
"Apa yang kau pikirkan sekarang, Kak?" tanya Mia pada Kio yang duduk di sampingnya.
Laki-laki itu tidak fokus bermain basket. Sudah hampir tak terhitung bola yang berhasil direbut dari tangannya. Belum lagi tembakan ke ring meleset semua.
Kio menyandarkan punggungnya ke punggung gadis itu. Tangannya menyeka keringat yang menetes di lehernya. Sekejap ia menghabiskan sebotol air mineral hingga tandas. Tatapannya lurus ke arah mahasiswa yang lalu lalang di pinggir lapangan basket.
Maisa tak terlihat di kampus hari ini. Hanya ada Ken yang masih latihan basket one on one di lapangan berhadapan dengan kapten. Ken sama sekali tak mau membuka mulutnya saat menanyakan keberadaan Maisa.
"Apa ini berkaitan dengan Maisa?" tanya Mia lagi setelah tidak mendapat jawaban dari laki-laki itu.
Kio mengangguk pelan. Mia ingin mendamaikan keduanya. Sebelum membuka mulutnya, teleponnya berdering lebih dulu.
"Mau menemuinya. Akan kubantu." Mia tersenyum memperlihatkan nomor yang tertera pada layar teleponnya. Itu Maisa. Mia menerima telepon dari gadis itu. Cukup lama ia berbincang dengannya.
Kio hanya memperhatikan gadis yang sudah menjadi kekasihnya. Jika tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Maisa, akankah Mia akan membencinya.
Mia menarik tangan laki-laki itu. Gadis itu tersenyum riang. "Yuk, ikut denganku. Lagi pula latihan hari ini sudah selesai."
Kio memperhatikan papan nama yang tertulis di sana. Sebuah toko roti sekaligus kafe. Ia melihat Maisa duduk seorang diri di dalam.
Mia mengamit tangannya, langsung menghampiri meja gadis itu. "Maaf lama, ya. Tadi di jalan agak macet.
Gadis itu mengambil kursi di hadapan Maisa. Mau tak mau Kio duduk di sampingnya. Ia memperhatikan wajah Maisa. Dalam hati ia bersyukur gadis itu baik-baik saja.
"Aku tidak menyangka kau akan membawa langsung pacarmu kehadapanku," ujar Maisa terkekeh kecil.
"Tak apa dong. Kamu juga sering membawa Ken saat bersamaku. Anggap saja balas dendam. Aku pesan dulu ya." Mia mengerlingkan mata ke arah gadis itu.
Maisa mengangguk. Tinggallah dirinya berdua dengan Kio. Laki-laki itu terlihat kebingungan ingin mengatakan sesuatu.
"Aku sudah mendengar dari Kak Ken kalau Kakak menyuruhnya menjemputku. Aku berterima kasih padamu. Berkat itu aku tidak melakukan sesuatu yang mengerikan," ujar Maisa memilih lebih dulu memulai pembicaraan.
Kio mengerutkan keningnya. Raut wajahnya terlihat penuh penyesalan. "Tapi aku tak melakukan banyak untuk membantumu."
__ADS_1
Maisa tersenyum tulus. "Tidak! Itu cukup buatku. Aku tahu kau tak lagi membenciku. Aku akan hidup sesuai dengan keinginanku sekarang. Jadi aku harap Kakak juga menjalani hidup sesuai keinginanmu juga."
Kio menggengam tangannya erat-erat dari balik meja. "Apa aku boleh melakukannya. Aku sudah banyak menyakitimu."
"Kenapa tidak boleh. Ya meskipun Kakak sedikit pengecut." Maisa tertawa kecil meledeknya.
"Hah? Aku tidak begitu."
Kedua netranya melebar. Kio merasa kesal dengan ejekannya. Di sisi lain ia juga senang adiknya menemukan kebahagiaannya sendiri.
Mia asik memilih beberapa pastry. Ia mengambil sebuah apple strudle, choux, dan pie buah. Sesampainya di meja, Maisa sudah tidak ada di sana.
Kio tersenyum tipis ke arahnya. Raut wajahnya terlihat berbeda. Keputusannya untuk membiarkan keduanya berbicara ternyata tepat.
"Kemana Maisa?"
"Dia sudah pergi," balas laki-laki itu pelan.
"Apa kau sudah merasa baikan, Kak?"
"It's okay. Aku tahu Kak Kio sedikit pengecut." Mia tertawa kecil.
Kio mendengus kesal. "Kenapa kau jadi seperti Maisa?"
