Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.36 Klarifikasi


__ADS_3

"Mau sampai kapan bersembunyi di situ?" Seru Ken.


Ia menghampiri Maisa dan Mia yang berjongkok tak jauh darinya. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Kedua gadis itu berdiri, tertawa canggung.


"Maaf, Ka. Tadi aku diajak Maisa. Kalau begitu, aku pergi dulu." Mia merasakan tatapan tajam ditujukan untuknya. Ia bergegas melarikan diri.


"Loh, Mia. Tunggu!"


Maisa menjulurkan tangannya ke arah Mia yang menghilang di ujung koridor. Ken menyilangkan kedua tangannya. Matanya menatap tajam gadis di hadapannya. Maisa meneguk ludahnya. Sepertinya Ken terlihat marah padanya.


"Maaf, Ka. Aku tidak bermaksud menguping," Kata Maisa pelan. Kepalanya menunduk.


Ken meraih dagunya. "Hmm.... Lalu?"


Maisa menepis tangan Ken. Ia memalingkan wajahnya, menatap orang yang lalu lalang di kejauhan. Mencoba menguatkan hatinya, matanya melirik ke arah laki-laki di hadapannya. Ken masih menatapnya intens. Ternyata gigih juga.


"Aku... Aku tak suka Ka Ken dekat dengan perempuan lain."


Suara Maisa terbata-bata. Ia menutupi wajah yang memerah dengan kedua tangannya. Malu dengan ucapannya sendiri.


"Pff..."


Ken tertawa kecil. Punggung tangan menutupi separo wajahnya. Tak menyangka pacarnya berkata blak-blakan. Ia hanya menggodanya.


Suasana sudut gedung yang sunyi membuat tawanya terdengar jelas. Maisa menurunkan tangan. Wajahnya masam, bibirnya memberengut.


"Aku pergi saja."


Maisa berniat mengambil langkah seribu. Ken mendekapnya dari belakang. Disandarkan dagunya pada bahu kekasihnya.


"Maaf! Maaf! Aku tidak bermaksud begitu."


...****...


Alice mengungungkapkan foto masa kecilnya bersama Ken. Keduanya terlihat bahagia bersama. Apakah benar hubungan mereka retak karena orang ketiga?


Maisa membaca majalah dengan kesal. Ia meremas pinggiran kertas hingga kusut. Diletakkannya majalah itu di atas meja. Tangannya mengambil remot di depannya dan menyalakan televisi.


Ada berita selebritis tengah ditayangkan. Reporter mengundang Alice sebagai bintang tamu. Terlihat gadis itu tersenyum seraya berjabat tangan dengan reporter.


Kami berdua berteman sejak kecil dan bisa dibilang sudah nyaman satu sama lain. Dia juga menyukaiku sampai beberapa waktu lalu. Tapi Ken mulai berubah beberapa bulan yang lalu. Aku tidak menyangka dia akan mengenalkan pacarnya padaku. Sakit sekali....


Maisa mendengus mematikan televisinya. Ia beranjak mengambil kanvas dan cat lukisnya. Melangkahkan kakinya ke gazebo di belakang rumah, menyusuri batuan marmer yang ditutupi rumput jepang.


Tangannya mulai menyapukan kuas ke kanvas terhenti. Semua konsep di kepalanya menguap entah kemana. Berita tentang Ken dan Alice begitu mengganggu. Ia meletakkan kuasnya di palet, merebahkan diri di lantai. Angin berembus lembut membuat mulutnya menguap. Perlahan matanya terpejam dan terlelap.


Maisa mendengus mematikan televisinya. Ia beranjak mengambil kanvas dan cat lukisnya. Melangkahkan kakinya ke gazebo di belakang rumah, menyusuri batuan marmer yang ditutupi rumput jepang.

__ADS_1


Tangannya mulai menyapukan kuas ke kanvas terhenti. Semua konsep di kepalanya menguap entah kemana. Berita tentang Ken dan Alice begitu mengganggu. Ia meletakkan kuasnya di palet, merebahkan diri di lantai. Angin berembus lembut membuat mulutnya menguap. Perlahan matanya terpejam dan terlelap.


Alice tersenyum lembut menyentuh pipi Ken. Laki-laki itu membalas senyumnya lembut. Ia meraih tangan gadis itu dan menciumnya. Pipi Alice merona merah.


"Aku mencintaimu Alice."


"Aku juga, Ken."


Keduanya bergandengan tangan, berjalan beriringan. Maisa berlari mendekati keduanya. Jarak mereka semakin menjauh.


"Ka Ken! Tunggu!"


Maisa terjatuh. Bola matanya melebar. Ken dan Alice telah menghilang.


"Orang sepertimu memang tidak pantas berbahagia." Kio tertawa pelan. Ia berjalan menjauh. Maisa mencoba menjangkaunya, apa daya tangan tak sampai.


"Menjauhlah dari hidupku. Kau tak berhak berada di sisi kami."


Giliran Pak Chandra berjalan meninggalkan Maisa seorang diri di ruangan serba putih. Ia mencoba berdiri, langkahnya terseok-seok mengejar keempatnya.


"Jangan tinggalkan aku sendiri. Papa! Ka Kio! Ka Ken!" Teriaknya sekuat tenaga. Sunyi, tidak ada jawaban.


"Sa... Maisa...." Samar-samar terdengar seseorang memanggilnya.


Seseorang mengguncang-guncang tubuhnya. Ia membuka matanya. Buram, perlahan fokusnya kembali. Mengenali siapa sosok itu.


