Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.73 Siapa Laki-Laki Itu?


__ADS_3

Maisa menemani Mia ke butik langganannya. Gadis itu meminta saran kepadanya. Ia hanya memperhatikan Mia memilih baju. Sesekali memberikan komentar jika ada yang kurang cocok.


Mia keluar dengan gaun selutut warna putih keungu-unguan. Ia sangat cantik memakai gaun itu. Maisa mengacungkan jempol. Mia tersenyum lebar, memutuskan mengambil gaun itu.


“Kita sekarang kemana?” tanya Mia setelah keluar dari butik itu.


Maisa mengusap dagunya, berpikir sejenak. “Kalau begitu bagaimana jika temani aku ke toko peralatan melukis, ya!”


“Yuk! Kapan-kapan lukis aku, dong.”


“Boleh! Kapan-kapan, ya."


Keduanya masuk ke toko peralatan melukis. Maisa membeli cukup banyak peralatan melukis seperti cat, kuas, dan kanvas. Setelah itu mereka pulang.


Maisa berpisah dengan Mia karena arah pulangnya berbeda. Tangannya penuh, sedikit kesulitan membawa peralatan melukis. Di rumah ternyata ada Kio, Ken, dan dua rekan tim basket. Mereka tengah bercanda.


“Maisa, buatkan kita minum dong,” kata Kio menyadari gadis itu baru saja pulang.


“Oh, iya? Sebentar. Bibi kemana?” Maisa balik bertanya padanya. Ia meletakkan belanjaannya di atas meja ruang tengah.


“Mana ku tahu. Memangnya aku ini pembantunya Bibi?” sahut Kio dengan nada ketus dari kamar tamu.


Maisa meniup poni rambutnya. Perlu ekstra kesabaran menghadapi sikap tengil kakaknya.


“Iya. Sebentar kalo gitu!” balas Maisa sembari melangkah ke dapur. Ia membuka lemari pendingin. Masih ada sirup cocopandan.


Gadis itu menuangkan sirup ke dalam teko plastik, menambahkannya sedikit gula dan susu. Terakhir menambahkan potongan es.


Ken menghampiri gadis itu. Ia membantu membawakan gelas. Maisa meletakkan teko berisi es cocopandan ke meja tamu.


“Thanks. Aku bosan, nih. Ambilkan kepingan DVD di kamarku, dong. Sekalian masukkan ke pemutarnya, ya,” ujar Kio lagi.


Dua rekan setimnya tersenyum melihat Kio mengerjain gadis itu. Maisa masih menahan kekesalannya. Ia mengangguk dan mengambil DVD berisi game di kamar Kio. Ia memasukkan ke komputer di ruang tengah, tempat biasa Kio bermain game.


Ken ingin membantunya tapi ditolak oleh gadis itu, mengatakan dirinya tak apa-apa.


"Aku akan membalasnya jika sudah kelewatan, Kak," ujar Maisa dengan sebelah bibirnya terangkat.


Maisa berniat kembali ke kamarnya. Kio memanggilnya dan menyuruh mengambilkan snack di lemari belakang. Masih menahan sabar, gadis itu mengambilkannya. Kio memintanya menganbil buku di kamarnya. Oke. Wajahnya mulai berubah dongkol. Gadis itu tetap mengambilkannya.

__ADS_1


"Jangan mengerjai adikmu begitu," tegur Ken pada Kio yang asik bermain game.


"Sesekali tak apa lah." Dengan nada enteng Kio membalas ucapannya.


“Ambilkan kaset musik kesayanganku di kamar, dong,” kata Kio masih menggerakkan stik game sparing dengan temannya.


Kemarahan Maisa makin memuncak. Mungkin kepalanya sudah berasao sekarang. “Kau mau mati, ya!"


Suara gadis itu menggelegar. Kio dan dua temannya kaget. Gadis itu terlihat menyeramkan. Keringat dingin mengalir di wajah Kio. Ia sadar sepertinya sudah kelewatan mengerjainya.


“Aku bukan pembantumu. Sekali lagi menggangguku, akan kupatahkan tulang lehermu sekarang juga.”


Wajah Kio memucat seketika. Ancamannya terlihat tak main-main. Ken menahan tawanya melihat laki-laki itu tak berkutik.


Maisa menyambar tas belanjaannya tadi dan bergegas masuk ke kamarnya. Tawa Ken langsung menyembur keluar. Kio melotot ke arahnya.


"Tontonan menarik tahu. Aku menunggu Maisa benar-benar menghajarmu."


"Kau gila, ya?" Kio menggerutu pelan.


****


Ayah dan ibunya menunggu hasil pemeriksaan keluar. Dokter mempelajari hasil scanning.


