
Alice berjalan memasuki ruang acara, mengenakan mini dress tanpa lengan berwarna maroon ketat. Memperlihatkan bentuk tubuh yang ramping dan kaki jenjang khas seorang model. Bahunya dibiarkan terbuka, lehernya dihiari kalung mutiara berwarna putih.
Semua orang terpana melihat kecantikannya. Alice tersenyum puas berhasil menarik perhatian yang hadir di sana. Tidak ada seorangpun yang bisa menolaknya.
Hanya ada dua orang yang tidak tertarik dengannya. Ken dan Kio. Ia sama sekali tidak tertarik pada Kio. Hanya Ken yang berhasil menarik hatinya. Tapi laki-laki itu tidak pernah menggubrisnya.
Ia tersenyum menghampiri Kio. “Selamat ulang tahun, ya.”
Kio membalas jabatan tangan gadis itu, menampilkan senyum bisnisnya untuk sekedar basa-basi. "Oh, terima kasih sudah mau datang."
Alice mengedarkan pandangan kesetiap sudut taman. Ia tak menemukan seseorang yang menarik perhatiannya.
“Dimana, Ken?" ujarnya pelan.
Kio melirik ke arah Erik. Menggerakkan dagunya memberi isyarat padanya untuk membawa gadis itu menjauh.
Erik menangkap isyarat itu lalu tersenyum. “Dia belum nongol juga dari tadi. Mau kutemani berkeliling?"
”Aku mau menyambut tamu yang datang dulu, ya. Selamat nikmati pestanya, Sob."
Mia meremas jari tangannya dengan gelisah. Tak ada seorangpun yang dikenalnya kecuali Erik dan Kio. Erik sibuk mencoba mengambil hati Alice.
Mia mengekori Kio di belakangnya, menjaga jaraknya agar tidak terlalu dekat. Kio menyadari gadis itu mengikutinya. Saat menoleh ke belakang, gadis itu pura-pura memperhatikan sesuatu.
Kio mendengus kesal. Setelah menyapa tamu yang datang, ia berbalik menghadap gadis itu. Mia terperanjat kala laki-laki itu sudah berdiri di hadapannya.
"Apa maumu, sih?" serunya dengan nada kesal.
"Apa Maisa bakal ikut, kan? Aku tidak punya kenalan lagi."
"Memangnya itu urusanku. Aku sibuk!"
Kio meninggalkannya sendiri di tengah kerumunan. Pesta hampir dimulai. Maisa belum muncul membuatnya sedikit gelisah. Erik mendekatinya.
“Ada apa? Wajahmu kelihatan muram,” tanyanya.
Mia menggelengkan kepala.
"Mana Alice?" Alih-alih menjawab pertanyaannya, Mia balik bertanya. Ia tak melihat Alice di samping Erik
Erik menggerakkan ibu jarinya menunjuk arah samping. Tak jauh dari keduanya, Alice berbincang dengan seseorang laki-laki memakai setelan biru, terlihat nyentrik.
__ADS_1
"Oh, dia lagi berbincang-bincang dengan Albert. Jangan khawatir dengannya. Yuk, kita duduk di depan. Acaranya hampir dimulai." Erik menggerakkan lengannya.
Mia tersenyum menyisipkan tangannya, memeluk lengan Erik. "Terima kasih sudak mau menemaniku, Kak."
"No problem. Aku sudah janji bakal menemanimu sampai acara berakhir."
Ken datang tepat saat acara belum dimulai dengan menggandeng tangan Maisa. Semua mata tertuju pada keduanya.
Ken terlihat tampan mengenakan kemeja putih dan jas hitam sedikit warna mocca di kerah dan sakunya. Jas dibiarkan terbuka, satu kancing di kerah dibiar tidak terkancing. Di sampingnya berdiri seorang gadis cantik memeluk lengannya.
Kio kaget melihatnya. Erik dan Mia pun demikian. Mereka tak menyangka Ken terang-terangan menunjukkan kemesraannya di depan publik. Secara tak langsung mengatakan gadis itu adalah kekasihnya.
“Sorry kita berdua telat," ujar Ken sambil berjabat tangan dengan Kio.
Ketiga pasang mata memperhatikan Maisa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seolah tak percaya dengan penglihatannya. Penampilan gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat, dari kesan tomboi menjadi cantik. Maisa merasa aneh dipandangi seperti itu.
"Apa aku terlihat jelek?" ujarnya memperhatikan lagi gaun yang dikenakan.
Mia menggelengkan kepala. Ia mengacungkan dua jempol tangannya. "Kamu cantik, kok. Gaun itu cocok untukmu."
Pak Chandra menggepalkan tangannya. Matanya tertuju pada Maisa yang tertawa bersama teman-temannya. Andai istrinya masih hidup, ia pasti akan tertawa bahagia bersamanya. Kalau saja bukan karena anak itu.
