Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.56 Minggat


__ADS_3

"Pa, hentikan! Apa yang Papa lakukan pada Maisa? Dia juga bagian keluarga ini!" seru Kio pada pak Chandra yang masih terlihat murka.


Ia tak menyangka ayahnya akan mengusir Maisa dari rumah. Melihat wajah terluka gadis itu, dadanya terasa nyeri. Ia tak suka perasaan itu. Apa Maisa pantas mendapatkan perlakuan itu?


Kio mulai mempertanyakannya pada dirinya sendiri. Harus diakuinya dirinya dulu juga mengabaikan gadis itu. Semakin menyakiti gadis itu, hatinya juga semakin sakit. Setelah peristiwa video itu ia mencoba bersikap baik meski kadang masih mengacuhkannya.


"Biarkan saja dia pergi. Memangnya bisa apa di luar sana?" sergah pak Chandra dengan geram.


Kio mengusap rambu belakang dengan kedua tangannya. Frustasi. Apa ayahnya lupa siapa yang ada di belakang gadis itu. Keluarga Ken menyukainya dan siap membantu kapanpun ia mau. Melihat kedekatan mereka tentu saja sudah dapat diterka. Belum lagi Ken pasti tidak akan membiarkan gadis itu.


"Kalau Maisa kenapa-kenapa bagaimana?"


"Hah! Itu bukan urusanku!"


"Lalu bagaimana perusahaan Aery Corp?"


Pak Chandra termenung sejenak. "Mereka tidak akan melakukan hal bodoh karena alasan pribadi."


Kio menganga mendengar alasan dari ayahnya. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Di dalam kamarnya Maisa mengemasi semua barangnya ke koper. Beberapa lembar pakaian dan beberapa barang yang terlihat penting. Air mata jatuh beurai menganak membentuk sungai kecil. Pipi kirinya terasa berdenyut bekas tamparan. Ia mematut diri di depan cermin. Benar saja, pipinya terlihat memerah.


Gadis itu mengusap air mata dan membuang ingusnya dengan tisu. Dirinya kini terlihat begitu menyedihkan. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kio berdiri di depan pintu.


"Jangan pergi, Sa. Ayo minta maaf sama Papa," pinta Kio mencoba membujuk gadis itu


Maisa memutar bola matanya dengan malas. "Tidak mau! Aku tidak melakukan sesuatu yang salah, Kak. Untuk apa aku minta maaf. Aku bagian dari keluarga ini tapi sepertinya hanya angin lalu."


"Tapi aku tidak menganggapmu begitu."


"Hah!" Maisa menatap tajam ke arahnya.


"Oke. Dulu aku memang begitu. Tapi sekarang aku tidak begitu."


Maisa masih menatapnya tajam. Kio meringis canggung. Ia mensejajarkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Sedikit. Kio mau membuka mulutnya tidak jadi. Gadis itu lebih dulu menutup pintu.


Maisa menjatuhkan dirinya ke kasur, bergelung selimut. Ia tak ingin memikirkan apapun hari ini.


Keesokan harinya Maisa menarik kopernya ke bawah. Kio menghadang, merebut koper itu dari tangannya.

__ADS_1


"Jangan pergi, Sa. Aku mohon!" ujarnya dengan nada memohon.


"Sudah kubilang biarkan saja kalau dia mau pergi. Memangnya bocah sepertinya bisa apa?" seru pak Chandra dari dalam rumah.


Maisa berusana memasang mimik datar di wajahnya. Hatinya terasa tak berbentuk mendengar ucapan ayahnya. Apa sebegitu tak berharga lagi dirinya di mata ayahnya. Ia menepis tangan Kio dan merebut kembali koper itu. Kio hanya bisa memandang gadis itu menghilang di balik pagar.


"Pak, tolong antarkan ke Hotel Wahid ya," ujar Maisa pada supir taksi yang berhenti di hadapannya. Matanya tertuju pada objek jalanan di samping kiri.


Taksi yang ditumpangi berhenti di hotel melati. Bangunannya bersih dan terawat. Sepadan lah dengan harganya. Ia perlu tinggal di sini paling tidak dua hari sampai menemukan kos-kosan atau rumah kontrakan ukuran kecil.


