Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.50 Kenyataan Pahit


__ADS_3

Maisa merasa ototnya tak memberinya kekuatan untuk menyangga kakinya. Tubuhnya limbung, terduduk di sofa. Kedua tangannya gemetar. Harapan Maisa langsung sirna begitu mendengar kabar dari Ken. Jain dan Kiki masuk dalam daftar korban yang tewas.


"Tidak... Ini tidak mungkin."


Tangis gadis itu pecah seketika. Jain orang yang sangat berarti baginya. Selalu menjaga dan menghiburnya. Ia sudah seperti kakak untuknya. Ken memeluknya, menepuk-nepuk pungungnya pelan.


Maisa teringat apa yang dikatakan Jain, Evan, dan Kiki sebelum pulang ke Yogyakarta beberapa waktu lalu.


“Pertandingan kemaren sangat menyenangkan. Kamu tahu, itu adalah hal yang paling menyenangkan yang pernah kualami selama ini ketika bersama dengan mu,” kata Jain.


“Maksudnya?”


“Maksudnya kau kemaren bermain dengan sangat hebat,” kata Evan menambahkan.


“Benarkah? Kenapa aku tidak menyadarinya, ya?”


“Mana bisa kau menyadarinya! Kau kan selalu berfikiran pendek.” Kiki tertawa lebar.


“Kalian jahat!”


“Kapan-kapan ayo kita bertanding. Berjanjilah akan bermain bersama kami. Oke!” kata Jain menonjok lengan Maisa. Senyum lebar menghias wajahnya.


Maisa membalas senyumannya. “Oke!”


“Yah, setelah ini kita pasti sulit untuk bertemu," ujar Kiki pelan.


“Jangan begitu. Aku jadi ingin menangis!”


“Jangan menagis! Kau ini kan cewek yang kuat," pungkas Jain mengusap rambut Maisa lembut.


Maisa terisak-isak di pelukan Ken. Tangannya meremas kuat kaos laki-laki itu. Air matanya mengalir deras dipipinya. Maisa memukul dada bidang Ken dengan kedua tangannya.


“Kak Jain jahat! meninggalkan aku sendiri. Padahal kamu kan sudah janji padaku akan bertanding basket lagi.”


Kio turut memeluk gadis itu, membiarkan gadis itu meluapkan perasaannya. Setidaknya itulah yang ia bisa lakukan saat ini untuk adiknya. Ia tahu betul rasa sakit kehilangan orang yang disayangi. Untuk kedua kalinya Maisa kehilangan sosok yang ia sayangi.


...*****...


Maisa menaburkan bunga di makam kedua sahabatnya. Wajah gadis itu terlihat sembab, kantung matanya terlihat gelap. Sekuat tenaga ia mencoba menahan air mata yang siap menerjang keluar.


Ken duduk di sampingnya, menepuk lembut punggungnya. Kio juga datang menemaninya. Tak jauh darinya ada Evan yang terlihat terpukul.

__ADS_1


Jain dan Kiki dimakamkan di kampung halamannya, Yogjakarta. Semilir angin dingin menusuk kulit. Langit berubah mendung, seolah turut berduka. Hampir tiga jam Maisa duduk bersimpuh di sana. Evan menghampiri dan berjongkok di sampingnya.


"Sa, ayo kita kembali," bujuknya dengan lembut.


Maisa menggelengkan kepala. Tatapannya masih tertuju pada kedua makam sahabatnya. Evan meraih tangannya, menggenggamnya lembut.


"Sa, lihat aku. Aku juga terpukul dengan kepergian mereka. Ujian yang diberikan padaku ternyata tidak cukup hanya dengan aku kehilangan Lucy. Aku tahu kaupun juga begitu. Jadi ayo kita harus sama-sama kuat menghadapi semua ini."


Maisa mengangguk pelan, memaksakan diri untuk tersenyum. Ken memapahnya meninggalkan tempat pemakaman. Ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang.


Kak Jain, Kiki. Aku tidak akan pernah melupakan kalian.


Sudah tiga hari Maisa mengurung diri di kamar. Telepon dari Mia tidak dijawab. Nenek Amber sibuk membujuknya untuk memakan dan juga menghiburnya. Akan tetapi gadis itu tetap tak bergeming sedikitpun, mendekam dengan dunianya sendiri.


Kio merasa tak nyaman dengan suasana seperti ini. Ia merasa ada yang hilang. Hari dimana dirinya bertengkar dengan Maisa tidak ada lagi.


Kio menerobos masuk ke kamar Maisa. Dilihatnya gadis itu tengah duduk menghadap jendela dengan tangan bertopang dagu. Pandangannya kosong, tidak menyadari kedatangan Kio.


“Sampai kapan kamu begini terus, Maisa!” kata Kio dengan nada tinggi.


Maisa tak bergeming. Kio berkacak pinggang sedikit kesal dibuatnya.


