Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.23 Triple Date


__ADS_3

Maisa duduk mematung di Resto Korea. Otaknya masih sibuk mencerna apa yang barusan terjadi. Ken menariknya buat makan santai di luar. Tapi tidak hanya mereka berdua. Di samping kanannya ada Kiki yang duduk berhadapan dengan Jain. Di samping kanannya ada Mia yang juga duduk berhadapan dengan Kio.


Sebelumnya, Ken menarik Maisa keluar. Jain mengikuti dari belakang sambil menelepon Kiki. Ia terkekeh membayangkan akan menggangu ngedate mereka. Kio menyilangkan tangannya ke dada. Menyandarkan punggungnya ke tiang teras, memasang wajah masamnya.


"Telepon saja manager basketmu. Kita makan bareng." Jain tergelak, senang menjahili kekasih Maisa. Lihat saja wajahnya berkerut menahan kekesalannya.


"Apa? Kalian juga mau ikut?"


Kio yang tidak suka sahabatnya memilih adiknya menyunggingkan senyum setuju. Ia segera menelepon Mia dan tentu saja gadis itu setuju. Ken melotot marah. Maisa hanya bisa menganga melihat tingkah childish mereka.


Dan di sini lah mereka duduk kencan bertiga. Ken masih memasang wajah masam. Pengunjung resto memperhatikan ketiganya, penampilan mereka mampu menarik perhatian pengunjung di sana.


"Sa, apa-apaan nih. Aku tidak menyangka bisa ngedate sama Kio." bisik Mia ke telinga Maisa.


"Triple date dong. Tak rela aku, kalo cuma temanku aja yang ngedate." Kiki membalas ucapan Mia seraya terkekeh pelan.


Mulut Maisa sedikit menganga. Tak habis pikir dengan ulah sohibnya. Yang lebih mengherankan lagi, Kio mau jalan bareng. Apa kakaknya yang satu ini sudah luluh di hadapan Mia. Ternyata perjuangan Mia tidak sia-sia, menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama Kio. Matanya bertemu pandang dengan Kio. Kakaknya menatapnya melotot. Dia cepat cepat mengalihkan pandangannya, kali ini bertemu pandandang dengan Ken yang memperhatikannya sejak tadi.


Ugh... Triple date yang meresahkan.


Maisa mengedarkan pandangannya ke arah lain. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung melihat senyuman Ken. Pipinya bersemu merah.


"Bagaimana kalo kita nonton bareng. Ada film yang baru rilis. Sepertinya seru." Ujar Mia memecahkan suasana. Mengatupkan kedua tangannya.


"Boleh juga. Tak masalah kan Kio." Ken langsung menyetujuinya.


Kio menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Melirik ke arah Mia yang menatapnya penuh harap, beralih ke Maisa, gadis itu hanya tersenyum. Melirik ke arah Ken yang menatapnya dingin, seolah memaksanya untuk menyetujui usul gadis itu. Kio tak habis pikir, kenapa sohibnya itu bisa jadi bucin sama adiknya. Menurutnya masih kalah cantik sama Mia. Kio langsung mengusir pemikiran konyolnya.


"Iya... Iya..." kata Kio dengan nada malas, lebih tepatnya tidak terima.


"Yey!" Mia berseru senang. Dia mengguncang-guncang tangan Maisa. Maisa hanya tertawa.


Jain terhibur melihat dua pasang kekasih itu. Tepatnya satu pasang. Kio sepertinya masih belum memiliki perasaan pada si manager basket. Mengedipkan sebelah matanya ke arah Kiki. Kiki membalas mengedipkan matanya.


"Seseorang tolong aku!" seru seorang perempuan dengan penuh luka di tubuhnya. Darah mengucur deras membasahi pakaiannya. Dia berlari terseok-seok melewati semak belukar. Tidak mengenakan sebelah alas kaki. Napasnya terputus-putus. Seseorang dengan hoodie hitam mengejar di belakangnya. Menyeret sebuah kapak hitam. Perempuan itu masih terus berlari, sesekali menengok ke belakang. Tidak ada seorang pun. Tiba-tiba dari arah depan muncul seseorang membawa tongkat baseball.

__ADS_1


"Kyaa..." Mia menjerit memeluk lengan Kio. Menutup matanya rapat-rapat. Kio berdehem pelan, mengusir rasa malunya. Mia melepaskan tangannya, wajahnya merona merah tersipu malu.


Maisa menjatuhkan sebiji popcorn di tangannya. Baru kali ini melihat kakaknya salah tingkah. Maisa tertawa dalam hati. Sebuah pemandangan yang menarik.


Ken merasa kesal, perhatian Maisa selalu tertuju pada Kio. Padahal saat ini mereka sedang duduk berdua. Meski keduanya mengaku tidak memiliki hubungan apa-apa, namun masih menyisakan perasaan dongkol. Ingin membawa gadis itu menjauh dari pandangan Kio.


Ken menggerakkan tangannya ke arah Maisa, meraih helaian rambut pendeknya, memainkannya. Maisa tersentak, menatapnya balik. Berbisik ke telinga Maisa, "Kalau takut, boleh peluk tanganku lho."


Di bawah sinar temaram film bioskop, entah kenala Ken terlihat tampan. Tatapan matanya terlihat tajam seakan mampu menembus isi hatinya. Pipi gadis itu terlihat merona, salah tingkah. Jemarinya meraih popcorn, memakannya untuk mengurangi rasa gugupnya. Dia melirik ke arah Jain dan Kiki yang duduk di sebelah kirinya. Penasaran dengan mereka berdua.


