
Maisa pulang dengan wajah kusut, rambut berantakan, dan baju kedodoran. Tangannya menjinjing kantung plastik berisi kemeja kotor. Di sampingnya ada Ken. Bi Tary menyambutnya, air mukanya panik.
"Aduh, Non. Kok kotor begini?"
"Tidak apa-apa kok, Bi. Tadi habis jatuh."
"Syukurlah kalau begitu. Sini Bibi bawakan bajunya." Bi Tari meraih kantong plastik di tangannya dan masuk lebih dulu.
Ken meraih kedua tangannya. Mengacak-acak rambutnya, mencium keningnya lembut. "Aku pulang dulu, ya."
Maisa mengangguk, ujung jari kirinya menyentuh kening. Melambaikan Tangan kanannya pada Ken.
"Hati-hati di jalan, Kak."
Dia merebahkan badannya ketempat tidur seusai membersihkan diri. Diambilnya foto keluarganya saat masih kecil. Dipeluknya foto itu dengan peluk kasih sayang.
“Ayo semangat, Sa. Awalnya memang sulit tapi yakinlah nanti akan datang saatnya bahagia.”
Maisa bergegas bangkit dari tidurnya. Mengerjakan rutinitasnya memasak dengan perasaan semangat. Malamnya Kio dan Pak Chandra pulang. Tak lupa membuatkan kopi untuk ayahnya, dan Bi Tari yang mengantarkan. Dia berkasak kusuk dengan Pak Mamat di dapur.
“Neng atuh kenapa tidak pernah akur dengan Bapak dan Aa? Kalian kan satu keluarga,” Tanya Pak Mamat dengan logat sundanya yang kental.
Maisa tersenyum pahit, “Tidak apa-apa, pak! Ya wajar kalo ada masalah dalam keluarga.”
“Tapi Neng apa nggak sedih atuh? Kalo Kang Mamat liat, Neng sering dicueki sama Bapak dan Aa?”
“Tentu sedih sih ada, Kang. Ya semoga nanti Papa sama Ka Kio mau baikan sama Maisa.”
"Amin!"
Maisa sedikit terharu. Ternyata masih ada orang yang mengkhawatirkannya di rumah ini meski itu hanya Bi Tari dan Pak Mamat. Maisa merasa beruntung ada mereka. Setidaknya Maisa tidak terlalu sedih.
Tangannya memainkan pulpen, sesekali menggigitnya. Dia mengerjakan tugas kampusnya sebentar dan membaca dan melengkapi catatan kuliah hari ini. Selesai dengan tugasnya, dia membuka diary dan mulai menulis. Semenit kemudian dia menutup, menaruhnya di laci. Kakinya berjalan ke arah balkon. Maisa memandang kelap-kelip lampu, sesekali ada mobil dan motor melintas di jalan depan rumah. Langit terlihat gelap. Sepertinya akan hujan malam ini. Angin yang cukup kencang membelai rambutnya yang pendek.
Dia menghela nafas panjang. Dipejamkan matanya menikmati angin malam. Desau angin dingin melewati kulitnya. “Tetap semangat! Hari esok menunggumu.”
Pagi hari begitu dingin. Sejak malam hujan deras mengguyur bumi. Maisa masih terlelap di balik selimut. Jam beker berdering, dengan malas tangannya mematikannya. Kakinya menendang selimut, anakan rambut berdiri sudah seperti surai singa. Hari minggu ini Maisa tidak ada kesibukan. Duduk di taman memulai aktivitas melukisnya. Cat dikuaskan ke kanvas. Lukisan abstrak yang memiliki arti sendiri bagi dirinya. Seluruh perasaanya dituang ke dalam kanvas.
Pak Chandra yang tidak ada kesibukan memperhatikan Maisa dari ruang kerjanya. Dia menghela napas. Ada sebersit keinginan untuk mendekatinya, mengajak ngobrol, dan bercanda dengannya. Pak Chandra menggelengkan kepala mengusir pikiran konyolnya.
Mana mungkin aku mendekati anak itu. Anak itu telah mengambil sesuatu yang berharga bagiku.
__ADS_1
Sementara Kio telah melesat pergi dengan teman-teman segengnya. Selalu ada rutinitas, itu mottonya. Meski kesibukan itu ada manfaatnya atau tidak, ia tak peduli. Ketiganya nongkrong di Caffe dekat studio foto milik Albert.
Ken teringat akan sesuatu. Beberapa hari yang lalu ia tidak sengaja melewati tiga orang perempuan yang tertawa, mendengar pembicaraan mereka.
"Aku puas sudah menyiram cewek itu dengan air. Siapa suruh berani dekat-dekat dengan idola kita." Ucap perempuan berambut lurus sebahu.
Teman perempuan berambut keriting turut menimpali, "Aku juga tadi sempat menaburkan tepung."
"Rasakan itu."
