Sesampainya di rambu putar balik, Ken memacu motornya berputar arah kembali ke rumah Maisa.


Ken langsung menuju halaman samping rumah. Terdengar suara Kio berteriak menyebut nama Maisa. Ia langsung berlari, mendapati Kio mematung dengan wajah pucat pasi memandang ke kolam renang.


Tanpa pikir panjang Ken langsung terjun, menyelam ke dalam kolam. Jantungnya terasa berdenyut nyeri melihat gadis itu tenggelam. Ia meraih tangan dan pinggang gadis itu.


Tidak ada gelembung udara keluar dari hidung gadis itu. Ken mencium bibirnya, memberikan napas buatan, menggerakkan kakinya naik ke permukaan.


"Bagaimana kondisimu sekarang, Sa? Ada yang sakit?" tanya Ken setelah membisu beberapa saat.


"Aman, Kak. Terima kasih untuk yang kemarin."


"Lain kali hati-hati, ya. Aku tak mau kamu terluka atau kenapa-kenapa. Tidak ada yang bisa menggantikanmu, Sa."


Maisa mengangguk pelan, sesekali mencuri pandang kearah Ken. Ia menoleh ke arah Maisa dengan senyuman lebar. Jantung Maisa terasa mau berhenti.


Ugh! Serangan mematikan.


Ken menghentikan mobilnya di sebuah gedung berlantai tiga dengan papan nama bertuliskan boutiq. Keduanya keluar dari mobil.


"Yuk, kita cari kado dulu buat si brengsek, maksudku Kio."

__ADS_1


Maisa mengangguk setuju. Keduanya bergandengan tangan memasuki butik itu.


__ADS_2