Maisa kaget dan menoleh. Ia memandang kearah Kio sejenak dan kembali memandang jendela. Sikapnya dingin.


Kio menarik Maisa dan menekannya ke jendela.


“Kau mu apa, Kak? Lepaskan aku!” seru Maisa marah.


"Jangan membuatku marah, bodoh! Sampai kapan kau akan begini? Kau pikir dunia ini sempit apa? Pikirkan lagi. Masih ada orang yang menyayangimu. Kakek, Nenek, Evan atau siapa lah itu. Ada juga Ken dan aku.”


Mendengar itu, Maisa menatap Kio dengan mata berkaca-kaca. “Kak Jain temanku sejak aku kecil, sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Kiki, dia sahabat yang mengerti aku seperti Lucy. Padahal aku tak ingin kehilangan siapapun lagi. Rasanya menyakitkan. Mengingatnya saja, aku hampir tidak bisa bernapas rasanya.”


Kio menarik napas dalam-dalam. Menarik gadis itu dalam pelukannya. Tak tahu harus berkata apa lagi. "Aku tahu. Maafkan aku sudah marah padamu."


Ken yang sejak tadi berdiri di depan pintu tersenyum, meninggalkan keduanya. Duduk di teras depan, menikmati semilir angin yang menerbangkan helaian dedaunan kering.


Syukurlah, Sa. Semoga kau dan Kio menjadi dekat. Aku hanya berharap kamu bisa bahagia.


Sekembalinya dari Yogyakarta, Kio lebih banyak terbegong-bengong sendiri. Hampir sulit dipercaya jika dirinya menghibur Maisa. Padahal ia tidak sedekat itu.


Saat melihat gadis itu menangis, jantungnya terasa nyeri. Sebongkah rasa tak nyaman menyesaki rongga dadanya. Ia tak ingin melihatnya menangis. Kio mengacak-acak rambutnya, tak mengerti perasaannya sendiri.

__ADS_1


Erik menepuk pundak Kio membuatnya sedikit terkejut. Ia sadar teman-temanya tengah memperhatikannya.


“Sepertinya akhir-akhir ini tingkahmu aneh. Tidak di kampus, di lokasi pemotretan, di tempat nongkrong juga. Punya masalah apa?”


“Tidak ada. Untuk apa bahas masalah itu, lagi nongkrong juga,” kata kio sekenanya.


Erik dan Albert saling bertukar pandangan. Keduanya mengerutkan kening. Kio menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Ia melihat kesekelilingnya. Banyak orang yang bersiap-siap untuk pemotretan. Kio sadar jika dirinya salah menjawab.


“Maksudku, kita ada di tempat pemotretan sekarang,” seru Kio gelagapan.


Albert memijit kepalanya. “Sebaiknya kau istirahat beberapa hari sana. Aku tak mau pemotretannya kacau.”


...****...


Kio kembali merenung di kamarnya. Buku yang baru saja dibaca dibiarkan tergeletak di meja. Pak Chandra masuk ke kamarnya. Ia cukup terkejut, jarang-jarang ayahnya masuk melakukan itu.


“Ada apa, Pa?”


“Tidak. Hanya saja kupikir kamu ada masalah. Papa perhatikan dari kemaren sikapmu sedikit aneh. Apa kau sudah terpengaruh oleh sikapnya Maisa yang aneh?”


“Aneh? Memangnya apanya yang aneh? Lebih baik Papa mengkhawatirkan Maisa saja.”


“Maisa? Kenapa dengannya?”


“Kenapa tidak Papa lihat sendiri?" Kio menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Akhir-akhir ini ia merasa aneh tidak seperti dirinya yang biasa.


Mengikuti saran putra tunggalnya, pak Chandra memasuki kamar Maisa. Gadis itu tidak ada di kamarnya. Ia berdiri di balkon, menatap langit gelap berteman kelap kelip bintang. Rambutnya yang pendek bergerak-gerak diterpa angin malam. Pak Chandra menghampirinya.


“Apa yang kau lakukan disini? Memandangi langit?”


Maisa menoleh mendengar suara ayahnya. Wajahnya lebih tegar dari yang sebelumnya. “Iya. Malam ini langit terlihat bagus. Banyak binatang-bintang bermunculan. Anginnya juga sejuk.”


Pak Chandra memperhatikan Maisa sebentar. Tak menemukan keanehan di sana. Gadis itu tampak seperti biasa, meski awalnya ia menangis histeris.


Sepertinya dia baik-baik saja.


“Oh, ya! Ada apa, Pa? Apa aku membuat kesalahan lagi?”


“Tidak!”


Pak Chandra segera pergi. Maisa memandangnya heran. Tapi ia tak ambil pusing, karena memang begitulah sikap ayahnya. Ia merasa lelah. Lebih baik memilih melanjutkan menikmati langit malam.

__ADS_1


__ADS_2