
Pak Chandra masuk ke kamar Maisa setelah tidak ada jawaban. Ia melihat foto gadis itu bersama Ken di atas meja. Wajahnya tampak bahagia, tawanya terlihat lepas. Di sudut kamarnya ada sebuah kanvas ditutup kain.
Maisa tengah tertidur di bangku balkon. Kepalanya bersandar di lengan kursi. Keningnya berkerut. Sesekali tubuhnya bergerak tak nyaman.
Pak Chandra duduk di hadapannya, memperhatikan gadis itu tidur. Tangannya bergerak ke leher gadis itu.
Cepatlah berbaikan sebelum menyesal.
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia menarik tangannya kembali dan mengeratkan kepalan tangannya.
"Apa yang harus kulakukan padamu?" gumannya pelan.
Terdengar deru motor masuk ke pekarangan. Kio pulang dari urusan luarnya. Kepalanya mendongak ke atas, bertemu pandang dengan pak Chandra.
"Huh! Apa aku salah lihat? Kenapa Papa bisa ada di sana?"
Kio masuk ke dalam rumah. Ekor matanya melihat pak Chandra turun dari lantai dua. Di belakangnya ada Maisa turun dengan raut wajah kusut sehabis bangun tidur bercampur kebingungan.
Ketiganya duduk dalam satu ruangan sibuk dengan pikiran masing-masing. Pandangan mata Kio tertuju pada cincin di jari manis adiknya. Ia hanya bisa mengumpat dalan hati.
Sialan kau, Ken. Aku belum merestuimu Seenaknya saja kau memberikan cincin pada adikku.
Maisa memperhatikan arah tatapan Kio. Ia menyadari arah tatapan matanya. Gadis itu langsung menyembunyikan cincin itu dengan menggenggam erat jemari tangannya.
"Kapan kau berangkat?" kata Pak Chandra memecahkan kesunyian.
"Besok, Pa. Aku akan naik kereta sesekali ingin mencoba hal yang baru," balas Maisa.
"Oh." Hanya sampai di situ perkataan Pak Candra. Maisa menunggu apa yang akan dikatakannya lagi, tapi tak ada satupun yang keluar dari mulut ayahnya.
Ia sedikit kecewa. Apa sih yang ia harapkan? Tak mungkin ayahnya mengatakan sesuatu yang lain. Hanya kata-kata sederhana yang ia ingin dengar. Jagalah kesehatanmu atau hati-hati di jalan. Kata-kata itu sudah cukup menghangatkan hatinya.
"Apa Ken memberikan cincin itu?" tanya Kio setelah ayahnya kembali ke kamarnya.
"Iya. Memangnya kenapa, Kak?" balas Maisa dengan rona merah di pipinya.
"Tidak. Aku hanya tidak menyangka kalau dia akan melakukan itu. Ternyata dia cukup romantis juga."
Masa tertawa kecil. Ia jadi ingin menggoda kakaknya. "Apa kau iri padaku?"
"Siapa yang iri? Untuk apa aku iri padamu." Suara Kio terdengar gagap.
"Oh!" Maisa hanya bisa tertawa kecil melihat tingkahnya.
__ADS_1
"Apa besok kau akan ikut mengantarku?" ujar Maisa mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah! Akan aku usahakan."
Maisa sudah cukup senang mendengar kata-kata itu. Kio sudah mau meluangkan waktu untuknya.
...****...
Ken merasa bingung di tempatnya berdiri. Disekelilingnya diselimuti asap tipis. Ada bau hangus terbakar. Orang-orang di sampingnya menangis berpelukan. Entah menangisi apa. Ia mengangkat tangannya. Terlihat noda merah bercampur amis besi berkarat.
Seketika ketakutannya merasuk ke sekujur tubuhnya. Dadanya terasa sesak. Ia ingin keluar dari tempat itu.
Ken bangun dari mimpi buruknya. Keringat mengucur deras di pelipisnya. Tubuhnya sedikit gemetar. Ia merasakan firasat buruk, akan terjadi sesuatu nanti.
Hiruk pikuk orang terlalu lalang. Beberapa penjaja barang menawarkan dagangannya. Sekumpulan orang menunggu kereta datang. Ken menghampiri kekasihnya yang berdiri tak jauh dari sana. Ia langsung memeluk gadis itu.
Kio menatapnya dengan mata melotot, tak terima adiknya dipeluk begitu saja. Maisa hanya tersipu malu melepaskan diri dari pelukan.
