
Kio menyesap tehnya, menikmati kedamaian di pagi hari. Bersantai sejenak sebelum berangkat pemotretan. Ayahnya tidak ikut menemani. Ada tugas ke luar kota beberapa hari.
Maisa berlari turun tangga menghampirinya. Gadis itu memeluknya dari belakang. Kio terkejut dibuatnya, nyaris tersedak teh. Keningnya berkerut dongkol.
“Apa-apaan ini? Lepaskan aku!” bentak kio kesal.
Maisa malah mempererat pelukannya. Ada apa dengan anak ini? Kio mendonggakkan kepala memandang ke arah adiknya. Ia tersenyum manis ke arahnya.
“Maisa!” bentaknya sekali lagi.
Dengan wajah cemberut, Maisa melepaskannya. Kio berdiri, berbalik kearahnya. Wajahnya merah padam. Gadis itu hanya tersenyum simpul.
“Kau mau membunuhku, ya?" omel Kio berkacak pinggang.
Maisa mencium pipinya dan berlari. “Kak, aku duluan ya. Hati-hati di jalan!”
Kio terbengong-bengong. Apa tadi barusan. Anak itu salah makan apa? Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Di lokasi pemotretan Erik dan Ken sudah datang lebih dulu. Keduanya bersantai meneguk secangkir kopi. Ada yang berbeda dengan pemotretan kali ini.
Sebuah toko pakaian pria dan wanita di mall yang cukup besar di Jakarta meminta ketiganya melakukan pemotretan langsung di tempat. Ini memakan waktu cukup lama. Banyak model pakaian yang harus dicoba.
Ketiganya menyenderkan bahu ke sofa, kelelahan. Kio menyambar segelas limun yang di sediakan, menenggaknya hingga tandas. Ken memperhatikan beberapa model pakaian wanita di sana.
"Lagi mikirin apa?" ujar Kio padanya.
"Hmm.... Aku berencana mengajak Maisa kesini. Ada beberapa pakaian yang cocok untuknya."
Kio menaikkan sebelah bibirnya. "Dasar bucin."
"Loh! Kak Kio kok ada disini?" seru seseorang yang tak ingin di temuinya sekarang, Mia.
Gadis itu tidak sendiri. Di sampingnya ada Maisa. Ia melambaikan tangan pada Ken. Senyum tipis berkembang di wajah Ken. Segera ia menarik gadis itu menjauh.
Mia hanya melongo ditinggal partner shoppingnya. Ia ingin minta Kio menemani tapi laki-laki itu membencinya. Ia juga tak enak mau meminta tolong Erik. Terakhir kali laki-laki itu sudah membantunya menemani hadir di ulang tahun Kio.
"Aku duluan Kak Kio, Kak Erik."
Mia memutuskan belanja sendiri. Ia memasuki salah satu toko pakaian wanita. Begitu banyak model pakaian. Ia acak memilih satu.
"Itu tidak cocok buatmu."
Mia tersentak kaget. Kio berdiri di belakangnya dengan tangan bersilang di dadanya. Baju yang tadi dipegangnya dikembalikan di tempat semula. Ia memilih model baju yang lain.
__ADS_1
"Itu juga tidak cocok buatmu."
Mia mendengus kesal mengembalikan baju yang barusan dipegang. Ia membalikkan badannya, berniat memaki laki-laki itu. Kio menyerahkan beberapa model baju padanya.
Ia mengedipkan mata beberapa kali. Apa ia tidak salah lihat. Kio memilihkan pakaian untuknya. Bukankah itu curang namanya. Setelah menolaknya, untuk apa laki-laki itu menjadi perhatian.
Mia membisu masuk ke dalam ruang ganti. Tak lama ia keluar dengan memakai atasan blouse lengan panjang off shoulder berwarna maroon dipadukan rok selutut warna hitam. Kio menggelengkan kepala, menyuruhnya ganti lagi.
Mia masuk lagi ke ruang ganti dengan wajah masam. Ia keluar lagi mengenakan tunik asimetris menjuntai sepaha di bagian depan dan pendek bagian belakan warna lilac dipadankan dengan rok lipit selutut warna putih.
Kio menyuruhnya masuk lagi. Kali ini Mia keluar dengan tunik asimetris berlengan sesiku dua warna. Bagian atas off shoulder berwarna army. Bagian rok bawah di beri kancing berwarna mocca.
Kio menatap lekat Mia yang baru saja keluar dari ruang ganti. Gadis itu terlihat cantik. Cukup lama Kio menatapnya.
"Bagaimana?" ujar Mia menarik laki-laki itu kembali dari bawah sadarnya.
