
Maisa memotong daun bawang dan bawang bombai. Ia memasak untuk makan malam sembari bersenandung ditemani musik favorit. Kegiatannya terganggu saat ada ketukan pintu. Gadis itu melepas celemeknya, pergi ke depan membukkan pintu.
Kio berdiri di sana. Wajahnya terlihat lelah tersirat banyak yang dipikirkan laki-laki itu. Maisa menyuruhnya masuk. Kio mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut ruangan.
Tempat ini kecil, tak sebesar rumah yang ditinggali tapi terlihat nyaman. Ekspresi gadis itu lebih baik dari saat ia berada di rumah. Wajahnya terlihat bahagia. Terlihat dari senyum gadis itu.
Maisa menyuguhkan secangkir teh. Keduanya duduk berhadapan. Terdiam. Suara jangkrik bernyanyi di halaman.
"Dari mana Kak Kio dapat alamat rumah ini?" ujar Maisa setelah menunggu cukup lama tak ada tanda-tanda Kio membuka mulutnya.
Kio menggaruk pipinya, menghindari tatapan tajam gadis itu. "Aku punya informan tersendiri."
Beberapa jam sebelumnya. Kio mondar-mandir di rumahnya. Sudah empat hari Maisa meninggalkan rumah. Tidak ada kabar dari gadis itu. Ken bahkan tidak memberi tahu dimana gadis itu sekarang. Selama di kampus Ken bersikap seperti biasa, tak sekalipun menyinggung keberadaan Maisa.
Apa kau benar-benar keluarganya?
Kata-kata Ken terus terngiang di telinganya. Ia merasa terganggu dengan kata-kata itu. Tentu saja Maisa itu keluarganya. Tapi apa ia sudah memperlakukannya seperti keluarga?
Kio mengacak-acak rambutnya. Tak mungkin ia meminta bantuan dari Aron, ajudan pribadi ayahnya. Laki-laki itu pasti memberi tahu ayahnya. Ia teringat pada seseorang, sahabat karib gadis itu.
"Beb, apa kamu tahu dimana Maisa tinggal sekarang?" ujarnya melalui telepon.
Mia menolak memberi tahu. Namun ia terus membujuk gadis itu. Mia merasa Kio seperti putus asa. Akhirnya gadis itu luluh, mau memberitahukan alamat rumah Maisa.
Tapi jangan bilang aku yang memberi tahu, ya. Lekaslah berbaikan dengan Maisa. Dia terlihat sedih.
"Oke. Aku janji!" Kio menutup teleponnya. Ada pesan dari gadis itu. Sepertinya ia harus memberi kejutan padanya nanti.
"Sepertinya kau nyaman tinggal di sini, Sa. Apa Ken sering datang ke sini?" ujar Kio lagi memecah kesunyian.
Maisa mengangkat bahunya. "Kira-kira seperti itu lah."
"Apa dia juga menginap di sini?"
Maisa melotot ke arahnya. Senyumnya yang sedari tadi terlukis di wajahnya menghilang. Kio tersadar kalau perkataan barusan menyinggung adiknya. Ia menyeruput teh dari cangkirnya.
Bruh! Ia menyemburkan minumannya, menjulurkan lidahnya kepanasan. Maisa tertawa kecil. Rasakan itu. Ia menyodorkan air mineral dingin padanya. Kio langsung menenggaknya.
"Aku sadar batasannya, Kak. Aku bukan perempuan murahan yang seenaknya membiarkan laki-laki menginap di rumah ini."
Kio meminta maaf padanya. Gadis itu hanya mengangguk pelan. Suasana kembali canggung.
__ADS_1
"Maaf, Sa. Aku tidak bisa membujuk Papa."
"Stop! Berhenti minta maaf, Kak. Aku tidak menyalahkanmu. Malah aku senang Kak Kio mau datang ke sini."
Maisa tersenyum tulus kepadanya. Kio merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Kedua alisnya bertaut. Ia memeluk adiknya erat-erat.
"Aku tidak bisa napas, Kak!"
"Oh... Sorry!" Kio melepaskan pelukannya.
"Apa kamu tidak ada rencana kembali ke rumah? Aku ehem.... agak kesepian."
Maisa tertawa mendengarnya. Tumben Kio mau berbicara blak-blakan. "Hmm.... Entahlah. Kalau Papa memaafkanku, akan kupikirkan."
...****...
Segerombolan mahasiswa keluar dari kelas. Mata kuliah ketiga baru saja selesai. Maisa mengamit lengan Mia, mengajaknya ke kantin. Baru saja mencapai pintu luar kelas, keduanya dihadang oleh sesorang laki-laki berumur tiga puluh tahunan memgenakan setelan hitam.
"Nona Maisa!" sapanya dengan nada ramah.
Maisa menilik laki-laki dihadapannya. Seperti pernah bertemu disuatu tempat. Tapi dimana?