Ketiganya saling mencolek lengan, melihat Ken berjalan mendekat. Wajah mereka memerah tersipu-sipu. Salah satu dari mereka memukul bahu temannya, salah tingkah.
"Hai, Kak."
Ken membalas dengan anggukan, membiarkan ketiga perempuan itu histeris di belakangnya. Perasaannya buruk mendengar percakapan mereka.
“Kok aku perhatikan dari tadi kok bengong melulu. Mikirin apa, kau?” Erik menepuk bahunya.
Ken menggelengkan kepala, mencoba mengelak. Temannya yang satu ini peka juga. “Aku tidak memikirkan apa-apa, kok.”
“Sepertinya ada sesuatu dengan sobat kita, ini. Jangan-jangan lagi mikirin Maisa, ya? Ternyata cewek itu berhasil mencairkan gunung es di hatimu," Tukas Erik menggodanya lagi.
"Cih! Apanya yang menarik dari anak itu sih." Kio berdecih kesal.
Ken melotot ke arah Kio. Erik terkekeh menengahi keduanya sebelum baku hantam. Sepertinya Kio tak sadar kalau dirinya terlalu overprotektif pada adiknya.
****
Maisa ke toilet seusai jam kuliah. Membentangkan payung lipatnya untuk berjaga-jaga. Siapa tahu ada yang mengganggunya. Dan benar saja, ada yang menyiram seember air dan tepung. Suara cekikikan beberapa perempuan terdengar dari luar.
Maisa mendengus kesal, bibirnya meniup rambut poni di dahinya, membuka pintu toilet dengan kasar hingga menimbulkan bunyi benturan. Setelah melipat payungnya, dia keluar mencari pelaku yang merusak moodnya. Kali ini akan membuat perhitungan dengan mereka.
Di sudut gedung ada tiga gadis tertawa terbahak-bahak. Gadis berambut pendek berwarna burgundy membersihkan cardigan miliknya yang terkena bubuk putih.
"Aku yakin dia pasti basah kuyup. Siapa suruh beraninya mendekati Ken," Ujar gadis berambut keriting.
"Oh itu mereka." Kedua sudut bibir Maisa naik ke atas membentuk seringaian mengintip dari balik gedung. Otaknya menyusun rencana balas dendam.
"Maisa!" Suara seseorang yang akrab di telinga memanggil namanya.
"Oh... Kak Ken!"
__ADS_1
Ken menghampirinya bersama Kio yang memasang mimik muka sebal dan Erik yang selalu menebar senyum. Matanya tertuju pada sebotol air di tangan Ken.
"Aku pinta ya, Kak. Nanti aku ganti."
"Buat apa?"
"Ada deh!"
Maisa meraih botol di tangan Ken. Tangannya merogoh sesuatu di dalam tasnya. Sebuah spidol berwarna ungu. Dia mengambil isinya, memasukkannya ke dalam botol, lalu mengocoknya. Warna air berubah ungu. Seringaiannya semakin lebar.
Erik ikut menyeringai, "Something fishy. Mau buat apa?"
"Buat perhitungan."
"Ho... Boleh juga."
Maisa menghampiri ketiga perempuan yang masih asik haha haha hihi hihi. Kaki Maisa pura-pura tersandung sesuatu. Tangannya merebas botol, air muncrat menyiram ketiga gadis itu.
Ketiganya menjerit bersamaan, berdiri membersihkan pakaiannya. Mereka bertiga melotot melihat siapa yang menyiram air barusan.
"Kamu sengaja, ya." Gadis berambut burgundy berteriak.
"Oh.... Maaf ya, Kak. Tidak sengaja." Maisa tertawa kecil.
"Hah! Pasti kamu mau balas dendam gara-gara kita siram tadi, kan?"
"Ah... Jadi Kakak tadi yang menyiramku. Tapi sayangnya tak kena." Maisa tertawa mengejek.
Gadis berambut lurus sebahu terlihat berang. Dia merangsek Maisa, berniat menarik kerahnya. Maisa itu menghindar, tak lupa sengaja menengahkan kakinya. Gadis itu tersandung kakinya, jatuh terjerembab di rerumputan.
"Loh, kok jatuh sih Kak."
Gadis berambut burgundy melayangkan tamparannya, Maisa berhasil menghindar dan mengenai gadis berambut keriting.
"Sesama teman jangan saling menampar ya. Kalian tidak apa-apa, kan?"
Ketiganya menjerit kesal. Maisa melompat kecil meninggalkan ketiganya dengan senyum lebar, bibirnya bersenandung.
Erik menahan tawa melihat kekonyolannya. Kio berusaha memasang wajah datar. Ken menhampiri gadis itu, mencubit pipinya.
"Aduh... Aduh.... Sakit, Kak!" Seru Maisa memegang tangan Ken.
__ADS_1
"Kerja bagus. Itu baru gadisku," Bisik Ken ke telinga Maisa.