"Oh, cocok kok."
Not bad. Mia juga menyukainya. Ia melepaskan kembali dan membawanya ke kasir. Kio menunggunya di luar toko.
"Maaf, Mbak. Sudah dibayarkan sama Mas yang tadi."
Hah! Permainan apa lagi yang dimainkan laki-laki itu. Banyak pertanyaan singgah di benak gadis itu.
Kio bersandar di pagar pembatas mall. Ia memperhatikan pengunjung yang berlalu lalang di lantai dasar. Pikirannya tak menentu. Apa sih yang dilakukannya sekarang. Padahal ia sudah menolak gadis itu. Tapi saat Erik hendak mengejarnya, sudut hatinya merasa tak rela.
Kio menoleh ke arah Mia yang datang menghampirinya dengan paper bag di tangannya. Ia mengangguk setuju. Keduanya masuk ke resto jepang tak jauh dari toko pakaian tadi.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu jadi begini padaku, Kak? Kamu sudah menolakku saat itu. Jadi mulai sekarang atau nanti aku tidak akan mengganggumu lagi."
"Tidak. Maksudku kamu tidak mengganggu, kok.
Kening Mia berkerut. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku akan berhenti menyukaimu, Kak."
Kio tertegun mendengar ucapan Mia barusan. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat, mencari kesungguhan di sana.
"Kenapa?"
Ha?
Mia menaikkan alisnya. Apa maksudnya kenapa? Memangnya laki-laki ini mau mengharapkan apa darinya? Gadis itu berdiri dan membawa belanjaannya.
"Sudah dulu, Kak. Aku pergi."
__ADS_1
"Tunggu!" Kio ingin menahannya, namun gadis itu terus menjauh dan menghilang dibalik kerumunan.
...****...
"Kio awas!" seru Erik dari sudut lapangan basket.
Kio menoleh ke arah teriakan Erik. Sebuah bola basket menghantam wajahnya. Ken dan Erik datang menghampiri, diikuti Mia di belakang mereka.
"Woi, salah makan apa kau? Melamun di tengah latihan." Erik mulai mengomel padanya.
Tes! Darah mengucur dari hidungnya. Wajah Ken memucat seketika. Ia pelaku yang melempar bola padanya. Ken bermaksud mengoper bola tapi tak disangka Kio malah mematung.
Kio mengusap darah yang mengalis dari hidungnya. "Oh!"
"Apa maksudmu cuma oh. Hidungmu berdarah tahu. Sana pergi ke klinik kesehatan. Mia tolong antarkan ke sana, ya?" ujar Ken seraya mendorong Kio kehadapan Mia.
Mia membawa laki-laki itu ke klinik. Sayangnya kosong, tidak ada yang menjaga. Kio duduk di ranjang, mendongakkan kepalanya. Mia mengaduk-aduk kotak obat di sana.
Pelan-pelan Mia membersihkan sisa darah di hidung Kio. Ia mengompres pangkal hidung untuk memperlambat perdarahan. Menyumbat rongga hidungnya dengan kapas. Keduanya terduduk terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Maafkan aku," ujar Kio pelan. Wajahnya berkerut. Ia berusaha mengeluarkan isi kepala yang mengganggunya.
Mia memiringkan kepalanya. "Untuk apa?"
"Aku sudah bersikap keterlaluan padamu."
"Baiklah, Kak. Sepertinya pendarahannya berhenti. Kalau begitu aku pergi dulu."
Mia keluar sebelum Kio membuka mulutnya. Ia berlari mencari sahabatnya. Senyum tipis berkembang di wajahnya. Gadis itu tengah membaca buku di perpustakaan. Maisa meletakkan bukunya, menyadari kedatangan Mia.
Maisa tersenyum, bertopang dagu. "Bagaimana? Apa berjalan lancar?"
Mia duduk di hadapannya. Wajahnya tampak cerah tak seperti sebelumnya. Ia menggenggam tangan Maisa.
"Saranmu benar-benar ampuh. Sepertinya Kak Kio mulai terpengaruh "
"Tentu saja. Laki-laki tsundere sepertinya perlu diberi pelajaran. Biar tidak bisa berbicara seenaknya." Maisa tertawa kecil. Rupanya ia dalang dari proyek memutar balikkan dunia Kio.
Sementara itu, Kio memijit-mijit kepalanya. Sesekali menghela napas panjang. Erik dan Ken memandangnya heran.
"Kenapa lagi sih, Bro?" ujar Ken.
"Sepertinya Mia membenciku."
__ADS_1
"Itu sih deritamu," pungkas Erik menjulurkan lidah ke arahnya.
"Sialan kalian!"