Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.20 Posesif


__ADS_3

Kampus A mengadakan pertandingan persahabatan untuk memperingati hari universitas. Mengundang beberapa kampus, namun ada juga yang mendaftar mengikuti lomba. Acara digelar sangat meriah. Umbul-umbul dan bendera merah putih terpasang di setiap sudut kampus. Tak ketinggalan bendera kampus yang ikut pertandingan persahabatan terpampang.


Ada karnaval dengan dekorasi meriah digelar turut menyemarakkan. Tak ketinggalan, pawai sepeda dan mobil hias juga turut memeriahkan. Terdapat gapura masuk kampus dari bambu, dengan tema ‘back to nature’. Tiang bambu disusun membentuk lingkaran dan melengkung di tengah-tengah. Lengkungan gapura dibuat dari anyaman bambu, serta potongan bambu yang disusun abstrak.


Even olahraga yang digelar yaitu bulu tangkis, basket, voli dan futsal. Untuk tim basket tentu saja diwakili oleh Ken dan rekan se klubnya, laki-laki yang jago main basket serta manajer baru tim mereka, Mia. Maisa turut melihat pertandingan basket dari bangku penonton. Pertandingan demi pertandingan makin sengit. Tim Ken unggul dalam permainan. Dia juga memperhatikan Mia yang memberikan aba-aba pada timnya. Maisa tersenyum sendiri, sahabatnya cukup bisa diandalkan.


“Manager tim mereka tidak buruk juga, ya!” kata seseorang membuyarkan perhatiannya.


Maisa menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Seseorang yang sangat dikenalnya. Seorang laki-laki berparas tampan mengenakan seragam basket berwarna putih dengan layer merah. Di bahunya tersampir jaket olahraga tim dengan warna senada. Rambut dengan model undercut messy membuatnya tampil maskulin. Laki-laki itu duduk di sampingnya. Ia mengalungkan tangannya ke bahu Maisa. Maisa melihatnya dengan mata berbinar.


“Kak Jain! Aku tidak menyangka kalian juga ikut. Jauh loh dari Jogja ke sini.” katanya dengan nada tak percaya.


Jain mencubit hidung gadis itu dengan gemas, mengacak-acak rambutnya. Ia tersenyum tipis, senyuman yang bisa membuat wanita manapun meleleh.


“Ya walaupun jauh, kita harus datang juga dong. Kan demi ketemu kamu.” Dimulailah kata-kata gombal dari Jain.


Maisa tertawa lebar. Evan dan beberapa anggota tim basket Universitas Y duduk di belakangnya. Ia menyapa semuanya dan beradu tinju persahabatan. Kiki, gadis berambut panjang sepunggung memeluk Maisa, melepaskan rindu.


"Kamu suka tidak kejutan dari kita?" Kiki berbisik ke telinga Maisa.


"Suka dong. Aku tidak menyangka kalian bakal datang ke sini." Maisa balas dengan nada berbisik.


Kiki dan Maisa duduk bersebelahan, berbincang seputar pertandingan nanti. Sesekali Jain menyela. Wajahnya terlihat memberengut diabaikan oleh keduanya.


“Jadi kapan tim kalian bertanding?" Tanya Maisa lagi.


“Setelah pertandingan ini. Dukung kami, ya!” Jain menyahut.


“Maunya sih! Hm... gimana ya. Tapi nanti dikira berkhianat dengan fakultas sendiri. Oh ya, kalian menginap dimana?”


“Kami menginap di Hotel JW tidak jauh dari sini. Kenapa? Mau ikut?” kata Evan dengan tatapan berkelakar.

__ADS_1


“Ih... Evan semakin norak.” Maisa menjawab dengan nada bercanda disambut tawa semuanya. Jain menoyor kelapa Evan.


Suara riuh menonton bercampur tepuk tangan. Ken dan timnya berhasil memenangkan pertandingan. Setelah berjabat tangan dengan lawan main, mereka melakukan tos dengan Mia. Maisa tersenyum. Hasil pertandingan penyisihan dimenangkan tim Ken.


Selanjutnya pertandingan Universitas Y melawan Universitas lainnya. Jain beserta timnya turun ke lapangan, tak lupa Kiki sebagai manager mereka. Sebelumnya ia bertos ria dengan Maisa. Maisa memperhatikan pertandingan dengan penuh semangat.


Ken beserta timnya tengah beristirahat di aula yang telah disiapkan. Mia terlihat senang karena bisa mendampingi mereka lolos ke babak selanjutnya. Ini kali pertamanya mengikuti pertandingan sejak menjadi manajer tim.


“Lumayan juga pertandingannya. Lawan kita cukup tangguh.” Kata Erik sambil mengibas-ngibaskan bajunya yang basah karena keringat.


“Semoga besok lebih baik lagi. Jadi kalian harus jaga stamina.” kata Mia turut berkomentar.