"Sialan kau! Jangan seenaknya memeluk adikku!" Kio menarik Maisa menjauh dari laki-laki itu.
Ken tertawa kecil melihat sikap posesif Kio. Ia tak pernah seperti itu sebelumnya. Ken mengedarkan pandangannya mencari seseorang. "apa Paman tidak ikut?"
"Tidak! Dia ada urusan di kantor," balas Kio dengan ada malas.
"Apa aku perlu ikut denganmu saja?"
"Tidak! Tidak perlu! Aku tidak ingin merepotkanmu, Kak," balas Maisa dengan lembut.
"Benarkah? Tapi aku tidak ingin di sini sendiri." Ken memasang raut wajah sedih.
"Hei! Kalian lupa ya aku ada di sini!" sergah dengan nada jengah.
Kereta api akan menuju ke Jogjakarta sudah datang. Para penumpang mulai naik ke gerbong kereta. Maisa berbalik ke arah kedua lelaki itu dan tersenyum. "Aku pergi dulu ya, Kak. Jaga diri kalian baik-baik."
"Kau juga," kata Kio
"Hati-hati di jalan Maisa. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu merindukanmu." balas Ken.
Maisa merasa terharu. Ia memeluk keduanya dengan erat. Ia melangkahkan kaki ke dalam gerbong, menolehkan kepalanya sejenak, melambaikan tangannya.
Kedua lelaki itu menatap Maisa masuk menghilang dari balik gerbong. Kereta perlahan bergerak, berangkat dari stasiun. Keduanya masih menatap kepergian gadis itu hingga kereta menghilang dari pandangan mereka.
Masa menangkupkan kedua tangannya ke pipinya. Matanya memperhatikan pemandangan di luar jendela yang bergerak dengan cepat. Ia teringat sesuatu lalu tangannya mengambil ponselnya dan berfoto selfie.
__ADS_1
Gadis itu mengirimkan pesan itu kepada Ken dengan senyum berkembang di bibirnya.
Aku akan memberitahumu ketika sudah sampai di Jogjakarta. Kau tahu, pemandangan sekitar sini cukup indah. Kapan-kapan ayo kita pergi berdua.
Maisa menerima pesan balasan benerapa detik kemudian dari Ken.
Benarkah? Aku jadi ingin ikut menyusulmu ke sana. Setelah pekerjaanku selesai aku akan menyusulmu.
Maisa terkekeh pelan. Laki-laki itu tetap keras kepala ingin menyusulnya. Tak lama berselang ada pesan masuk dari Kio.
Bagaimana perjalananmu?
Baik. Semoga lancar sampai tujuan.
Syukurlah! Tetap hati-hati di jalan, ya.
Maisa tak hentinya tersenyum. Tak lupa gadis itu mengirimkan pesan pada ayahnya.
Pa, aku sudah berangkat.
Cukup lama tidak ada pesan balasan darinya. Maisa tak begitu berharap mendapatkan balasan dari ayahnya. Pasti ia disibukkan dengan pekerjaannya.
Ting! Sebuah pesan masuk. Ia hanya mendapat satu kata balasan dari ayahnya. Iya.
Sepanjang perjalanan pualng Ken terlihat muram. Kio hanya terdiam, tak ingin menyinggung sahabatnya yang sedang galau ditinggal kekasihnya.
Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Ken. Bibirnya tersenyum tipis. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya. Sebuah foto selfie dari Maisa. Gadis itu terlihat cantik dengan senyum di wajahnya.
Kio diam-diam mengintip isi pesan mereka berdua. "Serius kau ingin menyusulnya ke Jogja?"
Ken menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya kenapa? Tidak boleh, ya?
Kio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukannya begitu. Aku merasa itu tidak seperti dirimu. Sekarang kau terlalu bucin tahu!"
Ken menyandarkan kepalanya ke jok mobil. Ia tertawa kecil. "Entahlah! Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Maisa yang telah mengubahku. Aku hanya berharap dia bahagia bersamaku itu."
Kio mengusap lengan dengan kedua tangannya. "Kau membuatku merinding mendengarnya." Kio lalu memukul pelan lengan sahabatnya itu sambil tertawa kecil.
"Yah, sebenarnya asal Maisa bahagia tak masalah juga buatku," kata Kio lagi.
Ken merangkul sahabatnya dengan sebelah tangannya. "Aku juga senang ternyata kau menyayangi adikmu juga."
"Shut up! Itu kedengarannya memalukan."
__ADS_1
Keduanya tertawa kecil di dalam taksi yang melaju di jalan raya.