Ken menghambur ke dalam rumah Kio mencari keberadaan kekasihnya. Sedikit menggerutu, Kio mengantarnya ke gazebo belakang rumah.


"Papa! Ka Kio! Ka Ken! Jangan tinggalkan aku!"


Suara bisikan gadis itu seperti menyayat hati. Ia mendekap gadis itu, mengguncang-guncang tubuhnya.


Maisa mengerjapkan matanya. Ken memandangnya dengan sorot khawatir. Tangannya mengusap air mata yang mengalir di sudut mata gadis itu.


"Makanya jangan tidur sembarangan. Mimpi burukkan jadinya," Ujar Kio dengan nada ketus. Ia kesal melihat kebersamaan Maisa dan Ken.


Ken melotot ke arahnya. Ia mengangkat bahu, segera menyingkir meninggalkan keduanya. Kesadaran Maisa kembali. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Ken, mundur beberapa senti.


"Sejak kapan ada di sini, Ka?"


"Barusan, kok. Kamu baca berita terbaru soal skandalku, Sa?"


Maisa terdiam, tak menjawab. Ken menghela napas panjang. Apa ia menyakiti gadis itu lagi. Mimpi buruk Maisa pasti karena ulahnya.


Ken memegang pundak gadis itu. "Sa! Aku akan membereskan masalah ini. Ini salahku karena tidak bersikap tegas. Aku menganggap Alice sebagai teman. Nyatanya aku malah menyakitimu."


Maisa memegang pipi Ken lembut. Ia tersenyum tipis. "Jangan memaksakan diri, Ka."

__ADS_1


Ken meraih tangan gadis itu, mencium punggung tangannya. Tangan kirinya merangkum pipi gadis itu. "Jangan khawatir. Aku tidak memaksakan diri."


Maisa berguling-guling di kamarnya. Tangannya memeluk guling erat-erat. Bangun sebentar, tidur lagi. Kejadian siang tadi masih terbayang. Kakinya menendang udara.


Nada dering dari ponselnya berbunyi. Ia meraih posel di atas nakas samping tempat tidurnya. Nomor Mia yang tertera pada layar. Ia mengangkat teleponnya.


"Sa. Kamu lagi nonton acara selebriti dalam berita?"


Maisa mengerutkan keningnya. Ia sudah menontonnya tadi pagi. "Ia tadi pagi. Kenapa memangnya?"


"Cepat nonton sekarang. Ada Ken di sana!" Mia langsung memutuskan sambungan telepon.


"Kenapa, sih?"


Maisa menimang beberapa saat. Ia akhirnya memutuskan turun ke bawah. Di ruang keluarga sudah ada Kio menghadap layar televisi. Ada Ken di sana mengadakan konferensi pers. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.


"No way!"


...****...


"Perlu berapa lama menyiapkan konferensi pers?"


Ken menelepon Albert di perjalanan naik taksi ke rumah butik. Tangannya sibuk membalik-balik majalah sebritis di pangkuannya.


"Tidak perlu lama. Mau kupanggilkan beberapa reporter kenalanku?" Kata Albert dari seberang.


"Kalau begitu tolong adakan di Hotel JW."


Terdengar Albert terkekeh dari seberang. "Oke! Oke! Apa sih yang tidak buat si ayang."


Ken mematikan ponselnya, menghela napas panjang. Ia mengacak-acak rambutnya.


"Tolong ke Hotel JW, Pak." Ujarnya pada sopir taksi.


"Baik, Mas."


Taksi yang ditumpangi Ken melaju kencang di jalan tol. Jalanan tidak terlalu padat. Taksi memasuki Hotel JW. Albert sudah berdiri di lobi menunggu kedatangan Ken. Beberapa petugas keamanan tengah berjaga untuk bersiap menghadapi hal yang tidak diinginkan.


Albert mengawalnya ke ruang aula untuk konferensi pers. Sudah ada cukup banyak reporter yang terkumpul. Kilatan lampu kamera menyambutnya saat memasuki ruangan. Ken langsung naik ke podium.


"Menanggapi beberapa isu yang beredar belakangan ini. Aku dan Alice memang berteman sejak kecil. Dalam tanda kutip, hanya berteman. Isu kami berpacaran itu tidak benar. Saat ini hanya ada satu orang perempuan yang menjadi kekasihku. Begitu juga kedepannya. Aku tidak perlu menunjukkan siapa dia. Yang jelas dia selalu ada di hatiku. Aku ingin dia bahagia di sampingku. Itu saja. Jadi aku mohon agar tidak memuat berita yang tidak jelas kebenarannya yang bisa membuat kekasihku terluka. I really love her. Ah...! Masalah foto aku dan Alice seperti berciuman itu tidak seperti yang dibayangkan. Tidak terjadi apapun diantara kami. Kurasa perlu diacungi jempol karena mengambil gambar dari sudut yang pas membuat orang lain salah paham. Terima kasih."


Ken langsung keluar ruangan di temani Albert. Di dalam mobil, ia menghembuskan napas lega. Rasanya sedikit beban di pundaknya terangkat.


"Really love her, eh...?" Albert terkekeh pelan.


Ken sudah berubah. Ia tak bisa menebak apa yang akan dilakukannya lagi dari sekarang. Ada pepatah mengatakan, saat kamu jatuh cinta, dunia yang ada di sekelilingmu juga ikut berubah. Albert menggeleng-gelengkan kepalanya. Maklum jiwa masa muda.

__ADS_1


"Shut up! Memangnya aku tidak boleh berkata seperti itu. I mean, aku cuma mengatakan perasaanku saja."


"Oh...Oke! Jangan ngegas dong."


__ADS_2