
Maisa memasuki rumah makan didampingi oleh Aron. Pak Chandra sudah berada di sana lebih dulu, duduk di meja untuk pengunjung khusus yang tidak suka keramaian.
Dari raut wajahnya, gadis itu dapat menebak itu bukan sesuatu yang baik. Lihat saja raut wajahnya. Alis terlihat bertaut, mata menatap tajam. Cuping hidung mengembang dan mulut mengatup kencang. Siap menumpahkan emosi yang meledak.
Maisa memantapkan hatinya. Entah kali ini ucapan apa lagi yang bakal didengar dari ayahnya. Ia menarik kursi dan duduk dihadapan ayahnya. Aron berdiri mengawasi dari kejauhan.
"Langsung saja. Apa yang kau lakukan pada keluarga Brian?" Suara pak Chandra terdengar geram.
Maisa memiringkan sedikit kepalanya. Keningnya berkerut, mencari tahu apa yang sudah ia lakukan pada keluarga itu. Seberapa keras ia berpikir, tak menemukan jawabannya.
"Memangnya apa yang sudah kulakukan, Pa?" balas gadis itu dengan suara yang terendah dan lembut.
"Kau merayu mereka untuk menghancurkan perusahaanku. Apa ini balas dendam karena sudah mengusirmu? Dasar bocah tak tahu diuntung," geramnya penuh kebencian.
Ternyata dirinya tetap saja naif. Dalam hati kecilnya masih mengharapkan ayahnya berubah mau menerimanya. Yang ada malah menuduhnya. Balas dendam apa?
"Apa Papa menuduhku? Aku tak melakukan apapun!" seru Maisa. Dadanya naik turun menahan semua perasaannya.
"Kau meminta mereka untuk tidak berinvestasi di perusahaan untuk mencari perhatianku. Kau pikir aku akan memaafkan semua kesalahanmu. Aku harap kamu tidak pernah terlahir. Dengan begitu Arini tidak akan pergi dengan menyedihkan."
"Pak, anda sudah keterlaluan pada Nona Maisa." Aron mendekat dan menegurnya.
"Diam kau! Ini urusan keluargaku. Kau tidak berhak ikut campur!" sergah pak Chandra meradang.
Tubuh Maisa seketika membeku. Jantungnya terasa berhenti saat itu juga. Dadanya terasa nyeri. Cairan bening menetes membasahi pipinya. Semua perasaannya seakan hancur tak berbentuk. Usahanya untuk bertahan sia-sia.
"Padahal aku juga anakmu. Aku juga tak ingin terlahir seperti ini. Jika nyawaku bisa kutukar, akan kutukar dengan nyawa ibu." Maisa ingin berteriak, namun yang keluar hanya suara lirih tertahan oleh berbagai emosi.
Melihat Maisa menangis, perasaan pak Chandra seperti tertampar. Perasaan sesak memenuhi rongga dadanya. Ia tak seharusnya mengucapkan kata-kata itu. Apa yang sudah terucap tak dapat ditarik kembali.
Tangisannya terhenti, berganti dengan tawa. Wajah Maisa datar tanpa emosi. Matanya kosong seolah tak bernyawa lagi. Hatinya tak terasa sakit.
"Apa aku harus mati baru bisa menerima maafmu, Pa?"
Gadis itu tersenyum getir. Ia menggenggam erat garpu di tangannya mengarahkan ke lehernya. Pak Chandra terperanjat. Ia langsung berdiri menghampiri gadis itu.
Sedikit lagi garpu itu menyentuh permukaan lehernya. Seseorang merebut garpu itu dan membuangnya. Suara denting logam beradu dengan lantai.
__ADS_1
Ken menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Maisa memberontak. Laki-laki itu tetap mendekapnya erat, tak ingin melepaskan gadis itu.
"Hentikan, Sa! Jangan menyakiti dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia. Jalani hidup sesuai keinginanmu meski itu sedikit egois."
Kata-kata Ken terdengar begitu lembut di telinganya, merasuk ke dalam lubuk hatinya. Ia ingin mendengar kata itu dari bibir seseorang. Yang didapat hanyalah luka.
Maisa meremas kemeja Ken hingga kusut. Menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidangnya. Menenangkan menenangkan pikirannya yang kacau.
"Apa yang kau lakukan di sini, Ken? Ini urusan keluargaku. Kau tak berhak ikut campur." Pak Chandra menegur pemuda itu.
"Om salah! Maisa sudah menjadi bagian keluargaku. Tentu saja aku tak akan membiarkan orang lain menyakitinya." Suara baritonnya terasa dingin. Tatapan matanya begitu menusuk.
Perhatiannya teralihkan saat Maisa begerak dalam pelukannya. Gadis itu mendongak memandangnya. "Aku ingin pulang."