Mata Maisa terbelalak. Keduanya berciuman mesra. Kiki memeluk leher Jain, jarinya memainkan rambut belakangnya. Tangan Jain memeluk pinggang Kiki. Pipi Maisa terasa panas. Bisa-bisanya mereka melakukan itu saat menonton thriller. Segera mengalihkan tatapannya ke layar bioskop.


Lagi-lagi perhatian gadis itu ke tempat lain. Ken sepertinya agak kesal. Tangan kirinya meraih kepala Maisa, menyenderkan ke bahunya, membelai rambutnya lembut. Maisa mendongakkan memandang Ken. Mata mereka bertemu. Ken menyunggingkan senyum. Wajahnya sangat dekat dengannya.


Maisa merasakan napas Ken menerpa wajahnya. Dia mengeratkan tangannya, menggenggam ujung kaosnya. Ken semakin mendekat. Maisa memejamkan matanya. Terdengar suara jeritan kencang disertai efek suara menakutkan. Maisa tersentak terkejut, tangannya reflek memeluk lengan Ken. Ken menahan tawa, tangan kanannya menepuk lembut bahunya.


Ken melirik ke arah Kio yang juga melirik ke arahnya. Ken menggenggam tangan Maisa. Gadis itu sedikit kaget. Kio berdecih pelan.


Dasar bucin!


Maisa mengangguk pelan. Dalam hati dia tertawa geli, mengingat adegan mesra mereka. Jain menghampiri Maisa, membisikkan sesetau ke telinganya. Dia tersenyum, mengangguk setuju. Tentu saja Ken memandangnya tak suka.


Jain dan Kiki berpisah setelah tos dengannya. Tinggallah Mia yang berdiri di samping Kio, dan juga Ken di belakangnya.


"Kakak ipar. Aku akan mengantar Maisa pulang ya."


"What's?"


Ken sudah menarik Maisa sebelum mendapat jawaban dari Kio. Kio membelalakkan matanya. Kakak ipar? Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding.


Ken mengantarkan Maisa pulang sampai depan rumahnya. Maisa turun dari motor, melepaskan helm yang dipakainya. Tangannya merapikan rambutnya yang berantakan. Ken turut turun dari motornya. Ia menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuk.


Maisa menaikkan sebelah alisnya. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan. Kakinya berjinjit, bibirnya mencium pipi Ken. Senyum Ken mengembang. Saat naik ke motornya, tangannya melambai menyuruh Maisa mendekat. Ia mencium balik pipi Maisa. Gadis itu membatu sesaat. Matanya mengerjap cepat. Ken sudah tancap gas menghilang di balik tikungan.


"Apa itu barusan." Maisa memegang kedua pipinya yang memerah.

__ADS_1


...****...


Gedung berlantai lima puluh bertuliskan Hotel JW bergaya arsitektur barat minimalis. Lalu lalang orang keluar masuk hotel, sesekali mobil berhenti di depan hotel. Seorang concierge laki-laki berpakaian merah membukakan pintu mobil, membungkukkan badan sedikit menyambut tamu hotel yang keluar, membuka pintu hotel, mengarahkan tangannya ke dalam.


Maisa melangkahkan kakinya ke dalam hotel. Jain dan yang lainnya sudah menunggu di waiting room. Kiki melambaikan tangan ke arahnya. Maisa bergegas menghampiri.


Jain melongok ke belakang. Mencari tahu jika ada yang mengikuti Maisa. Siapa tahu kekasihnya mengikuti diam-diam. Maisa ikutan menengok ke belakang. Menangkat sebelah alisnya.


"Kenapa?"


"Ken tidak ikut?"


"Sepertinya dia sibuk hari ini."


"Oh... Aku ingin bertanding basket denganmu. Anggap saja ini sebagai salam perpisahan sebelum kita pulang nanti sore,” kata Jain kemudian.


"Bertanding basket? Kau serius? Tapi aku sudah lama tidak bermain basket.”


Jain memberi aba-aba pada Evan serta Kiki untuk menarik Maisa. Kiki mendorong gadis itu ke lapangan basket outdoor yang disediakan hotel. Maisa mencoba protes, namun kalah suara. Akhirnya mau juga main basket setelah didesak. Jain membagi menjadi dua tim. Jain dan Kiki masuk tim satu, Evan dan Maisa masuk tim dua.


Pertandingan berlangsung secara sengit. Meski perempuan, Maisa tak kalah tangguhnya dengan laki-laki. Berbagai macam trik dia gunakan. Pertandingan pun dimenangkan tim Maisa dengan poin 21-20.


Maisa bersorak gembira, bertos ria dengan Evan. Jain dan juga lainnya tertawa. Sudah lama tidak melihat tawa cerah Maisa. Beberapa tamu hotel yang sedang berolahraga memperhatikan permainan dari pinggir lapangan memberikan tepuk tangan, kagum atas kehebatan Maisa.


"Ternyata skill basketmu tidak luntur ya. Padahal lama tidak main,” ujar Kiki.


Maisa hanya tersenyum mendengarnya. Sudah lama dia tidak bermain basket. Pikirannya selalu penuh dengan beberapa masalah akhir-akhir ini.


Maisa mengantarkan ketiga temannya sampai di depan pintu keberangkatan bandara. Dia memeluk ketiga sahabatnya.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan terluka lagi.”


Jain mencubit pipinya. Maisa tersenyum menganggukkan kepala. Ketiganya melambaikan tangan perpisahan. Dia membalas melambaikan tangan


“Kalian juga, ya! Hati-hati!” teriaknya.

__ADS_1


Ketiganya menghilang, masuk ke dalam bandara. Hati Maisa sedikit sedih dan juga senang. Senang karena selama beberapa hari banyak cerita dan petualangan yang dialami bersama. Sedih karena harus berpisah dengan mereka. Dia sangat menyayangi mereka.


__ADS_2