"Hasil pemeriksaan MRI, kondisi tubuh putri anda normal. Bekas pendarahan otak yang dulu sudah sembuh. Namun karena tertidur selama tiga tahun, ia akan kesulitan berjalan."


Sang ibu meneteskan air mata bahagia. Ia memeluk suaminya. Keduanya kembali ke kamar inap anaknya. Lucy memandangi langit-langit dengan tatapan hampa.


Perempuan paruh baya itu menggenggam tangannya. Gadis itu menoleh melihat ibunya menangis bahagia. Ayahnya terlihat menarik napas lega. Matanya berkedip tak mengerti.


Setelah kedua orang tuanya pergi, seorang laki-laki muda masuk ke kamarnya. Di tangannya ada seiikat mawar merah. Ia nampak terkejut melihatnya tersadar.


Evan menahan semua perasaannya. Ia meletakkan mawar itu ke dalam vas bunga lalu duduk di samping gadis itu. Air matanya menetes perlahan melihat gadis itu membuka matanya. Ingin rasanya merengkuh gadis itu tapi tubuhnya terlihat rapuh.


"Syukurlah kau sudah bangun, Lucy. Aku sangat merindukanmu."


Lucy sama sekali tak mengenal laki-laki ini. Tapi dalam sudut hatinya dirinya tak merasa asing. Seperti pernah mengenalnya disuatu tempat. Air matanya tak terasa ikut menetes. Ia tak mengerti kenapa dirinya seperti ini. Siapa laki-laki ini sebenarnya? Wajahnya terlihat menanggung luka dan juga kerinduan.


Evan mengusap air mata gadis itu. Ia tersenyum lembut padanya. "Jangan menangis, Lucy."

__ADS_1


Pak Dari dan istrinya kembali ke kamar anaknya. Ada barang yang tertinggal. Ia mendapati laki-laki itu bersama anaknya. Seketika emosi memenuhi dirinya. Ia menarik kasar Evan dan memukul wajahnya. Haira menahan suaminya untuk tidak menghajarnya lagi.


"Sudah kubilang, aku tak ingin melihatmu. Ternyata kau masih berani muncul di sini," bentak pak Dari.


Evan menundukkan kepalanya. "Maaf, Pak. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Lucy. Aku mencintainya."


"Memangnya aku akan percaya pada orang sepertimu! Pergi sana dan jangan kembali lagi."


Evan memandang wajah Lucy. Ia tersenyum ke arah gadis itu dan meninggalkan kamar. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangannya memegangi pipinya yang berdenyut nyeri. Hatinya merasa lega gadis itu sadar kembali.


Lucy ingin menahannya. Tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Tangannya lemas tak berdaya. Gadis itu hanya bisa menitikkan air mata.


Haira mengusap air mata anaknya. Dadanya terasa sesak. Ia ikut menangis.


"Lucy, jangan menangisi laki-laki itu. Dia tak baik untukmu," ujar pak Dari membelai lembut kepala putrinya. Ia tersenyum lembut. Kerutan di wajahnya terlihat jelas dimakan usia.


Ken menghampiri Maisa yang asik membaca di balkon. Ia duduk di sampingnya. Gadis itu tak menyadari keberadaannya, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Semilir angin menerbangkan anakan rambutnya.


...****...


Ken memperhatikan gadis itu cukup lama, seperti tersedot dalam pesonanya. Ia berdehen pelan. Maisa menoleh ke arahnya. Laki-laki itu memasang senyum terbaiknya.


"Tidak ikut main game dengan Kak Kio?"


Ken mengangkat bahu. "Aku lebih tertarik duduk di dekatmu."


"Tapi Kak Kio itu temanmu, Kak."


"Tapi kamukan juga pacarku. Wajar kalau aku ingin berduaan denganmu. Lagi pula sebentar lagi kamu akan pergi ke Paris."


Bibir Maisa sedikit terbuka. Ia kehabisan kata-kata untuk membalasnya. Ia menutup buku yang di bacanya. Keduanya duduk terdiam menikmati hembusan angin.


Ponsel Maisa berdering. Ada nama Evan tertera di sana. Ia mengangkatnya. Gadis itu menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya lelaki itu.


Maisa langsung memeluk Ken. "Lucy sudah sadar kembali. Aku tak tahu harus berkata apa. Senang mendengarnya."


Ken membalas pelukan gadis itu. Ia menepuk lembut punggungnya. "Mau kutemani menjeguknya."

__ADS_1


Maisa mengangguk pelan. Ken tersenyum, mengeratkan pelukannya. Ia senang gadis itu mulai mau mengandalkannya.


__ADS_2