
Maisa mengamati gedung berlantai lima belas. Beberapa orang berpakaian formal lalu lalang masuk ke dalam gedung. Gadis itu mengeratkan genggaman pada tali tas tangan warna mint. Ia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
Maisa memantapkan hatinya masuk ke dalam gedung. Petugas security membukakan pintu. Gadis itu berjalan pelan ke meja resepsionis.
"Apa CEO Pradipta ada di tempat. Aku ingin menemuinya," ujarnya pelan.
Petugas resepsionis memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sangat biasa. Ia menelepon seseorang.
"Maaf, beliau sedang rapat. Apa anda sudah ada janji sebelumnya?"
"Tidak! Kalau begitu aku akan menunggu."
Maisa langsung pergi ke ruang tunggu. Kedua resepsionis saling berbisik, mempertanyakan siapa gadis itu. Beberapa pegawai yang lewat juga menatapnya heran.
Harusnya ia berpakaian lebih formal lagi. Tapi ya sudahlah. Ia sudah terlanjur mengenakan kaos oblong dan jaket dengan resleting dibiarkan terbuka. Tangannya men-scroll isi instagramnya. Jarinya terhenti di akun milik Ken.
Foto punggung Ken membelakangi kamera dan wajah menoleh ke kiri. Matanya menatap tajam tanpa senyum, menampilkan ekspresi wajah yang terkesan misterius. Jaket hitam tersampir di pundak kanannya. Tangan kirinya melonggarkan dasi. Ia membaca caption di bawahnya.
'Mataku selalu tertuju pada satu tempat dan itu kamu.'
Gadis itu tak bisa menahan senyumnya. Laki-laki itu seperti sedang menggombal pada seseorang. Tangannya gatal ingin melihat beberapa postingan lagi.
Waktu terus berlalu. Lalu lalang orang lewat di samping ruang tunggu. Tanpa terasa hampir tiga jam ia menunggu. Maisa terus melirik jam di tangannya.
Ia kembali ke meja resepsionis dan menanyakan ulang. Kedua perempuan itu tersenyum meremehkan.
"Maaf, Mbak. Bapak sibuk dan tidak punya waktu untuk menemui seseorang yang tidak punya janji sebelumnya."
Maisa mangut-mangut. Ia berniat mengikuti prosedur di sini. Berhubung kedua resepsionis ini membuatnya kesal, jemarinya langsung memencet nomor seseorang.
"Pak Aron! Apa Papa sedang sibuk? Jika tidak aku akan naik sekarang. Ada yang ingin ku sampaikan sebentar."
Maisa menutup teleponnya. Ia tersenyum pada kedua resepsionis itu. "Jadi, ruangan CEO di lantai berapa?"
"Di.... di lantai empat belas, Mbak."
Seorang laki-laki berkisar tiga puluh tahunan datang menghampirinya. Ia mendelik ke arah dua resepsionis itu. Keduanya menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa Nona tidak langsung naik ke atas saja?" tanya Aron menjajari langkah gadis itu.
"Katanya Papa sibuk rapat. Jadi aku menunggu sebentar."
"Rapatnya sudah selesai sejak dua jam yang lalu."
Giliran Maisa mendelik mendengarnya. Ia mengumpat kesal dalam hati sudah dikerjai oleh dua resepsionis itu. Aron memencet tombol lift. Sesampainya di lantai empat belas, Maisa langsung masuk ke ruang CEO.
Pak Chandra duduk di sofa tengah menyeruput kopinya. Aron keluar dan menutup pintunya. Maisa duduk di hadapannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tak punya banyak waktu," ujar ayahnya dengan nada berat.
Lucu. Baru saja ia mendengar dari Aron kalau ayahnya tengah luang seusai rapat. Sekejam-kejamnya laki-laki paruh baya di hadapannya ini, tetaplah ayahnya. Bagaimanapun juga, ia tetaplah keluarganya.
"Aku ingin kuliah di Prancis. Aku kesini ingin meminta ijin darimu, Pa."
Pak Chandra meletakkan cangkir kopi ke meja. Ia menangkupkan kedua tangannya dengan jari jemari saling menyisip.
"Lakukan saja sesukamu. Tapi aku tidak akan-." Ucapan pak Chandra langsung diputus oleh Maisa.