Wajah Maisa langsung berubah masam. Ia mengenali laki-laki itu. Aron, ajudan sekaligus sekretaris ayahnya. Kemarahan mulai membara. Dari pada menghadapinya langsung, ayahnya lebih memilih mengirimkan ajudannya.
"Tidak mau!" Maisa langsung berlalu dari hadapan laki-laki itu. Baru beberapa langkah ia berhenti lagi.
"Ah.... Kecuali Papa sendiri yang menghubungiku atau menjemputku langsung. Selamat tinggal!"
Maisa segera menarik Mia menjauh. Keduanya mempercepat langkahnya. Mia menoleh ke belakang. Laki-laki itu diam tak mengikuti mereka, hanya memperhatikan dari kejauhan.
"Ternyata anda sudah dewasa ya, Nona!" ujarnya tersenyum. Laki-laki itu langsung menghubungi seseorang.
Di kantin cukup ramai. Maisa melihat Kio melambaikan tangan ke arahnya. Sudah ada Ken dan Erik juga di sana. Mia langsung duduk di samping Kio.
Maisa menggelengkan kepala, tertawa kecil dengan tingkat kebucinan gadis itu. Tapi ampuh meluluhkan hati kakaknya. Ken menepuk bangku di sampingnya.
"Sepertinya kau sudah berbaikan dengan adikmu, Bro. Dan sekarang kau berpacaran dengan manajer basket kita. Ken juga berpacaran dengan adikmu. Sepertinya cuma aku yang hanya sebutir debu di sini." Erik menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
"Cari cara perempuan yang mencintaimu dengan tulus daripada mengejar seseorang yang tak peduli denganmu." Kio mengatakannya dengan nada tak peduli, menyindir seseorang yaitu Alice.
"Shut up! Aku tak suka kamu menjelek-jelekkan Alice. Aku masih belum menyerah, tahu," tandas Erik melotot ke arahnya.
__ADS_1
Ponsel Maisa bedering memutus pembicaraan mereka. Papa, nama yang tertera di layar. Setelah hampir seminggu tidak ada kabar, baru menghubungi sekarang. Gadis itu keluar kantin, menyandarkan punggungnya ke sudut bangunan kantin.
Aku ingin berbicara denganmu. Temui aku di Rumah Makan Mama Muda.
Pembicaraan langsung terputus sebelum gadis itu membuka mulutnya. Maisa menatap ponselnya dengan kesal. Apa-apan tadi? Hanya itu saja?
"Nona, mari saya antarkan!"
Seseorang berbicara di sampingnya. Maisa melompat kaget, menutup mulutnya yang hampir menjerit. Laki-laki itu ternyata belum pergi dari kampus.
"Ah... Sialan! Kukira siapa," umpatnya kesal.
Laki-laki itu membuka mulutnya, namun keburu disergah langsung oleh Maisa.
"Jangan ngomong apa-apa lagi. Aku lagi kesal."
Laki-laki itu tersenyum, menepuk kepalanya. Maisa menepis tangannya. Ken yang melihat melalui kaca jendela kantin mengepalkan tangannya. Rasa tak suka muncul begitu saja melihat ada laki-laki lain yang akrab dengan gadis itu.
"Dia Aron, ajudan setia ayahku. Jangan khawatir, dia memang suka menepuk kepala Maisa sejak kecil," ujar Kio menjelaskan.
Mia menepuk jidatnya. Ucapan Kio malah seperti menambahkan minyak ke dalan api. Lihat saja, wajah laki-laki itu terlihat mengeras.
Mia menyenggol kaki Kio. Laki-laki itu menoleh, menaikkan sebelah alisnya. Mia menggelengkan kepalanya, menyuruhnya diam.
Maaf, Kak. Aku pergi dulu ya. Papa memanggilku. Ada yang mau dibicarakan.
Ken langsung pundung. Apa lagi melihat laki-laki itu memegang bahu Maisa. Mia menahan tawa tapi juga merasa kasihan padanya.
Ken, apa kau melakukan sesuatu pada investasi perusahaan Beurata milik ayahku.
Sebuah pesan masuk dari Kio. Ken memandang Kio dengan kesal. Apa lagi sekarang.
Iya. Aku yang melakukannya.
Kio memengang kepalanya. Ia menghela napas panjang. Tak menyangka karibnya berbuat sejauh itu. Tapi itu malah membahayakan posisi Maisa.
Cepat kejar gadismu sana. Ayahku pasti akan meluapkan emosi padanya. Kurasa kau bisa mengendalikan situasinya.
Ken langsung bangkit dari kursi, menyambar tas di bangku, berlari mengejar Maisa. Semoga saja ia datang tepat waktu.
Maisa bertahanlah sebentar lagi. Aku akan melindungimu!
__ADS_1