"Tentu saja karena kami berteman." Mia nyengir dan menggerakkan dua jarinya membentuk huruf v.
Tatapan Mia tertuju pada dua lembar tiket ke taman hiburan di hadapan Kio. Ia meraihnya. Itu tiket masuk untuk baik biang lala. Laki-laki itu menyadari arah pandang Mia.
"Ini dari Maisa. Katanya dia tidak jadi jalan-jalan karena Ken ada job mendadak. Mau pergi ke sana?"
Mia merangkul Kio dengan wajah berbinar-binar. Kio memalingkan wajahnya. Ada rona merah di pipinya. Gadis itu tersenyum. Tingkahnya persis seperti Maisa. Apa karena mereka bersaudara?
Keduanya sudah masuk dalam antrian biang lala. Mia bersenandung senang. Kio menggenggam tangan gadis itu erat. Ia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Silahkan!" kata petugas penjaga antrian.
Kio membantu gadis itu naik ke dalam. Roda berputar lambat. Keduanya duduk terdiam saling berhadapan, memperhatikan kelap-kelip lampu kota Jakarta yang tak pernah ada matinya.
Kio mengeluarkan tangkai mawar merah dari balik jaketnya dan menyerahkan pada Mia. Gadis itu menerimanya dengan mata tak berkedip. Ia tahu artinya. Sepasang mawar merah melambangkan saling sayang dan cinta.
"Aku akan memberikanmu bunga mawar setiap kali berkencan." Kio tersenyum lembut padanya.
Jantung Mia berdetak kencang. Perutnya terasa bergejolak seperti ada kupu-kupu terbang. Ia tak tahu seperti apa wajahnya sekarang. Pasti sudah merona merah.
Ternyata Kio memiliki sisi romantis. Berbanding terbalik dengan sikap normalmya yang jutek dan suka mengabaikan orang lain.
Tiba-tiba ada getaran mengejutkan. Biang lala terhenti saat berada di puncak. Mia terdorong ke depan dan jatuh dalam pelukan Kio. Jarak keduanya sangat dekat. Mia dapat merasakan napas laki-laki itu menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata.
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibinya. Gadis itu mengeratkan cengkeraman tangannya di jaket Kio. Biang lala bergetar dan mulai bergerak lagi. Keduanya duduk bersampingan, agak menjauh.
Suasana terasa canggung. Mia tak berani memandang wajah laki-laki itu. Tangannya memegang bibirnya. Kio juga membuang muka ke samping, melihat pantulan gadis itu. Ia tersenyum tipis menyentuh bibirnya sendiri. Keduanya memikirkan hal serupa.
Itu ciuman pertamaku.
Sementara itu, pak Chandra merebahkan dirinya ke sofa. Kepalanya terasa berat. Ia baru saja menelepon ayah dan ibunya di Jogja, bertanya tentang riwayat kesehatan Maisa.
Kenapa kamu baru menanyakan itu sekarang Chandra. Aku sudah memberi tahu sejak lama, Maisa sudah mengalami depresi sejak kau meninggalkannya di sini. Aku sudah bilang padamu tak baik meninggalkannya di sini. Anak itu terus menyalahkan dirinya sendiri dan selalu bermimpi buruk. Aku tak sampai hati melihatnya. Beruntunglah dia memiliki teman yang baik di sini.
Terdengar bunyi bel. Bi Tari membukakan pintu. Ternyata Maisa yang datang berkunjung. Ia mengantarkan gadis itu ke ruang tengah. Di sana ada ayahnya tengah tiduran di sana.
Pak Chandra segera bangun begitu mengetahui siapa yang datang. Maisa langsung duduk dihadapannya.
"Apa yang ingin kau katakan?" ujar pak Chandra dengan nada berat.
Maisa mengerutkan keningnya. Wajah pak Chandra terlihat lelah. Kantung matanya mulai menghitam. Ada sedikit rasa khawatir padanya. Apa ayahnya terlihat tidak sehat.
"Aku tidak akan kembali ke rumah ini lagi, Pa. Aku akan mengejar mimpiku sendiri mulai dari sekarang. Jadi aku akan mengatakan sekali lagi. Maafkan semua kesalahan yang telah kubuat selama ini." Gadis itu berbicara dengan wajah terlihat damai. Senyum hangat mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Tubuhnya terasa membeku mendengar perkataan Maisa. Saat ingin mengatakan maaf bibirnya terasa kelu. Ia terus mematung sampai Maisa meninggalkan rumah itu.