Maisa mencatat semua keperluan untuk hidup mandiri. Beruntung dirinya memiliki tabungan hasil menjual lukisan buatannya dan youtube miliknya. Jadi tak masalah jika harus hidup mandiri. Ponselnya berdering beberapa kali, dibiarkan tergeletak begitu saja.


...****...


Ken mengetuk pintu rumah Maisa. Kio membukakan pintu dengan wajah sayu. Sepanjang jalan Ken merasakan perasaan tak enak. Ia mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan. Tak ada sosok Maisa di sana.


"Di mana Maisa, Ki?"


"Aku tidak tahu," balas Kio pelan, duduk termenung di sofa.


"Apa maksudmu? Memangnya dia kemana?"


Netranya melebar, darah mendesir merangkak naik di wajahnya. Giginya menggertak. Ken menarik kaos Kio, melayangkan tinju ke wajahnya. Kio itu terlihat pasrah, tak melawan.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya."


Kio menceritakan semua masalahnya. Ken tertawa miris. Merasa konyol hanya karena alasan sepele, mereka mengusir gadis itu.


"Dan kau tak menahannya?"


"Aku sudah mencoba."


"Lalu kau membiarkannya pergi begitu saja. Bukannya kau itu kakaknya. Harusnya kau menemaninya, bukan malah membiarkannya pergi. Apa kau ini benar-benar keluarganya?"


Ken meninggalkan Kio yang masih membisu. Ia mencoba menghubungi gadis itu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Ia hanya bisa berharap gadis itu baik-baik saja.


Ken menelepon seseorang yang dikenalnya. Ia mau tak mau menggunakan koneksi dengan perusahaan Aery Corp milik ayahnya.


"Halo, Pak Bram. Aku minta tolong temukan seseorang secepatnya. Datanya sudah kukirimkan. Tolong kabari secepatnya."

__ADS_1


Sementara itu Maisa tertidur seharian sampai tak mendengar bunyi telepon. Matanya terbuka ketika hari mulai petang. Ia menguap lebar, menggerakkan kedua tangannya, melemaskan otot badannya yang kaku.


Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Sebelah alisnya terangkat. Siapa gerangan yang mengetuk pintu kamarnya sore-sore begini. Maisa membuka pintu sedikit, mengintip dari celahnya. Seseorang menerobos masuk, langsung memeluknya. Pintu di depannya tertutup dengan keras.


"Kak Ken? Kenapa bisa ada di sini?" suara gadis itu terdengar serak.


Ken melepaskan pelukannya. Menatap gadis itu lekat-lekat. Ia meraba pipi Maisa yang memerah. Ken merasa marah pada dirinya tidak bisa menjaga gadis itu.


"Kenapa tidak minta tolong padaku, Sa? Aku sangat mengkhawatirkanmu saat kamu menghilang begitu saja."


"Maaf, Kak. Aku tidak ingin merepotkanmu."


"Jangan berkata begitu. Tolong bersandarlah padaku. Aku sudah berjanji akan menjagamu."


Maisa mengangguk pelan. Ia keluar hotel mengenakan celana jogging hitam dan hoodie berwarna mint. Ken mengajaknya makan malam di warteg tak jauh dari hotel.


"Aku akan membantumu mencari rumah."


"Tapi...."


"Jangan menolak!"


"Baik!"


Pagi harinya Ken datang mengendarai mobil menjemput Maisa untuk mencari rumah kontrakan. Selama perjalanan, Maisa lebih banyak membisu.


"Aku merekomendasikanmu beberapa rumah. Mau melihat semuanya."


"Boleh. Cepat sekali dapat infonya, Kak?"


"Siapa dulu dong kalau bukan pacarmu yang tampan ini."


Maisa tertawa kecil dengan kenarsisan Ken. Ken ikut tertawa. Ia senang gadis itu mulai menampakkan senyumnya. Keduanya menjelajahi rumah yang mau dikontrakkan. Semuanya ada empat rumah. Lokasinya tak jauh dari kampus.


Keduanya singgah di rumah terakhir type 36. Halamannya hijau tertata rapi. Ada sebatang pohon rambutan di halaman depan. Setelah melihat isinya, Maisa menyukai rumah ini. Suasananya terasa sejuk dan nyaman.


"Aku mau ambil yang ini," ujarnya tersenyum pada Ken.


"Oke, Beb."

__ADS_1


Ken membeli rumah itu tanpa sepengetahuan gadis itu.


__ADS_2