"Aku tidak meminta Papa untuk membiayai kuliahku di sana. Dan ini." Maisa menyodorkan kartu ATM dan buku tabungan usang pada ayahnya. Setelah itu ia pamit pergi.
"Aron, tolong periksa isi rekening ini," ujarnya pada ajudan pribadinya. Laki-laki itu mengangguk mengambil ATM dan buku rekening itu.
...****...
Maisa berjongkok di depan makam ibunya. Tangannya menaburkan bunga ke tanah makam. Tangannya mengelus lembut batu nisan bertuliskan Arini Wardani.
"Ma, aku datang mengunjungimu. Maafkan aku menemuimu dalam kondisi seperti ini. Kau tahu, Papa tak bisa memaafkanku. Jadi aku putuskan mengejar kebahagiaanku sendiri. Kuharap Mama mau memaafkanku juga."
Gadis itu berdiri setelah bercakap panjang lebar seorang diri di sana. Senyum mengembang di bibirnya.
"Selamat tinggal, Ma. Lain kali aku akan mengunjungimu lagi."
Maisa melangkahkan kakinya keluar dari komplek pemakaman. Ia tertegun melihat seseorang yang dikenalnya menunggu di pinggir jalan.
"Apa kau berpamitan dengan Mama?" ujar Kio berjalan mendekati gadis itu.
__ADS_1
Maisa mengangguk pelan. Ia tak ingin bertanya bagaimana kakaknya tahu dirinya ada di sini. Matanya menatap jingga dengan sedikit awan berarak.
"Aku hanya ingin pergi tanpa penyesalan," gumannya pelan.
Sepanjang perjalanan keduanya membisu. Maisa memeluk pinggangnya erat. Motor yang ditumpangi berhenti di sebuah restoran seafood.
Maisa mengerutkan keningnya. Seingatnya ia tak meminta Kio mengantarnya ke sini. Laki-laki itu tak banyak bicara, langsung menariknya masuk.
Di dalam sudah ada pak Chandra. Maisa memandang ke arah Kio. Apa ini idenya. Tak mungkin ayahnya mengajak makan malam bertiga. Terakhir kali ia meminta ditolak mentah-mentah oleh ayahnya.
"Apa yang kau rencanakan Kio?" ujar pak Chandra dengan nada dingin.
"Tentu saja makan bertiga. Memangnya apa lagi?"
Dugaannya ternyata benar. Bahkan ayahnya tak menoleh ke arahnya. Maisa hanya bisa tersenyum pahit. Memangnya apa lagi yang ia harapkan.
Acara makan malam terasa dingin. Tak sepatah kata keluar dari mulut ketiganya. Hanya suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring.
"Maafkan aku! Aku tidak bisa menengahi kalian." kata Kio setelah mengantarkannya pulang, di depan rumah mungil kontrakannya.
Maisa menghela napas panjang. "Jangan meminta maaf lagi, Kak."
Kio menjulurkan tangannya ingin mengusap rambut adiknya, namun diurungkan. Dadanya terasa sesak. Ia pergi mengendarai motornya dalam diam.
Maisa merebahkan dirinya di atas kasur. Ia belum mendapat pesan dari Ken seharian ini. Sepertinya laki-laki itu kejar tayang dengan pekerjaannya. Maisa memandangi foto mereka berdua saat pertama kali stand. Tangannya mengusap foto itu dengan lembut.
...****...
Bunyi klakson kendaraan dari arah belakang bersahutan. Dari arah depan sebuah mobil ringsek menabrak sepeda motor. Asap nampak mengepul keluar dari mobil.
Orang-orang berkerumun di sekitar kejadian. Kio meminggirkan motornya di bahu jalan. Ia menerobos kerumunan di depannya. Tampak darah menggenang di jalan.
Seorang perempuan bertelungkup dengan kepala bersimbah darah. Ia diam tak bergerak. Tak ada orang yang berani mendekat.
Kio menghampiri perempuan itu. Ia memegang pergelangan tangannya, mencari denyut nadinya. Sudah tidak ada. Tangannya terasa dingin. Perlahan ia membalikkan badan perempuan itu.
Kio jatuh terduduk. Matanya terbelalak. Tangannya gemetar di penuhi darah.
__ADS_1
"Maisa!" jeritnya.