Ken mengangguk setuju. Ia mengamit lengan gadis itu menjauh dari pak Chandra. Maisa menoleh ke belakang. Ayahnya hanya diam memandang kepergiannya.
Sesampainya di parkiran, Ken memegang bahu Maisa dengan kedua tangannya. Menelisik kondisinya. Wajah gadis itu menunduk, tak berani bertemu mata dengannya.
Ken memegang dagunya. "Sa, tunggu di sini sebentar. Jangan kemana-mana! Aku mau ke dalam sebentar. Ada yang ketinggalan."
Ken langsung duduk di hadapannya. "Sepertinya Om menyalahkan Maisa karena Aery Corp menunda investasi. Tapi kutekankan sekali lagi Om. Kami tidak berinvestasi pada orang yang tidak menghargai keluarganya sendiri. Jadi jangan salahkan Maisa. Sebaiknya Om yang introveksi diri."
Ken beranjak bergi. Baru beberapa langkah ia berhenti lagi, membalikkan badan. "Ah... Jangan melewati garis yang seharusnya atau nanti kau akan menyesal."
Ken kembali ke parkiran. Namun ia tak mendapati gadis itu. Menoleh ke kiri dan kanan. Tak terlihat sosok gadis itu. Di dalam rumah makan juga tidak ada. Ken berlari ke pinggir jalan.
Ken mengedarkan pandangannya ke satu per satu lapak kaki lima. Langkahnya terhenti di stand jualan es krim. Maisa membeli dua cone es krim. Satu diberikan pada bocah laki-laki di sampingnya.
"Sa, kalau pergi tolong bilang-bilang. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa," serunya menghampiri gadis itu.
Maisa nyegir. Ia mengeluarkan ponselnya yang tidak menyala. "Maaf, Kak. Hp ku mati, lupa ku cas tadi pagi."
"Lalu siapa anak ini?" Ken menunjuk bocah laki-laki yang sibuk menjilat es krim. Dilihat dari penampilannya seperti orang asing. Rambutnya kemerahan dan matanya berwarna biru.
"Oh tadi dia menangis katanya terpisah dari abangnya. Jadi aku membelikannya es krim. Kak Ken mau?"
Ken menghela napas lega. Tidak ada yang terjadi hal buruk seperti dalam pikirannya. Mendadak ide jahil muncul dari kepalanya. Ia meraih tangan Maisa yang memegang es krim, menggigitnya sedikit.
__ADS_1
"Aku mau punyamu sedikit saja. Ini balasan karena sudah pergi seenaknya." Ken mengerlingkan matanya ke arah gadis itu.
Wajah Maisa sontak memerah. Bocah kecil yanh bersamanya menatap tajam keduanya. Matanya bulat dan pipinya yang gembul terlihat menggemaskan.
"Are you okay? Is he bully you?" tanyanya.
Maisa berjongkok di hadapan bocah itu. Ia tersenyum mengusap-usap kepalanya. "No. He is my boyfriend."
Ken berdehem mendengar tutur kata gadis itu. Seorang laki-laki muda berlari ke arah mereka. Penampilannya tidak jauh beda dengan bocah itu. Hanya saja rambutnya berwarna pirang.
"Elkard! Ah... You are here! I've been looking for you."
"Big brother!" Bocah cilik itu berlari dan memeluk kakaknya.
"Wah! Mirip Chris Hemsworth!" seru Maisa terpana melihat pahatan Tuhan yang begitu indah.
Apa!
Ken memekik dalam hati. Tak percaya ia baru saja dikalahkan oleh laki-laki asing yang mirip idolanya. Bahkan gadis itu menatapnya tak berkedip.
"Thanks a lot miss! Aku tadi lalai menjaga Elkard," kata laki-laki itu dengan bahasa yang campur aduk.
"It's okay. But you are so handsome. You can make all the ladies scream."
Ken menganga mendengar kata-kata norak dari bibir gadis itu. Laki-laki itu tertawa kecil.
"My pleasure!"
Ken menarik Maisa menjauh sebelum gadis itu melakukan hal diluar dugaan lainnya. Maisa tersenyum melambaikan tangan pada bocah kecil itu.
Ken membawa ke rumahnya. Dengan kondisi gadis itu, ia tak tega meninggalkannya sendirian di rumah kecil itu. Keduanya duduk di ruang tamu.
"Sa, apa kamu tidak berniat mengatakan sesuatu padaku? Setidaknya aku bisa membantumu," ujar Ken.
Maisa terdiam sesaat. "Baiklah! Aku akan bercerita alasan kenapa Papaku begitu benci padaku. Kuharap kamu tidak membenciku juga."
Ken meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat-erat. "Aku tidak akan membencimu."
__ADS_1