
Ken mengangkat gadisnya yang terlelap, membawanya ke kamar tidur tamu. Pelan-pelan meletakkan di atas tempat tidur. Menarik selimut, menyelimuti gadis itu. Ken mencium keningnya.
"Mimpi indah, Sa," gumannya pelan. Tangannya mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Ponselnya bergetar. Ia bergegas keluar kamar.
Maisa membuka matanya. Samar-samar ia melihat pemandangan asing. Langit-langit kamar berwarna putih dengan bolam lampu menyala. Dinding kamar berwarna mint berpadu warna kuning. Dua buah jendela kamar di atas kepala tempat tidur.
Ini bukan kamarnya. Ingatan terakhirnya saat duduk berdua dengan Ken. Berapa lama ia tertidur. Ekor matanya melihat jam tangannya menunjukkan pukul lima sore.
"Hais! Bisa-bisanya aku tertidur di rumah orang."
Maisa bergegas bangun, menyingkap selimut. Ia berlari keluar kamar. Mendapati Ken duduk di sofa ruang tamu, tengah menerima telepon dari seseorang. Raut wajahnya terlihat menegang. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
"Tidak usah buru-buru. Aku tak ingin mengejutkannya."
Ken berhenti sejenak mendengarkan ucapan seseorang dari seberang telepon.
"Bukannya aku tak mau cerita. Tapi belum saatnya. Gara-gara abang sialan seenaknya membocorkan rahasia." Ken terdengar menggerutu. Ia menutup teleponnya.
Maisa menghampiri laki-laki itu. Ken menoleh merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
"Oh... Sudah bangun, Sa?" Ujarnya pelan.
Gadis itu duduk di hadapannya menampakkan rona khawatir. "Apa ada masalah, Ka?"
Ken berpindah duduk ke sampingnya. Menempatkan tangan kanannya di bahu gadis itu. Menariknya mendekat ke tubuhnya.
"Kamu khawatir?" Ken balik bertanya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Gadis di sampingnya mengangguk pelan. Menatap lekat mata Ken. Kedua alisnya bertaut. Jari telunjuk Ken menekan dahinya.
"Jangan khawatir. Tidak apa-apa, kok."
Tangan kirinya mengelus pipi gadis itu. Makin lama wajahnya semakin mendekat dengan wajah Maisa. Jantungnya berdegub kencang. Gadis itu memejamkan matanya. Tuk! Dahi keduanya bersentuhan.
"Kuantar pulang, yuk."
Maisa bergegas berdiri, mengangguk pelan. Ada sedikit kekecewaan tidak ada yang terjadi. Tunggu! Kenapa jadi ia seperti mengharapkan terjadi sesuatu. Ia mengenyahkan pikiran konyolnya.
"Oh iya, yuk. Sudah sudah sore," ujarnya tertawa canggung.
...****...
Maisa mengunyah popcorn pelan. Matanya melihat ke layar televisi di hadapannya, tapi pikirannya melayang entah kemana. Beberapa biji popcorn jatuh ke lantai. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum. Setengah rambutnya pendek diikat ke atas membentuk sanggul kecil, sedikit berantakan.
Kio menimpuk wajahnya dengan bantal. Ia mengambilnya dan melemparnya sembarang. Bantal itu melayang singgah di wajah Pak Chandra yang tengah meminum teh hangantnya. Terdengar bunyi barang pecah. Cangkir teh hancur berhamburan.
"Maisa!" Seru Pak Chandra dengan suara menggelegar.
Gadis itu terperanjat kaget. Ia bergegas menghampiri ayahnya. "Maaf, Pa. Papa tidak terluka, kan? Tangan Papa tidak melepuh, kan."
Maisa meraih tangan Pak Chandra, tidak ada bekas air panas. Pandangannya beralih di kakinya, juga tidak ada. Pak Chandra segera menepis genggaman tangannya, pergi mengganti pakaiannya.
Bi Tari datang membantu Maisa membersihkan pecahan cangkir teh. Ia memunguti dengan hati-hati. Bi Tari membuangnya dan membawa bantal bernoda teh ke belakang. Maisa duduk kembali di kursinya.
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh," Kio mencibirnya.
Gadis itu tak membalas cibirannya. Ia tak menyangkal ini salahnya sudah terbengong sendiri. Pak Chandra kembali lagi setelah berganti pakaian.
"Maafkan Maisa, Pa. Papa, benar tidak apa-apa?"
"Ya!" Jawab Pak Chandra singkat.
"Syukurlah!" Maisa menarik napas lega, ayahnya tidak terluka.
“Minggu depan hagi ulang tahunmu yang ke dua puluh tiga. Papa ingin merayakannya semeriah mungkin seperti tahun lalu," kata Pak Chandra pada Kio yang duduk tak jauh dari sisinya.
“Santai saja, Pa. Aku sudah punya rencana sendiri,” kata Kio sambil tersenyum, mengacungkan jempolnya.
Maisa ijin naik ke kamarnya. Kio melihat ada bercak darah di lantai, mengarah ke lantai dua. Dasar gadis bodoh.
Maisa merasakan nyeri di kakinya. Ada luka kecil di telapak kakinya. Sepertinya ia terluka saat membersihkan serpihan cangkir tadi. Langkahnya terpincang-pincang ke kamar mandi, membasuh lukanya dengan air.
Sekembalinya ke kamar, ia melihat Kio berdiri di depan pintu. Ada sekotak perlengkapan P3K di tangannya.
