
Pak Chandra duduk termenung di dalam ruang kerjanya. Sesekali matanya melirik ke arah ponsel di atas meja tak jauh darinya. Ia mengetuk jari tangannya ke meja.
Belum ada kabar dari anak itu. Seharusnya Maisa sudah sampai di Jogja sekarang. Ia masih menunggu ponselnya berbunyi.
"Pak, ini ada projek yang harus ditandatangani." Suara Aron mengagetkan lamunannya. Laki-laki itu menyodorkan sebuah map hijau ke hadapannya.
"Harusnya tadi kau mengetuk pintu dulu," jawab pak Chandra sembari membuka map itu.
"Saya sudah mengetuknya beberapa kali. Tapi sepertinya Bapak tidak mendengar. Apa terjadi masalah lagi?"
Pak Chandra tak menjawab pertanyaan ajudannya itu. Matanya masih melirik ponsel yang belum berbunyi juga.
Aron tersenyum memperhatikan kegalauan bosnya. Ini pasti berkaitan dengan Maisa. "Ku dengar Maisa ke Jogja."
"Ya," balas pak Chandra singkat. Ia mengecek berkas itu dan menandatanganinya.
"Kalau begitu khawatir, kenapa tidak menelponnya saja. Siapa tahu dia ketiduran diperjalanan."
Pak Chandra menyerahkan map itu pada Aron. Tatapannya terlihat kesal. "Fokus saja pada pekerjaanmu sana!"
Perkataan Aron begitu menggangunya. Ia memutar-mutar ponsel di tangannya. Menimang-nimang apa perlu menelpon anak itu atau tidak. Ia mengeratkan gigi gerahamnya.
Pasti anak itu baik-baik saja.
...****...
Bunyi berisik decit roda kereta beradu dengan rel. Kereta perlahan berhenti di Stasiun Tugu Yogya. Penumbang kereta berjubel turun menuju peron. Maisa menunggu lengang baru turun.
Seorang laki-laki paruh baya menghampirinya. Ia membantu membawakan ransel yang tersampir di punggungnya.
"Terima kasih, Paman," kata Maisa pada laki-laki yang tak lain pamannya itu.
Sepanjang perjalanan wajah gadis itu menghadap ke arah jalan. Ia tak banyak bicara. Ekor matanya sesekali melirik ponselnya. Tak ada pesan atau panggilan masuk dari ayahnya. Ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Maisa berhenti di rumah khas pedesaan. Seorang perempuan berambut putih tergopoh-gopoh keluar menghampiri gadis itu. Maisa tersenyum ke arah neneknya. Ia langsung memeluknya erat-erat. Di belakangnya muncul kakeknya yang mengenakan topi caping habis berkebun.
"Jadi berapa lama kamu menginap di sini, Nduk?" tanya nenek dengan nada lirih.
"Sekitar tiga hari, Nek."
"Ya sudah. Selama di sini main sepuasnya dulu. Nanti bakal kangen kalau sudah di Paris," ujar kakek turut menambahkan.
Maisa mengangguk pelan dengan senyum hangat tergambar di wajahnya. Rencananya memang begitu. Menghabiskan sisa waktunya liburan sepuasnya di Yogya.
Kini ia berdiri di toko alat lukis langganannya dulu. Kepalanya mendongak membaca papan nama toko yang sudah tak asing di matanya. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Keningnya berkerut tak habis pikir.
"Bisa-bisanya aku mampir ke sini. Lama-lama aku jadi maniak lukisan," gumannya pelan.
Maisa meletakkan tas belanjaannya di samping kakinya. Ia duduk di bangku alun-alun. Menikmati keramaian senja. Mobil hias warna warni berlalu lalang membawa penumpang.
Gadis itu kembali membuka ponselnya. Ia melihat pesan yang dikirimkan pada ayahnya tadi malam. Belum ada balasan. Hanya pesan masuk dari Mia dan Ken menanyakan kabarnya.
"Sudah baikan sama bapakmu atau belum, Nduk?" tanya nenek tiba-tiba saat makan malam.
"Syukur kalau sudah. Biar nanti tidak ada pikiran pas kuliah di luar negeri. Kalau pikiran plong, kan enak."
Maisa mengangguk-anggukkan kepala mendengar wejangan dari neneknya sambil mengulum senyum. Setelah membantu beres-beres dapur, ia langsung masuk ke kamarnya.
Sekali lagi matanya tak lepas dari pesan yang dikirimkan oleh ayahnya. Masih tak kunjung ada balasan.
Pa, Maisa nanti langsung berangkat ke Paris sehabis dari Yogja. Semoga Papa sehat selalu.
Jemarinya mengetik pesan pada ayahnya lalu menghapusnya lagi sampai beberapa kali. Dengan ragu Maisa memencet tombol kirim pesan.
Ia meletakkan ponsel di samping badannya. Matanya menatap langit-langit kamar. Semoga saja tindakannya kali ini benar. Hatinya seperti tertusuk melihat ayahnya kembali mengacuhkannya.
Kepala Maisa terjatuh dari bantal. Antara setengah sadar ia mendengar ponselnya berbunyi. Tanpa memperhatikan siapa yang menelepon langsung diangkat begitu saja.
__ADS_1
Apa maksud pesanmu tadi?
Suara dingin dari seberang menyadarkan kembali dari kantuknya. Maisa bergegas bangun dan melihat siapa yang menelepon.
"Papa?" gumannya pelan.
Ia mendekatkan lagi ponsel ke telinganya. "Ah... itu kurasa agar tidak memakan waktu, Pa. Jadi aku akan langsung berangkat ke Paris."
Oh... baguslah. Makin cepat, makin baik.
Maisa terdiam sejenak mendengar jawaban itu. "Apa Papa mau menyusul kesini?"
Untuk apa?
"Hmm.... menjenguk nenek dan ...."
Pak Chandra memotong ucapannya.
Itu bisa dilakukan kapan-kapan. Aku tak punya waktu luang untuk bermain-main.
"Tapi!"
Jangan bertingkah seperti anak kecil. Apa aku harus membuang-buang waktuku hanya untuk mengantarmu pergi?
Gadis itu terdiam menggigit bibirnya.
Padahal aku hanya ingin mendengar ucapan hati-hati dijalan darimu.
Maisa meremas dadanya. Ia mencoba untuk tersenyum perih. "Jika nanti aku kangen Papa, bolehkah aku datang memelukmu?"
Gadis itu diam menunggu. Tak ada jawaban dari seberang telepon. "Kalau begitu sampai bertemu lagi saat liburan, Pa."
Maisa menjatuhkan ponsel di kakinya. Ia meringkuk memeluk memeluk lututnya. Dadanya terasa berat. Cairan bening menggenang di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Semangat, Sa. Kamu sudah mencoba yang terbaik," gumannya menyemangati dirinya sendiri.