Pertandingan akan diadakan selama tiga hari. Besok babak perempat final dan besoknya lagi masuk ke final. Meski memenangkan pertandingan pertama, wajah Ken terlihat tak senang. Pasalnya ia melihat gebetannya sangat akrab dengan tim lainnya. Gadis itu terlihat bahagia dan tertawa senang. Bahkan dia tak menepisnya saat laki-laki di sampingnya merangkulnya. Hatinya terasa panas. Ingin rasanya menghantam wajah laki-laki itu.


Ken ke bangku penonton, menghampiri Maisa yang memberikan sorak sorai kepada tim Jain. Sesekali mulutnya menyedot es cappucino. Ken langsung duduk di samping kanannya setelah menyuruh perempuan yang duduk di sebelah gadis itu untuk pindah tempat. Gadis itu pergi dengan wajah masam. Ia merebut cappucino di tangannya, menyeruput hingga tandas. Tangan kirinya merangkul bahu Maisa. Maisa menoleh ke arahnya.


"Kak, tidak baik habis olahraga minum es." Ujarnya pelan.


Maisa memindahkan tangan Ken dari bahunya. Lagi-lagi Ken merangkulnya. Maisa menyerah, membiarkan Ken sesukanya. Matanya tidak berkedip memperhatikan gelas minumannya yang kosong, beralih ke bibir Ken. Pikirannya berkelana kemana-mana. Pipinya merona merah. Menutupi bibirnya dengan punggung tangannya. Mencoba mengalihkan pandangannya ke pertandingan Jain.


Ya ampun. Itu ciuman tidak langsung.


Ken terus memandangi Maisa yang makin lama wajahnya memerah hingga ke telinga. Gadis itu tidak berani menatap matanya, salah tingkah.


Bola basket melayang ke arahnya. Maisa berniat menangkapnya, namun kalah cepat dengan Ken. Ken melemparkannya ke lapangan. Jain tersenyum ke arah Maisa, melambaikan tangannya dan mengacungkan tinju semangat. Maisa membalas mengacungkan tinju.


Grr... Ken semakin terlihat kesal dengan keakraban keduanya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Maisa. Menutup matanya, pura-pura tertidur. Maisa langsung panik. Doa menggoyangkan bahu Ken. Namun laki-laki itu tidak bergeming. Maisa memperhatikan sekelilingnya. Beberapa orang berbisik-bisik melihat ke arahnya. Jain dan teman-temannya memberikan finger heart padanya. Mereka berhasil memenangkan pertandingan. Lengkap sudah. Maisa menutupi wajahnya dengan tasnya. Ken diam-diam meliriknya, tersenyum melihat ekspresi cute gadis itu.


Maisa berniat menghampiri Jain beserta temannya, namun tangannya ditahan oleh Ken. Gadis itu sedikit kebingungan dengan sikapnya. Apa ada yang salah? Ken terlihat posesif. Maisa menyingkirkan pikiran konyol barusan.


"Kak, aku mau temu kangen sama temanku dulu ya. Mereka datang jauh-jauh dari Jogja."

__ADS_1


Dengan berat hati, Ken melepaskan tangan Maisa. Gadis itu berlari menghampiri Jain. Erik menghiburnya dengan menepuk-nepuk bahunya.


"Sudah kubilang dia bukan gadis yang baik." Kio mendengus.


"Diam kau!" Sentak Ken kesal.


...****...


Di sebuah resto minimalis bergaya barat di selimuti temaram lampu, Maisa bersantai dengan teman lamanya. Kebetulan belum begitu banyak pengunjung. Mereka leluasa bercengkrama melepas kangen.


"Pacarmu posesif, ya. Dia terus melototi sampai kita ke luar kampus."


Maisa terkejut mendengar perkataan Jain. Evan dan Kiki mengangguk mengiyakan. Ah masa iya. Ia mengusap lehernya yang tidak berkeringat. Memperhatikan lekat-lekat mereka bertiga.


"Dia bukan pacarku. Kita cuma teman dekat."


"Teman tapi mesra kan maksudnya." Celetuk Kiki menggoda Maisa.


Wajah Maisa memerah hingga ke telinga. Dia berdehem dan menyedot minumannya. Jain memperhatikan Maisa yang salah tingkah. Ia menepuk-nepuk kepala gadis itu.


"Aku bukan anak kecil tau." Maisa menepis tangan Jain.


"Wah, sekarang Maisa sudah besar ya." Jain terkekeh pelan.


Kiki berdehem pelan. Pipinya menggembung, bibirnya manyun. Jain tersenyum melihat tingkah gemasnya. Tangannya meraih tangan Kiki.


"Beb, hatiku cuma untukmu seorang."


"Ugh... Mulai lagi dia."


Evan menyenggol Maisa yang ada di sebelahnya. Gadis itu tertawa melihat pasangan mabuk cinta di hadapannya. Jain sudah seperti kakak baginya. Meski kadang sikapnya overprotektif membuat Kiki pacarnya cemburu. Sejak kecil Jain selalu seperti itu. Saat ini dia merasa bahagia bertemu dengan orang-orang yang disayanginya. Rasa kangen pun terobati.

__ADS_1


__ADS_2