Maisa meringis pelan saat Kio mengusapkan alkohol di kakinya. Alisnya mengernyit. Keduanya duduk di lantai beralaskan karpet bulu. Dengan telaten, Kio mengoleskan salep luka dan menempelkan plester luka.
"Terima kasih, Ka."
"Hm...."
Kio membereskan kotak P3K dan bergegas keluar. Maisa merebahkan badannya ke tempat tidur.
“Minggu depan Ka Kio ulang tahun. Enaknya memberi kado apa, ya? Akukan tidak tahu kesukaannya apa,” katanya berguman pada dirinya sendiri.
Sa, aku minta tolong. Penting! Aku jemput, ya. Nanti ku jelaskan!
Ken langsung memutuskan sambungan. Maisa memandangi ponselnya dengan wajah terheran-heran. Ada apa dengannnya. Ken terdengar panik.
Ia bersiap-siap dengan pakaian casualnya. Kaos putih berlengan pendek dipadu dengan kemeja motif kotak-kotak berwarna navy, tak ketinggalan jeans dan sneaker putih. Rambutnya di ikat ke belakang dengan kepangan di sebelah kanan.
"Mau kemana lagi?" Kio yang duduk di ruang tamu menoleh ke arahnya.
Maisa menunjuk ke arah pintu rumah, "Oh... Mau keluar sebentar."
"Dengan kaki seperti itu?"
Maisa memperhatikan kaki kanannya yang dibalut perban memakai sneaker. "Hanya sebentar."
Kio tidak mengatakan apa-apa lagi. Maisa bergegas ke teras dengan langkah sedikit terpincang-pincang.
Ken datang menggunakan mobilnya. Ia turun menghampiri gadis itu.
"Ada apa, Ka? Sepertinya mendesak."
"Ayo kita melarikan diri sebentar?"
"Hah?" Maisa memiringkan kepalanya. Kali ini perkataan Ken sungguh absurd. Apa dia salah minum obat.
__ADS_1
Ken menggandeng tangannya ke mobil. Ia melajukan mobilnya memasuki jalan tol. Maisa melirik ke belakang melalui kaca spion. Ada dua mobil hitam mengikuti mereka sejak keluar dari komplek rumahnya.
"Ka! Sepertinya ada yang mengikuti kita."
"Aku tahu!"
Ken melajukan kecepatan mobilnya. Mobil di belakang juga ikut menambah kecepatan.
"Ka Ken tidak melalukan sesuatu yang jahat, kan?"
"Ya, tidak lah."
Ken menyalip beberapa kendaraan di depannya. Bunyi decit ban mobil melewati tikungan tajam keluar kota Jakarta. Ken melirik kaca spion. Dua mobil di belakangnya sudah tidak terlihat.
Wajah Maisa memucat. Ia memeluk erat lengannya, punggungnya gemetar. Keringat dingin membasahi bajunya. Perutnya mual seperti diaduk-aduk, kepalanya terasa pening.
Sekelebat kecelakaan lima belas tahun yang lalu terbayang kembali dalan ingatannya. Darah membasahi jalan. Orang-orang berteriak di sekitarnya. Sesosok perempuan bersimbah darah dengan mata setengah terbuka menatap ke arahnya. Maisa memejamkan matanya.
Ken menoleh ke arah gadis itu. Seperti ada yang tidak beres. Ia menepikan mobilnya. Menyentuh pundak Maisa dengan pelan. Gadis itu terlihat ketakutan. Air mata mengalir di pipinya.
"Maaf, Sa. Aku tidak bermaksud menakutimu." Ken memeluknya erat. Tangannya mengusap kepalanya. Hatinya terluka melihat gadis itu kesakitan. Ia menggumamkan permintaan maaf beberapa kali sembari memeluknya.
"Maaf, Ka. Aku selalu merepotkanmu," kata Maisa pelan.
"Tidak apa-apa, Sa. Justru aku yang minta maaf sudah menakutimu."
Keheningan tercipta diantara keduanya. Hari mulai senja. Lampu jalan dan gedung mulai menyala. Cahaya lampu mobil sesekali menyorot ke arah mereka. Ken mulai melajukan mobilnya, mampir ke hotel berbintang lima.
"Kenapa kita singgah di sini, Ka?"
"Kita akan bermalam di sini. Jangan khawatir aku akan memesan dua kamar."
Maisa merasakan kakinya nyeri saat turun dari mobil. Ia menahan diri untuk tidak meringis kesakitan dan berjalan seperti biasanya.
"Kakimu terluka, Sa?"
Maisa tersentak kaget. Ken menyadarinya. Ia berjongkok di depannya.
"Ayo naik. Aku akan menggendongmu."
Wajah Maisa merona merah seketika. Beberapa tamu hotel memperhatikan mereka. Tak ada reapon dari gadis itu. Ia masih mematung.
"Atau aku akan menggendongmu di depan?" Ujar Ken lagi.
Ugh! Mau tak mau Maisa naik ke punggungnya. Ia menutupi wajahnya yang memerah di balik punggung lebar Ken.
"Sa, apa kamu takut jika aku mengemudi terlalu cepat?" Tanya Ken saat makan malam di restoran hotel.
Maisa mengangguk pelan. Tangannya masih gemetar. Ken menggenggamnya dengan erat. Senyumnya yang hangat membuat gadis itu tenang.
"Kalau boleh tau. Kenapa, Sa?"
Bibir gadis itu menganga, lalu menutup lagi. "Aku akan cerita jika nanti waktunya sudah tepat, Ka."
__ADS_1
Ken tersenyum, "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita. Hanya saja ini untuk mengingatkanku untuk tidak ngebut lagi."