"Oh iya. Untuk rencana kedepan ...." Pak Chandra menjelaskan pada rekannya mengenai bisnis.
Acara ulang tahun Kio berlangsung meriah diiringi musik rap dan blues. Anak-anak muda mulai berjoget mengikuti alunan lagu. Maisa memilih duduk. Seorang wanita cantik tak lain Alice menghampiri dan duduk di depannya, menyilangkan kakinya. Sikapnya masih saja angkuh dengan tatapan meremehkan.
"Tak kusangka kau dan Ken masih bersama. Tapi aku ingin tahu sampai kapan ini akan bertahan."
Maisa menahan kekesalannya. Menghadapi rubah licik di depannya ini tak perlu dengan kekerasan, tak perlu emosi. Cukup dengan senyuman. Ibu jarinya memainkan kuku tangannya yang berwarna merah muda.
"Ah... Mbak Alice bisa saja. Tapi bagaimana ya? Aku dan Ken sudah sama-sama bucin."
Maisa menopang dagunya dengan kedua tangannya. Kepalanya dimiringkan sedikit. Bibirnya mengembang membentuk senyuman mengejek.
Alice mengepalkan tangannya, memukul meja cukup keras. Matanya berkilat, rahangnya terkatup. Terlihat jelas ia mencoba menahan amarahnya. Orang-orang yang duduk tak jauh darinya memandangnya heran.
Maisa masih mempertahankan senyumnya. Dalam hati ia ingin segera mengusir rubah licik itu menjauh.
Ken melihat dua perempuan itu bersitegang. Hanya saja gadisnya terlihat mampu manangani situasi. Ia terkekeh pelan.
Gadis ini benar-benar menggemaskan.
__ADS_1
Laki-laki itu memisahkan diri dari kedua temannya. Ia menghampiri Maisa, duduk disampingnya. Tangannya merangkul bahunya, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu.
"Perlu bantuan, Dek?" bisiknya pelan.
"Tak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri."
Maisa menoleh ke arahnya. Jarak keduanya sangat dekat. Terlihat pipi gadis itu merona merah. Maisa mendorongnya menjauh.
Wajah Alice merah padam. Ia beranjak pergi tanpa mengatakan apapun, menghampiri Erik. Hanya laki-laki itu yang akan membelanya.
Ken memperhatikan Maisa cukup lama, membuat gadis itu salah tingkah. Maisa pura-pura melihat ke arah muda mudi yang berjoget. Tatapan laki-laki itu masih terasa menembus punggungnya.
Ekor matanya melihat sepasang muda-mudi berpelukan mesra di pojok. Laki-laki itu memeluk pinggang sang gadis dan gadis itu mengalungkan tangan ke lehernya.
Mata gadis itu melebar menyadari keduanya tengah berciuman. Ken mengikuti arah pandangan Maisa. Ia tersenyum, menarik gadis itu mendekat dan mencium pipinya.
Maisa melotot, mengangkat alisnya. Ia memukul laki-laki itu. Wajahnya memerah. Ken hanya tertawa, menyenangkan menggoda gadis itu.
Kedua temannya yang melihat dari kejauhan saling berpandangan. Mia tersenyum senang dengan hubungan baik sepasang kekasih itu.
“Ken benar-benar menyukai gadis itu. Sampai tak percaya aku melihatnya," ujar Erik.
“Lihat saja nanti. Aku akan merebut Ken dari perempuan itu," tukas Alice dengan tatapan mata nyalang.
"Maisa tak akan selemah itu bisa dikalahkan orang sepertimu, Mbak," ujar Mia menyanggah. Sudut mulutnya mencibir. Ia kesal dengan gadis licik di depannya ini.
"What's?"
"Sudah! Sudah!" Erik menengahi keduanya.
Seusai acara, Kio menyibukkan diri di kamarnya. Membuka kado dari tamu yang datang. Ada dua kado yang belum dibuka. Sebuah kotak kado berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih.
Kio membuka kotak kado berwarna hitam lebih dulu. Ternyata itu dari adiknya. Isinya sebuah dompet, ikat pinggang dan sebotol parfum. Di atasnya ada secarik kertas ucapan selamat.
Selamat ulang tahun, Kak. Semoga Kak Kio suka hadiah dariku.
Kio tersenyum membacanya. Ia lanjut membuka kotak kado berwarna putih. Sebuah syal rajutan warna putih terlipat rapi. Ada selembar kertas terselip didalamnya.
Selamat ulang tahun, Kak. Aku tidak tahu apa Kak Kio bakal suka. Aku membuat syal ini khusus untukmu. Dari orang yang menyukaimu, Mia.
Kio termenung memandang syal itu. Syal itu dirajut dengan baik. Bulu-bulunya terasa lembut dan motif syalnya bagus, dibuat dengan penuh ketulusan. Hatinya sedikit bimbang. Apa ia perlu memberi kesempatan pada gadis itu?
__ADS_1